NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Membaur di Kota Fana

Hiruk-pikuk Kota Gusu di bawah kaki Gunung Han menyambut kedatangan keluarga kecil ini dengan gelombang suara yang teramat bising. Jalanan kota yang beralas batu hitam dipenuhi oleh kereta kuda, barisan pedagang kaki lima yang menjajakan manisan, hingga kerumunan rakyat jelata fana yang sibuk dengan urusan harian mereka.

Aroma minyak wijen, dupa murahan, dan uap bakpao hangat mengepul berbaur di udara kota yang padat.

Gu Yu kecil melangkah di samping ibunya dengan keranjang anyaman di punggung. Dari dalam celah kain keranjang tersebut, kepala mungil Xiao Bai menyembul keluar.

Sepasang mata biru kristal anak harimau itu mengerjap kagum menatap deretan kedai makanan, sementara hidung kecilnya terus mengendus aroma daging panggang yang menggoda. Ia mengeluarkan suara cicitan manja, mencakar pelan bahu jubah rami Gu Yu seolah mengemis jatah makanan.

Melihat tingkah lapar sahabat bulunya, Gu Yu kecil menoleh kaku ke arah Gu Jue.

"Pria dingin... Xiao Bai bilang kakinya lemas karena perjalanan jauh. Dia butuh potongan daging segar untuk menguatkan taringnya."

Gu Jue tidak menjawab, namun tangan kokohnya bergerak melemparkan beberapa keping koin perunggu fana kepada seorang pedagang jagal di tepi jalan, membeli seikat potongan daging sapi segar yang langsung disambar dengan lincah oleh cakar kecil Xiao Bai ke dalam keranjang.

Shen Liya tersenyum geli di balik cadar birunya, menatap kebersamaan kaku namun hangat di antara suami, anak, dan hewan spiritual mereka.

Setelah menyusuri beberapa gang padat, mereka akhirnya tiba di rumah halaman fana yang cukup luas namun tersembunyi di sudut kota yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pasar utama. Rumah halaman itu dikelilingi oleh dinding batu abu-abu tua dengan sebuah pohon persik kecil tumbuh di pelataran tengahnya—sebuah detail yang sengaja dipilih Gu Jue agar suasananya tidak terlalu berbeda dengan pondok lama mereka.

"Rumah ini sangat nyaman, Ah Jue. Sisa uang perak tabunganku di barat masih cukup untuk membayar sewanya selama beberapa bulan," ujar Shen Liya setelah mereka selesai merapikan kamar tidur utama, wajahnya memancarkan rona kebahagiaan yang tulus.

"Kau tidak perlu memikirkan urusan perak, Liya. Toko obat fana di ujung jalan tadi pagi sudah setuju untuk membeli pasokan akar obat keringku secara rutin," jawab Gu Jue datar dengan dusta manusianya yang selalu terdengar sangat meyakinkan.

Gu Jue berjalan menuju pelataran tengah halaman, lalu menghentikan langkah kakinya tepat di bawah pohon persik. Sepasang mata sehitam malam miliknya menyipit tajam menatap ke arah gerbang kayu depan rumah halaman baru mereka.

Melalui ikatan batin spiritualnya, ia baru saja mendeteksi sebuah riak energi dingin murni yang sangat akrab baru saja melintasi pembatas gerbang dengan cara yang teramat ceroboh.

Lan Shuo... berani sekali kau melanggar perintahku, batin Mo Jue, hawa dingin yang mematikan seketika berkilat di manik matanya sebelum ditekan kembali menjadi hitam pekat dengan sangat rapi.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu gerbang depan terdengar agak kaku dan terlalu keras untuk ukuran ketukan manusia biasa.

Shen Liya yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi terkejut mendengar ketukan tersebut.

"Ah Jue, apakah ada tamu sepagi ini? Kita baru saja tiba beberapa jam lalu."

"Aku lupa memberi tahumu, Liya," kilat Gu Jue dengan ekspresi wajah yang mendadak dibuat sedikit kaku (akting manusia fana yang tertangkap basah membuat keputusan sepihak).

"Sebelum turun gunung kemarin, aku sempat mengirim pesan lewat burung intai ke desa tetangga untuk mempekerjakan seorang pelayan wanita. Fisikmu masih terlalu lemah untuk mengurus pekerjaan rumah tangga di kota yang besar ini, jadi aku memanggilnya untuk membantumu mencuci dan memasak."

Shen Liya tertegun, sekat kehangatan yang mendalam kembali merayap di dadanya mendengar perhatian diam-diam dari suaminya.

"Kau... kau sampai memikirkan hal sejauh itu, Ah Jue? Terima kasih."

Gu Jue berjalan membuka gerbang kayu depan. Begitu daun pintu terbuka, sosok "pelayan baru" yang dijanjikannya berdiri di sana dengan penampilan yang membuat sang Raja Iblis hampir kehilangan ketenangannya.

Lan Shuo—atau Pelindung Kiri Lan Xi yang ditakuti seluruh faksi Alam Kegelapan—kini berdiri tegak mengenakan pakaian pelayan wanita fana yang terbuat dari katun kasar berwarna hijau lumut polos dengan rambut panjangnya yang digelung kaku menggunakan tusuk konde kayu murahan.

Wajah cantiknya yang biasa memancarkan wibawa jenderal militer, kini tertekuk kaku karena ia harus menahan rasa canggung yang teramat pekat akibat menyamar menjadi rakyat jelata bawah.

Sepasang mata Lan Xi berkilat penuh rasa penasaran yang meluap-luap saat pandangannya melesat melewati pundak tegap Gu Jue, mencoba mengintip ke dalam halaman rumah demi melihat wujud asli dewi langit yang telah mencuri hati rajanya.

Gu Jue menatap pelindungnya dari atas ke bawah dengan tatapan mata hitam yang begitu dingin dan menusuk, melepaskan secercah tekanan intimidasi spiritual tersembunyi yang membuat seluruh tubuh Lan Xi seketika menegang kaku (gemetar ketakutan) di bawah zirah katun kasarnya.

"Yang Mulia... mohon ampun," suara transmisi batin Lan Xi berdenting panik di kepala Gu Jue.

"Hamba terpaksa menyamar karena rasa penasaran hamba sudah di ambang batas! Hamba bersumpah akan menjaga keselamatan Nata Agung dengan seluruh nyawa hamba selama di kota ini! Tolong jangan seret hamba kembali ke Istana Kegelapan hari ini!"

Gu Jue menghela napas panjang di dalam hatinya, menyadari bahwa mengusir sosok "kakak" yang keras kepala ini sekarang hanya akan memicu kecurigaan Shen Liya. Lagi pula, memiliki seorang pengawal wanita tingkat tinggi untuk menjaga istrinya saat ia pergi ke pasar obat fana bukanlah ide yang buruk.

"Masuklah. Namamu... siapa namamu di dunia fana?" tanya Gu Jue dengan suara ketus yang sengaja dilepaskan sebagai bagian dari sandiwara manusianya.

"H-Hamba... nama saya Ah Xi, Tuan," jawab Lan Xi dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meskipun nada bicaranya yang tegas khas komandan militer tidak bisa hilang sepenuhnya.

Shen Liya melangkah mendekati gerbang, menatap pelayan baru mereka dengan seulas senyuman hangat di balik cadarnya.

"Selamat datang di rumah kami, Bibi Ah Xi. Pakaianmu sedikit kotor oleh debu jalanan, masuklah dan minum air hangat terlebih dahulu."

Melihat ketulusan dan keanggunan suci yang memancar dari wajah Shen Liya, Lan Xi tertegun sejenak.

Kelembutan dewi langit ini terasa begitu nyata, sangat berbeda dengan atmosfer kejam dan haus darah yang biasa ia temui di Alam Iblis. Rasa hormat alami mendadak tumbuh di hati sang Pelindung Kiri; ia langsung tahu mengapa rajanya rela membuang kemegahan takhtanya demi wanita ini.

"Terima kasih... Nyonya," ujar Lan Xi khidmat, hampir saja ia mengucapkan kata "Yang Mulia Ratu" jika ia tidak buru-buru menggigit bibirnya sendiri.

Gu Yu kecil beserta Xiao Bai melangkah keluar dari dalam koridor tengah, memegang kapak kecilnya dengan posisi siaga.

Sepasang mata sehitam tintanya menyipit tajam menatap lekat-lekat ke arah pelayan baru bernama Ah Xi tersebut.

Sebagai bocah yang memiliki indra sensorik iblis murni yang sangat tajam (menurun langsung dari ayahnya), Gu Yu langsung mendeteksi ada yang tidak beres.

Wanita berbaju hijau lumut ini memiliki energi dingin murni yang jalurnya sangat mirip dengan hawa kegelapan milik "pria dingin" (Gu Jue), hanya saja skalanya sedikit di bawah ayahnya.

Wanita ini... dia bukan manusia lemah, batin Gu Yu kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis kecil yang sangat licik khas anak Raja Iblis. Bocah cerdas itu menyadari ia baru saja mendapatkan sebuah "mainan baru" di rumah ini.

"Bibi Ah Xi, keranjang obat milik Ayah di sudut halaman sangat berantakan. Mengapa kau tidak membersihkannya sekarang?" celetuk Gu Yu kecil dengan nada memerintah yang sangat alami, memeras sang Pelindung Kiri secara halus di depan ibunya.

Lan Xi terkesiap sekilas, menatap keponakan kecilnya yang memiliki wajah ketampanan yang persis sama dengan rajanya namun memiliki tabiat licik yang sangat menyebalkan. Sebagai Pelindung Kiri yang megah, ia tidak tahu bagaimana cara memilah akar obat fana yang kotor!

Ia melirik Gu Jue untuk mencari bantuan, namun Gu Jue justru memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh, membiarkan pelindungnya menerima pelajaran awal dari sang pangeran cilik.

"B-Baik, Tuan Muda Cilik. Saya akan segera membersihkannya," jawab Lan Xi kaku dengan senyuman paksa yang terlihat sangat konyol di wajah jenderalnya.

Keceriaan manis dan interaksi kaku rahasia di antara ayah-anak-kakak di balik punggung Shen Liya resmi terkunci di bawah atap rumah halaman Kota Gusu pagi itu. Sandiwara kehidupan membaur rakyat jelata berjalan dengan penuh warna komedi yang menghibur, menyembunyikan badai kepungan tiga sekte besar manusia fana dan intrik langit yang perlahan-lahan mulai mengendus jalur pelarian mereka ke tengah kota padat penduduk tersebut.

 

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!