namaku seira Aurora artis ibu kota dengan imange seksi dan penuh dengan skandal.
ceritaku dimulai saat aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang Gus Hanif dan berciuman dengan dia.
sejak saat itu gus Hanif terus muncul dihadapan ku,mengikutiku.dengan alasan ingin mempertanggungjawabkan kejadian yang tanpa sengaja itu.
bahkan secara terang terangan ia mengatakan ingin menikahi ku, alasannya? membimbingku.
aku tertawa sumbang bagaimana mungkin artis dengan imange buruk sepertiku bisa menikah dengan anak seorang kiay.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab24
Bab23
Suara adzan mesjid mengema dari arah utara.membangunkan Gus Hanif.
" Astaghfirullah."
Dengan cepat Gus Hanif bangun untuk melaksanakan sholat di mesjid pesantren.
" Seira aku sholat dimesjid ya.?"
" Kamu jangan lupa bangun sholat juga."
" Saya lagi halangan Gus "
" Oh ya sudah saya pamit ya seir."
" Hmm."
Gus Hanif berjalan dengan ummi dan nahla.
" Masya Allah Gus hanif.ini benar Gus Hanif kan."
" Ia ini saya mang."
" Apa kabar Gus."
" Alhamdulillah saya baik mang."
" Gus Hanif hebat sekarang,saya hampir tiap hari lihat ceramah Gus Hanif ditv Lo."
" Masya Allah, Alhamdulillah mang."
" Benar berita itu Gus kalau Gus Hanif sudah menikah dengan artis itu."?
" Itu benar mang,saya pulang ke pesantren dengan istri saya."
" Tapi istrinya kok ngak ikut sholat dimesjid Gus."
" Dia lagi halangan mang."
" Oh."
Kabar tentang kedatangan Gus Hanif dengan seira sudah menyebar dipesantren.
Semua santri dibuat penasaran dengan istri Gus Hanif yang katanya artis besar di ibukota.
Seira baru bangun saat sinar matahari sudah tinggi.
Sedangkan didapur ummi dan nahla begitu sibuk menyiapkan sarapan.
Seira melangkah mendekati keduanya.
" Hmm perempuan kok bangunya siang." Sindir ummi pedas.
Seira menarik nafas berusaha menahan gejolak amarah yang terasa ingin meledak.
" Ada yang bisa saya bantu ummi." ?Ucapnya mencoba selembut mungkin.
" Coba kamu iris bawang itu."!
Seira mencoba menuruti perintah mertuanya meskipun ini yang pertama kalinya untuknya.
Seira tampak kesusahan, nahla memperhatikan seira memotong bawang dengan tawa yang tertahan.
Mana ada orang ngiris bawang sampai sekulit kulitnya.
Air mata seira meluncur dengan bebas.
Nahla tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
Padahal seira baru ngupas bawang dua biji tapi air matanya sudah hampir sebaskon.
Nahla mengeleng, tidak habis fikir dengan pilihan masnya.bagaimana mungkin menolak Zahra yang nyaris sempurna sebagai seorang perempuan lalu menikahi seorang seira Aurora artis yang penuh dengan skandal.
Mengiris bawang saja dia tidak tahu.
" Astaghfirullah seira.kamu kalau motong bawang itu.kulitnya dikupas dulu."
Dengan telaten ummi memberikan contoh kepada seira.
" Maaf ya ummi, seira tidak pernah mengiris bawang."
" Lalu kamu biasa mengerjakan apa?"
" Seira tidak pernah mengerjakan apapun ummi selain syuting dan syuting."
Kolesterol ummi terasa naik kekepala.
" Istighfar ummi." Tegur nahla,yang mengerti perasaan umminya yang selalu memimpikan menantu yang mandiri dan pandai memasak.
" Astaghfirullah Al adzim"
" Ya sudah sekarang kamu siapkan saja makanan yang sudah matang."
" Baik ummi."
Dengan lesu seira melakukan apa yang diperintahkan oleh ummi.
" Rasanya aku ingin pulang sekarang juga " batinya.
Hanya menyiapkan sarapan diatas meja makan dengan makanan yang sudah matang.hal sekecil itu sudah membuat seira merasa capek.
" Masya Allah.wanginya harum sekali ummi.aku kangen sekali dengan masakan ummi."
" Ya udah sekarang kamu duduk.dan makan sebanyak mungkin.lagi pula ummi lihat kamu sekarang kurusan.kamu tidak diurus dengan baik oleh istri kamu ya."
Mata seira melotot,kalau saja ia tidak menghormati ummi sebagai orang tua.
Mungkin sekarang ia sudah berteriak teriak ditelinga ummi Zaenab.
" Ngak kok ummi seira istri yang baik untuk Hanif.
Tidak ada lagi suara saat Gus Hanif hendak mengangkat tangan untuk melaksanakan doa sebelum makan.
Dengan kaku seira mengikuti apa yang dilakukan mereka dan itu cukup membuat getaran kecil dihatinya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Semuanya menjawab dan menoleh kearah perempuan dengan balutan sari' i ditubuhnya.
" Masya Allah Zahra."
Ummi langsung berdiri menghampiri Zahra.
"Saya mengangu ya ummi."
" Ngak nduk.kamu ngak mengangu sama sekali."
" Ini ummi,saya bawakan sayur lodeh."
Ummi mengambil dengan lembut rantang yang diberikan oleh Zahra.
"Terimakasih nduk kok kamu repot repot begini."
" Zahra ngak repot sama sekali kok ummi."
" gabung sini Zahra makan bersama kami." ajak nahla yang terlihat melebarkan senyumnya.
Zahra menarik kursi didekat seira.
" ini istri Gus Hanif ya."
seira menyunggingkan senyum dengan makanan yang terlihat penuh dimulut ya.
" Hanif coba kamu makan masakan Zahra enak Lo."
seira menatap wajah Zahra dan Gus Hanif secara bergantian.sebagai seorang perempuan ia tahu tatapan mata wanita itu, tatapan seorang pemuja.dan itu cukup membuat hati seorang seira sedikit tidak nyaman.
ia kembali menatap Gus Hanif yang terlihat menikmati masakan perempuan lain dengan begitu lahapnya.
dengan kesal dibawah meja seira menendang kaki Gus Hanif dengan keras.
Auuuuu
hatif meringis menatap seira dengan tatapan tanda tanya.
tapi lagi lagi seira menendang kaki Hanif.
Hanif mengangkat kedua kakinya keatas kursi.
hingga tanpa sadar seira menendang kaki nahla.
" siapa yang menendang kakiku."teriak nahla.