NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Tamu Tak Diundang

Rencana pertama Yu gagal sebelum dimulai.

Pagi itu, ia sudah menyiapkan alasan yang menurutnya cukup masuk akal. Stoples selai kacang. Tutupnya sengaja ia putar terlalu kencang sampai telapak tangannya sendiri sakit. Nanti malam, ia akan membawa stoples itu ke ruang tengah, memasang wajah tenang, lalu berkata, Zhen, bisa bantu buka?

Kalau Zhen mengambil stoples, jari mereka mungkin bersentuhan.

Satu detik saja cukup.

Yu bahkan sudah berlatih nada suara di depan cermin kamar.

"Zhen, bisa bantu buka?"

Terlalu manis.

"Bisa bukain ini?"

Terlalu akrab.

"Tutupnya macet."

Terlalu seperti nenek-nenek.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Hidupnya benar-benar menyedihkan kalau kalimat tiga kata saja perlu latihan.

Menjelang malam, ketika Yu keluar kamar sambil membawa stoples selai kacang, ruang tengah sudah tidak kosong.

Ada dua laki-laki asing di sana.

Yang pertama duduk selonjoran di karpet, mengenakan kaus mahal dengan ekspresi terlalu percaya diri. Rambutnya ditata asal tapi jelas disengaja. Begitu melihat Yu, matanya langsung membesar seperti menemukan konten baru.

Yang kedua duduk lebih rapi di dekat meja makan, membuka laptop, wajahnya tenang, kacamatanya sedikit turun di hidung. Ia menoleh, mengangguk sopan, lalu kembali menatap layar.

Zhen berdiri di dapur, mencuci tangan dengan ekspresi datar.

Yu berhenti di ambang lorong, stoples di tangan.

"Oh," katanya.

Laki-laki di karpet langsung berdiri. "Oh juga. Zhen, lu nggak bilang roommate lu ada di rumah."

"Ini rumahnya juga," jawab Zhen tanpa menoleh.

Kalimat itu membuat Yu menatap punggung Zhen beberapa detik lebih lama.

Laki-laki pertama menyeringai. "Halo. Gue Seng Yanrick. Panggil Yan aja. Teman tersabar Zhen sejak manusia ini belum belajar senyum."

"Chua Yulin," kata Yu.

"Yu, ya? Nama lo kecil tapi orangnya manis."

Belum sempat Yu bereaksi, Zhen mematikan keran.

"Yan."

Satu kata.

Yan mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Gue cuma memperkenalkan diri. Demokrasi mati di rumah ini."

Laki-laki berkacamata menutup laptop setengah. "Fajar Wibowo. Maaf kami datang mendadak. Ada tugas tim yang harus dicek."

Nada Fajar jauh lebih normal. Yu mengangguk lega. "Nggak apa-apa. Aku juga cuma mau ambil air."

"Dengan selai kacang?" tanya Yan.

Yu melihat benda di tangannya.

Stoples itu mendadak terasa seperti bukti kejahatan.

"Aku lapar."

"Makan selai langsung dari toples? Respect."

"Yan," kata Zhen lagi.

"Iya, iya, gue diam."

Yan duduk kembali, tapi jelas tidak diam. Matanya terus bergerak antara Yu, stoples, dan Zhen. Ekspresinya seperti orang yang baru menemukan bab pertama drama panjang.

Yu berjalan ke dapur. Zhen berdiri di dekat wastafel, menyisakan jarak cukup lebar seolah ia sengaja memberi ruang. Di meja, ada tiga gelas, satu kotak pizza, dua bungkus martabak telur, dan piring kertas yang disusun rapi. Zhen bahkan menaruh tisu di tiap sisi piring dengan jarak sama.

"Mereka sering datang?" tanya Yu pelan.

"Kadang."

"Kamu nggak bilang."

"Aku juga nggak tahu kamu perlu laporan tamu."

"Di addendum tertulis tidak bawa tamu tanpa izin."

Zhen menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya seperti menyimpan geli tipis.

"Kamu baca aturan?"

"Aku penyewa bertanggung jawab."

"Bagus. Aku izin sekarang."

"Tamu sudah duduk di karpet."

"Kalau kamu keberatan, mereka pulang."

Yu terdiam.

Kalimat itu sederhana, tapi dia mengucapkannya tanpa ragu. Seolah keberatan Yu benar-benar cukup untuk mengusir dua temannya sendiri.

Dari karpet, Yan berteriak, "Gue dengar! Jangan jahat-jahat, Yu. Kami bawa martabak."

"Kamu dengar karena berisik," balas Zhen.

Fajar menambahkan tanpa mengangkat kepala, "Secara teknis, Yan memang berisik."

"Pengkhianat," kata Yan.

Yu hampir tertawa.

Ternyata Zhen punya teman. Teman yang datang tanpa takut dilempar cairan disinfektan. Teman yang berani memanggilnya manusia tidak bisa senyum. Dan Zhen, walau mulutnya tetap tajam, tidak terlihat benar-benar terganggu.

Ada sisi lain yang Yu belum lihat.

Zhen mengambil stoples dari tangan Yu tiba-tiba.

Yu tersentak kecil.

"Mau dibuka?"

Jantung Yu langsung menendang.

Rencana itu hidup kembali dengan cara yang terlalu mendadak.

"Iya."

Ia mengulurkan tangan untuk menerima stoples setelah Zhen membukanya. Tapi Zhen, dengan efisiensi menyebalkan, membuka tutupnya dalam satu putaran, meletakkan stoples di meja, lalu mendorongnya memakai ujung jari tanpa menyentuh Yu sama sekali.

"Tutupnya nggak macet."

Yu menatap stoples itu.

Pengkhianat.

"Makasih," katanya kaku.

"Sama-sama."

Dari karpet, Yan mencondongkan badan. "Zhen, lu tadi buka toples buat orang?"

"Tangan gue masih berfungsi."

"Bukan. Maksud gue, lu menyentuh barang orang."

Zhen mengambil tisu basah dan mengelap tangannya. "Sudah."

Yan menatap Yu dengan mata berbinar. "Yu, lo hebat. Biasanya kalau gue minta bukain botol, dia nyuruh gue latihan otot."

"Karena lo punya tangan," kata Zhen.

"Dia juga punya tangan."

"Dia penyewa."

"Oh, kasta baru."

Fajar akhirnya tersenyum kecil.

Yu duduk di kursi dekat dapur, tidak benar-benar bergabung, tapi juga tidak kembali ke kamar. Burger datang dan menaruh kepala di kakinya. Ia mengusap bulu anjing itu, berusaha terlihat sibuk, padahal telinganya menangkap semua percakapan.

Tiga laki-laki itu membahas tugas, bug, lalu tiba-tiba pindah ke cerita Yan yang salah masuk kelas karena mengikuti mahasiswi cantik. Zhen menyebutnya "evolusi gagal". Fajar mencatat bug sambil sesekali menertawakan mereka.

Yu menyadari sesuatu.

Zhen tidak banyak bicara, tapi tiap kali ia bicara, Yan langsung bereaksi. Kadang marah, kadang tertawa, kadang pura-pura tersinggung. Mereka seperti sudah terlalu lama saling mengenal sampai hinaan terdengar seperti bahasa persahabatan.

"Yu," panggil Yan tiba-tiba.

Yu mengangkat kepala.

"Lu anak Fasilkom juga, kan? Semester berapa?"

"Tiga."

"Wah, junior. Zhen, kenapa nggak pernah cerita ada junior cantik tinggal di rumah lo?"

Zhen menatap layar laptop. "Karena otak gue dipakai untuk hal penting."

"Nyakitin tapi valid."

Yan pindah duduk lebih dekat ke kursi Yu. "Yu, kalau Zhen galak, bilang gue. Gue punya banyak aib dia."

Tubuh Yu menegang saat jarak mereka mengecil. Bukan karena Yan terlihat berbahaya. Justru wajahnya terlalu ramah. Tapi tubuh Yu belum selesai dengan alarmnya. Tangan Yan bergerak seolah ingin menepuk sandaran kursi di sebelahnya.

Sebelum tangan itu turun, Zhen melempar sebungkus tisu ke dada Yan.

"Duduk di sana."

Yan menangkapnya. "Apa sih?"

"Lo menghalangi Burger."

Burger, yang sebenarnya sedang santai di kaki Yu, mengangkat kepala seolah namanya difitnah.

Fajar melihat Burger, lalu Zhen, lalu Yu. Ia tidak berkata apa-apa, tapi matanya seperti mencatat sesuatu.

Yan kembali ke karpet sambil menggerutu. "Anjingnya aja dibawa-bawa. Posesif sama jalur lalu lintas."

Yu menunduk, pura-pura membuka stoples selai. Jantungnya belum benar-benar tenang, tapi rasa panik yang hampir naik tadi tertahan. Bukan karena Yan menjauh sendiri.

Karena Zhen menyadarinya lebih dulu.

Malam itu mereka bekerja sampai hampir pukul sebelas. Yu beberapa kali keluar masuk kamar untuk mengambil air, mencuci gelas, atau sekadar memberi Burger camilan. Setiap kali ia lewat, Yan ingin berkomentar, Zhen lebih dulu memotong.

"Kerja."

"Tutup mulut."

"Bug lo belum selesai."

Fajar, yang paling sedikit bicara, akhirnya berkata, "Yan, kalau kamu tidak bicara lima menit, mungkin tugas ini selesai sebelum pagi."

"Kalian berdua jahat," kata Yan.

"Konsisten," jawab Zhen.

Saat Yan dan Fajar akhirnya pulang, Yu berdiri di dekat dapur sambil membawa gelas. Fajar mengangguk sopan.

"Terima kasih sudah membiarkan kami berisik."

"Nggak apa-apa."

Yan mengangkat tangan. "Bye, Yu. Kalau butuh gosip tentang Zhen, chat gue."

"Dia nggak punya nomor lo," kata Zhen.

"Bisa dikasih."

"Nggak perlu."

Zhen mendorong punggung Yan keluar pintu dengan satu tangan, tidak keras tapi tegas.

"Woi, santai. Gue cuma mau networking."

"Networking-mu biasanya bencana."

Pintu tertutup.

Unit mendadak sunyi lagi.

Yu menatap Zhen yang mengunci pintu, lalu melihat meja yang penuh piring kertas. Tanpa diminta, ia mulai mengumpulkan sampah. Zhen menoleh.

"Tinggalkan. Aku bereskan."

"Aku juga tinggal di sini."

Zhen diam sebentar, lalu mengambil kantong sampah baru dan memberikannya. Kali ini jari mereka hampir bersentuhan, tapi Zhen berhenti tepat sebelum kulit bertemu kulit.

Yu menahan kecewa yang sangat tidak pantas.

Zhen memandangnya. "Kamu tadi takut sama Yan?"

Yu menggenggam kantong sampah. "Nggak."

"Jawabanmu cepat lagi."

Ia menunduk.

Zhen tidak mengejar. Ia hanya berkata, lebih pelan dari biasanya, "Kalau dia bikin kamu nggak nyaman, bilang."

Yu mengangkat wajah.

Pria itu sudah berbalik ke meja, mengumpulkan piring dengan gerakan rapi. Seolah kalimat tadi tidak berarti apa-apa. Seolah ia tidak baru saja membuat satu sudut kecil di dada Yu menjadi hangat.

Dari balik pintu, suara Yan tiba-tiba terdengar samar di koridor.

"Fajar, lu lihat nggak? Zhen narik gue kayak gue virus."

Suara Fajar menjawab lebih pelan, tapi masih terdengar.

"Mungkin bukan karena kamu virus."

"Terus karena apa?"

Hening dua detik.

"Karena dia memperhatikan Yu."

Yu membeku di depan meja.

Zhen juga berhenti, piring kertas masih di tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!