NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

serbuk penjaga warna mata dan teka-teki diri

“Bangkitlah dan kembalilah. Namun mulai hari ini kau tidak perlu lagi bertugas menjadi sopir pribadi Nyonya Zara. Aku akan segera mencari orang lain yang jauh lebih mampu dan bertanggung jawab untuk menggantikan posisimu itu,” ucap Adrian dengan nada yang tenang namun tak bisa dibantah sedikit pun.

Wajah sopir itu terlihat sedikit lega meski masih terasa sedih karena telah mengecewakan tuannya. Ia pun menundukkan kepalanya dengan sangat dalam sebagai tanda terima kasih dan penghormatan terakhir. “Terima kasih banyak atas kebaikan hati Tuan yang masih bersedia memaafkan kesalahan saya yang besar ini.” Ia perlahan berusaha bangkit berdiri untuk pergi meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba Yamal menyela pembicaraan itu karena ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam benaknya. Yamal pun menanyakan secara terperinci mengenai ciri-ciri fisik wanita pemilik kedai makan itu serta penampilan dan sifatnya. Setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh sopir itu, ternyata dugaan yang ada di benak Yamal terbukti benar sepenuhnya.

Ia pun segera berbalik menghadap Adrian dengan raut wajah yang kembali serius dan penuh kesungguhan. “Tuan… Wanita yang dimaksud itu adalah orang yang pernah saya sampaikan laporan lengkapnya kepada Tuan beberapa waktu yang lalu.”

Adrian hanya menganggukkan kepalanya perlahan seolah kini segala kepingan teka-teki yang selama ini terpisah akhirnya tersusun menjadi satu cerita yang utuh dan jelas di dalam pikirannya. “Jadi ternyata semua hal ini saling berkaitan begitu rupanya.”

Ia segera menolehkan wajahnya kembali menghadap Yamal, tatapannya terlihat sangat keras dan tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. “Singkirkan dia. Dan pastikan ia tidak akan pernah bisa lagi mengganggu siapa pun atau melakukan perbuatan serupa.”

Tidak ada pertanyaan tambahan, tidak ada permintaan untuk mendengar pembelaan atau alasan apa pun. Adrian sama sekali tidak ingin mendengar alasan apa pun—baginya, siapa pun yang berani menyakiti atau mencari masalah dengan orang yang berada di bawah perlindungannya, pasti akan ditangani dengan tegas dan tuntas tanpa ragu, dengan cara apa pun yang diperlukan.

Yamal sudah sangat memahami betul watak dan prinsip yang dipegang teguh oleh tuannya sejak lama. Ia tidak perlu menanyakan hal itu dua kali atau meminta penjelasan lebih lanjut. Ia hanya menundukkan kepalanya sebentar sebagai tanda hormat dan siap melaksanakan perintah, lalu segera bergerak pergi untuk menyelesaikan tugas itu secepat mungkin.

Begitu pintu kamar tertutup rapat di belakang punggungku, aku segera melangkah dengan tergesa-gesa hingga masuk sepenuhnya ke dalam ruangan itu, lalu segera memutar kunci pintu itu berulang kali agar terkunci rapat—aku merasa takut jika ada seseorang yang tanpa sengaja datang atau masuk tiba-tiba saat aku sedang sendirian di sini.

Kakiku perlahan melangkah mendekati cermin besar yang terpasang di salah satu sudut ruangan itu. Namun saat pandanganku jatuh pada pantulan diriku sendiri di permukaan kaca itu, napasku seketika tertahan di kerongkonganku karena rasa kaget. Warna mataku terlihat sedikit berbeda dari biasanya, terlihat lebih gelap dan memancarkan cahaya samar yang tidak biasa. Tanpa kusadari, pesan serta nasihat yang sering diucapkan oleh ibuku sejak kecil kini kembali terngiang dengan sangat jelas di dalam telingaku seolah baru saja diucapkan saat itu juga.

Aku pun segera berusaha mengingat-ingat di mana aku meletakkan bungkusan berisi barang-barang peninggalan ibuku itu, namun entah mengapa pikiranku terasa buntu dan aku sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Aku berjalan mondar-mandir ke sana kemari di dalam kamar dengan perasaan yang semakin gelisah dan cemas, hingga akhirnya ingatanku kembali terbangun—aku sempat menyembunyikan bungkusan itu di balik lipatan kain gorden jendela yang tebal tadi pagi. Saat telapak tanganku akhirnya menyentuh kain pembungkus itu, rasanya beban berat yang membebani dadaku perlahan terangkat dan aku merasa jauh lebih tenang.

Aku duduk perlahan di tepi kursi yang ada di dekat situ, lalu meletakkan bungkusan itu di atas permukaan meja kaca yang ada tepat di hadapanku. Dengan kedua tangan yang masih terlihat sedikit gemetar karena campuran rasa takut dan haru, aku mulai membuka lipatan kain pembungkus itu satu per satu dengan hati-hati. Dari dalamnya aku mengeluarkan pakaian-pakaian lamaku yang sudah terlihat lusuh, tipis, dan penuh jejak perjalanan serta kesusahan yang panjang. Di bagian kerah serta ujung-ujung bajunya, masih terlihat samar bekas noda lama yang tak pernah bisa hilang meski sudah dicuci berkali-kali.

Setelah itu tanganku meraih sebilah belati kecil yang juga tersimpan di dalam bungkusan itu—benda ini adalah pemberian langsung dari ibuku kepadaku sebelum ia pergi. Mataku menatap lekat ukiran pola kuno yang tertera dengan indah namun samar di bagian gagang belati itu, dan rasanya benda itu terasa sangat akrab dan menenangkan saat berada di genggamanku. Aku meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di sebelah tumpukan pakaian lamaku itu.

Kemudian tanganku meraba bagian paling dalam dari lipatan kain itu hingga akhirnya menyentuh sebuah botol kecil yang terbuat dari kaca gelap. Di dalam botol itu terisi serbuk berwarna hitam pekat yang terlihat tenang namun menyimpan kekuatan yang tak kuketahui sepenuhnya. Aku menatap benda itu dengan saksama cukup lama, lalu suara lirihku akhirnya terdengar memecah keheningan kamar itu. “Ibu… maafkanlah anakmu ini ya. Ternyata aku sudah melakukan kesalahan ini untuk kedua kalinya tanpa sadar. Aku berjanji mulai detik ini aku akan meminumnya setiap hari tanpa pernah terlewat sedikit pun.”

Aku pun berjalan perlahan menuju sisi tempat tidurku, lalu mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja kecil yang ada di sana. Dengan hati-hati dan penuh kehati-hatian, aku menuangkan sedikit saja serbuk hitam pekat itu ke dalam air bening itu, lalu meminumnya perlahan hingga habis tanpa menyisakan setetes pun. Tak lama kemudian aku kembali mendekat ke arah cermin besar itu, dan benar saja—hanya dalam waktu kurang dari satu menit, warna mataku yang tadinya tampak berbeda itu perlahan berubah kembali menjadi seperti warna aslinya yang biasa.

Aku bergumam pelan dengan suara yang sedikit bergetar karena penuh rasa bingung dan takut. “Sungguh hal yang sangat aneh? Dan aku ini sebenarnya makhluk apa? Apakah… apakah aku ini sebenarnya seorang monster?”

Hati dan dadaku seketika terasa sangat sesak karena rasa takut yang meluap tanpa alasan yang jelas. Kedua tanganku tanpa sadar meremas ujung pakaian yang kukakai hingga kain itu terlipat dan berkerut dengan kasar. Aku segera menggelengkan kepalaku dengan kuat berulang kali, berusaha sekuat tenaga untuk menepis pikiran yang gelap dan menakutkan itu secepat mungkin sebelum semakin meresap dan menguasai seluruh isi hatiku. “Tidak… tidak mungkinlah hal itu benar terjadi padaku,” bisikku pelan berusaha meyakinkan diriku sendiri agar tidak terus terhanyut dalam ketakutan yang sia-sia itu.

Saat sedang membereskan kembali barang-barang itu, mataku tak sengaja tertuju pada beberapa tanaman obat yang juga tersimpan di dalam sudut bungkusan itu. Terlihat beberapa batangnya mulai tampak layu, daun-daunnya sudah mulai berubah warna menjadi agak kekuningan, bahkan ada yang sudah rontok jatuh dari tangkainya karena terlalu lama terbungkus rapat tanpa udara segar. Aku segera membawa tanaman-tanaman itu masuk ke dalam kamar mandi, lalu menyiramnya dengan secukupnya agar kesegarannya kembali pulih perlahan. Setelah itu aku meletakkannya sementara waktu di tempat yang teduh di dalam kamar mandi itu, karena aku berniat untuk menanam dan merawatnya dengan benar pada keesokan harinya.

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kediaman itu, berdiri sebuah bangunan berbentuk aula yang sangat luas dan megah namun menyimpan suasana yang suram dan misterius. Bangunan itu ditopang oleh tiang-tiang batu yang sangat tinggi dan kokoh, seolah-olah tiang-tiang itulah yang menopang berat langit di atasnya. Di permukaan setiap dinding dan tiang batu itu terukir pola-pola tulisan dan gambar kuno yang samar namun terlihat penuh makna. Namun suasana di dalam aula itu terasa sangat gelap, dingin, dan sunyi senyap. Hanya ada beberapa lilin besar yang menyala di setiap sudut ruangan, namun cahaya yang mereka pancarkan sama sekali tidak cukup kuat untuk menerangi setiap sudut bangunan yang luar biasa besar itu.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!