Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Karton dan Teh Manis
Dan entah kenapa, itu justru membuat hati Yola lebih sulit tenang.
Rayhan berjalan lebih dulu melewati gang Asemka, membawa dua karton besar tanpa meminta orang lain membuka jalan. Ia tidak membentak. Tidak menyuruh. Tetapi orang-orang otomatis bergeser ketika melihatnya datang, mungkin karena wajahnya terlalu serius untuk seseorang yang sedang membawa botol parfum kecil.
Yola mengikuti bersama Dewi dan Sari.
"Nona, hati-hati," kata Sari ketika seseorang membawa karung plastik besar melewati gang sempit.
Sebelum Sari selesai bicara, Rayhan sudah berhenti.
Ia memiringkan tubuh, menahan karton di sisi luar agar karung itu tidak menyenggol tangan Yola.
Tidak menyentuh Yola.
Tidak mengatakan apa-apa.
Setelah karung lewat, ia kembali berjalan.
Dewi menatap punggungnya, lalu buru-buru menunduk ketika Yola melirik.
Di mobil, karton disusun di bagasi belakang. Karyawan toko menawarkan bantuan tambahan, tetapi Rayhan hanya mengangguk singkat setelah semua selesai.
"Terima kasih."
Karyawan itu tampak bingung menerima ucapan terima kasih dari pria yang wajahnya seperti tidak biasa berterima kasih.
Tujuan berikutnya Cipete.
Supplier essential oil berada di ruko kecil yang bagian depannya dipenuhi tanaman dalam pot. Berbeda dari Asemka yang panas dan padat, tempat itu lebih tenang. Begitu pintu dibuka, aroma citrus, lavender, kayu manis, dan sesuatu yang manis seperti buah matang langsung memenuhi udara.
Yola bernapas lebih dalam tanpa sadar.
Rayhan melihatnya.
"Lebih baik?"
Yola baru sadar bahunya mengendur. "Apa?"
"Napasmu."
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Pemilik toko memperlihatkan tiga varian pear essence. Yola meneteskan masing-masing ke blotter strip, menunggu beberapa detik, lalu mencium satu per satu. Dewi mencatat. Sari berdiri di dekat pintu. Rayhan tetap di belakang, diam, tetapi kali ini diamnya tidak terasa seperti mengawasi. Lebih seperti menunggu.
"Yang kedua terlalu candy," kata Yola.
Dewi menulis. "Yang pertama?"
"Segar, tapi cepat hilang."
"Yang ketiga?"
Yola mencium lagi. Aroma pear-nya lembut, ada sedikit floral di belakang, tidak terlalu manis.
"Ini paling dekat dengan Pear Blossom."
Rayhan tiba-tiba berkata, "Yang ini tidak menusuk."
Yola menoleh.
Pemilik toko tersenyum. "Bapak punya hidung bagus."
Rayhan tampak tidak nyaman dengan pujian itu. "Saya hanya tidak suka yang terlalu tajam."
Yola memandang blotter di tangannya. Entah kenapa, komentar sederhana itu membuatnya ingin bertanya apakah Rayhan selama ini benar-benar mengenali wangi Pear Blossom ketika ia melewati koridor mansion.
Ia tidak bertanya.
Yola membeli dua botol essence dan satu botol kecil bergamot untuk eksperimen roll-on. Ia membayar sendiri. Rayhan kembali tidak menawarkan mengambil alih.
Ketika keluar dari toko, hujan rintik mulai turun.
Sari membuka payung kecil untuk Yola, tetapi satu payung tidak cukup untuk semua barang. Rayhan mengambil kantong kertas berisi essential oil dari tangan Dewi, menyelipkannya ke dalam tas kanvas yang lebih aman, lalu membawa semuanya di sisi tubuhnya sendiri.
"Itu mudah pecah," kata Yola.
"Aku tahu."
"Jangan terlalu miring."
Rayhan menyesuaikan posisi tas tanpa membantah.
Dewi pura-pura sibuk membuka pintu mobil.
Sari pura-pura tidak melihat apa-apa.
Di perjalanan kembali ke Kemang, hujan bertambah rapat. Lalu lintas melambat. Yola menyandarkan kepala ke kaca, lelah tanpa ingin mengakui. Sejak pagi, ia hanya minum teh dan makan beberapa sendok bubur.
Mobil berhenti sebentar di lampu merah.
Rayhan menurunkan kaca sedikit dan memanggil pedagang minuman yang berteduh di dekat trotoar.
"Teh manis dingin dua. Air mineral dua."
Yola menoleh. "Untuk apa?"
"Kamu belum makan siang."
"Teh manis bukan makan siang."
"Setidaknya gula."
Sari di depan menerima minuman dari sopir yang membelinya lewat jendela. Ia menyerahkan satu kepada Yola dengan wajah seolah tidak terlibat.
Yola ingin menolak.
Perutnya justru berbunyi pelan.
Sari menunduk terlalu cepat.
Rayhan menatap keluar jendela, memberi Yola ruang untuk pura-pura tidak ada yang mendengar.
Akhirnya Yola menusuk sedotan.
Teh manis dingin itu terlalu manis.
Dan tepat karena itu, tubuhnya yang lelah menerimanya dengan jujur.
Saat mereka tiba di Atelier, hujan masih turun. Rayhan menurunkan semua karton dari bagasi bersama Rizal. Ia menolak saat Dewi ingin mengangkat yang besar, tetapi menerima ketika Yola menunjuk rak belakang.
"Jangan taruh dekat jendela. Panas sore bisa kena kaca."
Rayhan mengangkat karton dan memindahkannya ke rak bawah.
"Di sini?"
"Sedikit ke kiri."
Ia menggeser.
"Terlalu dekat dinding. Nanti lembap."
Ia menggeser lagi.
Dewi menggigit bibir, jelas menahan senyum.
Rayhan tidak sadar ia sedang menurut seperti staf gudang baru.
Yola sadar.
Dan kesadaran itu membuat pipinya terasa panas dengan cara yang sangat mengganggu.
Setelah semua barang masuk, Rayhan tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia hanya berkata kepada Rizal agar tetap di luar, lalu pergi menerima telepon dari Ardi di depan Atelier. Di layar ponselnya yang sempat menyala, Yola melihat nama Monica muncul sebentar.
Monica mengirim file.
Rayhan membaca, wajahnya kembali dingin, lalu berjalan menjauh untuk membalas.
Rasa hangat di dada Yola turun sedikit.
Ia memaksa diri kembali menghitung stok.
Malamnya, setelah semua barang disusun di Atelier dan Yola pulang ke mansion, ia membuka laci kecil di ruang memorial Kevin untuk menyimpan nota pembelian hari itu. Di sanalah ia biasa menaruh benda-benda yang ingin ia ingat dengan rapi.
Buku puisi Kevin ada.
Kotak kecil berisi kartu ucapan lama ada.
Tetapi tempat saputangan putih itu kosong.
Yola memegang tepi laci.
Sudah lama ia tidak melihatnya.
Terlalu lama.
Pertanyaan yang dulu tenggelam oleh pindah rumah, Atelier, Celine, dan semua kekacauan lain naik lagi, pelan tetapi dingin.
Saputangan Kevin ada di mana?
up lagi, Author. banyak-banyak!😅