Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Eksekusi Publik di Pesta Makan Malam
Hotel Mulia malam itu seperti kotak perhiasan yang dibuka di tengah Jakarta.
Lampu kristal menggantung tinggi di ballroom. Meja bundar berlapis kain putih tersusun rapi, bunga segar memenuhi sudut ruangan, dan kamera media berdiri di dekat area panggung. Nama Kho Group membuat orang datang lebih awal, tersenyum lebih lama, dan berbicara lebih hati-hati.
Eve berdiri di depan pintu masuk dengan gaun merah tua yang dipilih Dan.
"Aku bilang jangan terlalu heboh," bisiknya.
Dan menepuk lengan jasnya sendiri. "Ini bukan heboh. Ini adil. Dunia sudah terlalu lama melihatmu memakai kemeja kantor."
Gaun itu sederhana di potongan, tetapi warna merahnya membuat kulit Eve terlihat bersinar. Rambutnya disanggul longgar, lehernya hanya memakai kalung tipis, dan bekas luka di telapak tangannya tertutup rapi oleh sarung tangan satin pendek yang disiapkan Dan.
Saat mereka masuk, beberapa kepala menoleh.
Eve tidak menyadari setengah dari tatapan itu. Ia terlalu sibuk mengingat tugasnya: menyapa perwakilan Singapura, membantu penerjemahan singkat, lalu pulang tanpa membuat drama.
Masalahnya, drama sudah menunggu.
Di lantai dua, di balik kaca satu arah, Edric menatap ke bawah.
Feli berdiri di sampingnya sambil makan keripik udang dari mangkuk kecil. "Kakak, tutup mulut. Air liurmu hampir jatuh."
Edric tidak mengalihkan pandangan. "Saya sedang memastikan keamanan acara."
"Keamanan gaun merah?"
Fajar yang berdiri di belakang mereka memilih memandang lurus ke depan. Jerry pura-pura sibuk dengan tablet. Tidak ada yang cukup berani menertawakan bos, kecuali Feli yang memang dilahirkan tanpa rasa takut terhadap kakaknya sendiri.
Edric melihat Dan membungkuk dekat Eve untuk mengatakan sesuatu. Eve tertawa.
Suhu ruangan kecil itu turun.
"Fajar," kata Edric.
"Ya, Pak."
"Pastikan orang bernama Daniel Tjioe tidak minum terlalu banyak."
Feli menyeringai. "Itu bahasa resmi untuk cemburu?"
"Itu bahasa resmi untuk manajemen risiko."
Di bawah, Eve baru selesai menerjemahkan percakapan ringan antara perwakilan Jepang dan manajer proyek ketika ia melihat Rangga di dekat panggung.
Rangga memakai setelan biru tua, rambutnya rapi, senyumnya penuh kemenangan. Beberapa orang menyalaminya sebagai eksekutif baru Kho Group. Di sisi lain ruangan, Jesslyn dan Melani berdiri dengan gaun mahal dan wajah yang terlalu percaya diri untuk orang yang keluarganya sedang di ujung jurang.
Eve menarik napas.
Dan mengikuti arah pandangnya. "Mau aku berubah jadi tembok?"
"Tidak perlu."
"Aku bisa jadi tembok yang mahal."
Eve hampir tertawa. "Ambilkan air saja."
Dan pergi. Eve berjalan ke arah koridor dekat kamar kecil untuk menenangkan diri sebentar. Baru beberapa langkah, suara Jess muncul seperti pisau kecil.
"Wah. Kak Eve benar-benar hebat sekarang."
Eve berhenti.
Jess berdiri di depan cermin koridor, Melani di sampingnya. Tidak ada kamera di sana, tidak ada tamu penting, hanya tempat sempurna untuk menyiram racun.
"Datang dengan Daniel," kata Jess, menatap gaun Eve dari atas ke bawah. "Dulu Rangga, sekarang Daniel. Suami tentaramu tidak keberatan?"
Melani tersenyum tipis. "Janda yang pandai memanfaatkan laki-laki memang selalu punya jalan."
Eve menatap mereka tanpa berkedip. "Kalian datang sebagai tamu siapa? Hartono?"
Wajah Melani menegang.
Jess melangkah maju. "Jangan sok suci. Semua orang tahu kamu hidup dari laki-laki. Kalau bukan Rangga, Daniel. Kalau bukan Daniel, entah siapa lagi."
"Aku bekerja malam ini."
"Bekerja memakai gaun pinjaman?" Jess tertawa. "Kasihan."
Sebelum Eve menjawab, suara lain terdengar dari belakang.
"Kasihan itu menghina orang yang statusnya tidak kalian pahami."
Feli muncul dari ujung koridor.
Gaunnya hitam, bahunya terbuka elegan, dan anting berlian di telinganya menangkap cahaya seperti peringatan. Ia tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya, Eve melihat wajah Feli yang benar-benar mirip Edric saat marah.
Jess mengerutkan kening. "Kamu siapa?"
"Felicia Kho." Feli mengucapkannya pelan, jelas, dan mematikan. "Saya bermarga Kho. Mau bicara apa lagi?"
Warna wajah Jess menghilang.
Melani langsung menarik lengan Jess. Di Jakarta, nama tertentu tidak perlu dijelaskan. Kho adalah salah satunya. Menghina seseorang yang dilindungi keluarga Kho sama seperti membakar kontrak sendiri di depan bank.
Feli melangkah ke sisi Eve. "Yang kalian hina adalah orang yang sangat saya hormati."
"Kami tidak..." Melani mencoba tersenyum.
"Saya mendengar semuanya."
Jess menunduk. Untuk sekali dalam hidupnya, ia tidak menemukan kata yang cukup berani keluar.
"Pergi," kata Feli.
Mereka pergi.
Eve menoleh pada Feli. "Terima kasih."
Feli langsung berubah menjadi cerah lagi. "Aku sudah lama ingin melakukan itu. Rasanya enak sekali."
Eve tertawa pelan, tetapi dadanya hangat. Ia belum tahu hubungan Feli dengan Edric, belum tahu keluarga mana yang benar-benar sedang berdiri di belakangnya. Yang ia tahu, seseorang memilih berdiri di sisinya tanpa diminta.
Di lantai dua, Edric melepas napas yang sejak tadi tertahan. Ia melihat Feli mengantar Eve kembali ke ballroom, lalu memberi isyarat pada Fajar.
"Mulai sesuai jadwal."
Pukul delapan tiga puluh, lampu panggung diredupkan.
Rangga berdiri di dekat meja utama dengan senyum siap difoto. Ia sudah membayangkan tepuk tangan, jabatan baru, dan pesan dari orang-orang yang dulu meremehkannya. Ia bahkan melihat Eve di antara tamu dan sengaja mengangkat dagu sedikit.
Pembawa acara memanggil nama Fajar sebagai konsultan keamanan Kho Group.
Fajar naik ke panggung dengan setelan hitam dan map tipis di tangan. Tidak ada nada dramatis dalam suaranya. Justru itu yang membuat ballroom cepat hening.
"Atas nama Kho Group, saya menyampaikan hasil verifikasi internal terkait salah satu kontrak eksekutif yang diumumkan minggu ini."
Rangga masih tersenyum, tetapi matanya mulai bergerak.
"Dokumen pendidikan atas nama Rangga Prasetya, khususnya gelar magister dari Massachusetts Institute of Technology, telah kami periksa melalui jalur resmi. Hasilnya: tidak ada catatan kelulusan dengan nama tersebut pada tahun yang tertera. Ijazah yang diserahkan adalah palsu."
Keheningan satu detik.
Lalu ballroom meledak.
Suara bisik, kamera, kursi bergeser, semua bercampur. Rangga maju selangkah dengan wajah putih.
"Itu fitnah!"
Fajar membuka map. Layar besar di belakangnya menampilkan surat konfirmasi dari registrar MIT, perbandingan nomor ijazah, dan riwayat pendidikan asli Rangga yang berhenti di tingkat sarjana.
"Kho Group tidak akan bekerja sama dengan pihak yang memalsukan kredensial. Mulai malam ini, seluruh kontrak dengan Rangga Prasetya dibatalkan."
Rangga meraih mikrofon, tetapi dua petugas keamanan sudah naik ke panggung. Media memotret tanpa henti. Orang-orang yang tadi menyalaminya kini mundur seolah namanya menular.
Salah satu direktur yang tadi memuji "visi global" Rangga langsung menutup map namanya. Seorang wartawan berbisik cepat ke ponsel, mungkin sudah mengirim judul berita sebelum acara selesai. Di layar besar, bukti itu tidak memberi ruang untuk drama pembelaan. Tidak ada celah emosi, tidak ada kesalahan administrasi, hanya kebohongan yang ditaruh di bawah lampu.
Rangga mencari wajah-wajah yang bisa menolongnya. Tidak ada. Bahkan Jess yang biasanya paling cepat maju untuk membela, kini hanya berdiri kaku di dekat Melani dengan bibir pucat.
Eve berdiri di dekat meja penerjemah, jantungnya berdetak keras.
Ia tidak merasa kasihan.
Ia ingat Rangga menatapnya dengan jijik di kantor, ingat cara Jess memamerkan pertunangan, ingat semua tahun ketika ia dibuat merasa kurang hanya karena pria itu memilih orang lain. Sekarang topeng yang ia banggakan runtuh di depan seluruh ballroom.
Rangga diseret turun dari panggung. Saat melewati Eve, ia berhenti cukup dekat untuk berbisik.
"Ini pasti kamu yang beri tahu mereka."
Eve menatapnya.
Dulu, kata-kata Rangga bisa membuatnya ingin menjelaskan diri, membuktikan bahwa ia bukan penjahat, bukan perempuan yang pantas dibuang. Malam ini, ia hanya melihat pria yang bahkan kehancurannya sendiri masih ingin dilemparkan pada orang lain.
Ia tidak menjawab.
Diamnya lebih menghina daripada bantahan.
Rangga dibawa keluar.
Fajar turun dari panggung beberapa menit kemudian. Saat lewat di dekat Eve, ia menundukkan kepala sedikit, sangat singkat, hampir tidak terlihat.
Eve mengira itu sapaan sopan karena mereka pernah bertemu.
Jess yang berdiri jauh di belakang melihatnya.
Matanya menyipit.
Mengapa konsultan keamanan Kho Group memberi hormat kepada Eve?
Dan kembali dari sisi lain ballroom dengan wajah terkejut. "Aku tinggal sebentar, orang itu langsung dieksekusi publik."
"Kamu mengambil air terlalu lama."
"Aku juga mengambil martabat Rangga yang tercecer, tapi sudah tidak tersisa."
Eve tertawa pelan. Ketegangan di dadanya mulai turun. Namun setelah acara berjalan lagi, ia merasa udara ballroom terlalu berat. Dan harus mengambil mobil di basement dan memintanya menunggu di lobi.
"Aku ke balkon sebentar," kata Eve. "Butuh udara."
"Jangan lama."
Eve naik tangga samping menuju lantai dua. Ia tidak tahu area itu seharusnya dibatasi karena salah satu petugas keamanan sedang dipanggil ke bawah setelah insiden Rangga. Koridor di atas lebih sepi. Dari balkon terbuka, angin malam membawa suara kota.
Ia baru hendak mendekat ke pagar ketika mendengar suara perempuan.
"Ric, kamu tidak bisa terus menghindariku."
Langkah Eve berhenti.
Di sisi lain balkon, setengah tertutup bayangan pilar, Calista berdiri sangat dekat dengan Edric. Kedua tangannya menempel di dada Edric, seolah menahan pria itu agar tidak pergi.
"Aku tidak peduli kamu sudah menikah," kata Calista, suaranya bergetar. "Aku masih mencintaimu."
Eve berdiri di pintu balkon.
Angin malam menyentuh kulitnya, tetapi dadanya terasa seperti diremas.
Wajah Edric tertutup bayangan, dan untuk satu detik yang terlalu panjang, Eve tidak bisa membaca ekspresinya.