NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Tanda yang Bisa Dilihat

Kevin tidak menyuruhnya pulang lagi.

Tapi ia juga tidak mendekat.

Di bawah kanopi ruko yang sempit, mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang terasa lebih menyiksa daripada hujan. Rolling door di belakang Kevin tertutup rapat, dingin dan berbau besi basah. Air jatuh dari pinggir kanopi seperti tirai tipis, memisahkan mereka dari jalan, dari Polsek, dari semua orang yang menunggu dengan cemas.

Sekar masih menggenggam ujung jaket Kevin.

Kevin menatap tangan itu lama.

"Lo selalu begitu," katanya pelan.

"Begitu apa?"

"Pegang sesuatu seolah lo yakin nggak bakal dilepas."

Sekar mengeratkan genggamannya. "Kalau aku yakin, untuk apa aku lepas?"

Kevin tersenyum, tetapi senyum itu membuat dadanya terlihat lebih sakit. "Karena semua orang pada akhirnya lepas."

Sekar tidak menjawab cepat.

Ia tahu kalau ia membantah terlalu cepat, Kevin akan menganggapnya sebagai kalimat manis. Malam ini Kevin tidak butuh kalimat manis. Ia butuh sesuatu yang bisa menahan runtuhan di dalam dirinya, satu demi satu.

Dari arah Polsek, Bryan mendekat membawa payung hitam yang hampir terbalik.

"Kak Sekar!" serunya. "Lo basah kuyup. Pak Arief bilang, kalau mau ngomong, minimal pakai payung."

Kevin langsung menoleh. "Gue bilang jangan ikut."

Bryan berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya menatap Kevin, tidak takut, hanya marah dan sedih. "Lo nggak bisa ngusir semua orang, Bro."

"Bisa."

"Nggak bisa. Buktinya gue masih di sini."

"Bryan."

"Apa? Mau marah? Marah aja." Bryan mengangkat payung sedikit, hujan memukul sisi wajahnya. "Tapi jangan ngomong putus ke Kak Sekar cuma karena lo panik. Itu pengecut."

Wajah Kevin berubah tajam. "Jaga mulut lo."

"Gue jaga dari tadi."

Sekar melepas jaket Kevin sebentar dan berbalik pada Bryan. "Bryan, tunggu di sana dulu."

"Kak..."

"Tolong."

Bryan menggertakkan gigi. Ia menatap Kevin lagi. "Kalau lo bikin dia nangis sendirian, gue beneran pukul lo meski gue kalah."

Kevin tidak membalas.

Itu yang membuat Bryan tampak lebih marah. Ia menancapkan payung ke tangan Sekar, tetapi Sekar tidak mengambilnya. Akhirnya Bryan meletakkannya di sisi ruko, lalu mundur kembali ke arah Pak Arief.

Ketika mereka berdua tinggal dalam suara hujan lagi, Kevin berkata, "Lihat? Bahkan Bryan sekarang berani ngomong begitu sama gue."

"Karena dia sayang kamu."

"Jangan pakai kata itu buat semua hal."

"Kenapa?"

"Karena kata itu gampang banget dipakai orang buat ninggalin bekas."

Sekar mengangkat wajah.

Kevin menatap genangan di bawah kakinya. "Om dan tante gue dulu juga bilang mereka kasihan. Bilang gue bisa tinggal di rumah mereka. Bilang keluarga harus saling jaga. Terus tiap kali gue makan terlalu banyak, mereka ingetin gue bukan anak mereka. Tiap kali gue sakit, mereka bilang gue bikin repot. Tiap kali gue pulang telat, mereka bilang lebih baik gue nggak pulang sekalian."

Sekar merasakan darahnya mendingin.

Ia pernah tahu garis besarnya. Anak asuh. Keluarga yang menampung lalu menyakiti. Tetapi mendengar Kevin mengatakannya dengan mulut sendiri, di bawah hujan, membuat setiap kata seperti jarum yang masuk perlahan.

"Kev..."

"Jangan kasihan."

"Aku marah."

Kevin terdiam.

Sekar menatapnya, matanya basah. "Aku marah pada mereka."

Kevin seperti tidak siap menerima jawaban itu.

"Aku marah karena mereka membuat kamu pikir makan adalah kesalahan. Pulang adalah kesalahan. Sakit adalah kesalahan. Dicintai juga kesalahan." Suara Sekar bergetar, tetapi setiap kata jelas. "Aku marah karena sekarang kamu berdiri di depanku, berdarah, basah, takut, lalu masih merasa orang yang harus pergi adalah kamu."

Kevin mengalihkan wajah.

Tapi kali ini Sekar melihat dagunya bergetar.

"Jangan," katanya, sangat lirih.

"Jangan apa?"

"Jangan bikin gue..." Ia berhenti, menelan napas yang terdengar sakit. "Jangan bikin gue percaya kalau gue bisa punya itu."

"Punya apa?"

Kevin menunduk lebih rendah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Air hujan menetes dari rambutnya ke rahang, ke leher, lalu hilang di kerah jaket.

"Rumah," jawabnya.

Satu kata.

Sekar hampir kehilangan suara.

Kevin menarik napas, tetapi napas itu patah di tengah. "Dulu waktu gue demam, gue pernah tidur di bangku warnet sampai pagi."

Sekar membeku.

"Kenapa?"

"Karena di rumah mereka bilang kalau gue sakit, gue bikin suasana sial. Gue pikir kalau gue nggak pulang, mereka nggak perlu lihat gue. Bodoh, kan?" Kevin tertawa kecil, kering dan hancur. "Besoknya Bryan nemuin gue. Dia bawa teh botol sama roti, terus marah-marah kayak emak-emak. Ibunya masih hidup waktu itu, lagi sakit juga, tapi dia masih mikirin gue."

Sekar menggenggam jaketnya lebih kuat.

"Sejak itu gue tahu, orang baik itu ada. Tapi orang baik juga bisa capek, bisa sakit, bisa pergi." Kevin menatap hujan yang jatuh dari kanopi. "Ibunya Bryan pergi. Mama gue juga pergi. Orang-orang yang bilang mereka nampung gue, pelan-pelan bikin gue berharap gue nggak pernah lahir. Jadi kalau lo tanya kenapa gue takut punya rumah, jawabannya bukan karena gue nggak mau."

Suaranya makin rendah.

"Gue takut kalau gue percaya ada rumah, terus rumah itu nutup pintu."

Sekar merasakan air matanya jatuh, kali ini ia tahu bukan hujan.

"Aku bukan mereka."

"Gue tahu."

"Kamu belum percaya."

"Itu beda."

"Aku akan buat kamu percaya pelan-pelan."

Kevin menatapnya dengan mata yang terlalu lelah untuk sinis. "Lo pikir orang bisa diajar percaya?"

"Bisa," jawab Sekar. "Kalau orang yang mengajarnya tidak pergi."

Kevin tertawa tanpa suara. "Lucu, kan? Gue punya kos. Ada kasur, ada atap bocor dikit, ada lemari murah. Tapi tiap pulang, rasanya cuma masuk tempat buat tidur. Nggak ada yang nunggu. Nggak ada yang nanya kenapa muka gue luka. Nggak ada yang marah kalau gue makan mi instan tiga hari."

Ia mengangkat tangan, mengusap wajah, tetapi justru terlihat makin kacau.

"Terus lo datang. Lo bawain makanan. Lo marah kalau gue nggak sarapan. Lo hafal jalan ke tempat biliar. Lo datang ke Polsek. Lo berdiri di sini sambil ngomong lo nggak takut mencintai gue."

Sekar mendengarkan tanpa memotong.

"Lo tahu itu bikin apa?" tanya Kevin.

"Apa?"

"Bikin gue pengin percaya."

Kalimat itu keluar seperti pengakuan dosa.

Sekar melangkah maju.

Kevin tidak mundur.

"Kalau begitu percayalah."

Kevin menatapnya, matanya basah dan gelap. "Gue nggak bisa cuma karena lo bilang begitu."

"Aku tahu."

"Gue rusak, Sekar."

"Kamu terluka."

"Sama aja."

"Tidak sama." Sekar menggeleng. "Yang rusak dibuang. Yang terluka dirawat."

Kevin memejamkan mata, wajahnya sakit.

"Gue nggak mau lo jadi perawat gue."

"Aku bukan perawatmu. Aku pacarmu."

"Itu lebih parah."

"Kenapa?"

"Karena kalau lo capek, lo bisa pergi."

"Perawat juga bisa berhenti kerja."

Kevin membuka mata.

Sekar menatapnya serius. "Tidak ada hubungan yang aman hanya karena namanya berbeda. Yang membuat orang tetap tinggal bukan label, Kev. Pilihan."

"Pilihan bisa berubah."

"Iya. Jadi aku akan memilih lagi besok. Lusa. Hari setelahnya. Tiap kali kamu takut aku berubah, aku akan memilih lagi."

Kevin menatapnya lama.

"Lo sanggup?"

"Sanggup."

"Kalau gue nyebelin?"

"Sudah."

Kevin hampir tersenyum, tetapi wajahnya patah lebih dulu.

"Kalau gue kabur?"

"Aku kejar."

"Kalau gue dorong lo pergi?"

"Aku tanya kenapa. Kalau alasannya cuma karena kamu membenci dirimu sendiri, aku tidak akan pergi."

"Kalau suatu hari gue beneran nyakitin lo?"

Sekar menelan napas. "Kita bicara. Kita cari cara supaya itu tidak terulang. Tapi aku tidak akan menghukum diriku dengan meninggalkan orang yang sedang belajar tidak menyakiti."

Kevin menunduk. "Lo bikin semuanya terdengar mungkin."

"Memang mungkin."

"Buat lo."

"Buat kita."

Kata itu membuat Kevin kehilangan seluruh sisa tenaga.

Ia bersandar ke rolling door, lalu perlahan meluncur turun sampai duduk di lantai semen yang basah. Lututnya tertekuk. Satu tangan menutup wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya bernapas dengan kasar, seperti orang yang habis berlari terlalu jauh.

Sekar langsung berjongkok di depannya.

"Kev."

"Jangan lihat."

"Aku sudah melihat."

"Gue jelek banget sekarang."

"Kamu basah, berdarah, dan keras kepala. Itu bukan jelek."

"Sekar."

"Aku di sini."

Kevin menurunkan tangan.

Matanya merah. Kali ini tidak ada alasan untuk menyebutnya hujan. Ia menangis tanpa suara, dan fakta itu membuat Sekar ingin memeluk seluruh tubuhnya sampai dunia berhenti memukul.

Tetapi ia tetap bergerak pelan.

Ia menyentuh punggung tangan Kevin yang lecet.

Kevin tersentak, tetapi tidak menarik diri.

"Sakit?"

"Nggak."

"Bohong."

"Sedikit."

Sekar menatap luka kecil itu. Kulitnya tergores, tetapi tangan itu tetap hangat di bawah hujan. Tangan yang menariknya dari jalan licin. Tangan yang menyembunyikan takut di balik kepalan. Tangan yang suatu hari harus punya tanda, bukan untuk mengikat Kevin seperti benda, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada seseorang yang memilih tidak pergi.

"Kamu bilang kata-kata tidak cukup," ucap Sekar.

Kevin menatapnya dari balik rambut basah. "Gue nggak bilang gitu."

"Tapi kamu tidak percaya kata-kata."

Ia diam.

"Kalau begitu," Sekar menggenggam tangannya lebih erat, "aku kasih kamu sesuatu yang bisa kamu lihat."

Kevin mengerutkan dahi. "Apa?"

Sekar tidak menjawab.

Ia mengangkat punggung tangan Kevin pelan, mendekatkannya ke bibirnya.

Kevin membeku.

"Sekar..."

"Jangan tarik tanganmu."

Untuk pertama kali malam itu, Kevin menurut.

Jari-jarinya gemetar di genggaman Sekar. Bukan karena dingin saja. Sekar bisa merasakannya, seluruh tubuh Kevin sedang menahan dorongan untuk menarik diri, tetapi ia memilih diam, memilih membiarkan Sekar menentukan tanda pertama yang benar-benar tidak bisa ia pura-pura tidak lihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!