NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Mengisi Dapur

Malam makin melarut, merayap dingin menyelimuti rumah besar berarsitektur modern itu.

Setelah membersihkan piring bekas makannya sendiri dan menata sisa sup ke dalam wadah tertutup, Zaid kembali ke kamarnya di lantai satu.

Namun, pikiran pria itu sama sekali tidak bisa tenang. Ada ganjalan aneh yang mengusik logikanya.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan kulkasnya yang cuma berisi botol air mineral dan sisa susu UHT dingin mendadak melintas.

Dulu, hal itu terasa sangat wajar baginya yang terbiasa hidup praktis bagai di kamar hotel. Namun, melihat Nara harus berjalan kaki sendiri menuju supermarket di ujung kompleks, dengan uang pribadinya sendiri hanya untuk mengisi perut.

Ada rasa janggal yang menyengat harga dirinya sebagai seorang pria dan suami, betapa pun dinginnya status pernikahan ini.

Tanpa berpikir panjang lagi, Zaid bangkit dari tempat tidur. Ia menyambar jaket kasual, mengambil dompet serta kunci mobilnya, lalu melangkah keluar.

Suara deru mesin mobil yang halus memecah keheningan malam saat Zaid meluncur membelah jalanan kompleks menuju supermarket besar 24 jam yang terletak tak jauh dari kawasan perumahan mereka.

Di dalam supermarket yang terang benderang, Zaid mendorong troli dengan langkah mantap. Pandangannya menyapu lorong demi lorong.

Sebenarnya, ia bukan pria yang buta akan urusan dapur. Di balik citranya yang kaku dan gila kerja, Zaid cukup mahir mengurus diri sendiri bila sedang ingin. Ia mulai memilih bahan-bahan makanan dengan cermat dan penuh pertimbangan.

Tangannya yang cekatan mengambil beberapa pak daging sapi potong segar, dada ayam fillet, udang, dan ikan salmon.

Dari lorong sayur, ia memilih brokoli hijau segar, wortel, jamur enoki, buncis, serta berbagai dedaunan organik. Tak lupa, ia memborong bumbu-bumbu dapur dasar: garam laut, lada hitam, minyak zaitun, kecap manis, saus tiram, hingga berbagai rempah utuh.

Susu segar, telur kampung, mentega premium, buah-buahan, hingga beberapa camilan sehat pun turut memenuhi troli. Dalam waktu singkat, troli besar itu terisi penuh.

❤️

❤️

Saat kembali ke rumah, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rumah dalam keadaan hening, lampu ruang tengah sengaja diredupkan.

Zaid menjinjing beberapa kantong belanjaan besar langsung menuju dapur. Ia mematikan lampu remang dan menyalakan lampu utama dapur yang memancarkan cahaya hangat.

Zaid mulai memilah dan menata belanjaannya. Jemari tangannya yang panjang dan berurat bergerak sangat rapi. Daging dan unggas dibungkusnya kembali dengan plastic wrap sesuai porsi sekali masak sebelum dimasukkan ke dalam wadah freezer.

Sayur-mayur disusun tegak di kompartemen bawah agar tak mudah layu. Telur diratakan di rak khusus, dan bumbu-bumbu ditata simetris di lemari gantung atas kompor. Gerakannya tenang, teratur, dan begitu cekatan.

Tanpa disadari Zaid, suara grsek grosek plastik dan gemerincing wadah kaca di dapur terdengar hingga ke lantai dua.

Nara, yang saat itu belum bisa tidur dan sedang membaca buku di kamarnya, mengerutkan dahi.

Merasa ada suara asing di bawah, ia mengikat rambutnya, mengenakan jilbab instan, lalu melangkah pelan turun menuruni tangga. Ia mengira ada penyusup atau kucing yang masuk.

Namun, begitu kakinya mencapai ambang pintu dapur, langkah Nara terhenti total.

Pandangannya terpaku pada sosok Zaid. Pria kaku yang tadi pagi pergi menatapnya dingin kini sedang berdiri di depan kulkas dua pintu yang terbuka lebar.

Zaid menyingkap lengan jaketnya hingga ke siku, dengan teliti menyusun botol-botol saus dan mengatur pencahayaan di dalam rak.

Sebagian besar bahan makanan sudah tertata begitu sempurna, bagaikan pajangan estetik di toko kelontong mewah.

Nara terpana. Sisi Zaid yang satu ini benar-benar di luar ekspektasinya. Pria yang ia kira sangat acuh tak acuh dan memandang rumah ini sekadar tempat transit, ternyata memiliki kebiasaan menata barang yang begitu rapi, bahkan jauh lebih rapi dari keterampilannya sendiri.

Menyadari keberadaan seseorang, Zaid menoleh. Matanya berbenturan dengan tatapan terkejut Nara.

Zaid sempat tertegun sejenak, lalu berdehem ringan untuk menutupi rasa canggungnya sambil menutup pintu kulkas.

"Saya mengganggu tidurmu?" tanya Zaid, suaranya terdengar lebih lembut dari tadi sore, walau masih dihiasi nada datar yang khas.

Nara menggeleng pelan, lalu melangkah mendekati meja counter dapur. Matanya menatap kulkas yang kini penuh sesak dengan bahan makanan segar, lalu beralih menatap Zaid.

"Kamu... baru saja dari supermarket?" tanya Nara tak yakin.

"Ya," jawab Zaid singkat. Ia mengambil lap bersih untuk mengusap permukaan meja counter yang terkena sedikit tumpahan air.

"Kulkas rumah ini terlalu kosong. Mulai besok, kamu tidak perlu berjalan kaki ke luar kompleks hanya untuk membeli bahan makanan. Semuanya sudah ada di sini. Kalau ada yang kurang, tulis saja di kertas, nanti saya yang belikan."

Nara diam sejenak, mengamati deretan bumbu dan kerapian penyimpanan daging di dalam freezer yang sempat terlihat olehnya tadi.

Rasa canggung yang menyelinap tiba-tiba membuatnya teringat akan sup masakan sore tadi. Rasa asin yang sedikit berlebihan akibat bumbu instan itu sebenarnya disadarinya saat ia mencuci mangkuk.

Nara menunduk sedikit, jarinya meremas kain bajunya pelan.

"Soal masakan tadi sore... maaf," ucap Nara jujur, suaranya agak pelan. "Saya tahu rasanya agak terlalu asin dan cuma pakai bumbu instan. Saya memang belum bisa memasak dengan baik. Selama ini di rumah orang tua, selalu ada Bibi yang menyiapkan semuanya. Saya cuma mencoba sebisanya tadi."

Zaid menghentikan kegiatannya mengelap meja. Ia menatap Nara yang berdiri menunduk di depannya.

Sikap jujur dan rendah hati wanita itu perlahan mengikis rasa kaku di dada Zaid. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja counter, melipat kedua tangannya di dada.

"Masakanmu tidak buruk," ujar Zaid tenang.

Nara mendongak, menatap mata Zaid dengan dahi berkerut tipis, seolah tak percaya.

"Kamu tidak perlu berbohong hanya untuk bersikap sopan. Saya tahu rasanya asin, Zaid."

Satu sudut bibir Zaid terangkat sangat tipis—sebuah ukiran senyum yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk mengubah aura wajahnya yang biasa tegas menjadi sangat hangat.

"Rasa asinnya memang sedikit kelewatan di awal," Ujar Zaid jujur tanpa niat mengejek.

"Tapi kuahnya hangat, ayamnya matang sempurna, dan kamu membuatnya dari nol untuk orang yang baru kamu kenal. Itu sudah lebih dari cukup."

Zaid memajukan langkahnya sedikit, menunjuk ke arah deretan bumbu segar yang baru ia beli dan tata di rak.

"Lagipula, memasak itu cuma soal latihan dan kebiasaan, Nara. Bukan bakat lahir. Saya sendiri belajar memasak, karena terbiasa hidup sendiri saat kuliah di luar negeri dulu. Nanti, kalau kamu punya waktu luang, kamu bisa coba pakai bahan-bahan segar ini. Eksperimen saja, tidak ada yang melarang atau menuntut rasanya harus sekelas restoran."

Nara menatap mata Zaid. Ada ketulusan yang polos dalam ucapan pria itu. Tak ada intonasi menghakimi atau meremehkan.

Zaid justru memberinya ruang dan dorongan terselubung agar ia merasa percaya diri. Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk ke rumah ini, rasa tertekan di dada Nara sedikit melonggar.

"Terima kasih," bisik Nara lembut. "Kalimatmu sangat membantu."

"Sama-sama. Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam. Sebaiknya kamu naik dan istirahat," kata Zaid seraya mematikan beberapa tombol lampu dapur yang tidak terpakai. "Saya juga mau kembali ke kamar."

Nara mengangguk. "Baik. Selamat malam, Zaid."

"Selamat malam."

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!