Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Alex memutuskan untuk membawa Olivia melihat laut setelah pergulatan pembicaraan yang cukup panjang di perpustakaan. Butuh sekitar 30 menit untuk melihat laut yang terdekat dari kampus. Khusus hari ini mereka berdua memili bolos dari kelas, walaupun ia sempat meringis awalnya, karena sebelumnya belum pernah bolos dari kelas.
Tapi untuk kali ini, ia akan melakukannya untuk Olivia. Ada hal yang ingin ia sampaikan padanya. Tentang perasaannya, ia ingin Olivia tau tentang perasaannya. Agar Olivia lebih mempercayainya lagi, dan tidak akan terhasut oleh orang-orang yang jahat, terutama Hana.
Alex membawa Olivia untuk masuk ke mobilnya, awalnya ia hanya berjalan kaki. Tapi, karena ia berencana mau pergi ke laut dengan Olivia, maka ia menyuruh pelayanan untuk mengantarkan mobil ke kampusnya.
Lalu Alex menjalankan mobil ke arah laut, untuk lebih cepat sampai kesana, Alex melalui jalan belakang. Dijalan itu lebih sepi pengendara, jadi ia bisa lebih cepat untuk sampai kesana. Jalanan nya juga lebih sejuk dan dingin dari pada melewati perkotaan, banyak pohon-pohon besar yang berada dipinggir jalan.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di laut tujuan mereka. Lautnya luas dan airnya berwarna biru dan jernih. Alex dan Olivia memutuskan untuk keluar, setelah mereka keluar dari mobil, angin laut langsung menyapa tubuh mereka. Perasaan halus dan dingin menjadi satu. Untung saja tidak banyak pengunjung yang datang, biasanya setiap weekend pasti banyak orang-orang yang akan mengunjungi laut itu.
Alex memegang pergelangan tangan Olivia dan menariknya untuk mengikutinya. Alex membawanya ke pinggir bibir pantai, menikmati pemandangan pantai lebih dekat. Sapuan ombak pantai melintasi kaki mereka, mereka sudah membuka sepatu sebelumnya dan hanya bertelanjang kaki. Rasa dingin dan segar air laut langsung menyelimuti kaki.
Alex menggenggam kedua tangan Olivia, matanya menatap Olivia dengan tulus. Ia sudah mempelajari sebelumnya di rumah bagaimana caranya mengungkapkan perasaan. Padahal ia sudah melakukannya dengan baik dirumah, tapi ketika berhadapan langsung ia malah gugup dan tiba bisa berkata-kata. Setelah menarik nafas, Alex memberanikan diri berbicara.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu, ini tentang perasaan ku dan hubungan kita"
"......"
Olivia hanya terdiam dan menatap Alex dengan bingung. Tidak tau kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang saat melihat tatapan Alex padanya.
"Sejak kamu menjauhi ku dan mengabaikan ku, aku merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang salah dengan diriku, tapi aku tidak tau apa itu. Aku memang sudah menolak kamu dan menyuruhmu untuk menjauhi ku awalnya, tapi aku tidak sadar dengan kata-kata ku sendiri"
"Aku ingin kamu memberikan aku kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari awal, memulai hubungan dan perasaan kita"
"Aku tau, kalau aku bukanlah laki-laki yang sempurna. Banyak kekurangan-kekurangan yang ada didalam diri ku. Tapi aku ingin meminta kesempatan sama kamu untuk bisa merubah diriku menjadi lebih baik lagi untuk kamu"
"Kamu mau kan menerima ku dan juga perasaanku?"
"Kak Alex, tidak lagi bercanda kan?"
Olivia masih memproses kalimat Alex sebelumnya, ia tidak pernah sedikitpun membayangkan kalau Alex akan mengatakan hal itu kepadanya. Ia takut salah mengartikan kata-kata itu.
"Aku buka tipe laki-laki seperti itu, apapun yang aku lakukan dan aku katakan, aku selalu serius"
"Tapi, bagaimana dengan Hana?"
Olivia menatap mata dingin itu dengan serius, ia memang tidak melihat ada kebohongan didalamnya. Tapi ia masih belum mempercayai apa yang baru saja Alex katakan.
"Kamu tidak perlu memikirkannya. Sejak awal yang hanya aku cintai itu kamu, bukan dia. Jadi aku mohon sama kamu jangan sebut nama dia di dalam hidup kita"
"Ya, aku memang masih cinta sama kakak. Tapi aku takut, kalau perasaan cinta itu akan menjadi masalah buat kakak. Apalagi kakak adalah mahasiswa terbaik di kampus, apa yang akan orang lain katakan nanti kalau kakak berpacaran dengan orang seperti aku"
Olivia menundukkan wajahnya sendu, entah kenapa, ia merasa tidak cocok jika bersanding dengan Alex. Waktu pernyataan cintanya kemarin, ia tidak terlalu memikirkan tanggapan dari orang lain. Tapi, selama beberapa hari ini, ia selalu memperhatikan tanggapan orang lain.
Ia tidak ingin Alex memiliki citra yang buruk jika bersamanya, keluarga mereka berbeda jauh. Olivia takut jika dirinya berhubungan lebih serius dengan Alex. Maka akan berdampak pada kehidupan Alex.
"Ini adalah hidup kita sayang, kamu tidak perlu mendengarkan apa pendapat mereka tentang hubungan kita. Selagi kita tidak melakukan hal-hal buruk atau menyakiti orang lain, maka kita tidak perlu takut. Aku juga akan melindungi dan menjaga kamu. Jadi kamu tidak perlu takut"
"Yaudah kalau gitu"
Apa yang dikatakan Alex memang benar, ini adalah hidup kita, tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh orang lain, selagi kita tidak melakukan hal yang buruk.
"Yaudah bagaimana ini? Diterima?"
" :) "
Olivia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia merasa malu saat mengatakan kalimat 'iya'.
"Beneran?"
"Iya, Kak"
Olivia mengucapkan kalimatnya dengan keras agar Alex yakin dengan jawabannya.
"Yes, akhirnya"
Alex berseru senang, ia memeluk Olivia dengan erat. Meletakkan kepala wanita yang dipeluknya di dadanya, ia yakin, Olivia pasti bisa mendengar detak jantungnya yang kencang.
"......"
Olivia yang tiba-tiba dipeluk hanya diam dan tangannya kemudian mengeratkan pelukannya ke pinggang Alex, wajahnya tiba-tiba memerah saat mendengar detak jantung Alex.
"Terimakasih, ya. Aku janji bakalan selalu menepati janji aku sama kamu"
Olivia semakin membenamkan kepalanya ke dada pria itu, ia terlalu malu malu untuk melihat Alex sekarang. Wajahnya pasti merah sekarang.
......
Hari sudah hampir gelap dan matahari sebentar lagi akan tenggelam. Sebelum malam tiba, mereka memutuskan untuk kembali sebelum jalanan semakin padat. Sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan di restoran biasa, dekat kampus. Kali ini suasana diantara mereka sudah berubah.
"Ini makanan kesukaan kamu"
Alex menyerahkan piring yang diatasnya terdapat Mie dengan saus teriyaki, Alex sangat mengetahui kalau itu merupakan makanan kesukaannya.
Olivia tersenyum menatap makanan yang sudah tersaji didepannya, ia mengambil garpu dan memasukan makanan kedalam mulutnya. Alex juga mulai memakan makanannya. Olivia hampir menghabiskan makanannya, kalau saja Hana tidak tiba-tiba muncul dan mengganggunya.
"Alex, kamu kenapa tidak menghubungi aku dari tadi. Aku itu khawatir sama kamu, kamu juga tidak memberitahu aku, kalau kamu mau makan disini"
Hana mengeluarkan kalimat manja pada Alex, Olivia yang mendengarnya ingin muntah.
"Kenapa aku harus memberitahu mu?"
Alex bertanya tanpa mengalihkan matanya dari makanannya.
"Karena kita adalah sahabat"
"Hanya sahabat, saat ini aku ingin makan bersama pacarku. Sebaiknya kau pergi dan jangan mengganggu kami"
Alex terkekeh pelan dan melanjutkan kata-katanya dengan keras.
"Kau berpacaran dengan wanita ini!!!"
Hana menatap Alex dan Olivia dengan keterkejutan, matanya menatap marah pada Olivia.
"Jangan tinggikan suaramu padanya, mulai saat ini kami berpacaran"
Alex memperingatkan Hana.
"Kau pasti sedang bercanda denganku kan?"
Hana tersenyum disudut bibirnya, menganggap kata-kata Alex adalah bualan semata.
"Apa kau pernah melihat aku bercanda sebelumnya, aku selalu serius dengan kata-kata ku"
Alex menatap Hana dengan dingin, ia bukan tipe orang yang suka bercanda mengenai hubungan.
"Tapi aku tidak terima, kau tidak cocok dengannya"
Hana menggebrak meja dengan keras, Olivia hampir saja tersedak, untungnya Alex memberikan minum kepadanya.
"Cukup Hana jangan membuat keributan disini, kau mau keluar dengan sukarela atau aku harus memanggil satpam untuk menyeretmu secara paksa!"
Alex menyuruh Hana untuk segera keluar dan menjauh dari mereka. Olivia dapat merasakan kemarahan Alex dari suaranya barusan.
"Aku bisa keluar sendiri, dan kau!! Jangan berharap hidupmu bisa tenang!"
Hana berkata dengan marah, menatap Olivia dan berjalan dengan langkah keras.
"Jangan pikirkan kata-katanya"
Alex menenangkan Olivia, ia juga sebenarnya tidak terlalu mempedulikan kata-katanya. Tapi ia merasa senang saat mendengar kata-kata Alex barusan.
......... Bersambung.......
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.