Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kulit Baja dan Mata Jiwa
Malam itu terasa abadi. Di dalam kamar tertutup rapat itu, waktu seolah berhenti berputar. Hanya ada suara desisan energi Qi yang mengalir deras seperti air terjun, dan erangan tertahan dari dua tubuh yang sedang ditempa ulang.
Lin Fan memimpin aliran energi dari Batu Spirit Puncak. Ia tidak menyerapnya untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Sebaliknya, ia bertindak sebagai filter dan pompa, mendorong energi murni yang telah disaring ke dalam meridian Bao Da.
Tubuh Bao Da bereaksi keras. Otot-ototnya membengkak, urat-urat hitam menonjol di kulitnya yang kini berwarna kemerahan karena panas ekstrem. Keringat hitam pekat—racun sisa metabolisme seluler—mengucur deras, membentuk genangan bau busuk di lantai.
"Tahan, Bao Da!" bisik Lin Fan, suaranya tegang meski wajahnya tenang. "Jangan lawan rasa sakitnya. Biarkan energi itu menghancurkan struktur lamamu dan membangun yang baru. Ingat teknik Gema Bumi? Rasakan getaran di setiap serat ototmu!"
Bao Da mengangguk lemah, matanya terpejam rapat. Giginya bergemeretak. Ia merasa seolah-olah tubuhnya sedang dibakar dari dalam oleh lava cair. Tapi ia percaya pada Lin Fan. Ia melepaskan kendali atas rasa takutnya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada aliran Qi yang dipimpin sahabatnya.
Di sisi lain, Lin Fan juga menderita. Menjadi konduktor bagi energi sebesar itu menguras jiwanya. Meridiannya sendiri berteriak protes, retak-retak halus muncul di dinding saluran Qi-nya. Tapi ia menekan rasa sakit itu dengan Teknik Naga Chaos, menggunakan kekacauan energi untuk menambal keretakan secara instan.
Satu tingkat... Dua tingkat...
Bao Da menembus Tahap Pembukaan Meridian Tingkat 5. Lalu Tingkat 6.
Tiba-tiba, tubuh Bao Da bergetar hebat. Sebuah suara krak keras terdengar dari tulang belakangnya.
"Bao Da!" seru Zhang Wei dari sudut ruangan, tangannya sudah siap memegang pedang jika terjadi ledakan.
"Jangan ganggu!" perintah Lin Fan tajam. "Ini saat kritis. Tulangnya sedang memadat."
Energi dari Batu Spirit Puncak pertama habis berubah menjadi abu. Lin Fan segera mengambil batu kedua, memecahkannya, dan menyuntikkan energinya langsung ke inti Dantian Bao Da.
Ledakan cahaya merah muda memancar dari tubuh Bao Da. Kulitnya yang sebelumnya kasar mulai mengelupas, digantikan oleh lapisan baru yang berkilau seperti tembaga tempa. Otot-ototnya menyusut sedikit, menjadi lebih padat dan efisien, bukan lagi massa besar yang kaku.
Bao Da membuka matanya. Iris matanya yang cokelat biasa kini memiliki cincin emas tipis di sekeliling pupilnya.
"Aku... aku merasa ringan," gumam Bao Da, suaranya berat namun jelas. Ia mengangkat tangannya, mengepalkannya. Udara di sekitarnya berdesis tertekan.
Lin Fan tersenyum lelah, keringat membasahi dahinya. "Selamat datang di Tingkat 7, Bao Da. Kau melompat tiga tingkat dalam satu malam. Fondasimu sekarang sekeras baja murni."
Bao Da menatap Lin Fan dengan rasa hormat yang mendalam. "Boss... aku tidak akan pernah lupa ini."
"Simpan ucapan terima kasih itu," kata Lin Fan sambil menutup mata, kembali fokus pada dirinya sendiri. "Sekarang, giliran saya."
Ia mengambil Batu Spirit Puncak ketiga. Energinya jauh lebih stabil daripada dua batu sebelumnya karena Lin Fan tahu persis bagaimana cara menyerapnya tanpa filter.
Lin Fan memasuki keadaan Kehampaan Jiwa. Kali ini, ia tidak hanya menyerap Qi. Ia menggunakan momentum dari keberhasilan Bao Da untuk mendorong batas kesadarannya.
Tingkat 5... Tingkat 6... Tingkat 7...
Saat ia mencapai Puncak Tingkat 7, sesuatu yang aneh terjadi. Dunianya tidak menjadi lebih terang, tapi lebih dalam. Ia bisa merasakan detak jantung Zhang Wei di sudut ruangan. Ia bisa mendengar angin berhembus di luar gedung, bahkan suara langkah kaki seekor kucing di atap tetangga.
Indranya telah berevolusi. Ini bukan sekadar pendengaran atau penglihatan yang tajam. Ini adalah Mata Jiwa (Spirit Eye) tahap awal. Ia bisa melihat aliran Qi makhluk hidup sebagai warna-warna samar.
Zhang Wei bersinar biru tenang. Bao Da bersinar merah menyala, padat dan kuat.
Lin Fan membuka matanya. Pupilnya hitam pekat, tapi jika diperhatikan, ada kilatan emas yang berputar perlahan di dalamnya.
"Aku mencapai Tingkat 7," kata Lin Fan pelan. "Tapi lebih penting lagi, aku bisa 'melihat' niat pembunuhan."
Zhang Wei mendekat, wajahnya pucat karena kelelahan menjaga pintu. "Ada orang di luar?"
Lin Fan mengangguk. "Dua orang. Berdiri di atap gedung sebelah timur. Jarak 50 meter. Mereka mengamati jendela kita."
Bao Da segera berdiri, aura merahnya meledak sesaat. "Haruskah aku menghajar mereka?"
"Tidak," kata Lin Fan tenang. "Jika kita menyerang sekarang, kita mengakui bahwa kita tahu mereka ada. Biarkan mereka berpikir kita masih lemah dan terluka. Ketidaktahuan adalah senjata terbaik kita saat ini."
Ia mengumpulkan abu batu spirit dan menyembunyikannya di pot bunga. Kemudian, ia membersihkan lantai dari kotoran hitam Bao Da dengan sihir pembersih dasar.
"Kita harus terlihat normal besok," instruksi Lin Fan. "Bao Da, jangan pamerkan kekuatan barumu. Bertingkahlah seperti biasa. Zhang Wei, tetap waspada. Siapa pun yang mengirim mata-mata itu pasti ingin tahu seberapa jauh kita berkembang."
Mereka mengangguk serempak. Persahabatan mereka kini diikat oleh darah, keringat, dan rahasia bersama.
Pagi harinya, matahari terbit cerah. Lin Fan, Bao Da, dan Zhang Wei keluar dari asrama seolah-olah tidak ada yang terjadi. Bao Da berjalan dengan gaya khasnya yang sedikit membungkuk, meski langkahnya jauh lebih ringan. Lin Fan tampak pucat, tapi itu bisa disalahartikan sebagai efek samping luka lama.
Saat mereka berjalan menuju kantin, mereka melewati Li Tianhao yang sedang dipapah oleh dua pengawalnya. Wajah Li Tianhao bengkak, matanya kosong. Ia menatap Lin Fan dengan kebencian murni, tapi tidak berani melakukan apa-apa. Rasa takut akan kekalahan memalukan di arena masih menghantuinya.
Lin Fan mengabaikannya. Ia membeli roti spirit biasa, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tapi di balik ketenangan itu, pikiran Lin Fan bekerja cepat.
Mata-mata itu mengenakan jubah hitam dengan lambang ular kecil di lengan. Itu bukan anak buah Tetua Wang. Lambang itu milik Klan Bayangan, organisasi pembunuh bayaran bawah tanah.
Kenapa Klan Bayangan tertarik padanya? Apakah karena kemenangannya di turnamen? Atau ada hal lain yang lebih gelap?
Lin Fan menggigit rotinya, matanya menyapu kerumunan siswa. Ia melihat Gu Yichen duduk sendirian di meja pojok, membaca buku. Gu Yichen menoleh sekilas, lalu memberikan kedipan mata hampir tak terlihat ke arah Lin Fan.
Dia juga tahu, pikir Lin Fan. Gu Yichen melihat mereka juga.
Pertemuan singkat itu mengirimkan pesan diam-diam: Kita tidak sendirian. Ada pemain lain di papan catur ini.
Lin Fan tersenyum tipis. Baiklah. Jika mereka ingin bermain permainan bayangan, Lin Fan akan menunjukkan kepada mereka bahwa bahkan di kegelapan total, Naga Chaos bisa melihat segalanya.
"Makanlah dengan cepat," kata Lin Fan pada teman-temannya. "Hari ini kita punya kelas Kontrol Elemen Lanjutan. Dan aku punya perasaan... Instruktur Yan akan meminta kita berpasangan untuk sparring."
Bao Da mengerutkan kening. "Sparring? Dengan siapa?"
Lin Fan menatap ke arah meja di mana Su Qingxue duduk sendirian, membaca catatan alkimia.
"Dengan siapa pun yang cukup kuat untuk menguji kulit bajamu yang baru, Bao Da," jawab Lin Fan misterius. "Dan mungkin... dengan seseorang yang bisa mengajariku tentang racun yang tidak bisa dinetralkan."