Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Bola mata kelam milik Bara terlihat berkilau, saat sosok anggun milik Safira berjalan kearahnya. Tanpa sadar lelaki bermata tajam itu menyentuh dadanya, merasakan degup jantungnya yang tak karuan. Setiap kali melihat Safira, gelora dalam darahnya seperti tak mampu ditahan. Sementara Safira tak menyadari, dirinya menjadi perhatian seorang Bara.
Mata elang milik Bara terus saja menatap sosok Safira, wanita itu terlihat sedang bertanya pada waitress. Detik kemudian keduanya terlihat menatap ke arahnya. Lalu terlihat waitress itu memberi penjelasan.
Sementara Safira, hegitu melihat sosok Bara keninya terlihat berkerut. Tapi kemudian dia melangkah ke meja Bara yang di tunjuk waitress itu.
Dengan sedikit ragu Safira mendekat. "Dari prusahaan kejora?" tanya Safira, masih dengan posisi berdiri. Mata indahnya masih terlihat ragu menatap Bara. Bara mengangguk.
"Iya, duduklah." sahut Bara mempersilahkan. Safira mengangguk lalu mengambil tempat duduk di depan Bara.
"Aku tidak menyangka akan bertemu Anda di sini." ucap Safira sembari tersenyum. Dia merasa entah ada kebetulan apa, lagi lagi dia bertemu pria tampan ini.
Bara balas tersenyum, "Kebetulan saat aku sedang disini, pengurus kantor cabang mengajukan permohonan seragam baru. Aku teringat padamu, jadi aku minta pihak perusahaan menghubungi mu." ucapnya kemudian.
"Oo begitu," ucap Safira. Sembari mengangguk pelan.
Lalu keduanya terlibat pembicaraan serius. Sebenarnya ini hal baru bagi Safira, usaha konfeksi yang dia dirikan beberapa bulan ini biasanya ditangani oleh sahabatnya. Sebab memang sahabatnya yang paham detail cara kerja perusahaan kecilnya ini. Walau tetap dalam pengawasan Safira. Tapi kali ini Safira sendiri yang langsung bertemu klien besar, atas usul temannya. Dan ternyata klien itu adalah Bara. Hal ini membuat Safira sedikit lega, sebab dia dan Bara sudah beberapa kali bertemu.
"Baiklah aku setuju dengan bahan dan harga yang kau tawarkan." ucap Bara. Saat Safira selesai memberika rincian berkas pengajuan kerjasama. Kalimat ini membuat Safira lega. Padahal dia telah menyiapkan banyak opsi andai Bara menolak berkas pertamanya. Siapa sangka lelaki itu langsung setuju.
"Terimakasih, saya berjanji tidak akan mengecewakan anda." ucap Safira dengan wajah sumringah. Membuat jantung Bara berdetak semakin cepat
"Semoga ini akan menjadi kerja sama yang baik."
"Aamiin, mudah mudahan begitu."
"Setelah ini, apa kau punya jadwal lain di kota ini?" tanya Bara, tiba tiba.
Safira tertegun, tapi kemudian menggeleng. "Tidak ada, rencananya aku pulang sore ini." ucapnya.
Bara tampak berpikir, lalu. "Bagaimana kalau kepulanganmu di tunda sehari, ada acara penting malam ini. Aku ingin membawamu sebagai pendamping." ucap Bara sembari menatap wajah ayu Safira. Safira mengerutkan keningnya sembari membalas tatapan Bara.
"Pendamping?" tanyanya ragu. Apa dia tidak salah dengar, Bara memintanya menjadi pendamping keacara pesta.
"Iya, ini acara ulang tahun perkawinan teman baik ku. Kau tau kan acara seperti itu biasanya orang datang membawa pasangan. Sementara aku masih lajang." jelas Bara.
"Lajang?" tanya Safira cepat, tanpa sadar. Bara mengangguk pelan.
Safira melongo, bagaimana bisa lelaki sesempurna dia masih lajang di usia ini.
"Tapi anda bisa bawa pacar anda kan?" ujar Safira, dengan tatapan menyelidik.
Bara menggeleng lagi. "Sayangnya aku juga tidak punya pacar." sahutnya.
"Masak?" lagi lagi Safira tak percaya, lelaki sempurna ini bahkan tak memiliki pacar.a
"Iya, itu sebabnya aku minta tolong padamu. Itung itung sebagai pertemuan bisnis. Nanti aku perkenalkan dengan beberapa pengusaha yang membutuhkan konfeksi mu."
Mendengar itu, Safira tampak berpikir. Bukan kah ini peluang bagus, dan sayang untuk di tolak. Lagi pula keduanya sama sama tak ada ikatan dengan orang lain, jadi apa salahnya?
"Kalau itu untuk kepentingan bisnis, aku kira tidak apa apa menerima tawaran Anda." ucap Safira, menyetujui ajakan Bara.
Mendengarnya sudut bibir Bara mengukir senyum.Sedikit demi sedikit langkah Bara seperti mendapat angin segar untuk mendapatkan hati wanita ini. Dia bahkan harus repot repot menghadiri acara yang menurutnya tak penting untuk di hadiri.
Malamnya Safira benar benar pergi keacara bersamaTuan bara, gaun malam berwarna gelap membalut tubuhnya dengan sempurna. Sebenarnya dia tak berniat tampil semewah ini, tapi Bara mengiriminya gaun buatan Safira sendiri. Dia tak tau bagaimana caranya Bara membeli gaun rancangannya, lalu mengirimkannya ke kamar Safira. Padahal acara ini di buat tanpa rencana, ini membuat tanda tanya besar dalam kepalanya.
Safira baru saja sampai di lobby hotel, tepat saat Bara keluar dari mobil mewahnya lalu menyongsong kedatangannya.
Safira terdiam kaku di tempatnya, menatap satu demi satu langkah kaki Bara yang berjalan kearahnya. Entah mengapa, penampilan Bara membuatnya terpana. Tak dapat dipungkiri, lelaki ini memiki aura yang dominan. Yang mampu menarik perhatian lawan jenisnya tanpa mampu di tepis.
"Sudah lama menunggu?" sapanya dengan suara rendah. Safira menggeleng.
"Kalau begitu ayo," ucap Bara lagi, lalu keduanya berjalan beriringan meninggalkan lobby hotel.
Seperti yang di ucapkan Bara, tamu yang datang hampir semua bersama pasangan. Hanya satu dua orang yang datang sendiri.
Di pesta ini, Bara datang bak medan magnet. Kehadirannya menarik perhatian semua tamu undangan. Beberapa orang langsung mendekat menyambut kedatangannya.
"Apa ini menganggumu?" tanya Bara, dengan berbisik pelan.
"Yang mana?" Safira balik bertanya, dia tak tau arah pertanyaan pria itu. Bara tak langsung menjawab, sebab ada beberapa orang yang menghampiri. Kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan. Sementara Safira hanya jadi pendengar, sesekali dia ikut menimpali dengan senyum tipis pembicaraan mereka. Sembari memperhatikan tamu tamu yang ada di sekitarnya.
Ruang yang mewah dan megah ini penuh dengan pasangan mesrah. Semua yang datang memperlihatkan betapa bahagianya kehidupan rumah tangga mereka, seakan tanpa cela.
Safira menarik nafas pelan, dulu dia juga seperti ini. Selalu terlihat harmonis dan saling mencintai, itu bukan sandiwara sebab itu yang Safira rasakan sebelum dia tau segalanya.
"Ayo, ikut aku." ucap Bara tiba tiba. Membuat lamuanan Safira buyar. Dia belum menyahut, tapi Bara sudah menautkan jarinya membawa Safira dalam langkah panjangnya. Menjauh dari kerumunan orang.
"Duduklah kau pasti lelah." ujar Bara, saat mereka sudah berada di tempat yang lumayan sepi.
Safira tak langsung duduk, dia menatap Bara yang sudah duduk duluan di sofa panjang.
"Kita belum bertemu tuan rumah kan?" tanya Safira. Bara yang sedang menatap hpnya, menengadah menatap Safira.
"Nanti saja, kau butuh istrahat sebentar. Setelah itu kita akan temui tuan rumah." sahutnya, bersamaan dengan ponselnya yang terdengar berdering.
"Maaf, aku tinggal sebentar." ujarnya lagi. Safira mengangguk, lalu menarik tubuhnya duduk.
Dari tempatnya duduk, Safira memperhatikan sosok Bara di sudut sana. Lelaki itu tengah menelepon sembari memunggunginya. Saat pria tampan itu berbalik kearahnya, dia memberi isyarat pada Safira agar menunggunya sebentar lagi. Safira mengagguk kecil sambil tersenyum.
"Is okey," sahut Sahira dengan gerak bibir. Pria itu tampak menghentikan percakapannya sejenak, menatap Safira dengan sorot mata tak terbaca. Lalu kembali berbalik memunggunginya.
Tiba tiba suara yang sangat familiar menyapa Safira.
"Safira, sedang apa kau disini??"
Bersambung