NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Jangan Manja

Kelvin benar-benar menunggu Naomi selesai kelas hari itu.

Ia tidak membahas Brandon lagi di perjalanan pulang. Itu seharusnya membuat Naomi lega. Namun Kelvin yang diam justru membuat ruang mobil terasa lebih sempit daripada saat ia menyindir Kak Brandon di koridor.

Naomi beberapa kali ingin menjelaskan bahwa Brandon hanya membantu. Beberapa kali juga ia ingin bertanya apakah Kelvin benar-benar cemburu. Tapi setiap kali ia menoleh, profil wajah Kelvin tampak tenang, seperti tidak ada yang perlu dijelaskan.

Akhirnya Naomi ikut diam.

Felix menyambut mereka di apartemen dengan energi yang tidak peduli pada drama manusia. Begitu pintu terbuka, ia berlari memutari Naomi, lalu menggonggong pada Kelvin, seolah menuntut penjelasan kenapa Mommy dibawa pulang dalam suasana sebeku ini.

"Jangan lihat aku," kata Kelvin pada Felix. "Dia yang diam."

Naomi menatapnya. "Kamu juga diam."

"Aku menyetir."

"Setelah sampai juga diam."

"Aku memberi kesempatan kamu bicara."

"Saya pikir kamu tidak mau mendengar."

Kelvin melepas jam tangan dan meletakkannya di meja. "Kalau tidak mau mendengar, aku tidak akan menunggu kamu selesai kelas."

Jawaban itu membuat Naomi kehilangan kata.

Felix menyelipkan kepala di antara mereka, lalu mendorong tangan Naomi agar mengusapnya.

"Lihat," kata Kelvin. "Dia saja tahu harus minta perhatian."

Naomi berjongkok mengusap Felix. "Felix tidak punya kontrak dua bulan."

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Kelvin diam.

Naomi menyesal.

Ia berdiri lagi. "Maaf."

"Jadi itu masalahnya."

"Bukan."

"Naomi."

Ia memejamkan mata sebentar. "Aku cuma... kadang lupa. Lalu ingat lagi."

"Lupa apa?"

"Kalau semua ini ada batasnya."

Kelvin menatapnya lama. "Kamu menghitung?"

Naomi tidak menjawab.

Jawaban itu cukup.

Kelvin tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan ke dapur, membuka kulkas, lalu mengeluarkan kotak buah yang tadi pagi disiapkan Naomi. Di dalamnya ada potongan jeruk, apel, dan pir.

"Makan."

"Kita sedang bicara."

"Kamu selalu lebih berani kalau sudah makan."

Naomi hampir tersenyum meski dadanya masih sakit.

Mereka akhirnya duduk di sofa ruang tengah. Felix naik ke karpet di depan mereka dengan mainan kunyah. Naomi mengambil sepotong jeruk, lalu satu lagi. Kelvin duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat.

Televisi menyala tanpa suara. Di layar, acara varietas menampilkan orang-orang tertawa berlebihan. Tidak ada yang benar-benar menonton.

"Aku tidak suka Brandon," kata Kelvin tiba-tiba.

Naomi tersedak potongan jeruk.

Kelvin mengambil air dan menyerahkannya. "Pelan."

Naomi minum, lalu menatapnya. "Itu sangat jelas."

"Bagus."

"Kenapa?"

"Dia terlalu rapi."

"Itu alasan?"

"Orang yang terlalu rapi biasanya menyembunyikan sesuatu."

Naomi mengernyit. "Kamu juga rapi."

"Aku tidak menyembunyikan kalau aku menyebalkan."

Naomi gagal menahan tawa.

Kelvin melihatnya. Ketegangan di wajahnya melunak sedikit.

"Aku tidak bilang kamu tidak boleh berteman dengan dia," katanya. "Tapi kalau dia memberi pekerjaan, kasih aku lihat dulu."

"Karena vendor-nya bermasalah?"

"Karena kamu terlalu mudah percaya orang yang bicara lembut."

Naomi ingin membantah, tapi nama Ibu kos, manajer minimarket, dan komentar kampus lewat di kepalanya. Mungkin Kelvin tidak sepenuhnya salah.

"Saya juga percaya kamu," katanya pelan.

Kelvin menatapnya.

Naomi baru sadar apa yang ia ucapkan, lalu cepat-cepat mengambil potongan apel.

"Maksud saya, kamu juga bicara lembut kadang-kadang."

"Kadang-kadang?"

"Lebih sering menyebalkan."

"Tapi kamu tetap percaya."

Naomi tidak menjawab.

Felix tiba-tiba menjatuhkan mainan kunyahnya di pangkuan Naomi. Naomi menunduk mengambilnya, tapi gerakan itu membuat bahunya menyentuh lengan Kelvin. Karena sudah lelah menahan diri seharian, ia tidak langsung menjauh.

Kelvin juga tidak bergerak.

Beberapa menit berlalu. Naomi mengusap kepala Felix dengan satu tangan, tangan lainnya memegang potongan apel yang belum dimakan. Tubuhnya perlahan miring, bersandar sedikit pada sisi sofa, lalu tanpa sadar pada lengan Kelvin.

Ia baru menyadari ketika Kelvin berkata, "Jangan manja."

Naomi langsung menegakkan tubuh. "Saya tidak..."

Kelvin sudah menariknya kembali, tidak kasar, hanya mengaitkan satu lengan di belakang bahunya dan membuatnya kembali bersandar.

"Aku belum bilang berhenti."

Wajah Naomi memanas. "Kamu bilang jangan manja."

"Itu peringatan."

"Untuk apa?"

"Supaya aku tidak terlalu terbiasa."

Kali ini Naomi yang diam.

Kelvin menatap televisi tanpa suara. Tangannya tetap berada di belakang bahu Naomi, ringan tapi jelas. Felix, seolah melihat kesempatan, naik setengah badan ke pangkuan Naomi dan membuat posisi itu semakin sulit dilepaskan.

"Felix berat," gumam Naomi.

"Dia juga manja."

"Kamu memanjakan dia."

"Aku memanjakan siapa saja yang tinggal di rumahku dan tidak tahu cara meminta."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi mengena tepat di tempat yang membuat Naomi ingin menangis.

Ia tidak bergerak lagi.

"Kalau aku tidak tahu cara meminta?" tanya Naomi setelah beberapa lama.

"Belajar."

"Kamu suka sekali menyuruh saya belajar."

"Karena kamu pintar."

Naomi menoleh sedikit. "Itu pujian atau tugas baru?"

"Dua-duanya."

Ia ingin membalas, tapi Kelvin lebih dulu mengambil remote, mengecilkan suara televisi yang memang sudah hampir tidak terdengar.

"Contoh," katanya. "Kalau kamu mau duduk dekat, bilang mau duduk dekat."

"Saya tidak..."

Kelvin menatapnya.

Naomi menutup mulut.

"Kalau mau aku berhenti, bilang berhenti. Kalau mau aku menjauh, bilang menjauh. Kalau mau aku tetap di sini, jangan pura-pura mengambil apel selama lima menit."

Naomi melihat potongan apel yang masih ada di tangannya sejak tadi.

Wajahnya panas. "Kamu memperhatikan hal-hal tidak penting."

"Itu penting kalau kamu yang melakukannya."

Naomi menggigit apel itu hanya untuk menyembunyikan ekspresinya.

Felix mendadak menguap besar, lalu menyandarkan seluruh berat kepalanya ke lutut Naomi.

"Lihat," kata Kelvin. "Felix minta dengan jelas."

"Felix tidak punya harga diri."

"Dia tidur nyenyak."

Naomi terdiam, lalu tertawa pelan. Mungkin Kelvin benar. Mungkin terlalu banyak harga diri membuat seseorang lelah bahkan saat ingin bersandar.

Kelvin tidak mendesak, tapi tatapannya seperti menunggu.

Naomi menarik napas kecil.

"Aku mau duduk sebentar lagi," katanya akhirnya, nyaris berbisik.

Kelvin tidak tersenyum mengejek. Ia hanya menggeser posisi lengannya agar Naomi bisa bersandar lebih nyaman.

"Nah," katanya. "Tidak sulit."

Sulit, pikir Naomi.

Tapi tidak seburuk sendirian.

Malam itu, Naomi tidak menyelesaikan terjemahan. Kelvin juga tidak kembali membuka laptop. Mereka duduk seperti itu sampai acara televisi berganti dua kali, Felix tertidur dengan kepala di kaki Naomi, dan kota di luar jendela berubah menjadi lampu-lampu kecil yang jauh.

Ketika akhirnya Naomi masuk kamar, ia membuka kalender ponsel sebelum tidur.

Dua minggu.

Angka itu terlihat kecil dan kejam.

Di ruang tengah, bekas hangat lengan Kelvin masih terasa di bahunya.

Naomi menatap tanggal itu lama sekali.

Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan: menjadi semakin manja, atau menyadari bahwa Kelvin tidak benar-benar mendorongnya pergi.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!