Seorang wanita pekerja kantoran yang memiliki hidup penuh akan pekerjaan. Setiap hari dia selalu bekerja dan bekerja, waktu liburan dia hanya tidur dan tak melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya.
Pola hidup yang tak pernah berubah membuat dirinya stress, hingga akhirnya ia mencapai titik dimana dia tak berpikir untuk hidup.
Namun, takdir membuatnya berpindah ke tubuh seorang bocah berusia 10 tahun. Mulai dari sana ia mengalami begitu banyak peristiwa yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup.
Kisah kebangkitan seseorang pada kehidupan keduanya dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Rumah
Di serikat pedagang cabang kota Arum, Altea sedang berada di sebuah ruangab ditemani oleh dua pria tua. Satunya William, pedagang pemilik karavan yang ia tumpangi, sedangkan pria satunya merupakan ketua serikat pedagang.
Mereka duduk di sebuah kursi yang terpisahkan oleh meja panjang di bagian tengah, di atas meja itu terdapat banyak kertas yang bergambar denah rumah. Saat ini Altea sedang memilih rumah yang akan disewa olehnya untuk membuka sebuah toko, dengan syarat hanya menjual ramuan dan tanaman obat saja.
Pada dasarnya Altea tak mendaftar sebagai pedagang, karena hal itulah dia tak bisa menjual barang lain. Dalam benaknya ada keinginan untuk mendaftar sebagai pedagang, tetapi hal itu akan dilakukan olehnya setelah puas menjalani hidup sebagai alkemis.
Ada alasan lain kenapa Altea ingin menyewa sebuah rumah, itu karena dia ingin memiliki tempat yang bisa disebut rumah. Dia juga tak ingin terus tinggal di penginapan.
Setelah memilah kertas yang berisikan denah rumah, Altea akhirnya menemukan satu yang dianggapnya pas. Sebuah rumah sederhana yang berada di pinggiran kota, tak terlalu jauh hanya sekitar beberapa meter, hanya dengan berjalan sepuluh menit bisa mencapai bagian tengah kota.
"Eh? Kau yakin ingin memilih yang itu?" kata William dengan ragu.
"Ya, apa ada yang salah?" Altea bertanya dengan heran.
William menggelengkan kepalanya, "hanya saja, kondisi rumah itu cukup buruk karena terlantar bertahun-tahun," jelas William. "Rumah itu sangat tua dan sudah rusak parah, bahkan orang-orang ingin merobohkannya," tambah William.
"Tak masalah, karena danaku cukup, aku akan langsung membelinya, tak perlu menyewa lagi," ucap Altea dengan senyuman.
Altea tak peduli mau setua apa rumah yang akan dia beli, jika rusak maka tinggal perbaiki saja, tak ada perabotan tinggal beli, tak perlu pusing. Jika memiliki rumah sendiri Altea bisa fokus membuat berbagai macam ramuan, dengan begitu ia bisa membuka toko yang menjual banyak jenis ramuan yang pasti diperlukan oleh petualang dalam menjelajahi labirin.
"Begitu yah, kalau begitu apa kau mau menjual ramuanmu di tokoku juga? Aku bisa memperkenalkan para pelangganku tentang tokomu, tentu saja aku akan memasang harga yang sama denganmu," ucap William.
"Eh? Apa Bapak yakin?" Altea cukup terkejut, karena saran itu sangat menguntungkan dirinya.
"Tentu saja, Ronald sepertinya sangat memuji kemampuanmu, bagaimana jika 80% dan 20%?" ucap William mengajukan kesepakatan.
"Maksud Anda dari semua penjualan ramuan yang saya titipkan di toko Anda, 20% dari penjualan akan menjadi milik Anda?" kata Altea dengan nada bertanya.
"Ya, bagaimana?" William kembali bertanya mengenai kesepakatan itu.
"Saya tidak masalah, lagipula itu tak merugikan saya," jawab Altea menyetujui kesepakatan yang dibuat oleh William.
"Sudah diputuskan, semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar," ujar William sembari mengulurkan tangannya.
Altea menerima uluran tangan itu dan berjabat tangan dengan William. Setelah itu mereka semua pergi menuju ke lokasi rumah yang dipilih oleh Altea. Semakin berjalan menuju ke sana, Altea menyadari jika orang-orang semakin sedikit.
"Ah, itu rumahnya!" tunjuk William ke arah sebuah bangunan yang terlihat sangat tua.
Saat sampai di depan rumah itu, Altea terdiam sejenak, ia tak menyangka jika rumah itu benar-benar buruk, bahkan dia berpikir hanya dengan hembusan angin rumah itu akan runtuh seketika.
"Sudah kubilang itu sangat buruk sampai orang-orang ingin merubuhkannya, kan?" ucap William.
"Ya... aku tak menyangka akan seburuk ini," saut Altea setelah melihat kondisi rumah itu.
"Karena tidak ada yang tahu siapa pemilik tempat ini, sudah bertahun-tahun teronggok disini," tambah ketua serikat pedagang. "Satu-satunya alasan itu tidak dirobohkan yah..." dia terbatuk. "Bagaimanapun harganya sangat murah."
Untuk beberapa saat kata-kata yang terpotong oleh batuk itu membuat Altea berpikir ada hal yang aneh, namun ia mengabaikannya karena harganya murah.
Apakah ada monster atau hantu yang tinggal disana? Yah, aku tak peduli juga sih, lagi pula aku sudah diikuti oleh tiga hantu selama ini...
"Hanya... hati-hati, oke?" Ketua Serikat dan William pergi setelah mengatakan kata-kata yang membingungkan tersebut.
"Hati-hati, yah?" gumam Altea merasa ada yang aneh dengan rumah itu.
Altea menghela nafas pendek lalu berjalan mendekati rumah itu, ia mendorong pintu rumah secara perlahan. Tentu saja tempat itu sangat berdebu, konstruksinya terlihat cukup kokoh, jika ada bagian yang rusak Altea berpikir akan menyewa tukang kayu untuk memperbaikinya.
Masalahnya, sekarang ia mendengar suara yang aneh. "Ah, sepertinya tempat ini benar-benar memiliki penunggu," gumam Altea langsung berbalik badan dan keluar dari rumah.
Ia berjalan pergi menuju ke kota, ke toko milik William untuk membeli beberapa peralatan rumah seperti sapu, pel, kain lap, ember, dan kemoceng. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan membawa perlatan bersih-bersih untuk membersihkan semua debu dan kotoran yang menumpuk di rumah itu.
Butuh waktu dua jam untuk membersihkan rumah itu, tidak sampai mengkilap, tapi jelas lebih baik dari pada saat pertama kali datang ke sini.
"Tempat ini memang sudah tua, tapi ini akan menjadi rumahku sekarang!" seru Altea mengakui jika rumah itu akan menjadi rumahnya mulai sekarang.
Altea mulai berkeliling rumah, menentukan kamarnya, lab untuk membuat ramuan, dapur serta gudang untuk menyimpan tanaman obat. Rumah itu memiliki dua lantai, ruangan lantai dua memiliki dua ruangan yang satu dipilih sebagai kamar dan satunya sebagai tempat penyimpanan tanaman obat.
Di lantai bawah, bagian belakang ada dapur sekaligus ruang makan, bagian tengah digunakan sebagai lab untuk membuat ramuan, dan bagian depan tepatnya ruang tamu akan dibuat menjadi toko.
Setelah menentukan letak ruangan, Altea merebahkan dirinya dilantai dengan kaki dan tangan yang terentang. Saat itulah dirinya melihat sesosok perempuan yang menggelantung di langit-langit.
"Um... jadi, aku sudah lama memerhatikanmu," katanya, menatap mata Altea. "Aku punya pertanyaan, apa kau pemilik baru rumah ini?"
Altea merasa ragu saat melihat sosok gadis berambut cokelat bermata hijau menempel di langit-langit. Dia terlihat cukup manis, itulah kesan pertama Altea saat melihatnya.
"Kamu cukup terampil dalam bersih-bersih!" tambahnya.
Sekarang dia memujiku? gumam Altea dalam batinnya.
Altea bangun, mengambil posisi duduk. "Uh... a-apakah kamu keberatan jika aku menanyakan namamu?" Altea bertanya dengan gagap.
"Ya ampun! Maafkan aku!" ucap sosok itu sambil turun dan berdiri tepat di depan Altea. "Perkenalkan namaku Via," tambahnya memperkenalkan diri.
"Se- senang bertemu denganmu, namaku Altea," balas Altea dengan gugup.
"Aku harus mengadakan pesta pindah rumah untukmu, Nona Altea," Via tersenyum cerah.
Altea sangat bingung sehingga mengabaikan fakta tentangnya, gadis itu kembali melayang dan bertepuk tangan dengan riang.
Emang sih jiwanya udah mbak-mbak kantoran tapi rasanya usia tubuh kadang perlu agak diperhatikan🗿