Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
" Bagaimana perasaan kamu setelah membaca berkas itu? Apa masih bisa kamu mengatakan bahwa kamu itu sahabatku?"
Gunawan terlihat menundukkan pandangannya, dia menggigit bibirnya berusaha menahan amarah, aku yang melihat ekspresi wajah Gunawan. Sangatlah terkejut. Dari dulu aku mengenal dia hanyalah sebagai lelaki cupu yang sangat dipercayai oleh papa.
Angga membalikkan badan, lalu berkata, " padahal dari dulu kita ini selalu merencanakan sesuatu bersama, tapi kenapa setelah begitu jauhnya persahabatan kita. Kamu malah menghianati dan menorehkan sebuah ketidakpercayaan untukku. "
"Gue, tidak. "
Gunawan terlihat ragu menjawab perkataan sahabatnya, membuat aku yang berada di antara mereka terdiam.
Gunawan pergi begitu saja, dimana Shireen berdiri dan berkata, " Angga, kejar Gunawan. Jangan sampai kalian menjadi musuh. Kita bertiga yang memulai, kita juga yang mengakhiri. "
Angga terduduk lesu, setelah mendengar perkataan dari Shireen," Dia penghianat, dia sudah mengambil saham milik Kaira, dan itu baru aku ketahui sekarang, mana mungkin sekarang aku mengejarnya. Yang ada dia itu sadar akan kesalahannya dan mengembalikan saham itu balik. "
"Angga."
"Diam kamu." Telunjuk tangan menunjuk ke arah Shireen, aku berusaha diam berpura pura tak ikut campur masalah mereka.
"Kamu tahu, kita bertiga yang membunuh, kita juga yang akan kena resikonya. Jangan sampai diantara kalian mengatakan semua rahasia ini. Saham ini belum seutuhnya milikku, saham ini atas nama Kaira. Polisi belum menemukan tulang belulang milik istriku, jika mereka menemukan semua itu, mati kita. "
Aku melihat ketakutan dalam diri Angga, saat bercerita tentang pembunuhan itu, mereka bodoh mereka tak tahu jika Kaira itu adalah aku.
Angga mengambil berkas, keluar dari ruangannya, terlihat jika ia tampak panik dan Gelisah.
"Angga. Kamu mau kemana sayang."
Aku tetap bersikap manja padanya, berpura pura tak tahu apa apa, " Sayang, aku masih ada urusan kamu disini dulu ya. "
Menganggukkan kepala, disaat keadaan marah pun Angga tetap lembut.
Menatap kepergian Angga, membuat aku berdiri dan tersenyum manis.
"Semudah itu."
Aku dikejutkan dengan Shireen yang tiba tiba saja berdiri dibelakang tubuhku, " Semudah itu, maksud kamu?"
Membalikkan badan pada Shireen, " Ahh, kamu. "
Pergi karena tak ingin membahas semuanya, aku pergi dari hadapan Shireen.
Di mana wanita itu malah menahan ku pergi, ia menggenggam erat tanganku ini. " Lepaskan. "
Genggaman tangan Shireen terasa menyakitkan, membuat aku berusaha mendorong tubuhnya. Namun dengan begitu tangkasnya Shireen mampu menghindari tanganku.
"Sialan kamu. "
Shireen mendorong tubuhku ini. Hingga aku terjatuh ke atas lantai, " ahk. Kamu. "
Aku mulai bangkit berdiri untuk kembali membalaskan, apa yang sudah dilakukan olehnya.
kedua tanganku ini langsung menjabat rambut panjang milik Shireen.
" Berani kamu mendorong tubuhku ini, Shireen. "
Wanita itu malah tertawa di saat aku menjambak rambutnya dengan begitu keras, " dasar wanita gila. "
Tak kusangka tenaganya begitu kuat, tiba-tiba saja Shireen memukul perutku dengan lutut kakinya. Aku menjerit meringis kesakitan membuat wanita itu berkata, " dasar wanita lemah. "
Telunjuk tangan Shireen kini menyentuh kepalaku hingga dia sengaja mendorongnya, " bodoh. "
Aku yang tak ingin disebut lemah pada akhirnya, mengambil jari-jemari itu, selalu memutarkannya hingga terdengar bunyi, krek. " Ahk, tanganku sakit sekali. "
Tersenyum lepas, " ini belum seberapa. Sampai aku melakukan hal ini. "
Krek. "Ahkk."
Suara jeritan Shireen membuat aku sangatlah bahagia, wanita itu berusaha menyelamatkan dirinya.
Aku yang tak ingin melihat dia menangis pada akhirnya melepaskan jarinya, " aduhh, anak mami kenya mau nangis ya. "
Brak.
Pukulan seseorang tanpa aku sadari mengenai kepalaku, membuat aku menjambak rambut merasa sakit karena pukulan itu.
Penglihatan mataku tiba-tiba saja buram, di mana aku melihat sosok wanita tua berdiri di hadapanku.
Wanita tua itu langsung menyelamatkan Shireen, aku yang tak bisa menahan rasa sakit di kepalaku ini, tiba-tiba terjatuh hingga terduduk di atas lantai.
"Ibu Sarah. "
Wanita tua itu membawa Shireen pergi dari ruangan, di mana aku tak danggup lagi berdiri dan pada akhirnya jatuh pingsan.
*****
Aku perlahan mendengar suara seseorang memanggil namaku, orang itu membuat aku membuka kedua mata.
"Sinta, akhirnya kamu bangun juga. "
Ternyata dia adalah Angga, aku langsung memeluk tubuh lelaki berbadan kekar itu, menangis dengan berkata, " akhirnya kamu datang juga. "
"Kamu kenapa bisa jatuh pingsan. "
Aku menatap ke arah orang-orang yang mengelilingiku, " ibu memukul kepalaku dengan tongkat kayu. "
Wanita tua itu langsung mengelak dengan perkataanku," jangan asal menuduh kamu wanita ******. "
"DIAM BU. "
Bu Sarah diam setelah mendengar bentakan dari mulut anaknya sendiri, " Kenapa kamu begitu lebih percaya pada wanita ****** ini, daripada ibumu sendiri nak. "
" Antara percaya tidaknya kita lihat saja di CCTV. "
Aku tersenyum tipis, dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Angga," Iya benar apa katamu sayang, lebih baik kita melihat rekaman CCTV."
Aku melihat jika wanita tua itu begitu Sok ketika membahas tentang CCTV di ruangan.
" Sudahlah kita tak perlu membahas tentang wanita ****** ini. Kenapa dia bisa jatuh pingsan, "
Aku menangis lagi di hadapan Angga, memeluk tubuh lelaki, Shireen yang melihat pemandangan kami berdua, terlihat menahan rasa kesal.
"Angga, kamu jangan gila, di hadapan kamu ini ada Shireen Kamu itu tidak tahu malu ya, itu masih istri sah kamu sedangkan kamu dan wanita ****** ini belum juga .... "
"Menjadi suami istri, itu yang akan ibu katakan. Ibu Tenang saja aku akan menikahi Sinta, menjadikan dia istri keduaku. "
Aku senang jika Angga berkata seperti itu di hadapan ibu mertua, dimana aku meminta suatu permintaan yang membuat semua orang di sana.
"Sayang, aku tidak ingin dinikahi kamu secara siri. Aku ingin menikah kamu secara agama dan negara."
Mengajukan pertanyaan seperti itu membuat Shireen angkat bicara," aku tak setuju jika Sinta dinikahi cara negara, karena aku sebagai istri pertamamu hanya menikah secara siri. "
"Sebaiknya kamu jangan banyak bicara. Jika kamu memang masih ingin menjadi istriku, sebaiknya kamu diam saja dan menuruti perkataan Sinta. "
Bu Sarah tak terima dengan perkataan Sinta, " Ibu juga tidak setuju kalau kamu menikahi dia secara negara dan agama, sedangkan Shireen kamu nikah dia secara agama saja. "
" Semua sudah menjadi keputusanku, jadi menurut sajalah kamu Shireen masih mending kamu tidak aku ceraikan. "
Aku melihat Shireen menundukkan pandangan Iya seperti menahan Isak tangis, " Sayang, kasihan banget dia. "
" Sudahlah sayang kamu jangan pedulikan si Shireen itu dia sudah untung aku pertahankan, padahal aku sudah muak menjadi suaminya."
"Angga."
Lelaki berbadan kekar itu malah merangkul bahuku, mengajak aku untuk pergi dari hadapan Ibu Sarah dan juga Shireen.
"Bu." Shireen kini menangis pada pelukan Bu Sarah, membuat aku yang melihatnya hanya mendelik dan melambaikan tangan, tanda kalau aku berhasil mendapatkan Angga.
********
Saat kami berdua berjalan beriringan keluar dari ruangan, Gunawan datang kembali, " Gunawan. "
Gunawan memperlihatkan raut wajah jutek, berjalan melewati aku dan juga Angga.
namun tak kusangka, masalah terjadi lagi, saat Angga menghentikan langkah Gunawan.
"Kembalikan saham milik Kaira. "
Gunawan kini menghempaskan tangan Angga," tidak akan pernah karena aku sudah membantumu dan otomatis aku harus mendapatkan bagianku. "
" Tapi di surat perjanjian tidak mengatakan bahwa kamu mendapatkan saham 70% sama denganku. "
"Hey, perjanjian itu hanya omong kosong belaka. sejauh ini aku sudah susah payah. Menjadi Lelaki cupu hanya untuk dipercayai oleh ayah Kaira dan sekarang aku sudah mengabdi kepadamu. Menjadikan Kaira mati dalam waktu sesaat, jadi pantaslah aku mendapatkan saham itu sama dengan kamu. "
Aku tak menyangka jika harta peninggalan Ayah jatuh atas Namaku, aku mengira selama ini Ayah lebih percaya pada Angga dan memberikan semuanya pada dia, ahk pantas saja aku dibunuh karena mereka memperebutkan harta warisan dan juga saham yang dimiliki Ayah.
" Ingat, nama itu masih atas nama Kaira, dan belum jatuh ketanganmu. "
Tiba-tiba saja, Angga merogoh saku celananya, mengambil sebuah ponsel.
Iya memutar sebuah rekaman yang membuat aku tertawa dalam hati.
(Aku akan menberikan semua harta warisan pada anakku Kaira, dan semua aset perusahaan begitupun saham. Angga tolong jaga baik baik Kaira, karena kamu juga ikut mejadi penerus harta warisanku.)
"Kamu dengar ini Gunawan. Walaupun kamu mengambil sedikit pun, kamu tidak ada hak sama sekali. Jadi perlu aku ingatkan lagi pada kamu, kamu hanya kacungkung ayah Kaira. "
Deg .....
" Tapi kamu harus ingat, rahasia kamu tentang pembunuhan itu ada di genggaman tanganku ini. "
"Jahahha."
Aku mendengar tawa Angga begitu renyah terdengar, " Memang iya, tapi kalau kamu berani mangatakan semua itu, kamu tahu. Kamu akan terkena akibatnya juga. Kamu juga akan masuk ke dalam penjara bersamaku. Jadi. Tidak ada untungnya, lebih baik diam dan terima saja apa yang aku beri nanti, setelah harta itu jatuh ke tanganku. "
Memukul mukul bahu Gunawan, aku dan Angga pergi begitu saja. Dimana aku melirik sekilas pada Gunawan. Mengedipkan mata, memberi isyarat sebuah tangan jika mereka akan celaka.
Masuk ke dalam mobil, aku mengerutkan bibirku, di mana Angga bertanya dengan wajah sayunya, " Sayang Kamu ini kenapa sih dari tadi cemberut terus."
Aku mulai melayangkan lagi aksiku kembali, " sayang, kenapa sih kamu tidak memecat si Gunawan itu? Aku sebal kalau lihat si Gunawan berani seperti itu kepada kamu. "
"Ahh, kamu imut sekali sih sayang. Saat mengatakan hal itu. "
"Masa sih. "
Perlahan Angga mulai melepaskan kain yang menempel pada badanku, " sayang. Jangan disini."
Angga seperti orang yang tak bisa menahan hawa napsunya, ia mencium beberapa bagian sesintifku.
"Sayang."
Namun tiba dimana, Angga tak meneruskanya lagi, " kok berhenti si sayang. "
"Kamu kenapa punya tanda hitam di atas pusarmu itu. "
"Hah, tanda hitam. "
"Iya."
"Oh ini, tanda lahir, memangnya kenapa?"
"Ahk tidak. "
Aku hanya bersikap santai, di saat Angga terlihat begitu gelisah, ia diam saat mengendai mobil.
Seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
Apa jangan jangan, Angga takut jika aku ini Kaira.
"Sayang, kamu ini kenapa, dari tadi diam terus apa kamu demam. "
"Tidak, hanya saja aku mengigat Kaira, pada bawah pusarnya, sama percis punya tanda seperti itu. "
Aku tertawa terbahak bahak, seolah menangapi semua itu hanya lelucon. " Sayang, bukan aku saja loh yang mempunyai tanda ini. "
Angga menatap ke arahku, " ahk benar apa yang kamu katakan sayang, bisa saja ada kesamaan, kamu dan Kaira berbeda, wajahmu pun beda. "
"Itu kamu tahu. "
Angga mengatarkan aku sampai ke rumah, ia mencium pipi kiri dan pipi kananku, berkata, " semoga mimpi indah. "
"Ya sayang, kamu juga, " melambaikan tangan. Meneruskan perkataanku dengan berkata dalam hati. " Semoga mimpi buruk, karena esok hari kehancuran akan menerpa hidupmu. "
Setelah mobil Angga melaju jauh, aku berdiri dengan berkata dalam hati kembali.
"Aku benar benar tak sabar melihat kamu di sered paksa oleh polisi. "
"Darrr. "
"Ahk."
Terkejut dengan Gina yang tiba tiba saja, ada dibelakang tubuhku. " Cie, kenapa nih, melamun saja. Mikirin apa sih, sampai serius gitu. Kok aku jadi kepo. "
Aku memeluk Gina dan berkata, " ternyata perusaahan itu masih atas namaku. "
"Benar kah. "
Menganggukkan kepala, " iya, kita ceritakan di dalam yuk, pasti kamu tidak akan menyangka. Pokonya besok akan menjadi sebuah kehancuran untuk orang orang yang menyakiti Kaira, wanita yang kini berubah menjadi Sinta.