"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Meski waktu sudah melewati pukul sebelas malam, deretan kendaraan masih memenuhi jalan-jalan utama. Lampu gedung pencakar langit berpendar di kejauhan, sementara suara klakson dan deru mesin masih bersahutan di beberapa titik kota.
Arga menggenggam kemudi lebih erat. Sudah hampir dua jam ia berkeliling tanpa tujuan pasti. Setelah mendatangi Toko Buku Senja, rumah ibu Nadira, hingga beberapa tempat yang biasa dikunjungi istrinya, hasilnya tetap nihil.
Panggilan teleponnya tidak diangkat. Puluhan pesan yang dikirim juga tidak mendapat balasan.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Arga merasakan kepanikan yang sulit ia kendalikan. Bayangan kehilangan ibunya kembali memenuhi pikirannya. Dulu ia juga hanya menunggu seseorang pulang tetapi orang itu tidak pernah kembali.
"Angkat teleponnya, Nad..." gumamnya pelan.
Mobilnya terus melaju hingga memasuki kawasan Jakarta yang semakin jauh dari pusat kota. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan rumah-rumah sederhana yang berdiri rapat di sepanjang gang sempit. Lampu jalan tidak sebanyak di pusat kota. Beberapa warung masih buka, sementara anak-anak muda terlihat duduk di pinggir jalan mengobrol.
Arga memperlambat laju mobilnya. Tatapannya menyapu sekitar tanpa henti. Hingga akhirnya ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Nadira berjalan pelan keluar dari sebuah gang sempit. Di sampingnya ada seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang menggenggam tongkat kayu. Nadira menuntun langkah pria tua itu dengan sabar hingga berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau.
Seorang perempuan paruh baya berlari keluar rumah. "Pak! Astaga, Bapak ke mana saja?"
Perempuan itu langsung memeluk pria tua tersebut sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Nadira.
"Nak, terima kasih ya. Bapak saya pikun. Tadi sore keluar sendiri, kami cari ke mana-mana nggak ketemu."
Nadira hanya tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Bu. Kebetulan saya ketemu beliau di halte. Katanya lupa jalan pulang."
Perempuan itu kembali mengucapkan terima kasih sebelum membawa ayahnya masuk ke dalam rumah.
Nadira mengembuskan napas lega. Baru saja ia berbalik, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Pintu pengemudi terbuka dengan cepat. Arga turun dengan wajah yang sulit dibaca.
"Mas..." Belum sempat Nadira melanjutkan kalimatnya, Arga sudah berdiri di depannya.
"Ke mana saja kamu?" Nada suaranya terlihat jelas menahan emosi.
Nadira sedikit terkejut. "Aku tadi nemuin Kakek itu di jalan. Beliau sendirian, bingung mau pulang ke mana, lalu aku antar sampai rumah."
"Kamu tahu aku nyari kamu ke mana-mana?"
Nadira terdiam.
"Aku telepon berkali-kali."
"Maaf... ponselku habis baterai."
"Kenapa nggak pinjam telepon orang?"
"Aku—"
"Kenapa harus kamu yang nganter? Kenapa bukan polisi? Atau warga sekitar?" Pertanyaan itu bertubi-tubi keluar dari mulut Arga.
Nadira mulai mengerutkan kening. "Karena waktu itu nggak ada siapa-siapa."
"Aku nggak peduli." Arga menekan intonasi bicaranya "Aku cuma peduli sama keselamatan kamu. Aku takut terjadi sesuatu. Tadi muterin Jakarta hampir dua jam cuma buat cari kamu."
Suasana mendadak hening. Beberapa warga yang masih berada di depan rumah mulai melirik ke arah mereka.
Nadira menarik napas pelan. "Jadi... kamu marah karena aku nolong orang?"
"Aku marah karena kamu menghilang."
"Aku bukan menghilang," bantah Nadira.
"Kamu nggak ngabarin," bela Arga.
"Aku nggak bisa!"
"Kamu selalu punya alasan."
Kalimat itu terdengar begitu tajam hingga membuat Nadira membeku. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Tatapan Nadira perlahan berubah. Ada gurat kekecewaan terpancar dari sana.
"Aku pikir..." Ia tersenyum kecil, tetapi senyum itu terasa pahit. "...kamu bakal nanya dulu aku kenapa."
Arga terdiam.
"Ternyata yang kamu lakukan malah menyalahkan aku."
"Nad..."
"Aku cuma nolong seseorang yang butuh bantuan."
"Kalau itu ibumu yang tersesat di jalan, apa kamu juga berharap semua orang pura-pura nggak lihat?"
Kalimat itu menghantam Arga tepat di dadanya. Namun emosinya masih belum mereda. "Aku cuma nggak mau kehilangan kamu."
Nadira menggeleng pelan. "Tapi cara kamu membuatku merasa bersalah karena melakukan hal yang menurutku benar."
Hening kembali menyelimuti mereka. Suara kendaraan yang melintas di ujung jalan menjadi satu-satunya yang terdengar.
Nadira menundukkan kepala beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Mas… Aku rasa kita memang berasal dari dunia yang berbeda."
Arga mengangkat wajah.
"Kamu terbiasa hidup dengan pengawal, sopir, dan semua orang yang siap menyelesaikan masalah. Sementara aku … dibesarkan untuk berhenti kalau melihat orang lain membutuhkan pertolongan."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nadira. "Aku capek terus merasa harus menyesuaikan diri dengan duniamu. Aku juga capek terus mengingat kalau semua ini cuma kontrak."
Arga ingin menyela, tetapi Nadira mengangkat tangannya pelan. "Tolong... dengarkan dulu." Ia mengusap air matanya sendiri.
"Semua kewajiban kita sudah selesai. Warisanmu sudah kamu dapat. Utang toko aku juga sudah lunas. Aku rasa... kontrak ini nggak perlu diteruskan."
Jantung Arga seolah berhenti berdetak.
"Aku akan cari tempat tinggal lain."
"Nad..."
"Besok aku mulai pindah."
Tanpa memberi kesempatan Arga menjawab, Nadira melangkah melewati laki-laki itu.
Arga tidak mengejar. Ia hanya berdiri mematung di tengah jalan sempit itu, memandangi punggung Nadira yang semakin menjauh.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ingin diakuinya. Ia tidak takut kehilangan istri kontraknya. Ia takut kehilangan perempuan yang telah, tanpa sadar, menjadi rumahnya.