NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Satu Hari Menuju Pernikahan

Bab 19 - Satu Hari Menuju Pernikahan

Wajah Marla seketika memucat, rahangnya mengeras dan tangannya yang tadi terlipat kini mengepal kuat. Suaranya yang tadinya lantang berubah menjadi bergetar, bercampur rasa takut dan amarah yang tertahan.

"Bercerai? Kamu berani mengancam saya hanya karena anak ini?" Sambil menunjuk wajah Raisa. "Ardi, ingat baik-baik! Saya sudah mendampingimu bertahun-tahun, membantu mengurus rumah tangga ini, dan kini kamu memilih memarahiku di depan mereka?" bentaknya, namun nada bicaranya sudah tak setegas sebelumnya.

Ardi melangkah mendekat, tatapannya tajam dan dingin—sesuatu yang jarang terlihat oleh siapa pun. "Saya tidak mengancam, Marla. Saya menyampaikan kenyataan. Selama ini saya menutup mata, berharap hatimu bisa melunak dan menerima Raisa sebagai bagian dari keluarga. Tapi apa balasannya? Selalu ada saja tuduhan, perkataan pedas, dan sikap yang menyakiti hatinya. Hari ini saja, kamu benar-benar keterlaluan! Apa kamu ingat apa janjimu sebelum kita menikah? Kamu berjanji akan menerima Raisa menjadi anak kandung kamu sendiri, lalu apa yang terjadi? Kamu melanggarnya."

Ia menoleh ke arah Raisa yang masih berdiri diam, matanya berkaca namun ia berusaha menahan diri agar tidak menangis. "Raisa bekerja keras membantuku mengurus perusahaan. Uang yang ia gunakan adalah hasil keringatnya sendiri, bukan uang rumah tangga yang seharusnya untuk kebutuhan kita. Jadi hak penuh dia gunakan untuk apa saja, termasuk memanjakan adiknya."

Indri yang sudah tenang sedikit, berdiri di samping Raisa sambil memegang lengan kakaknya, seolah ingin memberi dukungan. "Benar kata Papa. Kak Raisa tidak pernah meminta apa-apa dari kita, bahkan sering menahan diri agar tidak menimbulkan masalah. Tapi kenapa Mama selalu saja mencari kesalahan dia?"

Marla terdiam sejenak, tak menemukan jawaban yang pantas. Ia sadar kali ini Ardi benar-benar marah, bukan sekadar memarahi seperti biasanya. Rasa takut kehilangan kedudukan dan kemewahan yang ia nikmati selama ini mulai merayapi hatinya. Ia tahu, jika benar bercerai, ia tidak akan mendapatkan apa-apa yang setara dengan kehidupannya sekarang.

Dengan nada yang lebih lembut, meski masih terasa berat, Marla berkata, "Baiklah... saya akui saya bertindak berlebihan tadi. Saya hanya khawatir kondisi keuangan perusahaan yang sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Saya takut pengeluaran menjadi tidak terkendali."

Ardi menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Kekhawatiranmu itu wajar, tapi caramu salah. Kamu bisa bicara baik-baik, bukan merampas barang dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Ingat, Raisa sebentar lagi akan menikah. Ia butuh ketenangan, bukan pertengkaran yang membuat pikirannya semakin kacau."

Ia melirik ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh rasa bersalah sekaligus sayang. "Raisa, maafkan Papa jika suasana rumah menjadi tidak nyaman untukmu. Mulai hari ini, Papa pastikan hal seperti ini tidak terulang lagi."

Raisa mengangguk perlahan, suaranya terdengar lembut namun tegas. "Tidak apa-apa, Pa. Saya mengerti kekhawatiran Mama. Saya hanya berharap, setidaknya sampai hari pernikahan tiba, suasana di rumah ini bisa tetap tenang. Aku tidak ingin ada hal buruk yang merusak momen itu, sekalipun saya sendiri belum tahu apakah saya akan bahagia nantinya."

Mendengar kalimat itu, hati Ardi terasa perih. Ia tahu betul pengorbanan yang harus dilakukan putrinya itu demi menyelamatkan perusahaan dan nama baik keluarga. Tanpa banyak bicara lagi, ia menoleh ke Marla sekali lagi dengan pandangan yang mengingatkan.

"Kamu dengar apa yang dikatakan Raisa? Berikan dia ketenangan yang ia butuhkan. Jika sekali lagi saya melihat sikap yang sama, perceraian itu bukan lagi ancaman, tapi keputusan yang akan saya jalankan secepatnya."

Marla hanya menunduk, tidak berani membantah lagi. Ia berbalik badan dan berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan ketiga orang itu di ruang tengah.

Setelah kepergian Marla, suasana kembali hening. Indri segera memungut kembali barang-barang yang berserakan dan memeluk Raisa erat-erat. "Kak, jangan dipikirkan kata-katanya ya. Kita punya Papa dan kita punya satu sama lain. Itu sudah cukup."

Raisa tersenyum tipis sambil mengusap punggung adiknya, lalu menatap Ardi yang kini terlihat lelah. "Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah membela Raisa hari ini."

Ardi mendekat, menepuk bahu putrinya dengan lembut. "Maafkan Papa, Nak. Papa tahu beban yang kamu pikul sangat berat. Tapi percayalah, semoga semua ini menjadi jalan terbaik untukmu. Besok, adalah hari terakhir kamu di sini, papa berharap kamu baik-baik saja?"

Napas Raisa terasa sesak mendengar kalimat itu. Hari yang indah tadi seolah memudar seketika, digantikan oleh kenyataan yang menanti di depan mata. Namun ia hanya mengangguk, berusaha menguatkan hatinya sekali lagi.

"Ya, Pa. Aku akan baik-baik saja."

Di tempat lain Senopati sedang mendatangi lokasi tempat pembangunan gedung barunya, gedung itu akan ia jadikan pabrik untuk mengelola barang-barang yang tidak mampu pabrik besarnya selesaikan, karena semakin hari semakin banyak permintaan pemasok barang dari klien.

"Tuan, kita kembali sekarang? Ini sudah malam, bukankah Tuan akan mampir ke butik untuk mencoba jas yang tempo hari Tuan di ganti ukurannya." Radit yang sejak tadi pagi siap mendampingi Senopati tak lupa mengingatkan jadwal ke butik.

"Hm, baiklah, tapi apa saya saja yang pergi ke butik? Raisa tidak ikut?" Mereka sudah berada di dalam mobil, melaju membela malam yang sudah di penuhi kegelapan.

"Tidak Tuan, nona Raisa sudah cocok dengan gaunnya dan tidak ada lagi yang perlu di ubah."

Senopati hanya mengangguk pelan, namun tatapannya yang menatap ke luar jendela terasa kosong. Di balik ketenangannya, pikirannya melayang jauh, membayangkan wajah Raisa—wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya, namun hatinya terasa masih tertutup rapat.

"Baiklah, kita ke butik itu dulu," ucapnya singkat, suaranya rendah dan berat. "Setelah itu, antar saya pulang ke kediaman. Besok pagi kita harus bertemu lagi dengan keluarga Ardi untuk membahas persiapan terakhir."

Radit mengangguk paham, lalu menyampaikan pesan ke pengemudi. Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan menyala terang memancarkan cahaya kuning yang memantul di kaca jendela.

Sesampainya di butik pakaian eksklusif itu, pemiliknya sudah menunggu di depan pintu dengan senyum sopan. "Selamat datang, Tuan Senopati. Jas yang Anda pesan sudah selesai disesuaikan ukurannya, silakan masuk dan coba langsung."

Senopati mengikuti masuk ke ruang pas yang luas dan rapi. Begitu mengenakan jas itu, potongannya pas sempurna di tubuhnya, menonjolkan wibawa dan ketegasan yang selalu ia miliki. Namun saat melihat bayangannya di cermin besar, ia tidak merasa puas sepenuhnya. Sesuatu terasa kurang—seolah kebahagiaan yang seharusnya menyertai momen persiapan pernikahan itu tak pernah benar-benar hadir.

"Tuan, ukurannya sangat pas. Sangat cocok untuk hari bahagia nanti," puji pemilik butik dengan nada meyakinkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!