Cinta Hito pada Vanessa yang begitu hebat, menjadi buyar setelah Hito membuat surat perjanjian bersama Genk Kobra.
Saat itu terjadi, Vanessa mengakui semuanya, dia hanya memanfaatkan Hito, begitupun pikirannya tentang Hito.
Vanessa memilih pergi dari kehidupan Hito untuk selamanya, sampai tidak satupun orang terdekat Hito yang mengingat siapa Vanessa, menjadikan Hito seperti orang gila yang hanya berhalusinasi.
Hito selalu berpikir keras "Bagaimana mungkin cinta pertamanya adalah hayalannya sendiri?"
Note: semoga cerita ini menghibur walau banyak ngasalnya, semoga mata kalian tetap sehat melihat tebaran typo yang amazing, dan semoga kalian tetap bertahan dengan segala ketidakberdayaan author menampung keluhan dan emosi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiki Kp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Vanessa bungkam?
"Tidak sepertinya itu hanya perasaanmu" ucap Vanessa sambil tersenyum dan berjalan perlahan ke sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Hito mengernyitkan keningnya curiga pada Vanessa dan duduk di kursinya untuk menandatangani beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.
Setelah beberapa saat Vanessa melangkah keluar dari ruangan.
"Kemana?" tanya Hito.
"Heheh mau jalan jalan sebentar,aku bosan menunggu mu" ucap Vanessa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Hito.
Vanessa turun dari lift dan segera menuju parkiran, Vanessa menolehkan kepalanya ke sekeliling.
Tiba tiba ada sebuah tangan memegang pundak Vanessa.
Secara refleks Vanessa menghadap ke arah orang yang mengangetkannya tadi.
Pria itu tersenyum menatap Vanessa sambil menurunkan tangannya dari pundak Vanessa.
"Bisa kita berbicara sebentar?" tanya pria itu sambil mengenakan kaca mata hitam yang tergantung di kerah depan bajunya.
Vanessa mengangguk dan mengikuti langkah pria itu ke sebuah bangku kosong yang ada dibawah pohon rindang.
"Kenapa dari tadi anda mematai matai kami?" tanya Vanessa pada pria itu.
"Sebelumnya perkenalkan saya Reza Martin, asisten pribadi dari tuan Alexander Distinois ketua Genk kobra" ucap pria yang bernama Reza itu terang terangan.
"Jadi ada perlu apa anda dengan saya?" tanya Vanessa.
"Bisakah nyonya Vanessa nanti malam datang ke alamat ini" ucap pria itu sambil menyodorkan sehelai kertas berisikan nama restoran dan alamatnya pada Vanessa.
"Untuk apa?" tanya Vanessa heran.
"Ada yang ingin dibicarakan tuan saya pada nyonya Vanessa, jadi bisakah nanti malam nyonya Vanessa pergi sendiri? atau nanti mau saya jemput?" usul Reza.
Vanessa menggelengkan kepalanya "anda tak perlu menjemput saya, akan saya pastikan saya datang ke tempat itu tepat waktu, dan pastinya seorang diri" ucap Vanessa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Reza.
Reza tersenyum melihat Vanessa yang mau menerima ajakannya dengan mudah, jadi Reza tak perlu menghalalkan cara apapun agar Vanessa mau pergi.
Reza meninggalkan parkiran dan menancap gas mobilnya pergi dari perusahaan milik Hito.
ceklek...
Hito melirik ke arah pintu yang nampak terbuka dan Vanessa melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.
Vanessa berjalan santai di depan Hito seperti tidak ada apa apa, Vanessa duduk kembali ke sofa yang ditempati nya tadi sambil memainkan hp nya.
tririring....
Hito mengangkat telpon di atas mejanya "Halo" ucap Hito "baiklah, saya akan segera ke ruang meeting" Hito menutup telponnya dan berdiri dari kursinya.
"Aku mau ke ruang meeting dulu, apa kamu tidak apa apa sendirian disini?" tanya Hito pada Vanessa.
Vanessa mengangguk dan tersenyum "aku tidak akan apa apa kok" ucap Vanessa.
"Baiklah" Hito mengelus lembut kepala Vanessa dan melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
Vanessa mengeluarkan kertas berisikan alamat yang diberi Reza tadi dari kantongnya dan mencari arah jalan ke restoran itu melalui google maps di hp Vanessa.
***
Hito turun dari kamarnya menuju meja makan untuk menyantapi makan malamnya.
Vanessa telah turun dari kamarnya dengan pakaian yang nampak elegan sesuai dengan riasan yang dikenakannya.
"Kamu mau pergi?" tanya Hito.
Vanessa mengangukkan kepalanya.
"Kemana?"
"Aku mau bertemu dengan si semut dulu sebentar, ada hal yang ingin dibicarakannya padaku tentang keberadaan bekas bos ku itu" ucap Vanessa.
"Mau ku antar?" tanya Hito.
Vanessa menggelengkan kepalanya "tidak usah,aku tau kamu capek, jadi istirahatlah" ucap Vanessa sambil mengecup kening Hito.
Wajah Hito tampak memerah akan perlakuan kekasihnya itu "baiklah, jika ada apa apa hubungi aku"ucap Hito.
Vanessa menganguk dan melangkah pergi meninggalkan Hito, Vanessa mengemudi mobil Hito yang biasa dibawanya ke kantor.
Setelah Vanessa keluar dari pintu, Hito mengernyitkan keningnya dan segera bergegas untuk mengikuti Vanessa.
Sesampainya di Restoran Vanessa menoleh ke sekelilingnya dan segera masuk ke dalam, Vanessa mencari cari meja nomor 27 sesuai yang tertera di atas kertas yang diberikan Reza.
Hito melangkah masuk perlahan ke dalam restoran "apa anda sudah memesan meja Tuan?" tanya seorang pelayan restoran.
Hito memberi kode agar pelayan itu diam dan mengeluarkan beberapa helai uang dari dompetnya "aku mau duduk di meja nomor 60 itu" bisik Hito.
"Baik Tuan" jawab pelayan tadi.
Hito duduk di dua meja dibelakang Vanessa dan memantau gerak gerak Vanessa yang tengah menunggu seseorang.
Reza dan pria bertato itu datang sambil melambaikan tangan mereka ke arah Vanessa.
Hito tampak marah ternyata Vanessa membohonginya dan malah janji ketemuan dengan ketua Genk kobra itu.
"Maaf menunggu lama cantik" ucap ketua Genk kobra itu.
"Tidak masalah" jawab Vanessa dengan senyum manisnya.
Pria itu duduk tepat di kursi depan Vanessa "perkenalan saya Alexander Distinois, ketua Genk kobra" ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya pada Vanessa.
Vanessa membalas sodoran tangan pria itu "Vanessa Hudgens" ucap Vanessa.
Pria itu nampak puas mendapatkan respon baik dari Vanessa "baiklah Vanessa kamu bisa memanggil ku Alex dan sepertinya kamu sudah mengetahui tujuan ku mengajak mu makan malam?" tanya Alex sambil mengangkat satu alisnya.
"Ehm... jadi bisakah saya memesan makanan sekarang tuan Alex?" tanya Vanessa mengalihkan pembicaraan.
Alex nampak tersenyum mendengar respon dari Vanessa "owh tentu" Alex memberi kode pada Reza agar memesan makan malam mereka.
Reza mengangguk paham dan melangkah pergi.
"Owh iya Reza, bisakah setelah ini kamu tinggalkan saya dan Vanessa untuk berbicara berdua?" tanya Alex.
"Baik tuan" angguk Reza.
Alex terus tersenyum menatap Vanessa.
"Ada apa anda terus menatap saya tuan Alex ?apakah wajah saya masih cantik? walau telah tergores oleh anak buah anda?" tanya Vanessa dengan senyum sinisnya.
"Begitukah? aku merasa kamu sangat cantik Vanessa" ucap Alex.
"Jadi apa tujuan tuan Alex mengundang saya makan malam? padahal kita belum pernah bertemu sama sekali" tanya Vanessa.
"Kamu yakin belum tau tujuan ku?" tanya Alex.
"Bagaimana mungkin saya mengetahui tujuan tuan Alex" senyum Vanessa.
"Kenapa kamu setuju aku mengundang kamu makan malam? setelah aku menyerang bos mu saat itu? apa kamu tidak takut jika aku akan berbuat apa apa padamu?" tanya Alex.
"Jika menghadapi tuan Alex seorang diri, saya masih percaya dengan kemampuan saya, atau tuan Alex ingin semua anak buah tuan menggeroyok seorang perempuan? apakah hal itu tidak akan menjatuhkan nama Genk kobra?" ledek Vanessa.
Alex tersenyum mendengar pertanyaan Vanessa "aku tidak akan segan segan walau itu seorang perempuan sekalipun" ucap Alex sinis.
"Owh begitukah? sepertinya saya terlalu berpikir tinggi tentang Genk kobra" ledek Vanessa.
Alex tampak geram saat itu namun dia memilih untuk tersenyum saat makanan datang.
Mereka menyantap makanan itu bersama.
"Apa kamu tidak takut saya menberi racun pada makanan mu?" tanya Alex yang melihat Vanessa santai menyantap makanan malam itu.
"Tidak, karna jika saya mati saat ini, tuan Alex tidak akan mendapatkan apa apa juga" senyum Vanessa.
Hito nampak fokus dibalik buku menu makanan yang dipengangnya memantau Vanessa dan Alex.
gak enakin