Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Tengah Badai Salju
Desir angin utara berembus kencang, membawa serpihan es yang menghujam kulit bagaikan ribuan jarum tak kasat mata. Di dalam lembah yang diapit oleh dinding tebing batu hitam yang curam, ratusan tenda kulit binatang milik pasukan Aliansi Serigala Utara berdiri kokoh. Di tengah-tengah perkemahan itu, sebuah api unggun raksasa menyala marak, menjilat-jilat angkasa dan melemparkan bayangan merah menari-nari di atas hamparan salju putih yang mulai ternoda oleh lumpur dan jejak kaki para prajurit nomaden.
Suara gelak tawa kasar, deringan cangkir anggur dari tanduk hewan, serta teriakan pongah memenuhi udara malam. Para prajurit Serigala Utara duduk melingkar, merayakan kemenangan semu mereka setelah membantai pos terdepan militer Kekaisaran Zhengzhou di Lembah Blackwind. Di meja utama, tepat di dalam tenda komando yang terbuka bagian depannya, duduklah sang pemimpin agung—Khan muda dari suku nomaden tersebut, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipi kanannya, mengenakan mantel bulu serigala abu-abu yang tebal.
Di samping sang Khan, duduk pula seorang pria tua dengan jubah sarjana yang tampak kontras di antara para prajurit bar-bar tersebut. Wajahnya pucat, matanya memancarkan dendam kesumat yang membara. Itu adalah salah satu tetua pelarian dari Klan Mei—sisa-sisa duri beracun yang berhasil melarikan diri ke perbatasan dan menghasut bangsa nomaden untuk mengangkat senjata melawan kekaisaran.
"Bagaimana, Tetua Mei?" suara sang Khan muda menggelegar berat, diiringi seringai tajam yang memamerkan deretan giginya. Ia meneguk arak fermentasi kuda dari mangkuk besar di tangannya. "Pasukan pos terdepan mereka telah rata dengan tanah. Jika kaisar bodoh di ibu kota itu mengirim pasukan besar ke sini, kita akan menyambut mereka dengan badai panah beracun di celah lembah sempit ini. Seluruh jalur utara akan menjadi kuburan massal bagi prajurit Zhengzhou!"
Tetua Mei tersenyum sinis, senyuman yang tampak mengerikan di wajah tuanya yang keriput. "Jangan meremehkan kekuatan istana, Khan Agung. Terutama... jangan pernah meremehkan wanita yang kini duduk di takhta permaisuri di ibu kota. Namanya Mu Qingran. Dia bukan selir biasa; dia adalah iblis berwajah malaikat yang telah meruntuhkan seluruh klan kami dalam hitungan hari."
Sang Khan mendengus meremehkan, tertawa terbahak-bahak hingga dadanya bergemuruh. "Permaisuri? Wanita lemah yang hanya tahu merajut sutra di balik tirai istana? Di padang rumput kami, wanita seperti itu hanya layak menjadi budak penghangat tenda! Jika dia berani datang ke sini, aku sendiri yang akan menyeretnya dengan rantai besi ke hadapanmu!"
Belum sempat gelak tawa para panglima nomaden mereda, sebuah kejadian aneh mendadak menghentikan seluruh aktivitas di dalam perkemahan.
Suara angin badai yang tadinya menderu kencang seolah-olah mereda secara misterius. Di gerbang masuk lembah, di antara kabut salju putih yang mengepul tebal, sesosok bayangan manusia perlahan-lahan muncul melangkah maju.
Tidak ada suara derap kuku kuda. Tidak pula ada suara teriakan pasukan perang. Yang terdengar hanyalah suara gesekan sepatu bot di atas salju yang padat—langkah demi langkah yang begitu tenang, terukur, dan menggema langsung di dalam dada setiap orang yang mendengarnya.
Seluruh prajurit Serigala Utara yang tadinya bersorak sorai mendadak terdiam. Puluhan pasang mata beralih menatap ke arah sosok yang berjalan seorang diri memasuki jantung perkemahan musuh.
Sosok itu mengenakan mantel bulu tebal berwarna gelap dengan tudung kepala yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, begitu ia mendekati lingkaran cahaya api unggun, tudung itu perlahan disingkap ke belakang.
Wajah yang sangat cantik, tenang, dan tanpa cela tersingkap di bawah temaram api unggun. Kulitnya sepucat porselen, kontras dengan bibirnya yang merah alami. Sepasang matanya yang jernih memancarkan sorot dingin yang mampu membekukan nyali siapa pun yang menatapnya.
Tetua Mei membelalakkan matanya selebar-lebarnya, tubuhnya langsung bergetar hebat seolah ia baru saja melihat hantu yang bangkit dari kubur. "Mu... Mu Qingran?!" teriaknya histeris, nyaris melompat dari kursinya. "Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini seorang diri?!"
Suasana di dalam perkemahan mendadak tegang luar biasa. Ratusan prajurit nomaden langsung menghunus pedang dan belati mereka, mengepung sosok wanita itu dalam lingkaran rapat. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berani melangkah maju lebih dekat, karena ada aura tenaga dalam yang begitu menekan dan mematikan memancar dari tubuh sang wanita.
Mu Qingran berhenti tepat di tengah-tengah lingkaran api unggun. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling, menatap ratusan prajurit bersenjata lengkap dengan sebelah alis terangkat ringan, seolah-olah ia sedang berdiri di taman bunga istananya sendiri, bukan di sarang ribuan pembunuh berdarah dingin.
"Kau menyebut dirimu Khan Agung dari padang rumput utara," suara Qingran meluncur tenang, namun sangat jelas terdengar di telinga setiap orang di lembah itu, memecah kesunyian malam yang mencekam. "Tetapi caramu menyambut tamu agung ternyata tidak lebih baik dari sekawanan serigala kelaparan yang menggonggong di balik bukit."
Sang Khan bangkit berdiri dari singgasananya. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang di hadapan Qingran, matanya menyipit penuh rasa curiga sekaligus ketertarikan yang biadab. Ia menghunus belati lengkung dari pinggangnya, melangkah mendekat dengan langkah berat.
"Berani sekali kau, wanita jalang dari istana selatan!" geram sang Khan, suaranya menggelegar bagaikan petir. "Datang seorang diri ke tengah ribuan pasukanku tanpa pasukan penjaga? Apakah kau sudah bosan hidup, atau otormu sudah rusak karena terlalu lama tinggal di balik tembok istana?"
Qingran tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang begitu anggun namun memancarkan aura kematian yang nyata. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, memperlihatkan sebuah lencana perak berukir kepala naga yang berkilau di bawah cahaya api.
"Aku datang bukan untuk memohon belas kasihan, dan tentu saja bukan untuk mati," jawab Qingran, suaranya tetap mengalir tenang tanpa getaran sedikit pun. "Aku datang untuk mengantarkan surat kematian bagi kalian semua."
"Keparat!" teriak salah satu panglima nomaden di samping sang Khan, tidak tahan melihat keangkuhan wanita itu. Ia mengayunkan kapak perang besarnya, berniat membelah tubuh Qingran menjadi dua bagian dalam sekali tebas.
Di detik yang paling genting, saat kapak raksasa itu meluncur deras membelah udara, Qingran tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya melirik sekilas dengan ekor matanya.
Sret!
Sebuah kilatan cahaya putih meluncur secepat kilat dari balik mantelnya. Belati giok putih legendaris itu telah berada di tangannya. Dengan satu gerakan memutar yang sangat indah dan efisien, belati itu menangkis bilah kapak besi, mengalirkan tenaga dalam murni yang menciptakan gelombang kejut ke udara.
Kring!
Kapak perang di tangan sang panglima patah menjadi dua bagian dengan suara nyaring yang memekakkan telinga. Sebelum panglima itu sempat menyadari apa yang terjadi, ujung belati giok Qingran telah menempel tepat di depan tenggorokannya, mengalirkan hawa dingin yang membuat sang panglima membeku kaku, keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.
Seluruh prajurit Serigala Utara terkesiap mundur serentak. Mereka tidak percaya seorang wanita bertubuh ramping mampu melumpuhkan prajurit terkuat mereka hanya dalam satu jurus tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.
Sang Khan membelalakkan matanya, amarahnya kini tersulut hingga ke ubun-ubun. Ia mengangkat tangannya, memerintahkan seluruh pasukan untuk bersiap menyerang serentak. "Bunuh dia! Hancurkan wanita keparat itu sekarang juga!"
Sebelum ratusan prajurit itu sempat melangkah maju, suara gemuruh yang sangat dahsyat tiba-tiba terdengar dari arah puncak tebing barat daya lembah. Suara itu begitu keras, menyerupai ribuan ekor kuda yang berlari bersamaan, disusul oleh lidah api besar yang membubung tinggi menerangi langit malam.
"Khan Agung!" seorang pengintai berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam perkemahan dengan wajah pucat pasi. "Darurat! Pasukan kekaisaran... pasukan kekaisaran telah membakar seluruh gudang logistik dan persediaan makanan utama kita di belakang lembah! Kita terkepung!"
Wajah sang Khan mendadak pucat pasi. Ia menoleh tajam ke arah Qingran, baru menyadari bahwa kedatangan wanita itu seorang diri ke tengah perkemahan bukanlah sebuah tindakan bunuh diri, melainkan sebuah umpan maut untuk mengalihkan perhatian, sementara pasukan bayangan kekaisaran menghancurkan jantung pertahanan mereka dari belakang.
Qingran menarik kembali belatinya dengan gerakan anggun, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya. Ia menatap sang Khan dengan sorot mata yang merendahkan.
"Perang bukanlah tentang seberapa banyak prajurit yang berteriak paling keras di padang rumput," bisik Qingran dingin, suaranya menusuk langsung ke dalam jiwa sang pemimpin nomaden. "Perang adalah tentang siapa yang memegang kendali atas papan catur sejak langkah pertama dimainkan."
Belum sempat sang Khan mengangkat pedangnya untuk membalas, suara derap ribuan pasukan kekaisaran di bawah pimpinan Jenderal Lu mulai menggema memasuki mulut lembah dari segala penjuru, menjepit pasukan Aliansi Serigala Utara tanpa celah untuk melarikan diri. Malam di perbatasan utara itu berubah menjadi lautan api dan pertumpahan darah, membuktikan kepada dunia bahwa di bawah kepemimpinan Permaisuri Xianhe, tidak ada satupun musuh yang bisa meruntuhkan kedaulatan Kekaisaran Zhengzhou dan tetap bernyawa untuk menceritakannya.