Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Usai bertemu dengan Aurel, Mahesa tidak langsung pulang. Mobilnya melaju tanpa tujuan selama beberapa menit. Pikirannya kacau.
Ucapan Aurel masih terus terngiang di telinganya. "Aku tetap akan mengajukan gugatan cerai." Kalimat itu terasa seperti vonis.
Mahesa memukul pelan setir mobil. Rasa sesak di dadanya berubah menjadi kemarahan.
Namun kali ini, kemarahan itu bukan ditujukan kepada Aurel. Melainkan kepada satu orang. Yaitu Kayla.
Tidak lama kemudian, mobil Mahesa berhenti di parkiran Apartemen tempat Kayla tinggal.
Mahesa turun dengan langkah cepat. Tanpa banyak berpikir, Mahesa langsung masuk ke dalam apartemen.
Kayla yang baru saja selesai mandi tampak terkejut melihat Mahesa datang dengan wajah penuh emosi.
"Mahesa? Kamu—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mahesa langsung berkata dengan nada tinggi.
"Kenapa kamu bohong?"
Kayla mengernyit. "Maksud kamu?"
"Kamu bilang hamil!"
"Kamu datang ke rumah Aurel bawa test pack!"
"Padahal semuanya bohong!"
Wajah Kayla perlahan berubah. "Oh... jadi kamu sudah bilang ke Aurel?"
Mahesa mengepalkan tangan. "Jawab pertanyaanku!"
"Iya."
"Aku bohong." Jawaban itu keluar tanpa rasa bersalah.
Mahesa menatap Kayla tak percaya.
"Kamu sadar nggak apa yang kamu lakukan?"
"Kamu menghancurkan rumah tanggaku!"
Kayla tertawa sinis. "Aku?"
"Yang menghancurkan rumah tangga kamu itu siapa?"
"Aku sendirian?"
Mahesa terdiam.
Kayla melangkah mendekat. "Kalau kamu nggak selingkuh sama aku selama tujuh tahun..."
"Apa mungkin aku bisa datang ke rumah Aurel?"
Mahesa menggertakkan giginya. "Tapi kamu pakai kebohongan!"
"Aku terpaksa!" Bentak Kayla.
"Aku capek nunggu!"
"Tujuh tahun aku nunggu kepastian."
"Kamu terus bilang sabar."
"Kamu terus janji."
"Tapi nyatanya?"
"Nggak pernah ada perubahan."
Mahesa menggeleng. "Itu bukan alasan buat bohong soal kehamilan."
Kayla menatapnya tajam. "Lalu aku harus pakai cara apa?"
"Menunggu tujuh tahun lagi?"
"Atau sampai aku tua?"
Mahesa mengusap wajahnya kasar. "Aku benar-benar nggak nyangka kamu bisa sejauh ini."
Kayla tertawa hambar. "Aku juga nggak nyangka."
"Nggak nyangka kalau setelah semua terbongkar..."
"...hal pertama yang kamu lakukan adalah mengejar Aurel. Bukan aku."
Kalimat Kayla membuat Mahesa kehilangan kata-kata.
Kayla melanjutkan. "Kamu datang ke rumah orang tuanya."
"Kamu minta maaf."
"Kamu nolak cerai."
"Kamu berusaha mempertahankan Aurel."
"Lalu aku?"
"Aku ini apa?"
Mahesa memejamkan mata. "Aku salah."
"Tapi aku sadar siapa yang seharusnya aku pertahankan."
Air mata Kayla mulai jatuh. "Jadi selama ini..."
"...aku cuma pilihan kedua?"
Mahesa tidak menjawab. Diamnya membuat hati Kayla semakin hancur.
Kayla mengusap air matanya dengan kasar.
"Dulu setiap ketemu..."
"Kamu selalu bilang kangen."
"Kamu selalu meluk aku."
"Kamu selalu bilang sayang."
"Sekarang?"
"Yang kamu bawa cuma kemarahan."
Mahesa mengembuskan napas panjang. "Aku datang bukan buat bertengkar."
"Aku cuma ingin bilang..."
"Jangan pernah lagi membawa kebohongan sebesar itu."
Kayla tersenyum pahit. "Terlambat, Mahesa."
"Kita sudah sama-sama terlambat."
Ruangan kembali sunyi. Ironisnya. Dua orang yang selama tujuh tahun selalu mencari cara untuk bertemu diam-diam. Kini setiap pertemuan justru dipenuhi pertengkaran.
Tak ada lagi pelukan. Tak ada lagi kata rindu. Tak ada lagi janji-janji manis. Yang tersisa hanyalah saling menyalahkan. Karena ketika hubungan dibangun di atas pengkhianatan, cinta yang pernah terasa indah perlahan berubah menjadi beban yang saling melukai.
Sedangkan di rumah milik orang tua Kayla, suasana malam terasa berbeda. Ayah Kayla mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali melihat jam dinding.
Sedangkan ibunya beberapa kali melirik layar ponsel. Belum ada pesan. Belum ada kabar.
"Kok belum pulang juga?" Tanya sang ibu pelan.
Ayah Kayla mengembuskan napas. "Tadi siang keluarga Ardi telepon lagi."
"Iya." jawab ibunya Kayla.
"Mereka nanya kapan rencana lamaran dilanjutkan."
Ibunya mengangguk lesu. Sejak beberapa bulan terakhir, keluarga Ardi memang terus menanyakan kepastian hubungan kedua anak mereka.
Namun setiap kali ditanya, Kayla selalu meminta waktu. Dan beberapa hari yang lalu...Kayla akhirnya mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Pak... Bu... sebentar lagi aku akan datang membawa calon suamiku sendiri." Ucapan itu membuat kedua orang tuanya bingung sekaligus penasaran.
Mereka sempat mengira hubungan Kayla dengan Ardi memang benar-benar telah berakhir.
Meski kecewa, mereka tetap memilih menghormati keputusan putrinya.
Namun hingga malam semakin larut...Kayla tak kunjung pulang.
Sang ibu akhirnya mengambil ponselnya. "Aku telepon Kayla dulu."
Panggilan pertama. Tidak diangkat.
Panggilan kedua. Tetap tidak ada jawaban.
"Masih nggak diangkat." kata ibunya Kayla.
Ayah Kayla menghela napas panjang. "Lalu kita harus tanya ke siapa?"
Ibunya terdiam sejenak. Kemudian sebuah nama terlintas di benaknya.
"Aurel. Aurel pasti tahu."
Bagaimanapun, selama bertahun-tahun Aurel dan Kayla dikenal sebagai sahabat. Meski akhir-akhir ini mereka jarang terlihat bersama, orang tua Kayla belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa berpikir panjang, ibunya Kayla menekan nama Aurel di daftar kontak.
Beberapa detik kemudian..."Assalamu'alaikum." Suara Aurel terdengar dari seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam, Rel."
"Maaf malam-malam mengganggu."
"Nggak apa-apa, Tante."
"Ada yang bisa Aurel bantu?" tanya Aurel.
Perempuan paruh baya itu tersenyum lega.
"Begini, Rel."
"Kayla beberapa hari lalu bilang mau datang membawa calon suaminya."
"Tapi sampai sekarang belum pulang."
"Aurel tahu nggak siapa calon suami yang dimaksud?"
Di seberang sana Aurel terdiam. Pertanyaan itu terdengar begitu ironis. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Melainkan kepahitan.
Aurel menarik napas pelan. "Lho, Tante belum tahu?"
"Tahu apa, Rel?" tanya ibunya Kayla.
Aurel memejamkan mata sesaat. Lalu menjawab dengan tenang.
"Calon suami Kayla...adalah calon mantan suami Aurel."
Hening. Tidak ada jawaban dari seberang telepon. Beberapa detik berlalu.
"A... apa maksudmu?" Suara ibu Kayla mulai bergetar.
Aurel tidak lagi menyembunyikan kenyataan.
"Mahesa, Tante."
"Suami Aurel."
"Selama tujuh tahun, Kayla menjalin hubungan dengan Mahesa di belakang Aurel."
"Dan sekarang..."
"Aurel sedang mengurus proses perceraian."
Suara benda jatuh terdengar dari seberang telepon.
"Ayah..." Terdengar suara ibu Kayla memanggil suaminya dengan nada panik.
"Ayah...!"
Ayah Kayla segera menghampiri. "Ada apa?"
Dengan tangan gemetar, istrinya menyerahkan ponsel.
Ayah Kayla mengambilnya.
"Rel..."
"...apa yang barusan kamu bilang itu benar?" tanya Ayahnya Kayla.
"Benar, Om." Jawaban Aurel singkat.
Tidak ada nada marah. Tidak ada pula usaha untuk mempermalukan Kayla. Ia hanya mengatakan apa adanya.
Ayah Kayla menutup matanya rapat. Dadanya naik turun menahan sesak. Ia tidak menyangka. Anak yang selama ini mereka banggakan. Ternyata menyimpan rahasia sebesar itu.
"Maafkan kami, Rel." Suara lelaki itu terdengar sangat pelan.
"Kami benar-benar tidak tahu."
Aurel menggenggam ponselnya erat. "Aurel percaya, Om."
"Kalau Om dan Tante tahu sejak awal, pasti kalian tidak akan membiarkan semua ini terjadi." Air mata ibu Kayla mulai mengalir.
Selama ini mereka menunggu kabar bahagia dari putri mereka. Namun yang datang justru kabar yang membuat mereka nyaris kehilangan muka di hadapan siapa pun.
Malam itu. Bukan hanya keluarga Aurel dan Mahesa yang hancur. Keluarga Kayla pun akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit atas pilihan yang telah diambil oleh anak mereka sendiri.