GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer
Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.
Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.
Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 "Hitungan Mundur Kiamat"
Chapter 11
Disuatu tempat terlihat Cataclysm bertipe Humanoid kelas Seraphim berjalan menuju suatu tempat. Langkahnya berat menghancurkan apapun didepannya.
Di Station terlihat tim Grey Wings 05 sedang berlatih menggunakan Gear. Dikamar mandi saat Sua sedang mandi sendirian tiba tiba Belial masuk dan menemani Sua dibilik sebelah. “Belial.. terima kasih karena percaya pada kami.. kamu membantu kami banyak” ucap Sua dengan malu. “kalian tim yang payah… tapi aku akui… kerja sama kalian membuatku kagum” ucap Belial dengan tenang dan sedikit malu.
Di Garage, Shin sedang menatap Raven, Gear miliknya, dengan pikiran yang melayang jauh. Deru mesin di kejauhan samar-samar terdengar, hingga suara roda berdecit pelan menghampirinya. Profesor Jing datang dengan kursi rodanya, senyum ramah menghiasi wajah tuanya. “Yo! Anak muda… ada waktu sebentar?” ucapnya ringan. Mereka pun beranjak ke balkon yang menghadap kota di dalam Station, cahaya kuning oranye dari lampu kota berkilauan bagai bintang buatan. Profesor Jing menatap langit buatan itu sejenak sebelum berbicara. “Sekitar dua ratus lima puluh tahun lalu… manusia hidup di luar Station. Namun sejak kemunculan Cataclysm… manusia membangun kubah pertahanan ini dengan tenaga energi magma bumi.” Kata-katanya berat, bergema di tengah keheningan. Shin mengerutkan dahi. “Bukankah itu yang justru membuat Cataclysm semakin berdatangan?” tanyanya heran. Jing hanya menghela napas, matanya tetap ke arah cahaya kota. “Itu satu-satunya yang kita punya…” Setelah hening sesaat, profesor menoleh pada Shin.
“Ngomong-ngomong soal Belial… aku kagum melihatmu bisa begitu dekat dengan wanita itu.” Shin menoleh cepat, matanya menyipit bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya penuh penasaran. Jing menatapnya tajam, suaranya menurun seolah membisikkan rahasia. “Belial… sudah jadi rahasia umum bahwa dia adalah hybrid antara manusia dan Cataclysm.” Shin mengangguk pelan. “Soal itu aku paham… tapi… di mana letak salahnya?” suaranya tenang, namun matanya bergetar. Profesor Jing merapatkan jemari di pangkuannya. “Belial… karena darah Cataclysm itu, ia bisa bertindak agresif, sama seperti monster yang lain. Jadi komohon jaga dia… Aku tahu… hanya kamu yang bisa.” Ucapannya membuat dada Shin terasa sesak, pikirannya campur aduk. Sebelum pergi, Profesor Jing sempat menoleh sekali lagi, tatapannya penuh makna. “Belial melihat sesuatu di dalam dirimu… sesuatu yang tak pernah ia lihat pada orang lain…” katanya lirih, lalu perlahan berbalik meninggalkan Shin yang terdiam di balkon.
Saat dikamarnya Shin menatap langit langit kamarnya yang gelap, “Belial melihat sesuatu di dalam dirimu… sesuatu yang tak pernah ia lihat pada orang lain…” ucapan sebelumnya profesor Jing menghantui benaknya. Diluar rumah Shin kaget melihat Belial duduk di teras Home, ekornya meliuk liuk, cahaya bulan menyinarinya membuat tanduk dan ekornya menyala biru. Belial tiba tiba tersipu malu karena dilihat Shin. “aduh... selalu saja menatapku seperti itu.. dasar mesum” ucap Belial dengan kesal dan malu namun ia mempersilahkan Shin duduk disampingnya. “kenapa kamu tidak tidur?” tanya Shin dengan lembut. “aku belum ngantuk..” ucap Belial. “ngomong ngomong ekor dan tandukmu... mereka sangat cantik” ucap Shin dengan jujur. “berhenti mengatakan hal aneh!” ucap Belial wajahnya semakin memerah. “ngomong ngomong... kenapa.. kamu ga takut sama aku?” tanya Belial. “sudah aku katakan berkali kali belial.. kenapa aku harus takut melihatmu... dimataku tidak ada yang membuatku takut.. ekormu.. tandukmu.. sangat cantik.” Ucap Shin dengan jujur, Belial tiba tiba menguap dan tidur di dada Shin, Shin tersenyum lembut dan membelai rambut putih panjangnya.
Dari kejauhan Sua menatap cemburu, namun sebelum pikirannya semakin larut, Lei melemparkan selimut kepadanya. “Yo! Ada apa, Sua…” ucap Lei dengan nada ringan, berusaha mencairkan suasana. Sua terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa…” jawabnya singkat, berusaha menyembunyikan sesuatu. Mereka akhirnya duduk bersama di ruang berkumpul, lampu redup menemani obrolan kecil mereka. “Kakak Sua… kau ingat kenangan kita saat masih di Birdcage?” tanya Lei sambil menatap langit-langit, matanya berkilat nostalgia. Sua tersenyum lembut, menyelimuti tubuhnya dengan selimut. “Yup… dulu kau, aku, Shin… kita sangat dekat seperti saudara.” Kenangan itu membuat wajahnya sedikit hangat. Lei ikut tersenyum. “Dan faktanya, suster pernah bilang kalau kita lahir bersamaan. Kau yang pertama… lima belas detik kemudian aku… dan dua puluh detik kemudian Shin…” Sua mengangguk pelan. “Yeah, aku ingat itu…” jawabnya, suaranya penuh rasa sayang. Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar dengus napas yang tenang, hingga Sua kembali bicara. “Sebagai kakak tertua… aku akan melindungi kalian. Aku akan melindungi kau, Shin, dan teman-teman kita,” ucapnya tegas, namun diiringi kelembutan yang jarang ia tunjukkan. Lei menatapnya dengan tulus. “Aku juga… Sua. Aku, Shin… kami semua menyayangimu…” kata-katanya lembut, membuat dinding hati Sua yang biasanya keras perlahan luluh. Wajahnya merona, ia berdehem cepat untuk menutupi rasa malunya. “Uhum… tidurlah. Bersiaplah untuk besok,” ucapnya berusaha menjaga wibawa. “Oke… kakak,” jawab Lei singkat, senyumnya lebar, hangat menutup percakapan mereka.
Di Highlander, para petinggi The Hawk berkumpul dalam ruang rapat yang diterangi cahaya holo-biru, bayangan wajah mereka tampak samar di balik layar data yang melayang. “Sepertinya gadis itu sudah menemukan pawangnya…” ucap salah satu anggota perempuan dengan nada setengah heran, setengah sinis. “Tidak… ini tidak boleh dibiarkan. Mereka harus dipisahkan…” timpal anggota bertubuh pendek dengan suara keras, sarat kekhawatiran. Seorang pria jangkung tinggi menyilangkan tangan, tatapannya dingin. “Tenanglah… Lagipula… orang itu bukan manusia biasa.” Suasana hening sejenak, hanya suara dengungan mesin rapat yang terdengar. Pemimpin tertinggi The Hawk akhirnya bersuara, nadanya datar namun penuh wibawa. “Aku penasaran… bagaimana gadis itu akan memberi efek pada orang itu…” Tatapannya terhenti pada holo yang menampilkan biodata Shin, sinarnya memantul di matanya seperti bayangan takdir yang sedang ia perhitungkan.
Ditempat lain Cataclysm itu bergerak lurus semakin dekat kearah station 5. Dipagi harinya tim 05 berkumpul diruang brifing membicarakan tentang Cataclysm berukuran besar bergerak kearah station 5. “perkiraan kelas Seraphim setinggi 5000 ft.. bertipe Humanoid”, ucap komandan Ace. “wahh besar banget” ucap Teiben. “aku jadi takut” Mei memeluk Elas. “bisa dibilang ini pertama kalinya ada penyerangan dari kelas Seraphim.. maka dari itu akan diadakan oprasi gabungan.” Ucap komandan Ace. “oprasi gabungan?? Serius?” ucap Lei dan anggota lainnya dengan tak percaya. “benar.. tim Grey Wings 01 dan 03 akan membantu kita dalam oprasi ini..” ucap komandan Ace “oprasi akan dimulai 45 jam dari sekarang” tambahnya.
Dimalam harinya mereka mengadakan acara makan makan dihalaman Home, pesta sebelum perang besar dimulai. Teiben dan Lei sedang membakar ikan. Sei duduk dipojokan sendiri. Belial bersandar dibahu Shin. “wah mereka berdua manis banget ya.. aku jadi iri” ucap Mei. Teiben dan Lei tiba tiba menyeret Shin. Belial hanya terkekeh lembut. Sei pun juga tak lepas dari seretan mereka. “ihh aduh kayak anak kecil banget” ucap Sei. Malam itu dipenuhi canda tawa, dan untuk kali ini Belial mulai terbuka dan tersenyum ramah.
Keesokannya di Garage tim 01, 03, dan 05 berkumpul menyusun strategi. “seperti yang kita tau.. Cataclysm itu bergerak dari arah selatan menuju kearah station, ini tidak hanya berdampak pada station 5 tapi juga pada station lainnya..” ucap kapten tim 01 Johan. Semua orang selain tim 05 terlihat tidak senang dengan kehadiran Belial. Shin menggenggam tangan Belial dan meyakinkannya. Belial pun membalas dengan tersenyum. Johan terlihat terkejut melihat Belial yang tersenyum. “apa apaan itu.. seorang Cataclysm tersenyum…” gumamnya dalam hati.
Ketiga kapten memikirkan strategi untuk melawan Cataclysm raksasa itu. “tim 01 akan menghadang Cataclysm itu dari depan, tim 03 akan memberi serangan kejutan dari samping, tim 05 kalian akan berjaga dibarisan belakang” ucap Zhean kapten 03. Tim 05 terdengar tidak senang karena seakan mereka sedang diremehkan.
“Eagle.. aku ingat betul bagaimana Gear itu membunuh ribuan Cataclysm… saudara saudaramu..” ucap Arya anggota pembimbing tim 03. sama seperti Belial, Arya adalah tim Elite yang dikirim The Hawk untuk membimbing tim 03. Belial yang terlihat sudah mengenal lama Arya terlihat tidak senang melihatnya. “Arya… bahkan bajingan sepertimu bisa ada ditempat seperti ini?” ucap Belial dengan arogan dan kesal. “tenanglah… sepertinya kamu punya rumah yang layak disini.. ketimbang digaris depan..” ucap Arya dengan nada mengolok. Belial yang tak kuasa menahan emosi menampar Arya. Tanduk birunya menyala, sorot mata birunya tajam, ekor meliuk seperti hendak memangsa membuat nyali Arya ciut sejenak.
Kazutora mantan anggota tim elite pembimbing tim 01 melerai mereka berdua. “sejak dari Highlander.. masih saja seperti ini.. kurangi sifat sombongmu itu… Arya.. kau juga.. Belial.. belajarlah mengendalikan emosi” ucap Kazutora. “huh menyebalkan” gerutu Belial. Shin tiba tiba menarik Belial dan merangkul lengannya lalu Shin menunduk. “maaf.. aku akan lebih mengawasinya” tatapan Belial pun melembut, hal itu membingungkan Arya dan Kazutora.