【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Tina melangkah lebar-lebar memasuki pelataran rumah batu tuanya. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan setelah berjalan kaki, melainkan karena rasa malu yang bergolak hebat di dalam dadanya. Begitu daun pintu kayu depan berhasil ia dorong, ia tidak memedulikan Rika yang sedang bermain dengan anaknya diruang tengah. Tina langsung melesat masuk ke dalam kamar tidurnya, menutup pintu rapat-rapat, dan mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang kapuk. Wajah manisnya kini benar-benar sudah sewarna dengan buah naga yang matang, merah merona hingga ke batas telinga.
Lisa yang sejak tadi memang sedang mendekam di kamar sembari merapikan beberapa buku, seketika menoleh. Gadis remaja itu menghentikan aktivitasnya, menatap sang kakak dengan dahi berkerut heran.
"Lho, Kak Tina? Kok sudah balik lagi? Cepat sekali?" tegur Lisa dengan rentetan pertanyaan yang langsung meluncur lancar dari bibirnya. "Jadi bagaimana, Kak? Kapan keluarga Pak Andry datang melamar secara resmi untuk menetapkan tanggal pernikahan kalian? Tante Yuna bilang apa?"
Tina sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang sudah mencapai ubun-ubun, ia langsung menarik selimut tebalnya tinggi-tinggi, menyembunyikan seluruh wajahnya di balik seprei bermotif bunga yang kusam.
Melihat reaksi kakaknya yang tidak biasa, jiwa detektif Lisa langsung bergejolak. Ia beringsut mendekati tepi ranjang, lalu menyenggol pundak Tina yang terbungkus selimut. "Kak... Kakak kenapa, sih? Kok malah bersembunyi begitu? Apa jangan-jangan... di rumah Tante Yuna tadi ada Pak Andry, ya? Makanya Kakak malu setengah mati sampai mukanya merah begitu?"
Mendengar tebakan Lisa yang meleset namun tetap saja menyenggol rasa malunya, Tina akhirnya menyingkap sedikit selimutnya. Ia bangkit duduk sembari menatap adiknya dengan pandangan gusar yang menggemaskan. "Bukan itu, Lisa! Tadi di sana itu, ternyata ada—"
"Lisa! Lisa!"
Belum sempat Tina menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan Ibu Aminah dari arah dapur belakang kembali menggema, memutus benang cerita yang baru saja akan terurai.
"Ada apa, Bu?" sahut Lisa setengah berteriak dari dalam kamar.
"Sini sebentar, Nak! Tolong Ibu!" panggil Ibu Aminah lagi.
Lisa mengembuskan napas panjang dengan raut wajah kecewa. Ia menatap kakaknya dengan pandangan memohon. "Yah... Ibu ini bagaimana, sih. Aku kan masih mau mendengar lanjutan cerita Kak Tina."
Tina yang merasa terselamatkan oleh panggilan sang ibu langsung mengibaskan tangannya, mengusir adiknya dengan sisa-sisa wajah merahnya. "Sudah, sana pergi! Ibu lagi memanggilmu itu. Jangan membantah orang tua."
"Hmph! Awas ya, nanti Kakak harus melanjutkan ceritanya sampai tuntas!" gerutu Lisa sembari memanyunkan bibirnya. Dengan langkah kaki yang diseret lunglai, ia berjalan keluar dari kamar, menunjukkan wajah sedih yang dibuat-buat karena belum berhasil mendapatkan gosip terhangat rumah mereka. Setelah memastikan punggung adiknya benar-benar menghilang di balik pintu, Tina kembali menarik selimutnya dan menenggelamkan wajahnya, merutuki kejadian konyol di halaman rumah Ibu Yuna tadi.
"Ada apa, Ma?" tanya Lisa begitu ia sampai di ambang pintu dapur, mendapati ibunya sedang menata sebuah rantang aluminium tua.
Bu Aminah menyerahkan gagang rantang tersebut bersama sebuah botol air minum berukuran besar ke tangan Lisa. "Ini, tolong kamu antarkan makanan ini ke sawah. Abahmu sudah berangkat sejak fajar tadi, beliau pasti sekarang sudah lapar."
"Iya, Bu," sahut Lisa patuh. Namun, saat matanya melirik ke dalam rantang, ia menyadari sesuatu. "Eh, tapi kok lauknya cuma satu porsi, Bu? Untuk Kak Fandi mana?"
Bu Aminah kembali melanjutkan aktivitas mencuci piringnya. "Fandi tidak ikut ke sawah hari ini. Dia sedang pergi ke kantor desa sejak pagi tadi, katanya ada rapat penting bersama pemuda-pemuda desa yang lain."
Lisa mangut-mangut paham. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera membawa rantang tersebut ke pekarangan depan, menuntun sepeda jengki tuanya, lalu mulai mengayuh pedal menyusuri jalanan desa yang mulai menghangat oleh terik matahari.
Saat roda sepedanya berputar melewati pekarangan rumah Ibu Yuna, pandangan mata Lisa refleks melirik ke bawah pohon mangga di seberang jalan. Di sana, ia melihat sebuah mobil sedan hitam mewah yang masih terparkir rapi. Seketika itu juga, sebuah senyuman jahil merekah di bibir remaja itu.
*Ah, sepertinya dugaanku seratus persen benar,* batin Lisa bersorak riang di dalam hati. *Kak Tina pasti malu karena mendadak bertemu dengan Pak Andry di rumah Tante Yuna. Rasain, makanya punya kakak jangan terlalu gengsian.* Lisa terkekeh sendiri di atas sepedanya, membayangkan ekspresi wajah Tina yang panik menyembunyikan rona merahnya.
Jalanan aspal yang hitam akhirnya berganti dengan hamparan pemandangan hijau yang luas. Lisa menghentikan sepedanya di pinggir pematang sawah, menatap susunan tanaman padi yang mulai tumbuh subur. Di kejauhan, tampak susuk tubuh Pak Rahman yang mengenakan caping tua sedang membungkuk di tengah lumpur.
"Abah! Ini nasinya datang!" seru Lisa sembari melambaikan tangan dari tepi pematang.
Pak Rahman menegakkan punggungnya yang tampak lelah, lalu tersenyum melihat putri bungsunya. "Ah, iya, Nak. Tunggu sebentar, Abah cuci tangan dulu di pancuran."
Setelah membersihkan diri dari lumpur, Pak Rahman duduk di sebuah gubuk kecil di pinggir sawah, membuka rantang makanan yang dibawa Lisa dengan lahap. Lisa ikut duduk di samping ayahnya, memandangi hamparan sawah keluarga mereka.
"Sawahnya kenapa, Bah? Kok sepertinya Abah sibuk sekali hari ini?" tanya Lisa sembari memperhatikan tangkai-tangkai padi.
Pak Rahman mengunyah nasinya perlahan sebelum menjawab. "Itu, Nak... buah padinya sudah mulai keluar semua. Tapi di sela-selanya, banyak sekali rumput liar dan padi-padian liar yang ikut tumbuh tinggi. Jadi Abah harus mencabuti rumputnya satu per satu supaya tidak mengganggu pertumbuhan padi utama."
Lisa menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kan kalau disemprot pakai cairan pembasmi rumput bisa lebih cepat selesai, Bah. Abah tidak perlu capek-capek membungkuk seharian begitu."
Pak Rahman tersenyum tipis, ada gurat kebijaksanaan di wajah tuanya yang legam. "Harga racun rumput sekarang mahal sekali, Nak. Uangnya lebih baik kita simpan untuk keperluan yang lain, atau untuk persiapan... urusan kakakmu nanti. Jadi, selagi tenaga Abah masih kuat, biar Abah bersihkan secara manual saja."
Mendengar alasan sang ayah, Lisa meringis kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe... maaf ya, Bah. Lisa tidak tahu kalau harga racun sedang mahal."
Pak Rahman terkekeh melihat kepolosan anaknya. Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, beliau merapikan kembali rantang tersebut. "Sudah, sekarang kamu pulang saja. Tempat bekalnya tidak usah kamu tunggu, biar Abah sendiri yang bawa pulang ke rumah."
"Kalau begitu, Lisa pamit pulang dulu ya, Bah. Assalamu’alaikum," pamit Lisa sembari mencium punggung tangan ayahnya.
"Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, jangan mengebut bawa sepedanya," pesan Pak Rahman dari balik gubuk.
Dalam perjalanan pulang, Lisa justru mengayuh sepedanya dengan ritme yang jauh lebih cepat. Rasa penasarannya yang belum tuntas tentang rahasia Kak Tina di rumah Ibu Yuna tadi kembali mengusik pikirannya. Ia ingin segera sampai di rumah dan mendesak kakaknya untuk bercerita.
Namun, baru setengah jalan sepedanya melaju di dekat perbatasan desa, sebuah suara teriakan lantang yang sangat familiar tiba-tiba memanggil namanya dari arah belakang.
"Lisa! Hei, Lisa! Berhenti sebentar!"
Lisa refleks menarik tuas rem sepedanya hingga berdecit kecil di atas tanah kering. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Fandi—kakak laki-lakinya—sedang berjalan cepat ke arahnya dengan peluh yang membasahi kening.
"Tunggu sebentar, Lis!" seru Fandi setelah berhasil menyusul posisi adiknya.
"Apaan sih, Kak? Bikin kaget saja," gerutu Lisa.
Tanpa banyak bicara, Fandi langsung memegang setang sepeda jengki itu. "Sini, biar aku saja yang bawa sepedanya. Aku capek berjalan kaki dari kantor desa."
Lisa mengerutkan keningnya, menatap kakaknya dengan curiga sembari menggeser posisi duduknya ke besi boncengan belakang. "Lho, memangnya motor supra tua kita mana? Kok Kak Fandi malah jalan kaki?"
"Kamu tidak lihat tadi pagi? Motornya kan dipakai sama Abah ke sawah," sahut Fandi sembari mulai mengayuh sepeda, membonceng adik bungsunya itu dengan santai.
"Oh, iya ya... Lisa lupa," sahut Lisa cengengesan. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ngomong-ngomong, Kak Fandi tadi dipanggil buat apa ke kantor desa? Tumben sekali ikut rapat pemuda."
"Biasa, rapat rutin anak muda desa untuk persiapan agenda bulan depan," jawab Fandi pandangannya lurus ke depan jalanan.
Lisa menyipitkan matanya jahil. "Memangnya Kak Fandi pernah pergi ikut rapat-rapat seperti itu sebelum ini? Perasaan kerjaan Kakak selama inikan cuma tidur di kamar."
Fandi berdeham keras, wajahnya tampak agak kikuk. "Ngak juga sih... tapi tadi di kantor desa, situasinya agak berbeda. Di tengah rapat, aku tiba-tiba ditunjuk oleh para sesepuh untuk menjadi imam masjid desa yang baru."
"Hah? Serius?" Lisa terperanjat di boncengan belakang. "Kenapa tiba-tiba Kakak yang ditunjuk?"
"Karena Pak Sahur, imam masjid yang sekarang, kan kondisinya sudah sering sakit-sakitan dan beliau bilang sudah mau pensiun karena faktor usia. Jadi para tetua mengusulkan namaku sebagai perwakilan pemuda yang dinilai paham agama," jelas Fandi dengan nada suara yang merendah.
"Terus... Kakak terima tawaran itu?" tanya Lisa penasaran.
"Masih belum aku jawab pasti, Lis. Masih aku pikir-pikir dulu di dalam hati. Menjadi imam masjid itu tanggung jawabnya besar di hadapan Allah," tutur Fandi jujur.
Lisa terdiam sejenak, namun jiwa usilnya tidak bisa ditahan lebih lama lagi. Sebuah senyuman jahil kembali merekah di wajahnya. "Baguslah kalau Kak Fandi memang belum menerimanya secara langsung."
Fandi mengernyitkan alisnya, melirik adiknya dari balik bahu. "Memangnya kenapa? Bukannya bagus kalau saudaramu ini jadi imam masjid?"
"Iya bagus sih... tapi masalahnya, nanti kalau Kak Fandi yang benar-benar berdiri jadi imam di depan, para warga desa bisa-bisa ngak ada yang datang ke masjid karena tidak tahan dengan suaramu, hahaha!" Lisa meledakkan tawanya sendiri, merasa sangat terhibur dengan candaan konyol yang baru saja ia lontarkan untuk menjatuhkan mental kakaknya.
"Sok tahu kamu, ya! Kecil-kecil bicaranya sudah ngawur!" balas Fandi gemas sembari sengaja menggoyangkan setang sepedanya ke kanan dan ke kiri untuk menakut-nakuti adiknya.
"Aaa! Kak Fandi jangan dilempar sepedanya! Jatuh nanti!" teriak Lisa sembari memukul punggung Fandi dengan tawa yang masih tersisa.
"Hei, Fandi! Lisa!"
Sebuah teriakan lantang bernada ramah tiba-tiba menghentikan aksi kejar-kejaran verbal kedua bersaudara itu. Tanpa mereka sadari, roda sepeda jengki mereka rupanya sudah berputar tepat di depan pekarangan rumah Ibu Yuna. Fandi pun refleks menarik rem dan menghentikan laju sepedanya di pinggir jalan.
Lisa yang duduk di belakang langsung mengedarkan pandangan matanya ke bawah pohon mangga seberang jalan. Ia menyadari satu hal: mobil sedan hitam mewah milik Andry yang beberapa waktu lalu terparkir di sana kini sudah tidak ada lagi di tempatnya. Pekarangan itu sudah sepi.
Ibu Yuna tampak berdiri di tepi pagar teras rumah panggungnya, menatap kedua keponakan jauhnya itu dengan senyuman yang sangat lebar dan binar mata yang penuh rahasia.
"Ada apa, Bu?" tanya Fandi sopan dari atas sepeda.
Ibu Yuna tidak langsung menjawab pertanyaan Fandi. Pandangan matanya justru beralih menatap Lisa yang sedang memperhatikan halaman rumahnya, lalu wanita paruh baya itu berseru dengan nada yang sarat akan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
"Itu... tolong sampaikan ke kakakmu, si Tina. Katakan padanya... insya Allah hari Kamis!" seru Ibu Yuna setengah berteriak dari atas teras.
Fandi yang tidak tahu-menahu tentang drama sepertiga malam dan pertemuan di teras tadi pagi, seketika melongo bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ada apa dengan hari Kamis?
Ibu Yuna terkekeh renyah melihat ekspresi kebingungan di wajah Fandi. Ia mengibaskan tangannya perlahan sembari berbalik arah untuk masuk ke dalam rumah. "Sudah, tidak usah banyak tanya kamu, Fandi! Bilang saja begitu ke Tina. Sampaikan persis seperti yang Tante bilang tadi. Kakakmu itu pasti langsung mengerti apa maksudnya!"
Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Ibu Yuna menghilang di balik tirai pintu rumahnya, meninggalkan Fandi yang masih mematung bingung di atas sepeda, sementara Lisa di belakangnya sudah mulai tersenyum penuh arti, perlahan memahami bahwa sebuah hari besar untuk keluarga mereka kini sudah resmi ditetapkan.