Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bukan Aira yang Mudah Ditindas
Teddy mengerutkan keningnya setelah mendapat reaksi yang tak terduga. "Kamu mikir apa, Cah?" desisnya.
"Habis, Om bilang kayak gitu?" Bibir Aira mencabik, membuatnya terlihat sangat lucu.
Perlahan, bibir Teddy terulas senyum dan segera sirna karena ia berusaha untuk menjaga wibawa.
"Sekarang, kamu masuk ke rumah, bersihkan dirimu. Jangan lupa keramas, agar nanti malam rambutmu tidak mengotori jas-ku lagi saat kita melanjutkan sandiwara ini," sahut Teddy, menarik persneling bersiap melaju.
"Siap, Oom! Dadah, Om Triplek kesayangan!" balas Aira blak-blakan tanpa beban.
Kelakuannya hanya bisa membuat Teddy menggelengkan kepala seraya menaikkan kaca mobilnya dan perlahan melaju pergi meninggalkan halaman rumah.
Aira memandangi kepergian sedan hitam itu dengan perasaan yang melayang tinggi di awan.
"Ternyata seperti ini ya rasanya dijaga dan dijadikan ratu sejagat," gumamnya memutar badan dengan senyuman terhias di bibir.
"Kenapa Bu Lova lebih memilih Dokter Arnold dibanding Om Teddy ya? Padahal, kalau dilihat dari sisi mana pun, Om Teddy itu perfek banget," gumamnya yang perlahan debaran di dadanya semakin cepat.
.
.
Begitu mobil Teddy keluar dari pagar dan menghilang dari pandangan, suasana langsung berubah 180 derajat.
Brak!
Kotak kue berbahan beludru tadi dilempar begitu saja tepat di kaki Aira. Tante Nani telah mengeluarkan isi kue yang memiliki harga super mahal tadi. Dibawa oleh Reta ke dalam rumah.
Aira menatap kotak kosong itu dengan wajah herannya. "Lah? Ternyata isinya udah dibawa kabur," celetuk Aira sedikit menyindir tantenya itu.
Reta kembali muncul dengan mata fokus menatap ponsel baru di tangan Aira yang terkenal hanya dimiliki oleh para sultan. Reta langsung menyenggol lengan ibunya dengan sengit.
"Ma ... benar kan yang aku bilang. Anak kampung itu pasti telah menyerahkan dirinya jadi peliharaan Om-Om tadi. Hape itu dibelikan Om Teddy tadi tu," bisik Reta ketus, menghasut Nani, ibunya
"Padahal, Beni bilang mereka belum putus. Masa iya udah ada aja Om-Om spek sultan yang ngaku jadi pacar barunya? Pakai beliin ini, beliin itu, semua harganya mahal. Kan gak masuk akal, Ma!"
Aira mencibir mengulangi apa yang dikatakan Reta dengan kepala bergoyang-goyang. "Katanya gak masuk akal, tapi kuenya udah dibawa kabur duluan. Kalau gak mau, ya udah sini! Buat aku aja," cibir Aira dengan santai.
"Heh, kau diam dulu!" bentak Tante Nani bertolak pinggang, menatap Aira dengan tatapan sinis, menaruh kecurigaan yang besar setelah mendapat tambahan amunisi kejulitan dari sang putri.
"Jadi ... begitu kelakuan kamu di luar sana, Anak Kampung?!" suara Tante Nani tajam.
"Pantas saja kamu berani diam-diam kabur dari rumah ini. Terus, dengan sengaja mengabaikan telepon Tante dari siang. Ternyata kamu sibuk menjual diri demi modal ganti hape baru dan barang-barang mewah begini? Kamu tidak mikir ya, gimana kalau kelakuan murahanmu ini sampai ke telinga ibumu di kampung?!"
Aira yang sedari tadi sudah tak bersiap, hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Lalu?" tanyanya dengan singkat sembari memainkan jemarinya, memperlihatkan ketidak tertarikannya mendengar omelan sang tante. Kalaupun ia jelaskan, pasti akan membuat drama yang baru.
Melihat reaksi Aira yang tak menunjukkan ketakutannya sama sekali, membuat Tante Nani semakin naik pitam. "Anak Kampung! Kau ini diajarin sopan santun nggak sama Bapak Ibuk-mu di kampung sana?" teriaknya.
Mendengar kedua orang tuanya disebut seperti itu, seketika kepala Aira tegak menyipitkan matanya, menatap Nani dengan tajam.
Reaksi Aira membuat Nani semakin jengkel dan bergerak melayangkan tangannya kepada Aira. Namun, saat tangan itu hampir mengenai pipi Aira, ternyata sudah tercekal kuat oleh gadis itu. Aira tak memperlihatkan ketakutan sama sekali dan menguatkan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Nani.
"Tante ... kalau aku mau jual diri, apa masalahnya buat Tante?" decisnya tepat di depan hidung Nani.
"Tante tadi bertanya, apa aku diajari sopan santun oleh Bapak dan Ibuk?" Ia sengaja menjeda ucapan demi meningkatkan ketegangan. Agar mereka tahu, Aira yang selalu saja mereka hina ini, bukan lah perempuan lemah.
"Tentu saja Bapak dan Ibuk-ku mengajarkan semuanya. Karena itu aku mau tinggal di rumah Om Jovan. Kalau engga, ngapain juga aku tinggal di sini?"
"Tapi, Tante sendiri gimana? Apa Tante sendiri yang ngajarin Mbak Reta untuk memfitnah orang lain? Kan kalian tidak tahu asal usul hapeku ini? Mentang-mentang tadi menguping pembicaraanku sama Mas Beni. Malah beneran ngira ini Om Teddy yang belikan ... Ck!" decaknya dengan blak-blakan.
Nemun, pergelangan tangan Nani masih tercekal erat dalam cekalannya. Genggaman tangan Aira semakin lama terasa semakin kuat. Hingga membuat Nani meringis kesakitan.
"Lepas!" Gigi Nani tertaut dan matanya mengernyit karena rasa sakit yang luar biasa.
"Lepaskan mamaku!" Reta datang hendak memukul lengan Aira.
Namun, sebelum tangan sepupunya menyentuh lengannya, Nani dilepaskan begitu saja. Hingga membuat Reta memukul angin dan membuat kakak sepupunya itu limbung menabrak sang ibu.
"Aaaaggghhh ...." teriak mereka serempak.
Bruk
Mereka jatuh bersamaan menumbur lantai yang dingin.
Aira sedikit terkekeh melihat kekonyolan dua orang itu. Lalu, berjongkok membisikkan sesuatu.
"By the way, kue tadi kan hasil aku jual diri tu? Kalian pasti nggak suka kan? Aku ambil ya? Lumayan hasil jualanku bisa buat ngenyangin perut loh ..."
Reta menggigit bibirnya. Ia menatap sang ibu dengan memelas. Tentu saja Reta ingin memiliki kue mahal yang terkenal dengan kelezatannya itu. Bahkan, dia baru mencobanya satu kali saat ulang tahun temannya dulu.
Aira seakan bisa membaca gelagat ibu dan anak itu dengan senyum penuh makna, ia bangkit.
"Baik lah, sepertinya kalian tak mau. Berarti aku ambil ya," ucapnya masuk ke dalam membiarkan mereka yang masih tergeletak di atas ubin.
Dengan cepat ia mengambil kue tadi dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Mampus ..." gumamnya sembari tertawa puas.
.
.
.
Setengah jam kemudian, Aira telah membersihkan diri. Ia bersiap untuk membagi-bagi red velvet yang tadi berhasil dia rebut dari Tante Nani dan Reta. Dengan lincah, tangannya memotong-motong kue tersebut.
"Ini buat Ririn ... Dia pasti seneng dapat kue ini. Kami sama-sama anak perantauan, mana pernah mencoba yang beginian?" gumamnya.
"Yang ini, buat aku ... Ini buat Om Teddy nanti malam. Ini buat Om Jovan." Ia menatap sisa dua potong lagi.
"Pokoknya aku tak mau kasih Tante Nani dan Mbak Reta. Mereka udah jahat sama aku," gumamnya penuh dendam.
Tok
Tok
Tok
"Aira ... Kamu lagi apa?" Terdengar suara Om Jovan yang mungkin baru pulang dari kantornya.
"Papa ... Dia sengaja sembunyi. Dia udah nyuri kue yang kami beli tadi. Sudah gitu, dia mendorong kami. Mama jadi sakit pinggang gara-gara dia," ringis Reta mengadu berdiri di samping sang ayah bagai korban yang teraniaya.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣