Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Koh...
Bar rooftop di SCBD itu punya lampu yang sengaja dibuat redup, musik yang cukup mahal untuk tidak terdengar murahan, dan daftar minuman yang harganya bisa membayar gaji satu bulan staf junior Liem Group.
Keira memesan yang paling kuat.
Bartender sempat ragu saat melihat Kevin berdiri di belakangnya dengan wajah seperti ingin membeli seluruh bar hanya untuk menutupnya.
"Nona, ini bukan cocktail ringan," kata bartender hati-hati.
"Aku tidak minta ringan."
Kevin menahan gelas pertama sebelum sampai ke tangan Keira. "Kei."
"Ko Kevin, kalau kau mau mengasuh orang, pulang dan cari anak magang."
"Aku kakakmu."
"Maka duduk dan lihat aku membuat keputusan buruk dengan martabat keluarga."
Kevin memejamkan mata sebentar. "Papa akan membunuhku."
"Papa sudah menjualku ke Hartono. Kita semua sedang membuat pilihan menarik."
Gelas pertama turun seperti api.
Keira tidak meringis.
Bartender menatapnya dengan hormat baru. Kevin menatapnya seperti melihat bencana yang sudah mengisi formulir izin.
Gelas kedua datang.
Lalu ketiga.
Keira biasanya punya toleransi alkohol yang membuat banyak lelaki sombong malu. Tetapi malam itu perutnya kosong, tidurnya rusak, dan di dalam tasnya ada jam tangan hangus milik Rayhan yang terasa lebih berat daripada botol mana pun di rak bar. Alkohol tidak langsung membuatnya mabuk. Ia hanya membuat garis-garis di dalam tubuhnya melunak, satu per satu, sampai ia tidak lagi bisa membedakan marah dan sedih.
Kevin menerima panggilan setelah gelas keempat.
Wajahnya berubah.
"Apa?" tanyanya ke telepon.
Keira menoleh. "Harrison?"
Kevin menutup lubang mikrofon. "Ada pergerakan rekening di Batam. Bisa jadi umpan."
"Pergi."
"Tidak."
"Ko Kevin."
"Aku tidak meninggalkanmu mabuk di bar."
"Aku tidak mabuk."
Keira berdiri untuk membuktikannya.
Lantai bergerak sedikit.
Kevin mengangkat alis.
"Itu lantainya yang tidak stabil," kata Keira.
"Tentu."
Panggilan Kevin berbunyi lagi, kali ini dari Darren. Kevin mengumpat pelan. Ia memberi isyarat kepada dua pengawal Liem untuk mendekat.
"Kalian jangan biarkan Nona keluar dari area ini tanpa aku."
"Baik, Ko Kevin," jawab salah satu pengawal yang sudah terlalu sering melihat keluarga Liem bertengkar untuk merasa kaget.
Keira melambai malas. "Pergilah menyelamatkan dunia."
Kevin menunduk di dekat telinganya. "Kalau kau hilang, aku bakar Hartono, Sutanto, dan bar ini sekaligus."
"Catat urutan pembakarannya."
Kevin pergi dengan wajah sangat tidak rela.
Keira duduk kembali. Musik berdenyut di lantai. Lampu kota Jakarta terbentang di luar kaca, tajam dan basah. Ia memutar gelas kosong di antara jari, melihat pantulan dirinya terpecah di permukaan meja.
Di pantulan itu, sesaat ia melihat Rayhan.
Tidak.
Hanya lelaki berjas hitam lewat di belakangnya.
Keira menutup mata.
"Satu lagi," katanya.
Bartender melihat pengawal Liem.
Pengawal Liem melihat Keira.
Keira membuka mata.
Minuman datang.
Setelah itu, ingatan menjadi potongan-potongan.
Suara gelas.
Pesan Kevin yang ia abaikan.
Seorang lelaki mencoba mendekat dan langsung ditarik pengawal.
Udara terasa terlalu panas.
Keira berjalan ke koridor samping menuju lift servis, bukan karena ingin pergi, tetapi karena musik mulai terdengar seperti api di gudang Marunda. Ia butuh udara yang tidak berisi bass, parfum, dan suara orang hidup yang terlalu mudah tertawa.
"Nona Keira," pengawal memanggil.
"Toilet," katanya.
Itu cukup untuk membuat mereka berhenti dua langkah di belakang, memberi jarak sopan.
Di ujung koridor, pintu lift servis terbuka.
Seseorang berdiri di dalam.
Lelaki itu memakai jas hitam dan topeng perak tipis yang menutupi setengah wajah atasnya. Di bawah cahaya koridor, topeng itu tampak dingin, seperti sesuatu yang seharusnya berada di ruang rahasia, bukan lift hotel.
Keira berhenti.
"Keluar dari lift," katanya.
Lelaki itu tidak bergerak. "Kau sudah cukup minum."
Suara itu.
Keira tertawa pelan.
"Hebat. Sekarang bahkan topeng pun merasa berhak mengaturku."
Ia masuk ke lift.
Pintu tertutup sebelum pengawal mencapai koridor.
Lelaki bertopeng itu menekan tombol berhenti darurat. Lift diam di antara lantai. Lampu kecil di atas pintu berkedip merah.
Keira menatap jarinya di panel. "Penculikan?"
"Pencegahan."
"Revano Hartono?"
Ia tidak menjawab.
Keira melangkah mendekat. Alkohol membuat dunia sedikit miring, tetapi wajah bertopeng itu justru terasa terlalu jelas. Rahang. Bibir. Suara napas yang ditahan. Cara ia berdiri terlalu dekat dengan pintu, seolah secara otomatis menempatkan tubuhnya di antara Keira dan bahaya.
Kebiasaan itu membuat dadanya sakit.
"Buka topengmu."
"Tidak malam ini."
"Takut aku kecewa?"
"Takut kau sedang mabuk."
Keira mengangkat tangan untuk menarik topeng itu.
Ia menangkap pergelangan tangannya, cepat tetapi tidak kasar. Sentuhan itu hangat. Terlalu hangat. Keira melihat tangan mereka, lalu tertawa tanpa suara.
"Rayhan juga suka menahanku seperti ini."
Tubuh lelaki itu menegang.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Keira melihatnya.
Alkohol membuat pikirannya lambat, tetapi rasa sakit membuatnya tajam.
"Kau kenal dia?"
"Semua orang mengenal Rayhan Sutanto setelah pemakamannya."
"Bohong."
"Keira."
Nama itu keluar terlalu lembut.
Tidak seperti Revano yang baru ditemuinya di Hotel Mulia.
Tidak seperti calon tunangan asing.
Terlalu seperti suara di telepon pukul dua pagi, suara yang bercerita jelek sampai ia tertidur.
Keira menatap bibirnya.
"Jangan panggil aku begitu."
"Baik."
"Jangan terdengar seperti dia."
Lelaki itu diam.
Keira mendekat lagi. Jarak mereka tinggal satu napas. Alkohol, marah, dan rindu bercampur menjadi sesuatu yang tidak punya nama.
"Kau tahu apa yang paling menyebalkan?" bisiknya.
"Apa?"
"Orang mati tidak bisa dimarahi."
Mata di balik topeng itu berubah.
Keira tidak menunggu jawaban.
Ia menarik kerah jas lelaki itu dan mencium bibirnya.
Lelaki itu membeku.
Satu detik pertama, ia tidak membalas.
Detik kedua, tangannya naik ke bahu Keira, bukan untuk menariknya lebih dekat, melainkan menahan agar ia tidak jatuh.
Keira menggigit bibirnya pelan, marah karena ia tidak membalas, marah karena rasa bibir itu terasa asing, marah karena tubuhnya tetap mengenali sesuatu yang kepalanya tolak.
"Keira," suara lelaki itu serak saat berhasil menjauh satu ruas jari. "Kau mabuk."
"Aku tahu."
"Maka aku tidak akan..."
"Diam."
Ia menyentuh topeng perak itu lagi. Kali ini lelaki itu tidak menahannya secepat tadi. Ujung jarinya menyusuri tepi dingin topeng, turun ke rahang yang hangat.
Matanya mulai basah.
"Kenapa semua orang yang ingin melindungiku selalu bersembunyi?" tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Lift berdengung pelan. Dari luar, suara pengawal memanggil semakin dekat.
Keira menyandarkan dahi ke dada lelaki itu. Aroma kayu, antiseptik samar, dan hujan menembus alkohol di kepalanya.
Ia memejamkan mata.
"Koh..."
Tubuh lelaki bertopeng itu kaku total.
Di luar lift, Kevin berteriak memanggil namanya.
Di dalam lift yang berhenti, Revano Hartono menahan napas seperti satu suku kata dari Keira baru saja mematahkan seluruh topengnya.