Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Alvin menurunkan Dinda di depan kantor sesuai keinginan nya. Tapi Alvin khawatir pada Dinda karena sudah malam akhirnya ia melihat Dinda dari jauh dan menunggu ia sampai naik kendaraan online, sudah cukup lama Dinda berdiri di depan kantor tapi tak kunjung datang kendaraan yang akan ia naiki mungkin karena sudah malam jadi pesanannya di cancel tentu saja ini membuat Dinda kesal.
Alvin kemudian datang di depan Dinda dan sekali lagi menawarkan Dinda untuk diantar pulang, karena ia khawatir akan keselamatan karyawannya itu.
"Ayo saya antar pulang ini sudah malam," ajak Alvin sambil membuka kaca mobilnya.
"Loh bapak belum pulang?" Dinda sedikit terkejut melihat alvin berada di depannya.
"Saya ingin memastikan kamu menaiki kendaraan dahulu tapi saya lihat sepertinya kamu kesulitan jadi saya sekali lagi menawarkan untuk mengantar pulang kalau kamu kekeh tidak mau saya akan pulang!" tegasnya.
Dinda berpikir sejenak ini kesempatan terakhir ada yang mengantarnya pulang tanpa berpikir panjang ia langsung mengiyakan tawaran terakhir bosnya itu.
"B-baik Pak kalau begitu, tapi apa tidak merepotkan Pak, saya hanya takut akan merepotkan bapak, " Dinda membuat alasan.
"Kalau saya merasa direpotkan untuk apa saya menawarkan kamu untuk diantar pulang berarti saya sudah siap di repotkan paham!" terang Alvin.
"Paham pak, terima kasih!
Susan di dalam mobil kembali hening tampaknya mereka berdua kesulitan untuk menemukan topik pembicaraan ataupun mereka sama-sama canggung.
"Din saya boleh tanya?" suara Alvin tiba-tiba memecah keheningan.
"Tanya apa pak?" Dinda sedikit heran.
"Apa benar laki-laki yang tempo hari bersama mu di lobby itu suamimu?" Dinda terkejut karena Pak Alvin tiba-tiba menanyakan hal yang bersifat pribadi kepadanya. Tapi tidak apa mungkin dia penasaran karena melihat kami bersikap bukan selayaknya suami dan istri
"Sekarang sudah jadi mantan suami Pak kami sudah resmi bercerai," jelas Dinda yang agak sedikit ragu menceritakan masalah pribadi nya.
"Sorry kalau pertanyaan saya menyinggung kamu,"
"Tidak apa-apa pak saya baik-baik saja," Sambungnya tapi dengan ekspresi sebaliknya.
Melihat ekspresi Dinda yang terlihat kurang nyaman Alvin akhirnya berhenti menanyakan hal yang bersifat pribadi.
Suasana kembali hening seketika karena pria itu kembali menutup rapat mulutnya, keadaan pun menjadi canggung kembali. Dinda juga bingung harus membahas apa dengan bosnya itu, tidak mungkin ia menyatakan hal pribadi juga bukan. Akhirnya ia pun terdiam dan hanya fokus menatap ke arah depan.
"Pak Alvin habis ini belok kiri yah dari situ rumah saya sudah dekat, " pinta Dinda dan Alvin hanya menjawab dengan anggukan.
"Stop…stop Pak ini rumah saya," tunjuk Dinda kemudian ia keluar dari mobil dengan perlahan.
"Terima kasih Pak sudah mau direpotkan," kata Dinda Sambil tersenyum dark balik kaca mobil Alvin.
Belum sempat Alvin memutar balik mobilnya tiba-tiba seorang pria paruh baya berteriak memanggil Dinda dengan nada emosi, dan membuat Alvin berhenti sejenak untuk melihat keadaan Dinda.
"Dinda!! Kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi?" Bentaknya.
Dinda yang terkejut kemudian langsung mengecek ponselnya yang berada dalam tasnya.
"Maaf Pah mati," jawabnya sambil menunjukkan ponselnya ke arah ayah nya itu.
"Kamu diantar siapa itu?" ayah Dinda berjalan ke arah mobil hitam milik Alvin dan mengintip ke dalam mobil.
"Papah jangan gitu itu bosnya Dinda," larang Dinda lalu menarik ayahnya dari mobil Alvin.
"Apa bos kamu? Untuk apa Dia mengantar kamu pulang selarut ini, " tanya Ayah Dinda geram.
Alvin kemudian turun dari mobil untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Dengan berani Alvin memperkenalkan dirinya.
"Selamat malam Om saya Alvin atasannya Dinda di kantor, "Alvin mencoba tenang.
Ayah Dinda melihat Alvin dengan tatapan curiga, dan menatapnya dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Lalu dari dalam rumah keluarlah ibu dan dan adik Dinda yang penasaran dengan keributan yang terjadi di luar.
"Ada apa Pah sudah malam gini ko teriak-teriak? tanya istri nya yang penasaran.
"Loh ka Alvin!" ucap Lily sumringah yang seakan tak percaya ketika melihat calon kakak ipar nya itu berada di depan mata nya.
"Kamu kenal Ly, sama dia?" tanya ayah nya heran sambil menunjuk ke arah Alvin.
"Iya Pah, ini ka Alvin kakaknya azka, " jawab Lily sambil tersenyum.
"Benar kamu kakaknya azka? Terus kamu juga atasnya Dinda begitu?" tanya ayah Dinda memastikan.
"Betul Om, " jawab Alvin datar.
"Kalian habis dari mana?pulang sampai larut seperti ini?" tanya ayah Dinda heran.
"Pah Dinda habis meeting sama klien pak Alvin, jadi udah yah pah jangan diributin lagi gak enak sama Pak Alvin biarkan Pak Alvin pulang," sahut Dinda panik karena tidak enak hati kepada Alvin yang secara tidak langsung seperti di introgasi ayahnya. "Bapak silahkan pulang saja Pak sudah malam, " pinta Dinda agar kesalahpahaman ini segera selesai.
"kalau begitu saya pamit pulang dulu Om, Tante, Dinda Lily, " Pamit Alvin.
"Ka Alvin gak mampir dulu ke rumah, " tawar Lily
"Lain kali aja Li, sudah malam, " jawabnya dan langsung menaiki mobil hitamnya dan pergi meninggalkan rumah Dinda.
***
"Kamu tuh Din kebiasaan gak ngasih kabar ke orang tua kamu tau kan kalau kami tuh khawatir sama kamu, " ayahnya memperingatkan.
"Maaf Pah, ponsel Dinda mati tadi gak ngabarin kirain meeting nya gak sampe malam, " Dinda beralasan
"Ya seharusnya sebelum ponsel kamu mati kasih kabar dululah Din, " sahut ayahnya kesal.
"Iya Dinda minta maaf lain kali gak begini lagi, "
"Ya sudah Papah mau istirahat dulu, " ucapnya lalu pergi meninggal kan Dinda dan lainnya yang tengah duduk di sofa di ruang tamu.
"Eh Ly, kamu kenal dekat emang sama Alvin?" tanya ibunya penasaran.
"Lumayan, Lily sering ketemu kalau di rumahnya azka tapi gitu dia memang orangnya irit bicara dan agak dingin gitu Mah , " jawab Lily santai.
"Dia udah nikah?" tanya ibunya penasaran
"Cerai," celetuk Dinda ketus. "Lagian mamah ngapain sih tanya-tanya soal Alvin?
"Nggak Mamah penasaran aja abisnya dia ganteng siapa tau itu jodoh kamu, " Ibunya melempar canda.
"Awas yah Dinda gak mau dijodohin lagi Mamah kan udah janji ke Dinda," ucap dinda mengingat kan
"Bercanda din, " jawab Ibunya.
"Bener Yah," Dinda kemudian berjalan menuju kamarnya.
Belum sempat ia membersihkan diri ia sudah tertidur pulas di ranjang nya. Sampai alarm di ponselnya berbunyi tanda sudah menjelang pagi
"Astaga," Ia terkejut dan masih setengah sadar dari bangun tidur nya
"Aku bahkan belum sempat ganti baju semalam, " gumamnya sambil menatap cermin di depannya yang menampakan betap kusut penampilannya saat ini.
Dengan langkah gontai ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menyegarkan kembali tubuhnya yang kelelahan.
Hari ini ia datang ke kantor tanpa terburu-buru karena ia pergi Ke kantor lebih awal dari biasa. Ia berjalan dari lobby menuju lift yang akan membawa nya ke lantai 8 tempat ia bekerja.
"Din, tumben lo datang pagi banget hari ini, " Karin datang sambil menepuk bahu Dinda.
"Iya nih Rin tadi kebetulan bangun agak pagi jadi yah gini deh dateng kepagian. Terus lo sendiri juga tumben dateng pagi banget?"
"Hm gue biasalah lagi banyak kerjaan, lagi gue nanti habis pulang kerja mau dating biar gue bisa pulang sorean gitu, "
"Hah dating? Lo udah punya pacar lo gak bilang-bilang sih, " protes Dinda.
"Engga baru kenal lewat aplikasi date gitu lo mau ikut?" Ajak Karin.
"Gila kali ye Trus gue jadi nyamuk gitu? " Lagi-lagi Dinda protes.
"Nggak dia bawa temannya ko siapa tahu kalian cocok gitu jadi teman maksudnya, " canda Karin kepda temannya itu.
"Liat nanti aja deh kalau gak banyak kerjaan gue ikut, " ucap Dinda.
Tring!
Pintu lift terbuka mereka berdua masuk ke dalam lift tak disangka ternyata Alvin juga ada di belakang mereka membuat kedua terkejut.
Jangan lama- lama upnya