[Tidak lanjut]
Asano Yuji, tiba-tiba meninggal karena kesalahan teknis Dewa. Sebagai permintaan maaf Dewa memberikannya kesempatan untuk reinkarnasi dan hidup kembali, tapi....
"Kenapa aku berada di tubuh seorang putri kerajaan? Apakah Dewa mempermainkanku."
Bagaimana hidupku setelah ini? Aku laki-laki lo! Kenapa aku malah menjadi perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special Chapter 2 ( Liana POV)
"Hah.. Hah... hah..."
Napasku telah berantakan kini aku berada di tempat yang kumaksud. Ini merupakan tempat yang penuh dengan rerumputan yang hijau dan pepohonan.
Tempat ini adalah tempat di mana Alex sering merenung untuk diri sendiri aku tidak tahu alasan khususnya, tapi tampaknya dia punya kenangan baik di sini.
Aku menatap ke segala arah.
"Oi, Alex di mana kamu?"
Aku terus memanggilnya beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin ada dua alasan, satu dia memang tidak berada di sini, dan yang kedua dia masih marah.
Meskipun begitu aku tidak menyerah aku masih mencari sosok Alex tersebut. Beberapa pepohonan yang menjulang tinggi membuat cahaya matahari sore menjadi terhambat aku sedikit kesulitan untuk mencari Alex.
Saat aku menatap salah satu dari banyak pohon aku melihat siluet seseorang yang sedang bersandar di atas pohon.
Senyuman terlukis di wajahku aku sadar dengan sosok tersebut yang pastinya adalah dia. Dengan perasaan sedikit bahagia aku melangkah mendekatinya.
"Oi, Alex jangan abaikan aku!"
Aku menatap ke atas dan sosok tersebut memang Alex tapi dia ternyata tidak mencoba mengabaikanku justru dia terlihat tertidur, berkat teriakan barusan dia perlahan membuka mata.
"Oh, Liana ya? Aku ketiduran ada apa?"
Dia mengucek mata seolah tidak mengalami apapun yang salah dia berlagak normal seperti biasanya.
Jangan bilang dia..
"Anu... Alex apakah kamu marah?"
Alex menguap dan mengkorek kupingnya, sumpah dia terlihat seperti monyet.
"Marah? Apa maksudnya?"
Sesuai dugaanku dia tidak mengalami apapun yang salah. Tidak atau dia hanya berusaha bersikap biasa.
apapun itu aku menghargai sikap dewasanya karena itulah aku tersenyum.
"Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar marah atau tidak, namun satu hal yang pasti... Maaf."
Aku menundukkan kepala dan terdiam. Sejujurnya ini cukup memalukan hingga membuat pipiku memanas.
Mendengar perkataan tersebut Alex tersenyum dan melompat dari pohon.
"Jangan khawatir aku tidak marah... hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Kamu sebelumnya bilang, kan ingin menjadi petualang. Aku takut jika kamu bernasib sama dengan kedua orang tuaku."
Jadi begitu dia tidak marah akan ucapan hinaan barusan dia hanya takut jika sesuatu terjadi kepadaku. Dia kehilangan kedua orang tuanya karena mereka pergi berpetualang.
Itu mungkin alasan kenapa dia selalu sensitif dan mengejek tentang hal hal berbau petualangan.
Dia hanya khawatir denganku..
Senyuman terlukis di bibirku. Aku sungguh bodoh hingga tidak menyadari perasaan tersebut.
"Aku hargai perasaan khawatir itu, tapi tidak perlu terlalu dipikirkan. Jika kamu khawatir denganku maka kamu tinggal ikut bersamaku, kan? Mari pergi berpetualang bersama."
Dia terlihat terkejut atas peryataan yang ku lontarkan dengan cepat kedua pipinya memerah dan dia mengalihkan pandangan dariku.
Ah, dia malu-malu ini dia juga punya bagian imut..
"A-apa? Ada apa dengan senyuman mengejek itu?!" tanya Alex dengan suara terbata-bata dan masih tampak merona.
Tentu melihat Alex yang merona adalah hal yang sangat jarang jadi aku tanpa sadar tersenyum.
"Habisnya kamu imut dengan ketika malu."
Dengan senyuman dan ucapan tersebut dia makin gemetaran dan memerah, meskipun begitu Alex tetap Alex dia berusaha untuk menahan tingkah malunya.
"A-Aku tidak malu!"
"Itu namanya malu Alex! Ah, aku sudah mengenalmu sejak lama. Tapi ini pertama kalinya aku melihat sisi ini darimu. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu bertemu sosok Alice yang terkenal itu."
Bagi sosok seperti Alex sebenarnya Alice putri kerajaan adalah musuh bebuyutan dia tidak suka seseorang yang hidup beruntung maka dari itu berkat ucapan dariku muka dari Alex dengan cepat berubah menjadi masam.
Ah, aku salah ngomong..
"Aku benci Alice, aku tidak pernah bertemu dan mengenalnya. Tapi mendengar nama dan jabatan sebagai anak raja, tentu dia hidup enak."
Baiklah aku yang salah disini karena mengungkit topik seperti ini. Sejujurnya aku juga tidak pernah bertemu dengannya, tapi sebagai Fans Erena tentu aku sangat mengagumkan dia, aku harap kedepannya Alice akan menjadi seseorang yang keren.
"Ah, Alex lupakan tentang topik ini dan mari kembali ke pembahasan awal. Apakah kamu ingin pergi bersamaku?"
Angin berhembusan memainkan rambut kami dan membuat dedaunan dan rumput bergoyang. Dia dengan gugup menjawab.
"Ya lakukan sesukamu!"
"Terima kasih."
Aku menjadi tersenyum bahagia dengan ini tidak perlu khawatir lagi. Dia selalu melindungiku ketika seseorang merundungku jadi pasti aku akan aman.
Aku memegang tangan kanan Alex dan membawanya ke suatu tempat. Tempat yang jadi tujuan awal festival di mana Nona Erena akan datang.
"E-eh apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan ini!"
"Tidak mau, habisnya setelah ini kita akan selalu bersama, kan? Dan juga ini adalah tempat menarik yang kamu maksud tadi."
"Kamu sungguh baik ya. Kamu mengajakku pergi ke festival di mana Nona Erena datang, kan? Aku sudah tahu, mungkin kamu ingin membuat kejutan itu terdengar romantis untuk orang sepertimu."
"Berisik! Aku melakukan ini bukan untukmu... itu... ya aku hanya iseng."
Aku tidak bisa berhenti tersenyum karena ucapan dan sikap tidak bisa jujur dari Alex. Dia benar-benar memiliki sisi imut ya.
Mungkin karena itu aku sedikit... menaruh rasa hormat ke dia..
Sambil memikirkan hal itu aku tersenyum dan dapat merasakan pipi yang menjadi hangat.
...***...
Kami sekarang telah sampai di tempat tujuan. Festival yang dimaksud berada di sebuah gedung dan terlihat semua orang berlalu lalang dan berkumpul di satu titik.
Keramaian ini menggambarkan seberapa besarnya kepopuleran yang dimiliki oleh Erena.
"Wah sangat ramai, ya. Bagaimana menurutmu Alex?"
Dengan wajah yang berbinar aku menatap ke segala arah dan tentu agar kami tidak terpisah dari banyaknya orang aku memegang tangan Alex.
"Hmm, aku tidak terlalu suka keramaian."
"Hahaha itu benar. Tapi sesekali tidak apa-apa, kamu bahkan rela datang ke tempat yang tidak disukai hanya untuk membuatku senang. Entah kenapa aku sedikit terharu."
Aku bersandiwara dengan berpura-pura mengeluarkan air mata dan mengucek mata.
Tapi dia sudah mengenal diriku sejak lama jadi semua percuma..
"Behenti dengan sikap itu menjijikkan."
Seperti anak panah kalimat itu menusuk hatiku. Oke aku tahu ini sandiwara tapi mengatakan menjijikkan untuk gadis adalah hal yang parah.
"Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu!"
Dia tidak merespon dan diam. Lampu-lampu menjadi mati dan hidup berulang kali menjadi tanda bahwa acara akan dimulai.
"Baik terima kasih atas hadirin yang telah datang ke sini, pada sore hari ini kami kedatangan tamu paling istimewa dia akan sedikit berpidato tentang sejarah dan beberapa hal tentangnya. Dan sosok tersebut adalah Erena Evergrande!" ucap moderator acara dengan semangat.
Para orang yang berkumpul berteriak termasuk aku dan seperti yang diduga Alex menatap senju dia yang paling diam.
Lampu di panggung menjadi cerah dan kain garden terbuka menampilkan sosok yang paling kukagumi. Dengan rambut putih seperti salju, mata biru langit yang indah dan pakaian kasual yang tampak elegan. Dia benar-benar keren.
"Aaahh, Nona Erena!"
"Menjijikkan berhenti berteriak!"
Mengabaikan apa yang dia ucapkan aku masih menatap Erena yang berdiri di depan panggung dengan senyuman yang ceria, tentu saja aku bahagia sosok idolaku kini berada tepat di depan mata.
Erena terlihat menghirup napas dalam-dalam sebelum membicarakan tentang pidato dan beberapa hal lain.
"Bagaimana kabar kalian? Apakah baik?" Erena memberikan senyuma yang dapat mempesona siapapun yang melihat bahkan aku sendiri yang sesame perempuan terhanyut akan senyuman yang dia miliki.
"''Ya sangat baik""
Semua pengunjung termasuk aku menjawab perkataan dengan sangat bersemangat kecuali satu orang bodoh yaitu Alex, dia malah terlihat berdesis kesal dan berkata bahwa ini adalah hal yang merepotkan.
Menyadari terdapat satu pengunjung yang terdiam Erena menunjuk ke arah kami atau lebih tepatnya Alex.
"Ada apa Nak? Kamu terlihat tidak bersemangat apa kamu sakit perut atau semacamnya?" Pertanyaan ini dilontarkan oleh Erena untuk Alex.
Pandangan pengunjung yang sebelumnya tersenyum dan berfokus ke arah Erena kini berubah menjadi ke arah kami, meraka menatap dengan wajah seolah iri karena kami mendapatkan perhatian dari idola mereka.
Tapi yang ditanya adalah Alex dia pasti akan menjawab dengan hal yang diluar nalar maka sebelum itu terjadi aku harus melakukan sesuatau.
"Hah? Jangan sok-"
Plak
Aku memukul kepalanya hingga dia mengaduh kesakitan dan terlihat kepalanya sedikit benjol, Erena terlihat terkejut akan tindakan mendadak dariku.
"A-ah, mohon maaf Nona Erena dia sedikit sakit jadi tidak terlalu bersemangat... tapi kalau aku sangat bersemangat!"
Hening. Berkat tindakanku serta ucapan barusan situasi menjadi terdiam apa yang membuat mereka menjadi seperti ini? Mungkin karena aku melakukan tindakan kekerasan di depan sang ratu.
Awalnya aku berpikir akan diusir tapi...
"Hahaha kalian cukup menarik. Tampaknya aku punya tamu kecil yang cukup bagus." Cara dia tertawa dan senyumannya terlihat sangatlah cantik.
Ah, aku mendapatkan pujian dari sosok yang kukagumi tentu ini adalah hal yang sangatlah membahagiakan..
Dilain sisi Alex kembali mengankat kepala dan ingin mengatakan, tapi sebelum dia berkata hal bodoh aku sudah membungkam mulutnya dengan pukulan seperti tadi.
Membuat sang ratu kembali tertawa kecil. "Hahaha, kamu mengigatkanku kepada dirku sendiri!"
Disamakan dengan orang yang dikagumi tentu adalah hal yang sangatlah menyenangkan jadi aku tersenyum seperti orang gila.
"Apakah anda benar?"
"Ya, aku juga sering memukul, menendang suamiku jika dia melakukan hal konyol. Hubungan kalian sangat mirip seperti kami."
Jadi bagian situ yang mirip..
Tapi ini saja sudah sangat membahagiakan bagiku..
"Aku harap kalian akan menjadi makin akrab! Omong-omong anak yang dari tadi terpukul, apakah kamu akan sedih jika suatu hari gadis disampingmu pergi."
Alex mengangkat wajahnya dan menatap serius ke arah Erena.
"Itu adalah hal yang tidak akan terjadi karena aku akan berada bersamanya!"
Dia berteriak dengan nada tegas tidak ada keraguan diucapannya, semua menatap heran ke arah Alex dan aku merasakan pipi hingga sekujur tubuhku menjadi panas berkat perkataannya.
"B-bodoh jika kamu mengatakan dengan lantang seperti itu sangat memalukan."
Tidak merespon dia masih menatap Erena dan Erena sendiri menjadi sedikit tersenyum kemudian tertawa kecil.
"Aku harap hal itu akan terjadi... baiklah acara akan segera dimulai."
Aku perlahan melepas tanganku dari tangan Alex karena teriakan barusan membuatku sedikit cangung dengannya, dia benar-benar serius akan ucapannya.
Namun seperti tidak mau lepas dariku dia memegang tanganku lagi. "Sudah kubilang bukan aku akan selalu bersamamu. Jadi jangan pergi."
Dia berkata dengan nada sedikit sedih 'jangan pergi' apakah aku membuat dia mengigat akan kedua orang tuanya? Kalau begitu..
"Aku tidak akan pergi kemanapun Alex," ucapku dengan senyuman.
Acara berlangsung dengan Nona Erena yang mencertiakan beberapa hal tentang petualangannya di mulai dia yang berasal dari keluarga kalangan bawah, berkenala untuk mencari kebenaran dunia dan pada akhirnya menyelamatkan kerajaan ini serta menikahi raja Aron.
Aku sudah membaca semuanya jadi ini tidak mengejutkan sama sekali, tapi ketika orang yang diidolakan menceritakan semua ini sendiri tentu memberikan rasa yang berbeda.
Besemangat dan sangatlah menyegarkan... itulah perasaanku pada saat itu.
Aku tersenyum dan menatap sosok penyihir putih idolaku yang sedang tertawa dan bercerita Panjang lebar.
Apa aku bisa menjadi seperti dia...?
...***...
Mataku perlahan terbuka dan ketika terbuka sepunuhnya pemandangan pertama kali yang kulihat adalah gadis kecil berambut putih yang tertidur dengan lelap.
Dia merupakan putri dari orang kugagumi- Alice sama seperti Elena dia benar-benar luar biasa. Bayangkan saja dia mengeluarkan sihir dalam umur sepuluh tahun.
Benar-benar keren...
Aku perlahan mengangkat tubuhku di sampingnya juga ada putri kerajaan sebelah Isabela. Tampaknya aku tertidur cukup lama, perlahan aku mengucek mataku. Yang barusan adalah mimpi yang cukup Panjang.
Alice tampak tetidur lelap dengan rambut putih yang cukup berantakan, dia sedikit berliur dan seperti bermimpi indah.
Aku tersenyum dan berkata, "Selamat pagi Alice."