"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlanjur Menjadi Lelaki
Rafif mengajak Zahra masuk ke dalam rumah setelah cukup lama berdiri diluar dengan perasaan sedih melepas kepergian Daffa dan juga Zeline.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini kak? Aku merasa kasihan pada kak Daffa dan kak Zeline" ucap Zahra masih menyayangkan kejadian yang menimpa kakak dari suaminya itu
"Aku juga sama seperti mu Zahra, tapi aku juga tidak bisa menahan kak Daffa yang terlihat sudah sangat yakin dengan pilihannya ini" Zahra menatap Rafif yang menatap kosong ke sembarang arah, terlihat begitu banyak hal yang disesalkan dimatanya
"Aku berharap mereka berdua bisa bahagia dan segera mendapatkan restu dari Mama kak"
"Sekarang tidurlah, aku tau kau pasti lelah" ucap Rafif menghembuskan nafasnya dengan berat tidak ingin membuat Zahra larut dalam masalah ini
"Sudah hampir subuh kak, lebih baik menunggu adzan subuh saja" usul Zahra saat melihat jam yang menunjukkan hampir jam 4 pagi
Rafif tersenyum ke arah Zahra dan menganggukkan kepalanya mengiyakan keinginan istrinya itu
***
Pagi harinya, Rafif dan Zahra sedang bersiap-siap untuk ke kantor. Zahra terlihat sedang sibuk merapikan jilbannya yang tidak mau diajak bekerjasama hari ini, ia mendengus kesal saat jarum pentul yang ingin ia ambil terjatuh ke bawah
"Jilbab, aku mohon bekerjasamalah. Jadilah rapi" rengeknya dengan suara kesal
Rafif yang sedang mengancingkan kemejanya didekat tempat tidur, tersenyum gemas melihat Zahra yang tengah bergelut dengan hijabnya itu. Ia lalu menghampiri istrinya dan membantunya mengambil jarum pentul yang terjatuh tadi
"Kau ini, hijab saja kau ajak bergelut" ucap Rafif menggoda Zahra sembari memberikan jarum pentul yang di ambilnya tadi
"Coba saja kau jadi wanita berhijab sepertiku, pasti kau juga kadang akan kesulitan memakai hijab yang tidak mau rapi dikepalamu" serunya kesal lalu menyaut benda kecil itu dari tangan suaminya membuat Rafif bertambah gemas melihat wajah kesal Zahra
"Mana bisa seperti itu, aku sudah terlanjur menjadi lelaki" jawabnya meledek Zahra lalu beralih ke laci penyimpanan dasinya
Rafif membuka laci besar yang transparan dibagian atasnya itu, matanya kini sedang fokus memilah dasi yang sekiranya cocok untuk disandingkan dengan baju kemeja yang dikenakannya saat ini
"Menurutmu, aku pakai dasi yang mana?" tanyanya meminta pendapat Zahra
Zahra yang sudah selesai dengan hijabnya itu, berjalan menghampiri Rafif dan ikut memilah dasi yang cocok untuk dikenakan oleh suaminya itu
"Yang itu saja" ucapnya dengan senyum tertahankan menunjuk dasi berwarna pink keunguan
"Kau ini asal-asalan saja. Mana bisa disamakan dengan bajuku ini" kata Rafif dengan senyum yang mengembang diwajahnya
"Tapi warnanya cantik kak" Zahra masih berusaha mencoba meyakinkan Rafif untuk memakai dasi pilihannya itu
"Carilah yang benar, kau ini bagaimana" ucap Rafif sembari menangkup kedua pipi Zahra. Seketika gadis itu merasa aneh saat Rafif memperlakukannya seperti itu, bahkan jantungnya berdetak dengan cepat. Ia lalu melepaskan kedua tangan Rafif dari wajahnya dan beralih melihat jajaran dasi itu walaupun sebenarnya ia tidak bisa fokus saat melihatnya
"Ehmm. Ya sudah, ini saja" katanya dengan gugup sembari mengambil satu buah dasi dan memberikannya pada Rafif
"Kalau ini baru benar" Ucap Rafif menyauti dasi itu dari tangan Zahra, tiba-tiba muncul hal jahil dikepalanya saat melihat istrinya itu masih memperhatikan laci penyimpanan dasinya "Apa kau bisa membantuku memakainya?" tanya Rafif berniat menggoda Zahra
"Me-memaikannya untukmu?" Zahra terlihat terkejut dan gelagapan
Rafif hanya menganggukkan kepalanya menatap serius ke arah Zahra, padahal dalam hatinya ia menertawakan istrinya itu yang terlihat salah tingkah
"Ke-Kemarilah, biar ku pasangkan" Zahra mengambil kembali dasi yang ada ditangan Rafif dan mulai mengalungkannya di leher Rafif. Jarak mereka saat ini sangatlah dekat hingga keduanya sama-sama tersipu, Zahra sekuat mungkin berusaha menyembunyikan kegugupannya, sedangkan Rafif tidak berniat sedikitpun untuk mengalihkan pandangannya dari istrinya itu
"Sudah selesai" ucap Zahra menatap Rafif dengan senyum kecil diwajahnya. Mata mereka bertemu saat Zahra mengangkat wajahnya, keduanya kini terkunci saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang berniat mengakhiri tatapan itu satu sama lain, bahkan wajah Rafif refleks mendekat, sangat dekat dengan wajah Zahra hingga membuat gadis itu seperti ingin meledak. Kesunyian kini membungkam keduanya
Dering ponsel Rafif berbunyi dengan nyaring memenuhi seisi kamar, membuat keduanya saling membuang pandangan mereka masing-masing. Merasa salah tingkah dengan apa yang baru saja hampir terjadi. Zahra lalu berlalu dari hadapan Rafif mencoba menghindar dari lelaki itu, sedangkan Rafif dengan cepat berjalan ke arah ponselnya yang terletak di atas nakas, ia sejenak mengatur nafasnya lalu segera mengangkat telponnya saat di rasa jantungnya sudah berdetak lebih baik.