NovelToon NovelToon
Doctor Dom

Doctor Dom

Status: tamat
Genre:Dokter Ajaib / Identitas Tersembunyi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:75.2k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.

Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.

Terima kasih 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes Urin

"Heh, kamu di mana semalam? Papamu mencari karena khawatir, sampai sampai aku terbawa gara gara kamu pergi tanpa memberi kabar."

Matt meletakan tangannya pada loker dan mengunci Lucy yang sedang mengambil buku pelajaran di lokernya. Matt berbicara dengan ketus.

"Untuk apa kamu ikut campur urusanku?" Balas Lucy tak kalah ketus.

"Heh, papamu mencarimu sampai ke rumahku! Mamaku tahu aku dengan Rachel, dan malam itu kekuargaku sedang mengundang Rachel dan keluarganya makan malam. Masalahnya, mamaku tidak tahu hubungan kita." Matt menatap Lucy tajam, matanya bagai elang yang hendak menelan mangsanya hidup hidup.

"Itu masalahmu sendiri. Nggak ada urusannya denganku." Lucy balas menatap Matt dengan sengit.

"Oh, rupanya nona penerima penghargaan ini sekarang memiliki kacung!" Matt melirik pada Dom, yang sedari tadi memperhatikan Matt dan Lucy.

Matt menatap Lucy sambil tersenyum sinis, lalu mendorong tubuh Lucy pada loker.

"Aku di mana dan bersama siapa, bukan urusanmu, hah!" Lucy balas mendorong tubuh Matt dengan kasar. Namun Matt langsung meraih lengan Lucy dan mencengkram erat, dan menarik dalam dekapannya.

Matt tertawa menyeringai mengejek Lucy sambil meraba tubuh gadis itu. Lucy meronta sambil berusaha melawan Matt.

Sontak Dom memukul loker, dan menghampiri Matt dengan raut wajah marah.

"Lepaskan dia!" Teriak Dom dengan tegas. Membuat siswa yang berada di lorong ruang loker langsung menoleh menonton mereka.

Matt menyeringai lebar mengejek Dom, lalu menoleh pada Lucy yang masih dalam cengkramannya.

"Oh, jadi rupanya ini pahlawan kesianganmu ja lang?!" Sindir Matt sambil menatap sinis pada Lucy.

"Brengsek kamu, Matt!" Lucy mengibaskan lengannya sekuat tenaga sambil mendorong tubuh Matt yang lebih besar.

Matt tersentak, dan cengramannya pada Lucy terlepas.

Dom meraih tubuh Lucy dengan sigap, melindungi gadis itu, dan bersiap, jika Matt dan pengikutnya langsung menyerang.

Matt mendengus kesal, lalu dengan penuh amarah, dia langsung mengarahkan tinjuan pada Dom. Dom segera menghindar sambil mendorong tubuh Lucy supaya menjauh.

"Arthur!" Teriak Lucy, ketika melihat tubuh temannya langsung dikeroyok oleh Matt dan pengikutnya.

Dom berusaha membela diri, namun, kalah jumlah, dan tak ada yang berani menolongnya.

"Hentikan!" Teriakan Devon membahana, bagai auman singa. Lucy berlari kecil mengikuti Devon.

Perkelahian terhenti, Devon mendekati Matt, dan menatap tajam padanya.

"Pengecut!" Sindir Devon sambil menatap Matt dengan sinis.

Lalu Devon mengulurkan tangan menolong Dom. Mereka berlalu dari lorong ruang loker.

"Terima kasih." Ucap Dom sambil berjalan menuju ruang kesehatan.

"Sama sama. Aku tidak ingin kamu cidera akibat kekonyolan Matt dan kacung kacungnya itu. Besok sabtu kita masih harus bertanding." Devon menepuk bahu Dom.

Dom tersenyum sambil mengangguk.

"Aku serahkan dia padamu, Lucy! Jika ada apa apa, segera hubungi aku." Devon menatap Lucy, dan gadis itu menganggukkan kepala setuju.

"Ini kesekian kali kamu menolongku, meski akhirnya kamu harus babak belur seperti ini." Oceh Lucy sambil membersihkan luka pada wajah Dom.

Dom hanya tersenyum menatap gadis remaja yang mengaku sebagai penggemarnya.

"Lain kali, nggak usah sok jagoan, sok pahlawan. Aku bukan anak kecil yang harus dilindungi."

Lucy mengoleskan salep obat pada luka Dom, sementara Dom hanya bisa meringis menahan nyeri pada wajahnya.

Lucy mengobati Dom sambil terus mengomel, sementara Dom, menikmati setiap kata kata yang keluar dari mulut Lucy, meski itu omelan seperti mamanya saat sedang mengomel saat dia mencoba ikut kelas balap motor, dan sempat terluka karena jatuh, dulu semasa masih sekolah.

*

"Perhatian, harap tenang! Kali ini, pihak sekolah bekerja sama dengan polisi bagian narkoba akan melakukan tea urin rutin bagi setiap atlet sekolah. Hari ini adalah jadwal untuk team basket! Tolong kerja sama kalian semua untuk mengikuti instruksi bapak polisi selama pemeriksaan." Jake berbicara dengan lantang di depan anak didiknya.

Dom memperhatikan sekelilingnya. Devon terlihat tenang dan santai, lalu beberapa teman ada yang gelisah dan saling berbisik, lalu pandangan Dom tertuju pada Matt yang terlihat gusar.

Matt terlihat gelisah, lalu berbisik pada temannya, yang merupakan salah satu anggotanya.

Dom sangat yakin, jika Matt menggunakan doping atau obat terlarang dan sejenisnya, karena dia melihat secara langsung keluar dari toko obat ilegal berkedok herbal.

Namun, yang masih mengganjal adalah, mengapa Dokter Erick, mengambil obat yang diberikan untuk istrinya di tempat itu.

Lantas, mengapa dia harus memberikan obat pada istrinya, padahal tidak memerlukan obat? Atau jangan jangan ketakutan Lucy akan Dokter Erick benar.

"Arthur! Arthur!" Panggilan itu menyadarkan Dom akan lamunan tentang toko obat ilegal, hingga pada Lucy dan keluarganya.

"Ya, saya." Sahut Dom sambil bergegas menuju petugas, dan ke kamar kecil untuk mengambil air seni nya untuk dites.

Dom, keluar dari kamar kecil dengan cawan kecil, lalu menyerahkan pada petugas.

Dom dan teman team basket menunggu beberapa saat hasilnya.

Jake sebagai pelatih juga diperiksa saat itu. Leo, asisten Dom datang dan menyalami Jake.

Leo terlihat mengajak Jake untuk berbicara di dekat team polisi yang masih sibuk melakukan pemeriksaan.

Terlihat Leo membawa sebuah foto dan menunjukkan pada Jake dan pimpinan polisi yang bertanggung jawab pada pemeriksaan di sekolah saat itu.

Satu jam berlalu, Jake meminta anak anak didiknya untuk berdiri dengan tatapan tajam.

Jake memanggil nama nama siswa yang terindikasi meenggunakan obat terlarang.

Namun, nama Matt tidak terpanggil. Dom mengerutkan keningnya sambil melirik ke arah Matt, yang menatapnya juga sambil tersenyum sinis.

"Hhmmm, ada yang nggak beres ini. Pasti dia menukar urinnya." Gumam Dom.

"Dev, aku tidak yakin dengan hasilnya."

Bisik Dom pada Devon.

Seketika, Devon menatap Dom dengan dahi berkerut.

"Apa maksudmu?"

"Aku merasa, ada teman kita yang melakukan kecurangan saat pemeriksaan ini. Jadi, mungkin, untuk team inti bisa di test ulang sekali lagi untuk tesnya?" Terang Dom, masih dengan suara pelannya.

Devon mengangguk pelan, lalu menghampiri Jake, yang mengobrol dengan Leo.

Jake terlihat berbicara serius pada Leo dan petugas polisi, Devon berlari ke tempatnya di samping Dom.

Tak lama, Jake menghampiri anak didiknya.

"Siswa yang namanya disebut, tetap tinggal!" Instruksi Jake dengan tatapan tajamnya.

"Bagi nama nama yang masuk daftar team inti untuk pertandingan pekan ini, tolong tetap tinggal! Kalian akan diperiksa ulang secara langsung satu persatu!" Dengan suara lantang, Jake menatap anak didiknya satu satu.

"Pak, bukan kah, hanya cukup sekali? Mengapa harus diulang? Kami hanya meneguk air mineral sedari tadi. Jadi, untuk apa harus diperiksa ulang?" Matt bertanya dengan nada protes.

"Jika ada yang protes, bapak akan menganggap kalian gugur! Jika kalian hanya minum air , tidak perlu takut, kecuali kalian memang pengguna." Sahut Jake santai.

Matt diam, namun Dom yakin, bocah itu sedang gelisah.

Satu per satu, anggota team inti basket diperiksa kembali, dan langsung dicek hasilnya.

Jake terlihat terkejut saat menerima hasilnya.

Tatapan matanya tajam ke arah Matt.

"Matt!"

Akhirnya nama itu disebut juga, Dom menghela napas lega.

Matt menatap Dom seakan mengancamnya. Dom hanya diam dan membalas tatapan Matt.

1
MyFamily
mungkinkah Dom anak adopsi
wayang
terimakasih 😊😊😊 telah menghibur 😊😊😊🙏🙏🙏 walaupun diluar ekspektasi endingnya 😂😂😂 🙏🙏🙏 AQ pikir cerita berhubungan dengan doc. dom
wonder mom
tersisa 1 g y? modelan Domi a.k.a Arthur. meski sdh beralih body dan genre pun kesetiaannya tak tergoyahkan. 11 tahun. di dunia nyata, 1 bulan jg udh cari yg baru
wonder mom
jodoh tu g kemana. meski harus pake alur balik bin jungkir dlu. y ttp ketmu
Putri Ayu pertiwi
jurus paling ampuh nyosor bibir ya dom
wonder mom
menarik
Firdaus Tjahyono
lanjut Thor minim 1 hari satu bab /Facepalm/
Firdaus Tjahyono
menarik sekali alur ceritanya
¢ᖱ'D⃤𝐀⃝🥀 iman A.♉ ⏤͟͟͞R
jalan cerita yg menarik smoga sampe end ya thor
Ayu Octaviany
next Thor...
ari sachio
tegang bet akuhhhh kek lg nontong film horor 🤭
Nurul Hikmah
ujian
Nurul Hikmah
ngeces lg
Nurul Hikmah
yaa tdk terus terang.. kurang seru
Nurul Hikmah
lanjutkan thor 😂
Nurul Hikmah
bibi datang
Nurul Hikmah
saling berhubungan saudara
Nurul Hikmah
alasan
Nurul Hikmah
keras kepala
Nurul Hikmah
hahaha 🤣... terus terang saja... bahwa pindah raga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!