Cerita tentang keputus tuhan dan settingan alam. Takdir yang mempertemukan Layra gadis SMA dengan sejuta tingkat barbar dan nakal nya. Dengan Deral pria pemegang saham utama di Abercio Crop.
Kisah cinta antara manusia dengan selisih umur delapan tahun. Yang dibumbui dengan kepossessivan Deral pada Layra, Layra gadis yang sudah masuk kedalam ruang hatinya.
Namun Layra tetap lah Layra dengan prinsip hidup 'Hidup itu bebas, jalani aja sesuka hati' . Dan Deral juga tetaplah Deral dengan moto 'Layra milikku dan akan aku jaga dengan sejuta cara!' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brdngkrl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter Nineteen
08.35
Zona nyaman adalah ringkasan keadaan Layra saat ini. Tepat hari minggu, hari terbaik di antara tujuh hari lainnya. Sang mentari pun seakan ikut libur digantikan dengan awan kelabu yang menjatuhkan setetes demi setetes air.
Suhu pun semakin naik, membuat selimut dan kasur menjadi tempat terhangat bagi tubuh Layra. Ditambah secangkir coklat hangat dan jaringan internet lancar membuat keadaan kian perfect.
"Ini lah definisi surga dunia" Ucapnya lalu meneguk secangkir coklat panas nya.
Puluhan film membuat Layra bingung dan bimbang memilih yang mana. Jemari nya sibuk menggeser layar iPad hitam dipangkuan nya, headphone bluetooth juga bertengger di kepala nya.
Ting tingg
Bel rumah berbunyi disaat ia sibuk memilih. Membuat nya harus beranjak dan membuka kan pintu, namun kemalasan melanda nya.
"Siapa sih dateng!? Kaga tau orang pw apa!" Gerut nya namun tetap beranjak dari kasur.
Etss... Ia tidak bisa keluar dengan hanya memakai crop tentop dan hot pants seperti ini, Layra mengambil hoodie putih hingga menutupi sampai paha nya.
Ia lalu menuruni tangga, melihat kondisi rumah nampak sepi dan sunyi. "Bi Intan juga kemana?" Monolog nya.
Ceklek
"Ehh!" Layra terkejut melihat siapa tamu yang datang.
"Deral".
--
Dua gelas putih berisi coklat panas, tertata diatas nampan yang dibawa Layra. Ia membawa ke arah belakang rumah dekat taman.
Disana ada ayunan kayu panjang dan terduduk Deral dengan handuk putih menggalung dilehernya. Layra juga masih tidak tau mengapa ditengah gerimis begini ia datang ke rumah, untung pakaiannya tidak basa kuyup.
"Nih minum" Ujarnya menyodorkan gelas yang tadi ia bawa. "Kamu ngapain kesini? Ga tau hujan".
Sebelum menjawab Deral menyesap coklat hangat tersebut. "Bukan hujan cuman gerimis".
"Terserah lah, tapi kamu ngapain kesini?" Ulang Layra.
"Ga ada alasan, pengen aja" Jawabnya tak berdasar.
"Kan lgi hujan gini, untung tadi ga basah semua"
"Cuman gerimis" Ralatnya sekali lagi. "Kan penting ga basah".
"Serah kamu lah" Pasrah Layra daripada ribut masalah gerimis atau hujan.
Lengkungan tercetak manis dibibir Deral, ternyata meributkan hal kecil itu seru apalagi bila dilakukan dengan orang yang kau sayangi. Seperti ada keseruan yang tidak bisa di deskripsikan rasanya.
"Kamu tadi ngapain? Lama banget buka pintunya"
"Nonton film tapi gak jadi karna kamu" Ucapnya Nge gas.
Deral hanya terkekeh mendengar intonasi ngegas dari Layra, entah mengapa lucu saja baginya.
Tangan Deral sebelah kiri ai letakkan dipundak Layra, menarik nya dalam agar lebih dekat. Entah setan apa yang merasuki Layra, membuat nya seakan pasrah mengikuti kemauan Deral.
Ditengah keheningan hujan yang tadinya gerimis kini turun dengan deras nya. Seakan butiran nya berlomba lomba untuk jatuh ketanah.
Layra berdiri keluar dari dekapan Deral dan meletakan segelas coklat nya di sebelah Deral. Ia menadahkan tangan menangkap tetesan air hujan sampai ia tak sadar kalau Deral berdiri di samping nya.
"Hujan itu istimewa Al"
"Kenapa?"
"Semilir anginnya memang tak sehangat mentari pagi? Namun dari sana kita belajar cara mengahadapi dingin.
Kedatangannya pun tak sesering senja? Namun disaat yang tepat.
Dia memang tak se berwarna seperti pelangi? Namun jutaan filosofi tercipta dari setiap tetesannya."
Mata hitam pekat tersebut melirik mata hazel disampingnya, menyalurkan segala rasa yang tak bisa dipahami oleh bibir.
Layra dengan senyuman nya menarik Deral keluar bergabung dengan milyaran tetesan hujan. Wajah terkejut dari Deral lenyap seketika melihat senyuman indah dari netra hitam.
"Dia istimewa dengan caranya Al"
Ucapan penuh makna dan pengajaran yang diiringi senyuman memang sangat masuk ke hati.
"Sama seperti kamu. Selalu istimewa dengan caranya sendiri" lantunan hangat dari hati yang tentu saja akan sampai ke hati.
Dua tangan saling bertautan bagai simpul mati. Senyum kedua bibir yang sangat langka kini terumbar indah nya. Tak peduli dingin atau basah, kini mereka sedang bahagia dalam pelukan hujan.
Dan entah atas dasar apa mereka bahagia. Mereka tak peduli. Karena bahagia adalah saat kau bersyukur atas apapun yang diberikan sang pencipta padamu.
---
Setelah scene hujan hujan selesai, keuwuan mereka tak berhenti. Diatas karpet bulu yang tebal terdapat dua insan yang telah mandi dan tak lupa keramas takut pusing.
Kini bergantian selimut putih tebal yang mendekap mereka, menciptakan kehangatan haqiqi. Sementara tv LED menghibur mata mereka dengan film yang di bintangi si terlalu tampan.
Layra membalikkan tubuhnya dari yang tengkurap jadi terlentang. "Ahh bosen Al! Filmnya ga seru". Protes nya.
"Trus kamu mau film apa sayang?" Tanya nya dengan kebiasaan mengelus surai hitam Layra.
"Emmm" Pikiran nya ia umbar untuk mencari film yang tepat. "Kuntilanak" Lanjutnya saat sudah menemukan jawaban.
"Film horor"
"Iya, kenapa? Kamu takut" Ejeknya tersenyum jahil.
"Seharusnya aku yang tanya gitu ke kamu sayang" Gemas nya lalu dengan bertubi tubi mengecup pipi Layra.
Dengan tak terima Layra menahan kepala Deral agar tak menghujani pipinya kecupan. "Ishh Al! Don't kiss me".
"Salah kamu gemes" Bela nya.
"Pembelaan tak berdasar!"
"Hehehe" Cengiran tak bedosa yang malah keluar dari mulutnya.
"Hehehehe! Ini jadi ga nonton nya"
"Iya udah ayo"
Dengan setengah kesal Layra menekan remot kontrol guna mencari film yang akan ia tonton bersama Deral.
Saat film dibuka oleh adegan ritual Deral dengan santai nya menelusup kan kepalanya ke dalam selimut dan menggesekkan kepalanya ditubuh Layra. Hal itu spontan membuat Layra geli sendiri.
"Al geli!" Kesalnya lalu menarik kembali kepala Deral. "Udah diem".
Deral diam namun ia merapatkan tubuhnya dengan Layra mencari tepat ternyaman. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Layra.
Beberapa menit film sudah berjalan, dan Layra baru sadar kalau dari tadi ia tidak mendapatkan ganggu, hening.
Saat ia menolehkan kepala ia baru tau bila iblis pencabut nyawa sedang terlelap dengan damai nya. Kepalanya yang disandarkan ke bahu Layra.
Setelah diperhatikan ternyata di wajah Deral masih ada ekspresi lucu, lucu dan damai tepat nya. Layra juga baru sadar bila bulu mata Deral begitu lentik hampir sama lentik nya dengan miliknya.
Tak tau dorongan dari mana tangan Layra membelai lembut pipi Deral, mengusap rambut hitamnya pula. Sedikit menaikkan selimut takut ia kedinginan, apalagi diluar sana hujan masih menguyur jakarta.
Sungguh hari minggu yang indah, bagi mereka.
---
...Hai pemirsa...
Aku berharap keuwuan Duo barbar ini bisa sedikit menghibur kalian ditengah kondisi negara kita yang,'tidak sedang baik baik saja'
Author memang bukan orang yang paham, mengerti ,atau bisa dalam politik dan hukum. Author cuman manusia berginjal dua yang masih harus banyak belajar. Tapi Author dan kalian pasti tau perbedaan 'perwakilan' dan 'penghianat'.
Dan buat kalian yang ikut serta turun ke lapangan, baik mahasiswa, STM, emak emak, atau siapapun kalian, semangat! Kalian punya hak untuk menyuarakan pendapat.
Sekali lagi semangat! Jaga diri dan semoga selalu dalam perlindungan yang kuasa. Dan tetap satu! Indonesia.....!!!!
semangat Thor