NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Nilai Sebuah Pil

Ruangan pemurnian milik Tetua Guo Rong jauh lebih tenang dibandingkan aula utama yang berada di luar.

Dinding-dinding batu berwarna gelap dipenuhi rak kayu yang tertata rapi. Di atasnya tersusun berbagai botol giok, kotak penyimpanan tanaman spiritual, hingga gulungan kitab yang sebagian telah menguning dimakan usia. Aroma obat memenuhi setiap sudut ruangan. Wangi daun roh yang segar bercampur dengan bau pahit dari sisa-sisa ramuan yang baru selesai dimurnikan.

Di tengah ruangan berdiri sebuah tungku alkimia setinggi dada orang dewasa.

Permukaannya berwarna hitam pekat dengan ukiran naga yang seolah sedang melingkari seluruh badan tungku. Meski api di bawahnya telah padam, hawa panas yang tersisa masih terasa jelas.

Pandangan Feng Bai Hu hanya menyapu tungku itu sekilas.

Yang benar-benar menarik perhatiannya justru beberapa botol giok putih yang berjajar rapi di atas meja batu di samping Tetua Guo Rong.

Jumlahnya ada enam.

Ukurannya sama.

Masing-masing tertutup rapat menggunakan sumbat kayu cendana.

Bai Hu menelan ludah tanpa sadar.

Di matanya, botol-botol itu bukan sekadar wadah pil.

Melainkan... tumpukan batu roh yang sedang menunggunya.

Tetua Guo Rong yang duduk di seberang meja tidak langsung membuka percakapan. Ia justru memperhatikan ekspresi bocah di hadapannya dengan saksama.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan."

Bai Hu tersentak. Ia buru-buru menggeleng.

"Tidak, Tetua."

"Benarkah?"

Tetua Guo tertawa pelan.

"Kalau begitu, coba katakan. Apa hal pertama yang muncul di kepalamu ketika melihat botol-botol ini?"

Bai Hu terdiam sejenak.

Ia menimbang-nimbang apakah harus berkata jujur atau mencari jawaban yang terdengar lebih pantas.

Namun hanya beberapa tarikan napas kemudian, ia menghela napas pasrah.

"Berapa harga jualnya."

"..."

Ruangan mendadak sunyi.

Tetua Guo Rong menatap Bai Hu cukup lama.

Kemudian menggeleng sambil terkekeh pelan.

"Benar-benar tidak meleset,Bahkan sebelum melihat isi pilnya, kau sudah memikirkan harga."

Bai Hu menggaruk pipinya.

"Itu keharusan, Tetua, bukankah sebelum membeli atau menjual sesuatu, kita harus tahu nilainya terlebih dahulu?"

Tetua Guo tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia menuangkan secangkir teh hangat, lalu mendorongnya ke arah Bai Hu.

"Minumlah."

Bai Hu menerima cangkir itu dengan kedua tangan,aroma teh memenuhi hidungnya.

Namun pikirannya tetap tertuju pada botol-botol giok di atas meja.

Tetua Guo memperhatikan tingkah bocah itu sambil tersenyum tipis.

Entah mengapa, semakin lama berbicara dengan Bai Hu, semakin ia merasa bocah ini berbeda dari anak-anak lain seusianya.

Bukan karena bakat kultivasinya.

Melainkan cara berpikirnya.

Anak-anak lain akan bertanya tentang kualitas pil, khasiat pil, atau teknik pemurnian.

Sedangkan Bai Hu...

Hal pertama yang dipikirkan justru nilai jualnya, sungguh aneh.

namun Itu cukup menarik.

Tetua Guo akhirnya meletakkan cangkir tehnya.

"Baiklah,Kita mulai dari hasilnya."

Tetua Guo mengambil botol giok paling depan, kemudian membuka sumbatnya perlahan.

Seketika aroma obat yang lembut memenuhi ruangan.

Bai Hu tanpa sadar menghirup napas lebih dalam.

Meskipun belum pernah meminum Pil Penguat Tulang, ia bisa merasakan bahwa aroma pil ini jauh berbeda dibandingkan ramuan biasa.

Tetua Guo menuangkan isi botol ke atas telapak tangannya.

Butiran-butiran pil berwarna putih gading bergulir pelan.

Permukaannya halus.

Bentuknya hampir bulat sempurna.

Pada permukaan pil tampak samar garis-garis tipis berwarna keemasan yang saling terhubung membentuk pola alami.

Mata Bai Hu sedikit membesar.

"Itu...Pil Penguat Tulang kualitas menengah."

Tetua Guo mengangguk pelan.

"Tepat, ada lima butir."

Tetua Guo kemudian membuka botol kedua.

Isinya juga lima butir.

Botol ketiga, ada empat butir.

Botol keempat ,lima butir.

Satu demi satu botol dibuka.

Sampai akhirnya seluruh pil tersusun rapi di atas meja batu.

Bai Hu tidak lagi berkedip.

Matanya bergerak cepat menghitung jumlah pil yang ada.

Lima...

Sepuluh...

Empat belas...

Sembilan belas...

Dua puluh tiga...

Dua puluh sembilan.

"Dua puluh sembilan butir."

Ia bergumam pelan.

Tetua Guo mengangguk puas.

"Dari empat puluh dua batang Bintang Perak Biru yang kau serahkan, dengan tambahan bahan lain milik Aula Alkimia, total yang berhasil dimurnikan adalah dua puluh sembilan Pil Penguat Tulang kualitas menengah."

Tetua Guo berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Sebenarnya hasil ini cukup bagus, kalau diserahkan kepada alkemis biasa, kemungkinan hanya menghasilkan dua puluh atau dua puluh dua butir."

Bai Hu masih belum menjawab.

Tatapannya belum lepas dari pil-pil di atas meja.

bukan karena kagum , melainkan sedang menghitung.

Jika satu pil dijual...

Berapa keuntungan bersihnya?

Berapa biaya bahan tambahan?

Berapa nilai empat puluh persen milik Tetua Guo?

Dijual sekarang atau menunggu harga naik?

Melihat wajah Bai Hu yang begitu serius, Tetua Guo sempat mengira bocah itu sedang mengagumi kualitas pil buatannya.

Sampai akhirnya...

"Tetua." Bai Hu memanggil

"Hm?" Tetua Guo menatap Bai Hu

"Berapa biaya tambahan yang Tetua keluarkan?" imbuh Bai Hu

"..."

Tetua Guo berkedip.

"Bahan pendukung."

"ya ,, Api pil, Waktu, Kalau dihitung semuanya...Berapa harganya?" ucap Baihu kembali

Alkemis tua itu benar-benar tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut anak berusia tujuh tahun.

"Kau... ingin menghitungnya?"

Bai Hu mengangguk polos.

"Tentu.Kalau ingin bekerja sama dalam jangka panjang, kita harus sama-sama untung."

Kalimat itu membuat Tetua Guo terdiam.

Ia telah puluhan tahun menjadi alkemis.

Bekerja sama dengan keluarga besar.

Rumah lelang, Bahkan sekte.

Namun...

Belum pernah ada seorang anak kecil yang berbicara tentang kerja sama jangka panjang dengan ekspresi setenang ini.

Dan yang lebih mengejutkan lagi...

Bocah itu sama sekali tidak sedang memikirkan bagaimana memperoleh bagian lebih besar.

Ia justru ingin memastikan kedua belah pihak tetap mendapatkan keuntungan.

Tetua Guo perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi.

Tatapannya terhadap Bai Hu mulai berubah.

Untuk pertama kalinya, Ia tidak lagi melihat Bai Hu hanya sebagai anak kecil jenius keluarga Feng.

Di hadapannya sekarang duduk seorang anak yang memiliki naluri pedagang luar biasa.

Seseorang yang mungkin, akan mengubah cara banyak orang memandang dunia.

Tetua Guo Rong tidak segera menjawab pertanyaan Bai Hu.

Sebaliknya, beliau mengambil kembali cangkir tehnya, meniup permukaannya perlahan, lalu menyesapnya sedikit. Tatapannya tidak pernah lepas dari bocah gemuk yang duduk di hadapannya.

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Hanya suara bara api di dalam tungku yang sesekali memercik pelan.

Beberapa saat kemudian, Tetua Guo meletakkan cangkirnya.

"Selama puluhan tahun menjadi alkemis, aku sudah bekerja sama dengan banyak orang."

"Bahkan beberapa kepala keluarga besar pernah membawa tanaman spiritual kepadaku untuk dimurnikan."

Beliau berhenti sejenak.

"Mereka semua menanyakan hal yang sama."

Bai Hu mendongak.

"Apa itu, Tetua?"

"'Berapa banyak pil yang berhasil?, Berapa kualitasnya?,Berapa bagianku?'"

ucap Tetua Guo tersenyum tipis.

"Tetapi kau..."

Tetua Guo menunjuk Bai Hu menggunakan jarinya.

"Justru bertanya berapa biaya yang kukeluarkan."

Bai Hu tampak sedikit bingung.

"Memangnya aneh?Bukankah itu pertanyaan yang wajar?"

Tetua Guo tertawa kecil.

"Justru karena terlalu wajar, tidak ada yang pernah menanyakannya."

Bai Hu mengerutkan dahinya.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Menurutnya, jika ingin bekerja sama dalam waktu lama, kedua belah pihak harus sama-sama mendapatkan keuntungan.

Kalau hanya satu pihak yang untung...

Kerja sama itu tidak akan bertahan lama.

"Itu yang diajarkan ayahku."

ucap Bai Hu pelan.

"Kalau ingin orang kembali berdagang dengan kita...Jangan membuat mereka rugi."

Mendengar kalimat itu...

Ekspresi Tetua Guo perlahan berubah.

Beliau tiba-tiba teringat pada Feng Zhen Hai.

Pria itu memang terkenal sebagai kepala cabang yang sangat piawai mengurus perdagangan keluarga.

Ternyata, Sebagian cara berpikirnya telah diwariskan kepada putra bungsunya.

Namun bocah ini tampaknya mengembangkannya ke arah yang jauh lebih ekstrem.

Tetua Guo mengusap janggut putihnya.

"Baiklah, kalau begitu aku akan menjawab pertanyaanmu."

Tetua Guo mengambil selembar kertas kosong.

Dengan kuas kecil mulai menulis.

Empat puluh dua batang Bintang Perak Biru.

Bahan pendukung sebanyak dua puluh tiga jenis.

Biaya bahan pendukung...

Delapan batu roh tingkat rendah.

Biaya kayu api spiritual...

Dua batu roh.

Penggunaan tungku...

Satu batu roh.

Dan...

Beliau tersenyum kecil.

Tenaga seorang alkemis tingkat tiga.

Tetua Guo sengaja tidak menuliskan angka terakhir, Ia ingin melihat bagaimana reaksi Bai Hu.

Bocah itu memperhatikan seluruh catatan tersebut dengan saksama.

Lalu...

Tanpa meminta kuas.

Tanpa menggunakan kertas.

Ia mulai menghitung di atas meja menggunakan jarinya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Jarinya bergerak sangat cepat.

Sesekali bibirnya ikut bergumam pelan.

Tetua Guo awalnya hanya memperhatikan dengan santai.

Namun semakin lama...

Ekspresinya berubah.

Kecepatan berhitung Bai Hu sungguh luar biasa.

Bahkan beberapa murid alkimianya yang telah dewasa belum tentu mampu mengikuti perhitungan secepat itu.

Tidak sampai satu menit.

Bai Hu mengangkat kepala.

"Tetua."

"Hm?"

"Kalau dihitung berdasarkan harga pasar saat ini, keuntungan Tetua sekitar tiga belas batu roh."

Tetua Guo membelalak.

"Apa?"

Bai Hu kembali melanjutkan.

"Kalau seluruh pil dijual sekarang, Namun kalau menunggu sekitar dua bulan , Harga Pil Penguat Tulang biasanya naik sekitar lima belas sampai dua puluh persen dan keuntungan Tetua bisa bertambah dua batu roh lagi."

Ruangan kembali sunyi.

Tetua Guo benar-benar kehilangan kata-kata.

Bukan karena hitungan Bai Hu salah.

Justru semuanya benar.

Tidak meleset sedikit pun.

Bahkan bocah itu berhasil memperkirakan perubahan harga pasar dengan cukup akurat.

"Siapa,Yang mengajarimu semua ini?"

tanya Tetua Guo perlahan.

Bai Hu menggaruk pipinya.

"Tidak ada, Aku hanya sering berjalan-jalan di pasar, lalu mendengar orang-orang berbicara kemudian menghitung sendiri."

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun justru membuat Tetua Guo semakin terkejut.

Berjalan-jalan...

lalu mendengar...

Kemudian mampu menarik kesimpulan seperti itu?

Kalau benar...

Berarti kemampuan observasi bocah ini jauh melampaui usianya.

Tetua Guo menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tatapannya berubah semakin dalam.

Di hadapannya bukan hanya seorang jenius kultivasi.

Melainkan...

Seorang anak yang memiliki bakat alami dalam memahami nilai suatu benda dan perdagangan.

Dan itu...

Jauh lebih langka daripada bakat alkimia.

Tetua Guo tiba-tiba teringat sesuatu.

"Tuan Muda, boleh aku bertanya satu hal?"

Bai Hu mengangguk.

"Tentu."

"Kenapa kau membeli Bintang Perak Biru waktu itu? padahal kau belum tahu cara membuat pil."

Pertanyaan itu membuat Bai Hu tersenyum kecil.

"Karena murah."

Tetua Guo hampir tersedak.

"Hanya itu?"

iya."

"Bukankah tanaman langka biasanya mahal?, Kalau ada tanaman langka dijual murah, aku hanya perlu mencari tahu kenapa, dan kalau ternyata benar-benar berharga aku akan untung ,kalau salah, aku rugi sedikit, tapi kalau tidak membeli, aku tidak pernah tahu jawabannya."

Tetua Guo terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun, di dalam dunia perdagangan...

Cara berpikir seperti itulah yang membedakan pedagang biasa dengan pedagang besar.

Mereka berani mengambil risiko.

Tetapi risiko yang telah dihitung.

Tetua Guo menatap Bai Hu cukup lama.

Lalu tiba-tiba tertawa keras.

"Hahahaha!! Bocah.,Kau benar-benar aneh."

Bai Hu ikut tersenyum.

"Ayah juga sering bilang begitu,tapi menurutku..aneh belum tentu buruk."

Tetua Guo mengangguk pelan.

"Benar , aneh memang belum tentu buruk."

Tetua Guo perlahan berdiri dari kursinya.

Kemudian berjalan menuju salah satu rak kayu di sudut ruangan.

Di sana tersimpan puluhan kitab tua.

Beliau mengambil satu gulungan kitab yang sudah tampak usang.

Permukaannya bahkan mulai menguning dimakan usia.

Saat kembali ke meja...

Beliau meletakkan gulungan itu tepat di depan Bai Hu.

Tok.

Suara lembut bergema di dalam ruangan.

Bai Hu memandang kitab tersebut dengan bingung.

"Tetua...Ini apa?"

Tetua Guo tidak langsung menjawab.

Beliau justru menatap Bai Hu dengan sangat serius.

"Sebelum aku menjawab.. aku ingin bertanya satu hal lagi,

"Kalau suatu hari nanti aku mengajarimu alkimia, apa alasanmu ingin belajar?"

Pertanyaan itu membuat Bai Hu membeku.

Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Ruangan kembali sunyi.

Tatapan Tetua Guo tetap tertuju kepadanya.

ia ingin tahu.

Apakah bocah ini akan menjawab karena ingin menjadi alkemis hebat...

Atau...

Karena alasan lain.

Sementara Bai Hu...

Mulai memikirkan jawaban yang menurutnya paling jujur.

Ruangan itu kembali sunyi.

Pertanyaan Tetua Guo Rong masih menggantung di udara.

"Kalau suatu hari nanti aku mengajarimu alkimia... apa alasanmu untuk belajar?"

Bai Hu tidak langsung menjawab.

Ia menatap gulungan kitab tua di atas meja, kemudian memandang tungku alkimia yang masih memancarkan hawa hangat. Aroma tanaman spiritual memenuhi ruangan, membuat suasana terasa tenang.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki Aula Alkimia, ia benar-benar berpikir sebelum berbicara.

Tetua Guo pun tidak mendesak.

ia sengaja menunggu.

Seorang anak seusia Bai Hu biasanya akan menjawab dengan penuh semangat.

"Aku ingin menjadi alkemis hebat."

Atau...

"Aku ingin membuat pil terbaik di dunia."

Namun entah mengapa, Tetua Guo merasa bocah gemuk di hadapannya tidak akan memberikan jawaban sesederhana itu.

Benar saja.

Setelah menarik napas pelan, Bai Hu mengangkat kepalanya.

"Karena..."

Ia berhenti sejenak.

"...biaya meminta alkemis memurnikan pil terlalu mahal."

"..."

"..."

Tetua Guo mematung.

Sudut mata pria tua itu berkedut keras.

Selama puluhan tahun hidupnya...

Beliau telah menerima puluhan murid.

Setiap murid datang dengan impian yang besar.

Ada yang ingin menjadi alkemis nomor satu.

Ada yang ingin menyelamatkan dunia dengan pil.

Ada pula yang ingin terkenal.

Tetapi...

Belum pernah.

Benar-benar belum pernah.

Ada seseorang yang ingin belajar alkimia hanya supaya tidak perlu membayar jasa alkemis.

Tetua Guo perlahan mengangkat tangan dan memijat pelipisnya.

"Kau...Benar-benar..."

Beliau menghela napas panjang.

"...tidak pernah gagal membuatku sakit kepala."

Bai Hu tampak bingung.

"Apa jawabanku salah?"

"Tidak salah tapi juga tidak benar" ucap Tetua Guo

"Lalu bagaimana yang benar?"

Tetua Guo mendengus pelan.

"Setidaknya berpura-puralah mengatakan ingin mengejar Dao Alkimia."

Bai Hu berpikir sejenak.

Kemudian menggeleng.

"Itu bohong, kalau aku berbohong sekarang, nanti Tetua akan kecewa,jadi lebih baik jujur sejak awal."

Tetua Guo kembali terdiam.

Aneh.

Jawaban itu justru membuat beliau sulit marah.

Bocah ini memang mata duitan.

Tetapi...

Ia tidak munafik.

Ia tidak berusaha mencari jawaban indah hanya untuk menyenangkan orang lain.

Apa yang ada di pikirannya, itulah yang keluar dari mulutnya.

Sifat seperti ini mungkin akan membuat banyak orang kesal.

Namun di sisi lain...

Sangat jarang ditemukan.

Tetua Guo menghela napas pelan sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Baiklah, setidaknya kau jujur."

Bai Hu tersenyum puas.

Ia memang tidak suka berpura-pura.

Kalau tujuan utamanya memang ingin menghemat biaya pemurnian pil, untuk apa disembunyikan?

Baginya, tidak ada yang memalukan.

Tetua Guo mengambil gulungan kitab tua itu lalu membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat berbagai gambar tanaman spiritual beserta penjelasan singkat mengenai sifat masing-masing.

Sebagian halaman bahkan telah menguning dimakan usia.

"Ini,adalah kitab pengenalan tanaman spiritual."

Bai Hu mengangguk pelan.

"Tetua ingin meminjamkannya?"

"Bukan."

Tetua Guo menggeleng.

"Aku memberikannya kepadamu."

Mata Bai Hu sedikit membesar.

"Memberikan?"

"Ya." jawab Tetua Guo

"Tidak perlu dikembalikan."

Bai Hu tidak langsung mengambil kitab itu.

Sebaliknya ia menatap Tetua Guo dengan penuh curiga.

"Gratis?" Tanya Bai Hu

Tetua Guo hampir tersedak ludahnya sendiri.

"..."

"Ya gratis."

Bai Hu masih belum bergerak.

"Benar-benar gratis?"

"Benar." jawab tetua Guo

"Tidak ada biaya tersembunyi?" tanya Bai Hu

"Tidak." Ucap Tetua Guo dengan nada tidak sabar

"Tidak harus membeli tanaman dari Aula Alkimia?" Bai Hu kembali bertanya

"Tidak."

"Tidak harus menjadi murid Tetua?"

"Tidak."

"Tidak perlu membayar nanti?"

"TIDAK!"

Suara Tetua Guo menggema memenuhi ruangan.

Beberapa murid yang sedang bekerja di luar spontan menoleh ke arah ruang guru mereka.

Mereka saling berpandangan.

"Apa yang terjadi? Apa Guru marah?

Siapa yang berani membuat Guru berteriak seperti itu?? "

Mereka tentu tidak tahu bahwa orang yang berhasil membuat Tetua Guo kehilangan kesabaran hanyalah seorang bocah berusia tujuh tahun.

Di dalam ruangan.

Bai Hu akhirnya mengangguk puas.

"Kalau begitu aku terima."

Ia segera mengambil kitab tersebut dengan kedua tangan.

Sikapnya kali ini jauh lebih sopan dibanding biasanya.

Tetua Guo memperhatikan itu.

Beliau menyadari sesuatu.

Meskipun Bai Hu sangat mencintai uang...

Bocah ini ternyata sangat menghargai ilmu.

Ia memang terus bertanya apakah kitab itu gratis.

Namun begitu memastikan bahwa kitab tersebut benar-benar diberikan dengan tulus, ia langsung menerimanya menggunakan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan.

Hal kecil itu membuat kesan Tetua Guo terhadap Bai Hu kembali berubah sedikit.

"Tuan Muda."

Tetua Guo kembali berbicara.

"Menurutmu..."

"Apa yang paling penting dalam alkimia?"

Bai Hu menjawab hampir tanpa berpikir.

"Tanaman spiritual."

Tetua Guo menggeleng.

"Salah."

"Api?" Jawab Bai Hu

"Salah." jawab Tetua Guo

"Tungku?" Imbuh Bai Hu

"Salah lagi."

Bai Hu mulai berpikir lebih serius.

Kalau bukan bahan.

Bukan api.

Bukan tungku.

Lalu apa?

Melihat Bai Hu mulai kebingungan, Tetua Guo tersenyum tipis.

"Yang paling penting adalah,kesabaran."

Bai Hu mengernyit.

"Kesabaran?"

Tetua Guo mengangguk.

"Api yang terlalu besar akan menghancurkan obat."

"Api yang terlalu kecil membuat khasiatnya tidak keluar."

"Menambah satu napas terlalu cepat bisa gagal."

"Mengurangi satu tarikan napas juga bisa gagal."

"Alkemis yang hebat bukan yang memiliki api paling kuat."

"Tetapi, yang mampu menahan dirinya."

Ucapan itu membuat Bai Hu perlahan terdiam.

Ia tidak membantah, karena ia tahu...

Tetua Guo sedang berbicara berdasarkan pengalaman puluhan tahun.

Tetua Guo melanjutkan,

"Seorang alkemis harus belajar menunggu, belajar mengamati, belajar memahami, kalau hanya terburu-buru mengejar hasi, yang didapat hanyalah kegagalan."

Kalimat itu terasa sederhana.

Namun masuk jauh ke dalam hati Bai Hu.

Bukankah selama ini ia juga sering seperti itu?

Begitu melihat peluang.

Ia langsung berlari mengejarnya.

Jarang sekali ia benar-benar berhenti untuk menunggu waktu yang tepat.

Melihat Bai Hu yang mulai tenggelam dalam pikirannya, Tetua Guo tersenyum puas.

Tetua Guo sengaja tidak memberi nasihat panjang.

Ia tahu anak seperti Bai Hu tidak suka diceramahi.

Lebih baik membiarkannya menemukan jawabannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Tetua Guo mendorong salah satu botol giok ke arah Bai Hu.

"Ini bagianmu."

Bai Hu refleks mengambilnya.

Namun sebelum sempat membukanya...

Tetua Guo kembali berkata,

"Tunggu."

Bai Hu berhenti.

"Pil itu bukan untuk dijual."

Bai Hu langsung mengangkat kepala.

"Kenapa?"

"Karena pil pertama yang kau peroleh, harus kau gunakan sendiri." ucap Tetua Guo menjelaskan

Bai Hu tampak tidak rela.

"Tapi kalau dijual..."

"Tidak."

Nada suara Tetua Guo kali ini jauh lebih tegas.

"Kalau tubuhmu tidak kuat, bagaimana kau ingin pergi mencari tanaman spiritual sendiri?"

"Kalau kultivasimu tertinggal, bagaimana kau ingin melindungi keuntunganmu?"

Bai Hu terdiam.

Tetua Guo tahu.

Kalau berbicara soal menjadi pendekar hebat, Bai Hu mungkin tidak peduli.

Tetapi kalau berbicara tentang menjaga keuntungan...

Itu bahasa yang dipahami bocah ini.

Benar saja.

Setelah berpikir cukup lama...

Bai Hu akhirnya mengangguk pelan.

"Baik, aku akan memakainya."

Tetua Guo tersenyum tipis.

"Bagus, mulai hari ini datanglah ke Aula Alkimia setiap tiga hari sekali."

Bai Hu berkedip.

"Untuk apa?"

Tetua Guo memandangnya dengan mata penuh makna.

"Karena aku ingin melihat apakah seorang bocah mata duitan sepertimu benar-benar bisa menjadi seorang alkemis."

Bai Hu menatap Tetua Guo beberapa saat.

Kemudian perlahan tersenyum.

Senyum itu tidak selebar biasanya.

Namun untuk pertama kalinya sejak memasuki Aula Alkimia...

Ia merasa sedang membuka pintu menuju dunia yang benar-benar baru.

Dunia yang bukan hanya dipenuhi tanaman spiritual dan pil.

Melainkan dunia yang mungkin...

Suatu hari nanti akan menjadi salah satu jalan terpenting dalam hidupnya.

Di luar Aula Alkimia, angin pagi kembali berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di halaman keluarga Feng.

Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pertemuan sederhana antara seorang alkemis tua dan bocah berusia tujuh tahun itu kelak akan melahirkan seorang alkemis yang namanya mengguncang seluruh Donghai Xianzhou.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!