Bertemu kembali setelah terpisah sekian lama, perasaan cinta itu kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terbongkar.
HAPPY READING...
***
Sean benar-benar tak bisa berkata-kata. ada sebuah kebahagiaan dalam dirinya setelah melihat bukti bahwa Arion adalah putra kandungnya dari hasil tes DNA.
"Terimakasih Zik, atas bantuan mu..." ucap Sean. karena jika bukan karena Ziko, mungkin Sean tak setenang sekarang. hasil tes DNA ini bisa Sean gunakan untuk meyakinkan Anna.
"Tenang saja, semua ini tidak akan bocor sampai media..." ungkap Ziko. mengenai tes tersebut, Ziko dapat menghandle semuanya. apalagi sahabatnya adalah orang yang cukup penting di negara ini. dan semua tingkah lakunya tentu saja selalu menjadi target media.
"Iya, semoga..." ucap Sean.
"Lalu setelah ini?". Ziko penasaran apa yang akan Sean lakukan setelah ini.
"Tidak terlalu buru-buru, aku hanya ingin meyakinkan Anna dan memberikan bukti ini..." ucap Sean. mendekati Anna juga butuh waktu. apalagi ada Arion, bocah itu sudah dekat dengan Sean.
"Papa... aku kenyang..." ucap Arion. membuat pembicaraan Sean dan Ziko terhenti.
"Iya, sudah cukup... minum dulu...". Sean mengambil segelas air dan menyerahkannya ke tangan Arion. makan siang telah usai.
"Baiklah, aku pergi dulu..." ucap Ziko. bangkit dari duduknya dan bersiap pamit meninggalkan tempat makan itu lebih dulu. karena masih ada pekerjaan yang harus Ziko urus setelah ini.
"Kau akan langsung pergi?". Maksud pertanyaan Sean adalah rencana Ziko yang akan kembali ke luar negeri. karena pekerjaan yang Sean berikan disini telah selesai.
"Mungkin minggu depan..." jawab Ziko yakin.
"Sekali lagi terimakasih atas bantuan mu...".
"Yoi... aku cabut dulu..." jawab Ziko sambil menepuk pelan bahu Sean. "Arion, sampai ketemu lagi...". mengalihkan pandangannya dan melambaikan tangan pada putra sahabatnya itu.
"Da dahh..." Arion ikut melambaikan tangan sampai Ziko benar-benar pergi meninggalkan tempat itu lebih dulu.
"Jadi, mau kemana setelah ini?" tanya Sean pada Arion.
"Arion ngantuk..." keluh bocah itu sambil mengucek matanya berulang kali. mungkin karena aefek kekenyangan juga membuat Arion mengantuk.
"Baiklah, kita pulang dan tidur siang... oke?".
Papa dan anak itupun berjalan menuju ke mobil dan kembali ke Apartemen.
Di tempat lain.
Anna telah menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih awal. wanita cantik itu tengah mengendarai mobil hitamnya menuju ke Apartemen. bahkan matahari saja masih terasa panas menandakan waktu yang belum sepenuhnya berubah sore. pekerjaan juga telah selesai membuat Anna ingin segera menemui Arion. melihat keadaan putranya itu.
"Dia masih belum membalas pesanku..." gumam Anna pelan sambil mengecek ponselnya. tak ada notifikasi pesan satupun yang masuk disana.
padahal Anna telah mengirim pesan kepada Sean, menanyakan keadaan Arion.
Apa mereka pergi keluar? batinnya bicara.
Tapi tak masalah kalau Sean dan Arion tengah pergi. Anna bisa leluasa membersihkan rumah tanpa gangguan putranya itu. dan setelahnya akan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Tiba di Apartemen. Anna masuk dengan menenteng 2 plastik belanjaan kebituhan dapur. mengedarkan pandangannya mencari sosok Sean ataupun Arion, tapi tak menemukannya sama sekali.
Mereka kemana?
Padahal jelas ada sepatu Sean yang tertata rapi bersama sepatu Arion di ujung sana.
Anna meletakkan barang belanjaannya dan kakinya berjalan menuju ke salah satu kamar yang ada di sana. Ya... kamar Arion.
dibukanya pintu kamar itu dengan penuh hati-hati. hingga terbuka setengahnya, Anna melihat ke dalam ruang kamar putranya.
dugaannya benar. Ada Arion dan Sean di dalam sama. keduanya tengah tertidur pulas bahkan tak menyadari dengan keberadaan Anna.
Oh mereka tidur... hati Anna bicara.
dan setelahnya, Anna menutup kembali pintu kamar itu. masih dengan sangat pelan.
2 jam kemudian. rumah terlihat rapi. tak ada sebutir debu pun di lantai. mainan telah dikemas rapi dalam wadahnya. bantal di sofa depan Televisi juga telah tertata rapi. pakaian kotor di keranjang telah sepenuhnya berada di tempat loundry. semua itu berkat wanita yang saat ini tengah sibuk di dapur. memotong sayuran untuk menu makan malam nanti.
"Ann...". suara seseorang memanggil namanya seketika mengalihkan perhatian Anna. wanita itu mendongakkan kepala, mencari sumber suara tersebut.
dilihat nya ada Sean yang berdiri tak jauh dari tempat Anna. menatapnya dengan tatapan khas bangun tidur. rambut pri aitu juga sedikit acak-acakan.
"Aku ingin bicara denganmu..." ucap Sean jujur. entah apa yang ada di tangannya saat ini, membuat Anna keheranan tapi tak juga menanyakan benda apa itu.
wanita itu memilih mengangguk. entah apa yang akan ingin Sean katakan saat ini.
Pria itu duduk di kursi makan. diikuti dengan Anna yang berdiri tapi tetap membagi perhatiannya kepada Sean dan juga kuah yang belum mendidih di atas kompor.
"Ini...". Sean menyerahkan Map itu. berharap Anna menerima nya dan membaca isi dari berkas yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa ini?" tanya Anna penasaran.
"Bacalah..." perintah Sean.
Dengan tangan gemetar, juga dengan perasaan was-was Anna menerima Map pemberian Sean. membukanya dan bersiap untuk membaca kata demi kata yang tertulis di sana.
Ha? Anna membulatkan matanya. terkejut bukan main dengan apa yang tertulis dalam berkas itu.
yang ada di dalam kepala Anna hanya satu.
Bagaimana bisa?
lebih tepatnya kapan Sean bisa berpikir sampai sejauh ini. dan Anna bahkan tak menyadari telah kecolongan dari pria itu.
melakukan tes DNA tanpa persetujuan darinya.
Jadi mendekati Arion, ini alasannya?
"Mak-sud-nya?".
"Kau tidak bisa berbohong lagi Ann...". Sean langusng bisa membuat Anna tak berkutik lagi. tak ada yang bisa Anna katakan setelah ini. bukan anak nya lah, telah bercerai lah. semua itu adalah kebohongan Anna demi menutupi kenyataan bahwa Arion adalah putra Sean.
"Aku-,".
"Aku tak tau alasan apa yang membuatmu berbohong selama ini... tapi aku heran, kenapa kau tidak memberitahuku?" sesal Sean.
kenapa ia terlambat mengetahui bahwa Arion adalah putranya dengan Anna.
Anna semakin tertunduk. mulutnya enggan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. membahas ini seperti membuka luka lamanya.
"Apa ini caramu menghukum ku An?". Sean bahkan terpukul jika benar itu adalah alasan Anna menyembunyikan Arion darinya.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Apa dengan memberitahu ku tentang Arion, aku akan merebutnya darimu? apa kau berpikir seperti itu?". lanjut Sean.
pemikiran bodoh jika Anna sampai berpikir seperti itu.
bahkan jika bisa memilih, Sean tak akan seperti ini. ia bisa saja memilih Anna dan merawat bayi mereka sama-sama. akan jauh lebih membahagiakan bukan dibanding saat ini.
"A-aku...". Anna menitikkan air matanya. bingung harus berkata apa.
"Mama...".
Suara Arion mengentikan pembicaraan mereka.
Anna langsung menghapus jejak kesedihannya dan berjalan ke arah putranya itu.
"Arion... sudah bangun ya..." ucap Anna dan seketika memeluk bocah itu dengan erat.
bahkan sesekali Anna mengusap air matanya yang entah kenapa tak kunjung berhenti.
"Mama menangis?" tanya Arion masih dengan muka bantalnya. bahkan matanya belum sepenuhnya terbuka lebar.
"Tidak... Mama tidak menangis..." jawab Anna. sedangkan Sean, pria itu hanya terdiam mengamati keduanya.
perasaannya campur aduk. lega melihat Arion dan Anna, tapi juga sedih dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Mandilah.. Mama alam memasak makanan kesukaan Arion..." ucap Anna sambil membelai pucuk kepala putranya.
***