Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 19
Pagi hari ini, Denisa telah bersiap hendak menuju ke perkebunan teh, untuk mengundurkan diri di sana, ia tidak ingin lagi bekerja di sana karena Juragan Arya mencintainya. Ia tidak ingin membuat Mona—sahabatnya menjadi sedih. Ia tahu bahwa Mona mencintai Juragan Arya, demi sahabat, ia rela mundur. Well, masih banyak pria lain, pikirnya.
Ia pergi berjalan kaki, seperti biasanya. Dengan gaya khasnya selalu memakai rok dan baju lengan panjang, rambut dikuncir dua seperti ala kuda.
"Beri tahu gak, yah, sama Mona? Kalau kemarin Juragan Arya melamar aku." ucap Nisa bermonolog sendiri, sambil berjalan kaki menuju perkebunan.
Tidak butuh waktu lama, wanita itu telah sampai di perkebunan, ia berkeliling mencari keberadaan Juragan Arya.
"Pak, Bapak lihat Juragan Arya, tidak?" tanya Denisa kepada Pak Jono—penjaga kebun.
"Juragan ... Ah, iya, Juragan ada di pondok," jawab Pak Jono sambil memikir kecil.
"Baiklah, terima kasih, Pak." Nisa segera berjalan menuju pondok, karena jalannya yang sedikit becek, Nisa harus sangat hati-hati.
Nisa sampai di pondok, ia sedikit bergemetar, ia gugup untuk bertemu dengan pria itu secara bertatap muka. Tapi, bagaimanapun juga, ia harus tetap mengundurkan diri.
Dengan pelan, ia mendekat ke arah Arya yang masih belum menyadari kehadiran dirinya.
"Juragan Arya," panggil Nisa pelan, sambil tersenyum kecut. Pria itu mencari sumber suara, dilihatnya gadis yang telah memikat hatinya kini ada di sampingnya.
"Eh, Nisa. Sini duduk!" seru Arya merasa bahagia akan kehadiran Nisa.
Nisa mendudukan dirinya di samping Arya, "Juragan, ini surat pengunduran diri saya, maaf sebelumnya, jika saya lancang," Nisa memberikan surat itu dengan gemetar.
Arya menatap wajah perempuan itu dengan tatapan tidak percaya, "Ka ... Kamu serius, Nis? Mau ngundurin diri di sini? A ... Aku tidak salah mendengar, Nis?"
"Ya, saya memang benar-benar akan mengundurkan diri, maaf jika saya lancang, Juragan. Saya akan berhenti bekerja mulai hari ini." jelas Nisa sambil menatap dengan senyuman.
Arya sungguh tak percaya, saat dirinya mengungkapkan rasa cinta, malah ditolak, dan harus berjauhan dengan orang yang dicintainya. Mengapa harus begini? Sebenarnya, tipe kaya apa, pria yang diidamkan oleh wanita itu?
"Nis, saya mohon jangan berhenti, yah! Pliss!" pinta Arya memohon pada Nisa. Namun, wanita itu mengalihkan pandangannya tak lagi menatap wajah Arya.
"Maaf, saya tidak bisa, Juragan." kata Denisa sambil beranjak dari duduknya. Lalu ia berjalan pergi meninggalkan pria itu.
Belum sempat pergi jauh, Arya menyusul dan menarik tangan Nisa, memberhentikan Nisa yang hendak pergi.
"Baiklah, jika kamu ingin berhenti bekerja di sini, Nis. Ini uang gaji kamu bulan ini," ujar Arya sambil memberikan sebuah amplop ke atas telapak tangan Nisa.
"Terima kasih." ucapnya pelan, sambil menatap pria itu, Arya segera pergi meninggalkan Denisa sendiran di sana.
Uang yang diberikan oleh Arya ingin disimpannya sampai nanti ia akan mendapatkan pekerjaan baru lagi nantinya.
Denisa menarik nafas panjang, lalu ia mulai berjalan meninggalkan perkebunan sebelum Mona—sahabatnya akan melihat kedatangannya.
***
Nathan telah kembali ke Indonesia bersama seorang Pilot pribadi keluarga Xendrick, ia bergegas menuju rumah utama untuk menemui Bossnya—Rivaldo.
Tok-tok-tok!
Pintu itu diketuk oleh Nathan, terlihat seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Bik, Tuan ada di rumah?" Nathan bertanya dengan nafas tersengal-sengal. Karena ia berjalan dengan cepat menuju rumah utama ini.
"Tuan muda Rivaldo?" tanya balik Bi Tuti, haruskah ia menjawab dengan jujur?
"Iya, Bik. Tuan ada di rumah? Semenjak saya tidak bersama Tuan, firasat buruk selalu menghantui saya, Bik," ungkap Nathan dengan cemas, apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu.
"Maafin Bibi, yah, Den. Tapi Tuan muda sudah tidak tinggal di sini lagi." jujur Bi Tuti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Deg!
Jantung pria itu seakan berhenti, nafasnya terasa sangat sesak. Jadi, firasat buruk yang selalu menghantuinya itu ternyata adalah ini.
"Kenapa tidak tinggal di sini lagi, Bi? Di mana Tuan muda? Ke mana perginya? kenapa bisa tidak tinggal di sini lagi, Bi?" tanya Nathan dengan khawatir yang kuat. Bi Tuti bisa melihat jelas kekhawatiran di netra indah milik Nathan.
"Karena wajahnya yang cacat membuat saya muak, saya tidak butuh seorang anak yang berwajah cacat!" jawab Rohan dari arah pintu tiba-tiba menjawab apa yang ditanyakan Nathan.
"Ca ... Cacat? Apa maksud yang Anda katakan, Pak?" tanya Nathan dengan gugup. Kecemasannya kini kian meningkat dengan banyak.
"Ya, dia sudah mengalami cacat fisik di wajahnya, bahkan wajahnya saja sudah hancur seperti monster yang menakutkan," jelas Rohan dengan menghina anaknya sendiri. Tiada belas kasih dari pria paruh baya itu.
"Kenapa bisa? Terus, apakah kalian mengusir Tuan muda Rivaldo dari rumahnya ini?" tanya Nathan sedikit bernada tinggi, suaranya menggema terdengar jelas di telinga Rohan, dan Raynand.
"Kamu tidak usah banyak bicara, Nathan! Saya akan menghapus berita tentang ini dan menganggap bahwa Rivaldo telah meninggal dunia akibat kecelakaan kalian di Roma!" tutur Rohan dengan rahang mengeras, menahan emosi.
"Ray, lanjutkan rencanamu, yang akan membuang pria brengsek ini ke pulau terpencil, sehingga tak ada orang yang menemukannya!" perintah Rohan pada anaknya.
Nathan menatap tak percaya, kedua bola matanya membulat dengan sempurna, bagaimana bisa keluarga terpandang ini, melakukan hal sebrengsek ini.
Raynand dan beberapa pria bertubuh kekar segera menahan Nathan yang hendak pergi, kedua tangan dan kaki pria itu diikat dengan sebuah tali yang cukup tebal.
"Lepaskan aku brengsek!" Nathan mencoba melawan beberapa pria bertubuh kekar itu. Namun, saat ia berbicara, mulutnya di tutup oleh Raynand.
Sebuah helikopter telah mendarat di halaman depan rumah besar. Raynand membawa Nathan dan beberapa pria bertubuh kekar. Mereka semua akan segera membuang Nathan ke sebuah Pulau terpencil, sehingga tidak ada orang yang menemukannya.
"Paa ... Aku segera membuang pria ini, agar tiada lagi yang akan membocorkan masalah ini kepada Publik," ujar Raynand dengan serius. sambil berjalan menuju helikopter tersebut.
"Hati-hati, Ray!" seru Rohan sambil melambaikan tangannya.
Membuang Rivaldo—sih monster menakutkan itu telah terjadi. Dan sekarang, akan menyingkirkan sih bocah tengik—Nathan.
Pria itu sungguh merasa kecewa, karena tak dapat melindungi Rivaldo dengan raganya. Meski sebenarnya dari awal, firasat itu telah menghantuinya. Namun Rivaldo selalu menyakinkan Nathan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
***
Rivaldo tidak berganti pakaian ataupun mandi, ia melihat dompetnya yang kini telah tiada berisi apapun. Semuanya telah lenyap, tanpa sisa lagi.
Ia menatap beberapa warung makan yang ia lewati. Langkah kakinya kini tengah melangkah dengan pelan, ia sudah tak tahu arah untuk melangkahkan kakinya ke arah mana.
Banyak orang menatap Rivaldo dengan tatapan tidak suka, dan ada yang menghinanya, mengatakan bahwa dirinya sebagai monter berwajah cacat, sehingga terlihat menyeramkan.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...