NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Pasangan Plastik

Malam itu, Wijaya Estate untuk pertama kalinya terasa seperti terbagi menjadi dua medan perang.

Yang pertama berada di luar: Darren, Billy, dan tim keamanan memburu jejak nomor sekali pakai, akses palsu, dan orang-orang yang menyentuh Naomi.

Yang kedua berada di ruang makan kecil sayap timur: Raymond Wijaya mencoba berbicara dengan istrinya sendiri.

Naomi seharusnya beristirahat setelah minum obat bahu. Namun Olivia datang sendiri membawa sup ayam ginseng dan memaksa Naomi makan beberapa suap. Darren duduk di samping Naomi seperti penjaga gerbang pribadi. Raymond masuk lima menit kemudian dengan nampan buah potong di tangan.

Pemandangan itu begitu tidak cocok dengan wajah Raymond yang dingin sampai Naomi hampir tersedak.

Darren langsung menepuk punggungnya. "Pelan."

Raymond meletakkan nampan di meja. "Aku yang minta dapur potong."

Olivia tidak menoleh. "Terima kasih."

Dua kata. Datar. Selesai.

Raymond berdiri beberapa detik, seolah menunggu kalimat tambahan yang tidak datang.

Darren menunduk ke telinga Naomi. "Lihat. Drama sejarah keluarga."

Naomi mencubit lengannya pelan. "Jangan jadi komentator."

"Aku lahir dari komentarnya."

Olivia akhirnya menatap Darren. "Darren."

Pria itu langsung duduk lebih tegak. "Maaf, Ma."

Raymond menarik kursi di seberang Olivia. "Kamu sudah makan?"

"Sudah."

"Supnya masih hangat."

"Untuk Naomi."

"Aku bisa minta dapur buat lagi."

"Tidak perlu."

Percakapan itu begitu kaku sampai Giselle yang kebetulan lewat di pintu berhenti, menonton dua detik, lalu berbisik, "Pasangan plastik premium," sebelum kabur.

Naomi menutup mulut. Darren hampir tertawa.

Raymond jelas mendengar, tetapi pura-pura tidak. Olivia juga mendengar, dan sudut bibirnya bergerak sangat tipis.

Itu mungkin kemenangan terbesar Raymond malam itu.

Ia segera mencoba lagi. "Kamar kita sudah disiapkan di sayap timur."

Olivia mengaduk sup Naomi. "Kamar kamu."

Raymond terdiam.

Darren mengangkat alis. Naomi menatap mangkuk sup seolah jawaban hidup ada di sana.

"Olivia," kata Raymond, suaranya turun.

"Aku tidur dengan Naomi malam ini." Olivia mengambil tisu, menyeka sedikit kuah di sisi mangkuk. "Dia terluka. Darren perlu bekerja. Aku bisa menemaninya."

Darren langsung berkata, "Aku bisa menemani istriku."

"Kamu perlu mencari pelaku."

"Aku bisa melakukan dua-duanya."

Olivia menatap putranya.

Darren diam.

Naomi mulai memahami dari mana Darren mendapat kemampuan patuh mendadak pada nada tertentu.

Raymond memandang Olivia. "Kamu tidak perlu menghindariku di depan anak-anak."

Olivia meletakkan sendok. "Aku tidak menghindar. Aku memilih jarak."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Darren tidak lagi bercanda. Naomi juga menurunkan pandangan. Ini bukan lagi lucu. Ada luka yang hidup di antara Raymond dan Olivia, lama, rapi, dan belum sembuh.

Raymond seperti menyadari ruang itu terlalu dingin, lalu mengambil piring buah dan mendorongnya sedikit ke arah Olivia. "Mangga. Kamu dulu suka."

Olivia menatap potongan mangga itu. "Aku alergi sejak lima tahun lalu."

Raymond membeku.

Darren menutup mata sebentar, seolah ikut merasakan malunya. Naomi pura-pura minum air, tetapi gelasnya sudah kosong.

"Pepaya?" tanya Raymond setelah beberapa detik, jelas tidak menyerah.

"Aku tidak suka pepaya."

"Sejak kapan?"

"Sejak menikah denganmu. Kamu tidak pernah memperhatikan."

Giselle benar, pikir Naomi. Ini memang pasangan plastik premium, hanya saja retaknya jauh lebih tajam daripada kelihatannya.

Raymond menarik napas. "Aku datang karena Naomi terluka."

"Aku tahu."

"Aku juga datang karena kamu."

Olivia tersenyum kecil, tetapi tidak hangat. "Kalau begitu kamu terlambat beberapa tahun."

Raymond tampak seperti ingin menjawab, lalu menahan diri. Untuk pria yang terbiasa memerintah, menelan kalimat mungkin terasa seperti menelan batu.

Darren menggenggam tangan Naomi di bawah meja. Ia tidak melihat ayahnya. Matanya tertuju pada piring buah yang tidak disentuh siapa pun.

Naomi tiba-tiba paham, perselingkuhan Raymond bukan sekadar gosip keluarga. Itu sesuatu yang membentuk cara Darren mencintai: terlalu takut kehilangan, terlalu ingin menggenggam, terlalu benci pada kebohongan.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Seorang asisten Raymond masuk dengan ponsel di tangan. "Pak Raymond, maaf. Ada panggilan dari Jakarta. Dari pihak Nyonya Jennifer Cheng."

Udara langsung membeku.

Olivia tidak bergerak. Tangannya tetap di mangkuk sup, tetapi buku jarinya memutih.

Raymond menatap asistennya dengan wajah gelap. "Tidak sekarang."

Asisten itu semakin gugup. "Katanya tentang anak itu, Pak. Mendesak."

Darren mengangkat kepala.

Naomi merasakan tangan Darren menegang.

Anak itu.

Dua kata itu jatuh lebih berat daripada nama Jennifer Cheng sendiri.

Olivia akhirnya berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai.

"Urus saja," katanya.

"Olivia."

"Jangan gunakan nada itu." Olivia menatap Raymond. Kali ini matanya tidak lembut sama sekali. "Kau datang untuk Naomi, baik. Kau ingin memperbaiki hubungan dengan Darren, silakan. Tapi jangan berpura-pura masalah antara kita hanya jarak. Masalah itu punya nama, punya ibu, dan punya tempat di hidupmu."

Raymond memejamkan mata.

Darren berdiri. "Apa maksud Mama?"

Olivia menatap putranya. Sesaat, rasa lelah di wajahnya membuat Naomi ingin berdiri dan memeluknya.

"Ayahmu punya anak dari Jennifer Cheng," kata Olivia.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada piring pecah.

Justru karena begitu tenang, kalimat itu terasa lebih menghancurkan.

Darren menatap Raymond. "Itu benar?"

Raymond membuka mata. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak punya wibawa yang bisa ia pakai sebagai tameng.

"Benar," katanya.

Naomi merasakan tangan Darren menjadi dingin di genggamannya.

Darren tidak langsung bicara. Diamnya jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.

"Berapa lama aku tidak tahu?" tanyanya akhirnya.

Raymond menatap putranya. "Cukup lama."

"Itu bukan jawaban."

"Sejak dia kecil."

Kursi Darren bergeser saat ia berdiri. "Sejak dia kecil," ulangnya pelan. "Jadi selama ini Mama tahu, Papa tahu, Jennifer tahu, anak itu tahu, dan aku satu-satunya orang bodoh di rumah ini?"

"Darren," kata Olivia, lelah.

"Tidak, Ma. Aku hanya ingin memastikan pola keluarga kita konsisten. Semua orang menyimpan rahasia, lalu berharap orang yang terluka bersikap dewasa."

Raymond menerima kalimat itu seperti pukulan yang pantas ia dapat. "Aku salah."

Darren tertawa pendek. "Kalimat ajaib keluarga Wijaya. Datang selalu setelah semuanya rusak."

Naomi berdiri meski bahunya sakit, lalu menggenggam tangan Darren lebih erat. Ia tidak menahan marahnya. Ia hanya memastikan Darren tidak berdiri sendirian di tengah luka yang baru dibuka.

Raymond melihat gerakan itu. Sesuatu di wajahnya bergerak, menyesal dan iri sekaligus.

Naomi berbisik pada Darren, "Tarik napas. Aku di sini."

Darren menutup mata sesaat, lalu menggenggam tangannya balik seperti orang yang hampir jatuh.

Raymond memalingkan wajah, untuk pertama kalinya tampak benar-benar tua malam itu.

Di luar ruang makan kecil, Rumah Besar masih sibuk mengejar pembunuh dan pengkhianat.

Di dalam ruangan itu, keluarga inti Darren baru saja membuka luka lain yang tidak kalah dalam.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!