Latar belakang Watanabe Miho cuma orang biasa saja. Hanya yang membedakannya adalah ia seorang praktisi ilmu bela diri Ninja. Di umur 22 tahun barulah hidup Miho berubah 180° derajat. Orang-orang yang ia usaha lindungi, dicelakai dan terperangkap rangkaian peristiwa traumatis. Ujian kematian ini terungkap, Miho tidak sendirian melawan sebuah tokoh mitos yang hidup dalam masyarakat selama ratusan tahun.
Ketika utas rahasia masa lalunya terkoneksi, faksi dari Oda Nobuyoshi terancam akan dibungkam mati. Orang-orang kepercayaan Watanabe Toshitsugu juga menutup-nutupi tentang jati dirinya, yang mana mengarahkan rasa penasarannya ke arah sarang harimau.
Berbagai upaya pun Miho lakukan demi bisa bertahan hidup dan membalaskan dendam lewat jejak berdarah yang mereka tinggalkan. Pada akhirnya pertarungan terakhir yang akan menjadi penentu. Mengubur kebenaran di balik punggungnya? Maka, Miho sanggup mengupas tuntas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadhitana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putar Waktunya Kembali
Di depan tanjakan tangga menuju kuil Atago. Sekadar olahraga pun Miho suda sangat memandang malas, “Heee ... Entah kenapa orang di negaraku ini pecinta tangga,” keluh Miho usai baru menapaki tangga pertama menuju bukit kuilnya.
Melewati puluhan anak tangga, pikirannya sempat terbesit ingatan soal Ayahnya yang selalu merecoki tidak boleh menelepon kecuali darurat.
Aliran udara menerpa untaian rambut hitam legam Miho, hingga nampak dari jauh aura suram berpadu gelap yang mengitarinya. Di antara pohon-pohon sakura memayungi jalan ke puncak, dia bergerak lincah.
Tiba sampai di puncak bukit, menara Fukuoka yang di kenal sebagai landmark terlihat jelas dari bukit Atago, sangat megah dan menjulang tinggi. Kaca-kaca menara itu dari jauh memantulkan sinar senja matahari.
Ia jadi mengingat kembali perjalanannya tadi, mulai dari stasiun Hakata 20 menit menuju kuil Atago yang dekat dengan perumahan.
Arah kiri dia berjalan, melewati patung kuda, dan sampailah di bangku taman. lalu, duduk sambil memandangi piringan matahari tenggelam hampir selesai di lautan luas Fukuoka.
Setidaknya ini masih jam lima, tersisa waktu mengagumi betapa luar biasanya arsitektur geometris si menara landmark.
“Apa terjadi sesuatu sampai-sampai menghubungiku? Karena Ayah tidak ngomong apapun soal misimu. Aku harus tahu bila terjadi sesuatu denganmu …”
“Aku tidak perlu menjelaskan apapun. Ini misiku dan Shinobi tidak boleh mengungkapkan misinya, maupun prioritas. Seharusnya kau paham larangan, Miho,” tegur Toshitsugu.
Ditegur keras, Miho tak dapat terang-terangan mengungkapkan kecemasan. “Masalahnya, tuan Oda Nobuyoshi mulai menghadapi masalah besar. Pasti Ayah tahu kasus di prefektur Shizuoka. Tak mungkin kau tidak tahu tahu, kasus itu disiarkan di televisi dan Ayah ahli mencari informasi."
Sang Ayah duduk di samping Miho. Hanya puluhan menit saja mereka dapat bertemu. Lebih dari itu sangatlah berbahaya. “Soal kemungkinan pembunuh Imagawa Norihide?”
“Tuan bilang kemungkinan besar pembunuhnya adalah praktisi Shinobi, tapi tidak tahu dia siapa dan bekerja untuk tujuan apa.” Miho sangat paham mengapa mereka tidak leluasa membicarakan hal ini. “Selain itu, aku mendapat kecaman lagi, tentang berhenti belajar dan fokus dengan satuan unit. Tapi Oda Nobuyoshi tidak bisa mengendalikanku, karena dana uang kampus bukan berasal darinya.”
“Sebaiknya kau berhenti kuliah, Miho,” imbau Toshitsugu.
Miho menyeret tatapannya, tidak mengherankan Ayahnya mendukung Nobuyoshi. “Jadi, ayah setuju bahwa aku sebaiknya berhenti di tengah jalan?”
Toshitsugu mengangguk. “Iya. Pekerjaan asli kita menuntut kerahasiaan identitas diri. Mustahil bisa berbaur seperti masyarakat biasa, kita memiliki prioritas, Miho,” tekannya mengabaikan kesedihan Miho. “Priotitas kita adalah melindungi Oda Nobuyoshi dan putranya. Itu pekerjaan kita, kau harus terima.”
Mengerjapkan mata, menutupi keresahan dan kekecewaan yang harus ditelan pahit. “Aku tak memiliki pilihan lain, Ayah. Ini keinginan terbesarku, aku diizinkan kuliah juga karena Matsudaira Ryusho membutuhkan pengawas! Jadi, di mana letak salahku!”
Sorot mata Toshitsugu menampakkan ketidaksukaannya. Wajahnya datar menunjukkan dia pria yang amat tertutup. “Kau bisa lari dari kenyataan, tapi kau tidak bisa lari tanggung jawab, nak. Begitulah cara dunia bekerja dari dulu,” ujar Toshitsugu menasihati. “Bagimu dunia kejam, pelit, dan tidak memberimu pilihan. Bukankah kita harus menanamkan syukur karena diberkahi kelebihan?”
Miho meringis, mengerutkan hidungnya. Bisa-bisanya dia bawa topik keahlian membunuh, spionase ke ranah kehidupan di tengah masyarakat. “Kelebihan kita yang tidak boleh dipamerkan, betapa lucunya omongan Ayah. Maksudmu bersyukur karena kita bisa membunuh orang lain tanpa ketahuan?” Ia menggeleng. “Jangan sampai aku memberitahumu kalau tuan kita ini pelit dan seenaknya sendiri.”
“MIHO!” tegur Toshitsugu, matanya melotot. Memperingati mulut Miho yang sudah kelewatan. “Kita tidak boleh menghina orang yang mempekerjakan jasa kita.”
“Lalu? Apa kita harus hidup seperti tikus, sembunyi dan keluar saat malam hari!” pekiknya mendongak, meskipun tatapan menusuk Ayahnya lebih mengerikan. “Kita berdua manusia!”
Toshitsugu berdiri, kemarahan sudah tak terelakan lagi. Semua itu tidak mengurangi keberanian Miho bersuara. Lalu Miho ikut berdiri, berhadapan seperti dua orang yang siap berduel.
“Manusia lahir dengan warisan, Miho. Warisan yang mau kau buang itu terdiri dari darah, daging, dan kehormatan keluarga! Apakah itu tidak menjelaskan betapa pentingnya semua yang kita lalui?” kata Toshitsugu dengan nada yang merendah. Namun, Miho tahu nada itu paling berbahaya. “Bebas tak membuatmu bisa lari dari kewajiban.”
Miho terpatung cemas, raut wajahnya berubah pucat. “Bukan kata bebas yang aku coba jelaskan padamu. Tapi keselamatanmu ditempatkan di posisi paling berbahaya. KENAPA! Kau tidak dikasih pilihan!” Miho menarik napas gusar.
Itu kata-kata yang lucu, getir di tenggorokkan. “Tidak ada di dunia ini pekerjaan yang tidak memiliki risiko. Sama seperti kita, risiko ini kita tempuh dengan keyakinan.”
Miho terlampau gusar. Tahu pasti firasatnya semakin memburuk, dan di otaknya selalu berbising kematian. “Ayah, aku rasa dan aku amat yakin bahwa kita tidak berhadapan dengan politik orang lain,” ungkap Miho mengamati Toshitsugu lekat-lekat. “Ini sesuatu yang jauh lebih berbahaya! Kepulangan Hashiba Jiro menebalkan semua asumsiku. Kau dalam bahaya!”
“Miho!” Toshitsugu meneriaki Miho yang berada dalam kepanikan. “Kendalikan dirimu, tujuan Hashiba Jiro datang ke Fukuoka karna kesepakatannya dengan Oda Nobuyoshi. Seorang Shinobi harus tutup mulut. Tidak boleh sembarangan mengatakan isi perasaan, atau mereka akan memanfaatkanmu!”
“Tapi aku hanya punya dirimu,” raungnya sedih.
Mulut Toshitsugu kering. Namun tak mengubah ketegasannya. “Maka, belajar hiduplah tanpaku, Miho.”
“Bagaimana kau bisa berkata tanpa pikir panjang!” pekik Miho, ia mengeratkan kepalan tangannya. Bertekad menuntaskan perjanjian, sebagaimana diketahui keduanya telah mengikat sumpah pada Oda Nobuyoshi.
“Seharusnya kau sudah sadar, kita semua sendirian di dunia ini. Mustahil mempertahankan keluarga saat situasi berubah genting.”
“Mustahil?” Miho menatap Ayahnya dengan pandangan tidak percaya kata itu baru saja keluar dari mulut Ayahnya. “Lalu kenapa aku lahir!”
Lidah Toshitsugu berubah kaku. Ketegangan memuncak di antara mereka. Dengan tergagap Toshitsugu menjelaskan, “Dari awal memang aku tidak pernah berharapkan kehadiranmu. Itu jawabanku Miho.”
Sesuatu pecah menjadi serpihan. Miho menggigit bibir mendengar jawaban ketus Ayahnya. “Lalu kenapa kau tak membunuhku saat masih bayi. Kau bisa mengirimku langsung ke neraka!” tantang Miho langsung berdiri tegap menghadapi kekerasan Ayahnya.
“Karena aku perlu anak yang bisa bekerja di bidang ini,” Toshitsugu mengaku.
Ini betul-betul luar biasa. Mata hitamnya penuh kepasrahan ganjil. Ini bukan jawaban yang dikehendaki Miho. Sambil mengenang masa-masa yang mereka lalui, Miho terpaksa setuju, bahwa keluarga ini beracun sejak dari awal.
Keduanya hening dalam sengit.
“Tugasku melindungi Oda Nobuyoshi dan keturunannya,” jawab Toshitsugu berjalan menjauh, lalu berhenti di tepian pagar pembatas bukit. “Bila terjadi sesuatu padaku, ini adalah tugasmu menggantikanku.”
Miho terlihat terdiam membeku. Namun, ia telah mendengarkan baik-baik perintah Ayahnya.
Toshitsugu yang setenang air, terkadang bisa kisruh kalau tidak sejalan dengan orang lain. “Selalu ingat Miho, perintah tuan Oda Nobuyoshi harus kau patuhi dan jangan pernah kau mengkhianatinya.”
Kekecewaan yang begitu dalam bagaikan pisau dihujamkan ke jantung Miho. Toshitsugu malah sangat percaya dirnya akan memilih menusuk punggung Oda Nobuyoshi. “Luar biasa, kau curiga aku akan mengkhianatinya daripada percaya putrimu sendiri?” ulang Miho membeo. Ia tak habis pikir pola pikir Ayahnya.
Toshitsugu berputar, tatapan itu terhenti pada Miho.
Diam, lama, di sana ada marah yang ditahan. Kesedihan yang bahkan Toshitsugu enggan tunjukkan. Namun, di jauh dari semua perasaan manusiawi. Terdapat kebohongan yang tersimpan rapi. Ia mengubur keraguan menjadi sebuah keyakinan bahwa Watanabe Miho pasti bisa menemukan satu-persatu semua kebenaran yang ia kubur.
Bila Miho berseberangan dengan keyakinannya, ia tidak bisa memiliki penyesalan, dia harus seteguh gunung guna menghadapi kesulitan. Semua tergantung Miho bagaimana cara dia menyikapi pesoalan yang tejadi masa depan.
Miho tahu ada yang aneh dengan sikap Toshitsugu hari ini. Tapi tiada guna bertanya karena semua akan ditepis mentah-mentah.
Mereka saling membaca kode ekspresi yang hanya mampu dimengerti oleh anak dan orang tua.
“Aku tahu kau tidak akan setuju.” Raut Toshitsugu menepis semua kemungkinan risiko yang dicakap oleh Miho, putrinya. “Hanya tinggal masalah waktu. Tanpa kau ketahui, tuan Nobuyoshi sudah tahu konsekuensi diselidiki balik oleh musuh yang membunuh Imagawa Norihide. Kalau tidak hari ini kita menyelidiki duluan, mungkin suatu saat Oda Nobuyoshi dan putranya akan mengalami nasib yang sama!”
“Aku tidak bodoh membaca situasinya! Semua ada sebab dan akibat. Mustahil mereka kerja sendirian, tapi kau seorang diri di sana,” tukas Miho menuduh perhitungan risiko Toshitsugu yang meremehkan kekuatan jumlah musuh.
“Kalau kau ikut denganku, lalu siapa yang akan menjaga tuan Oda dan Matsudaira Ryusho?”
Miho menarik napas panjang walau telah dibungkam dengan serangan pertanyaan Ayahnya. Dia tak bisa meninggalkan orang-orang itu demi bisa melindungi Watanabe Toshitsugu.
Menganggap Miho memahami keputusan mereka, Toshitsugu berkata, “Itu adalah tugasmu saat aku berpergian jauh,” papar Toshitsugu sangat terburu-buru.
“Apakah lokasimu jauh, di mana tepatnya?” Miho tahu Toshitsugu tidak mau mengubah dan bersikeras teguh pada pendiriannya.
Lalu netra Toshitsugu terdiam pada satu sudut pandang, tak bergerak. Seperti menapak tilas semua kenangan masa lalu. “Sangat jauh dan lebih baik kau tidak ikut.”
“Apa kita bisa bertemu lagi?”
Arus angin malam berubah kencang. Menerpa kelopak bunga yang terjatuh. Toshitsugu tertawa kecil. “Kau membenciku, aku tak yakin kau mau ikut.”
Miho menyeringai. “Ya aku membencimu sampai rasanya lebih kau pergi saja.”
Tidak, bukan kebohongan. Ia tahu perasaan Miho. “Miho.”
“Ya?” Miho masih meladeni.
“Selalu ingat, memilih impian dan cinta tidak dapat berakhir bahagia. Pilih dengan bijak, lepaskan salah satu. Kau tidak boleh serakah dengan ingin memiliki keduanya.” Toshitsugu pun bingung pada dirinya sendiri, mengapa memilih nasihat tersebut untuk Miho saat hendak pamit.
Hari ini bukit Atago menjadi saksinya, akan pertama kalinya Toshitsugu berbicara panjang lebar.
Pelipis Miho berdenyut-denyut, mengetahui situasi dibalik punggungnya, lebih darurat. “Aku paham.” Walau itu jawaban palsu, ia masih tidak paham maksud Ayahnya sekarang. Mencari jawaban hanya akan menimbulkan pertanyaan lainnya, dan itu merepotkan.
“Dengar!” bentak Toshitsugu bernada suara bariton. “Aku titipkan padamu di loker sebuah kunci jika kejadian buruk menimpaku, kau bisa mengambilnya,” gertak Toshitsugu membisik.
“Kunci? Kunci untuk membuka apa?” Alis Miho terangkat.
Di sini letak kerumitannya. Toshitsugu hendak menjelaskan lebih lanjut. Akan tetapi keadaan tidak mendukung. “Nanti kau akan tahu kuncinya untuk membuka apa. Aku berharap kau bisa menentukan arahnya sendiri. Apapun yang kau temukan itu adalah kenyataannya dan aku tidak berbohong. Paham sampai sini, Miho?”
“Aku memahami. Tapi seperti katamu, arah ke mana yang harus dipilih?” jawab Toshitsugu langsung membungkam mulut Miho.
“Buatlah pilihan berdasarkan apa yang kau ketahui saja. Sisanya biarkan takdir menuntutmu,” ujar Toshitsugu. Dia mengatakannya dengan ringkas dan lugas seolah ini lebih dari sekadar persoalan bisnis.
Cahaya temaram di bukit kuil Atago menyembunyikan kehancuran di mata Miho. “Sedari awal kau memang mau pergi, kan? Tidak ada niat mau jadi sosok Ayah yang baik.”
“Benar,” sahut Toshitsugu datar.
Menerima jawaban Watanabe Toshitsugu, Miho diliputi kemarahan yang tak dapat dijelaskan dengan kosakata manapun. Semua sarafnya serasa mati rasa. “Kalau begitu pergilah sejauh mungkin. Jangan kembali,” usirnya. Miho memaksakan ucapan ini walau bohong dan sakit menikam kepala.
“Ya, kulakukan. Miho …” ucapan Toshitsugu terjeda sebelum ia mampu mengumpulkan sisa keberanian. “Hiduplah dengan baik,” usul Toshitsugu memotivasi Miho dan akhirnya tersenyum risau.
Tak menjawab, Miho mencerna baik-baik perkataan angin lalu itu. Lalu keheningan melanda, tak satupun yang berani mengatakan kalimat perpisahan.
Tak lama Toshitsugu berani bertanya. “Tidakkah yang paling berat itu adalah merendahkan diri untuk membunuh keangkuhan?”
Berat bebatuan mengisi rongga dada. “Ya, karena membunuh sifat angkuh adalah dengan tidak memikirkan diri sendiri,” jawab Miho yang dari tadi sudah siap menumpahkan air mata, namun terhalang gengsi.
Toshitsugu mengangguk bangga, ternyata Miho masih ingat jelas ajarannya.
Toshitsugu menyunggingkan senyum terdatar, seakan sudah merapikan penampilan. Janggutnya bahkan sudah di cukur rapi. Tanpa menunggu lama, dilangkahkan segera kedua kaki, mengubur dalam-dalam semua rahasia yang akan dia bawa. Toshitsugu meninggalkan tempat itu, punggungnya sudah tidak kelihatan lagi oleh sepasang mata Miho yang indah.
Sepuluh menit, dua, tiga, hingga satu jam telah berlalu.
Miho tinggal sendirian terduduk di bangku.
Mengulang-ulang pembicaraan mereka. Tentu saja tanpa mengkonfirmasi di mana lokasi nanti dia berada.
Hilang, tiada jejak sesuai kemauan Watanabe Toshitsugu.
Sebuah pertemuan adalah awal dari perpisahan.
Wajahnya menengadah menatap lurus ujung cakrawala Fukuoka.
Buliran air mata mengalir turun deras.
Padahal dirinya menatap langit demi membentengi dari kelemahan perasaan manusiawi, tetapi hatinya kali ini menang selangkah.
Air lebih kuat, hingga bersikeras menunjukkan kelemahan terbesarnya. “Aku sendiran lagi, teganya kau,” gumam Miho tidak melawan isakan tangis penyebab luka batinnya.
...Bersambung......