Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACTING ZENAYA YANG MEMUKAU
Zenaya berdiri tegak di tengah set syuting yang dibuat menyerupai gudang tua penuh peti kayu dan besi berkarat. Lampu-lampu sorot menyinari setiap sudut, sementara puluhan kru sibuk mempersiapkan adegan berikutnya.
Hari itu adalah hari yang paling dinantikan. Untuk pertama kalinya, Zenaya Harper menjalani syuting film layar lebar bergenre action sebagai pemeran antagonis.
Berbeda dari penampilannya sebagai model yang anggun dan elegan, kini ia mengenakan setelan kulit hitam yang membentuk tubuh rampingnya. Rambut panjangnya diikat tinggi, sementara riasan tajam membuat tatapan matanya terlihat dingin dan penuh intimidasi.
"Rolling!"
"Action!"
Begitu sutradara memberi aba-aba, Zenaya langsung berubah menjadi sosok wanita kejam yang penuh karisma.
Dengan gerakan yang telah dilatih selama berminggu-minggu, ia berhasil menghindari pukulan lawan mainnya, lalu membalas dengan tendangan berputar yang terlihat begitu nyata. Adegan berlanjut dengan kejar-kejaran, pertarungan menggunakan pisau latihan, hingga lompatan dari lantai dua ke tumpukan matras yang disembunyikan kamera.
Joana berdiri di balik monitor bersama para kru, matanya tak pernah lepas dari sosok Zenaya yang tengah menjalani syuting film action tersebut.
"Astaga... Miss Zen benar-benar luar biasa," gumamnya pelan dengan mata berbinar.
Meski berkali-kali harus mengulang adegan, Zenaya tidak pernah mengeluh. Ia selalu bangkit dengan senyum tipis dan meminta mencoba sekali lagi hingga hasilnya sempurna.
Melihat dedikasi itu, seluruh kru memberikan tepuk tangan ketika adegan selesai.
"Cut! Perfect!" seru sang sutradara dengan wajah puas.
Di sudut lokasi syuting, Lucian Alfredo yang sejak tadi memperhatikan monitor tidak mampu menyembunyikan kekagumannya.
Pria muda yang dikenal sebagai produser sukses itu tersenyum lebar.
"Luar biasa..." gumamnya pelan.
Ia berjalan menghampiri Zenaya yang sedang menerima handuk dari Jessica.
"Zenaya."
Wanita itu menoleh.
"Ya, Tuan Lucian?"
Lucian menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum bangga.
"Aku sudah memproduksi banyak film dan bekerja dengan banyak aktris terkenal. Tapi harus kuakui, kau benar-benar di luar dugaanku."
Zenaya tersenyum sopan.
"Terima kasih."
"Bukan hanya wajahmu yang cocok tampil di layar lebar. Cara kau mendalami karakter benar-benar hidup. Tatapanmu, ekspresimu, bahkan setiap gerakan bertarungmu terlihat sangat meyakinkan."
Zenaya sedikit tersipu mendengar pujian itu.
"Aku masih harus banyak belajar."
Lucian menggeleng pelan.
"Itulah yang membuatmu istimewa. Meski berbakat, kau tetap rendah hati."
Ia kembali melihat monitor yang memutar ulang adegan pertarungan Zenaya.
"Percayalah... film ini akan menjadi salah satu karya terbaikku. Dan aku yakin namamu akan dikenal bukan hanya sebagai supermodel internasional, tetapi juga sebagai aktris action yang luar biasa."
Ucapan itu membuat beberapa kru mengangguk setuju.
"Bahkan menurutku," lanjut Lucian sambil tersenyum kagum, "karisma seorang antagonis begitu melekat padamu. Penonton pasti akan membenci karaktermu, tetapi mereka tidak akan bisa mengalihkan pandangan darimu."
Zenaya tertawa kecil.
"Semoga saja hasilnya sesuai harapan semua orang."
Lucian menatapnya dengan sorot mata penuh apresiasi.
"Aku tidak pernah salah memilih pemain. Dan memilihmu sebagai pemeran antagonis adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil."
Tepuk tangan kembali terdengar dari para kru. Banyak di antara mereka memuji profesionalisme Zenaya yang mampu menyelesaikan adegan-adegan sulit tanpa kehilangan semangat.
Hari pertama syuting pun berakhir dengan suasana penuh kebanggaan. Di balik monitor, Lucian masih memandangi rekaman adegan Zenaya sambil tersenyum puas.
Dalam hati, ia semakin mengagumi bakat, kerja keras, dan pesona wanita itu, serta yakin bahwa Zenaya Harper akan bersinar sebagai bintang baru di dunia perfilman internasional.
"Miss, aku benar-benar merinding melihat aktingmu. Tatapanmu saat melawan musuh tadi benar-benar dingin dan berkarisma. Kalau tidak kenal, aku pasti mengira kau memang seorang petarung profesional."
Zenaya hanya tersenyum lembut sambil menerima sebotol air mineral.
"Terima kasih, Joana. Semua ini berkat latihan panjang dan arahan tim stunt. Masih banyak yang harus kupelajari."
Joana menggeleng sambil tersenyum bangga.
"Menurutku, kau bukan cuma model internasional. kau juga punya bakat besar di dunia perfilman action. Penonton pasti bakal dibuat terpukau melihat penampilanmu."
Zenaya membalas dengan senyum hangat. Sorot matanya memancarkan semangat yang selama ini ia pendam.
"Kau tahu, kan? Berakting adalah mimpiku sejak lama. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Selama masih diberi kepercayaan, aku akan memberikan yang terbaik di setiap adegan," ucap Zenaya dengan penuh keyakinan.
Joana mengangguk pelan. Sorot matanya dipenuhi kebanggaan terhadap sahabatnya.
"Aku akan selalu mendukungmu, apa pun jalan yang kau pilih. Aku ingin melihat satu per satu cita-citamu terwujud, sampai kau berdiri di puncak kesuksesan yang selama ini kau impikan," ujar Joana tulus.
Zenaya menatap Joana dengan senyum haru.
"Terima kasih, Joana. Memiliki seseorang yang selalu percaya dan mendukungku seperti ini adalah anugerah yang sangat berarti."
Lucian Alfredo - Visual
Produser/Direktur Casting