Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Beberapa jam berlalu tanpa suara, selain gesekan pena di atas kertas. Akhirnya Grizla meletakkan pena emasnya dengan ketukan pelan yang tegas di atas meja.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, memijat pelan pelipisnya sebelum menatap lurus ke arah sekretaris kepercayaannya.
"Semuanya sudah aku tanda tangani," kata Grizla sambil menghela nafas.
Ia mendorong tumpukan berkas yang telah selesai diperiksa ke ujung meja. "Sekarang, berikan aku dokumen proyek baru yang kemarin kamu sebutkan. Aku ingin melihatnya secara detail."
Siska yang sejak tadi berdiri siaga langsung melangkah maju dengan anggun. Ia mengambil berkas lama dan menggantinya dengan sebuah map kulit berwarna biru tua.
"Silakan, Nyonya," kata Siska sambil membuka map tersebut di hadapan Grizla. "Ini adalah draf lengkap tentang proyek pengembangan kawasan komersial baru. Semua analisis risiko dan potensi keuntungan sudah dilampirkan di halaman pertama."
Grizla membalik halaman demi halaman dengan perlahan. Matanya yang tajam memindai setiap angka dan klausul yang tertera. Setelah beberapa menit keheningan yang mencekam, seulas senyum tipis yang sarat makna muncul di wajahnya.
"Menarik. Sangat matang," gumam Grizla, lalu menutup map itu dengan pelan. "Baiklah, aku menyetujui proyek baru ini. Prospeknya sangat menjanjikan untuk perusahaan."
Siska segera mengeluarkan tabletnya untuk mencatat. "Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya akan segera mengirimkan berkas ini ke divisi utama agar bisa langsung dieksekusi oleh Tuan Anto..."
"Tunggu," potong Grizla cepat. Angkatan tangannya di udara menghentikan ucapan Siska seketika. "Siapa bilang proyek ini akan jatuh ke tangan Antonio?"
Siska tertegun sejenak, menatap bosnya dengan bingung. "Maaf, Nyonya? Bukankah selama ini semua proyek berskala besar di sektor ini selalu dipimpin oleh Tuan Antonio selaku kepala divisi?"
"Mulai hari ini, aturan itu berubah," ujar Grizla, nadanya datar namun tak terbantahkan. "Proyek ini tidak perlu diserahkan kepada Antonio lagi. Alihkan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada asistennya saja. Aku mau asistennya yang memimpin dan mengurus proyek baru ini dari awal sampai akhir."
Siska mengerjapkan mata, mencoba mencerna keputusan mendadak tersebut. "Maksud Anda... Tuan Boni?"
"Tepat sekali," Grizla mengangguk, jemarinya mengetuk-ngetuk meja berirama. "Lagipula, pikirkan saja secara logis. Asistennya itu sudah sangat lama bekerja di bawah tekanan Antonio. Dari semua laporan yang masuk, justru Boni yang selalu membereskan kekacauan yang dibuat Antonio. Bahkan jika kita bicara jujur, asistennya jauh lebih berpengalaman, teliti, dan kompeten ketimbang Antonio yang hanya mengandalkan nama besar."
Siska, sebagai sekretaris yang profesional, langsung menangkap arah pergerakan angin politik di perusahaan ini. Ia tidak mempertanyakan lebih jauh dan segera mencatat instruksi tersebut dengan patuh.
"Baik, Nyonya. Saya mengerti maksud Anda," kata Siska dengan anggukan hormat. "Saya akan menyerahkan langsung proyek ini kepada Boni, tanpa melalui perantara Tuan Antonio. Saya juga akan memastikan Boni tahu bahwa ini adalah perintah langsung dari Anda."
"Bagus. Pastikan Antonio baru mengetahuinya saat semuanya sudah berjalan," tambah Grizla, matanya berkilat licik.
"Dimengerti, Nyonya. Ada hal lain yang perlu saya persiapkan?" tanya Siska memastikan.
"Tidak ada. Kamu boleh keluar sekarang, Siska. Terima kasih."
"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi." Siska membungkuk hormat lalu melangkah keluar, menutup pintu ruang kerja yang besar itu dengan rapat.
Begitu pintu tertutup dan ia benar-benar sendirian, kini ekspresi penuh kebencian yang mendalam.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan lambat menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota.
Grizla tersenyum sinis, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca yang mulai menggelap karena senja.
"Antonio..." bisik Grizla, menyebut nama itu dengan nada yang dingin. "Mulai sekarang, akulah yang akan mempermainkan hidupmu. Sudah cukup aku bersabar menghadapi tingkahmu yang egois selama ini."
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, mengingat setiap penghinaan dan rasa sakit yang ia telan bulat-bulat selama ini.
"Kau lebih memilih membela orang tuamu yang picik itu, sekalipun mereka jelas-jelas salah dan menginjak-injak harga diriku," desisnya dengan tawa hambar yang menyakitkan.
"Sekarang, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa melangkah. Aku ingin melihat bagaimana hancurnya hidupmu tanpa ada aku di belakangmu, Antonio. Selamat menikmati permainan barumu."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..