NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. Harga diri yang terbakar

Laki-laki yang sedang berdiri di hadapan Kiera malam itu bukan sekadar rekan kerja biasa. Namanya Zidan, seorang senior dari divisi pemasaran. Bagi Kiera, kehadiran Zidan di Yudhistira Tower selalu berhasil memicu debaran halus di dadanya—sebuah perasaan lama yang sudah tersimpan rapi sejak masa-masa kuliah mereka dulu.

Zidan adalah kakak tingkat yang paling dekat dengannya saat di kampus. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, berbagi cerita tentang mimpi masa depan, dan Zidan selalu menjadi tempat bersandar yang nyaman bagi Kiera. Namun, sedekat apa pun interaksi mereka selama bertahun-tahun, Zidan tidak pernah sekali pun melontarkan kata-kata untuk mengajak Kiera berpacaran. Hubungan mereka menggantung di zona abu-abu yang tak pasti.

Meski begitu, harapan kecil itu tidak pernah benar-benar padam dalam hati Kiera. Setiap kali melihat senyuman hangat Zidan, atau perhatian-perhatian kecil yang pria itu tunjukkan seperti malam ini, Kiera selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Zidan hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Ia sangat yakin, suatu saat nanti, Zidan akan melangkah maju dan mengajaknya menjalin hubungan yang lebih serius.

"Kamu makin sibuk ya sekarang sejak ditarik ke lantai dua puluh, Kiera," ucap Zidan sembari tersenyum ramah, memandangi wajah Kiera dengan tatapan teduh yang selalu berhasil membuat Kiera luluh.

"Ah, tidak juga kok, Kak Zidan. Hanya penyesuaian jadwal saja dengan atasan baru," jawab Kiera santai. Tawa renyah dan lepas langsung mengalir begitu saja dari bibirnya saat Zidan mulai menceritakan kembali lelucon konyol zaman kuliah mereka. Kiera merasa begitu bebas, tanpa perlu memasang topeng elegan atau bersiap adu argumen seperti saat ia berada di dekat bos tirannya.

Namun, Kiera sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakang mereka, atmosfer lobi utama Yudhistira Tower mendadak turun drastis hingga ke titik beku.

Arsenio Yudhistira berdiri kaku dengan rahang yang mengeras sempurna. Sinar matanya yang tajam bak belati menghunjam langsung ke arah punggung Zidan, seolah siap menguliti hidup-hidup pria mana pun yang berani membuat asisten pribadinya tertawa sebahagia itu.

Rasa panas yang menjalar di hati Arsenio kini berubah menjadi letupan amarah yang sangat pekat. Ego agung seorang CEO tiran dan kepribadiannya yang gila kontrol seketika berontak hebat melihat fokus Kiera teralih total pada laki-laki lain. Baginya, pemandangan itu adalah sebuah penghinaan langsung terhadap eksistensinya yang selama ini selalu menjadi pusat semesta di lantai dua puluh.

*“Berani-beraninya dia mengabaikan saya demi pegawai kelas teri seperti itu?!”* geram Arsenio dalam hati, napasnya memburu tertahan.

Dengan langkah tegap yang sengaja dihentakkan keras ke atas lantai marmer, Arsenio berjalan menghampiri mereka berdua. Aura dominasi absolutnya yang pekat langsung memancar, membuat beberapa staf di sekitar lobi otomatis menunduk ketakutan saat sang CEO lewat.

"Kiera Anandita," panggil Arsenio dengan suara baritonnya yang sangat dingin, berat, dan sarat akan penekanan mutlak.

Suara yang sangat familier itu seketika memutus tawa renyah Kiera. Kiera dan Zidan serempak menoleh. Begitu melihat Arsenio berdiri tegak di hadapan mereka dengan wajah super ketus dan tatapan mata yang siap membunuh, Kiera langsung merubah posisinya menjadi formal.

"Eh, iya, Selamat sore, Pak Arsenio," ucap Kiera, kembali memasang pembawaan anggun dan sopan yang elegan di depan umum.

Zidan yang menyadari tatapan penuh permusuhan dari sang pucuk pimpinan tertinggi langsung membungkuk hormat dengan canggung. "Selamat sore, Pak Arsenio."

Arsenio sama sekali tidak sudi menatap atau membalas sapaan Zidan. Ia mengabaikan pria itu sepenuhnya, menganggapnya tak lebih dari sebutir debu di lobi kantornya. Fokus matanya terkunci rapat pada Kiera, menuntut penjelasan atas senyum tulus yang baru saja ia saksikan.

"Jam kerja kamu memang sudah selesai, Kiera. Tapi bukan berarti kamu bisa menggunakan fasilitas lobi perusahaan untuk urusan tidak penting yang merusak pemandangan," ucap Arsenio dengan kalimat sarkasnya yang tajam, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang terbakar cemburu di balik topeng ketegasan seorang bos.

Kiera tertegun, mengerutkan keningnya halus melihat tingkah aneh Arsenio yang mendadak tantrum tanpa alasan jelas di lantai dasar. "Maaf, Pak Arsenio. Saya hanya sedang menyapa senior saya saat kuliah dulu."

"Saya tidak peduli dia senior atau siapa pun kamu," potong Arsenio cepat, suaranya meninggi satu oktav karena rasa tidak terima yang kian bergejolak di dadanya saat mendengarkan Kiera membela pria lain. "Masuk ke mobil saya sekarang. Ada dokumen evaluasi kerja sama properti yang harus kamu tinjau ulang di jalan. Sekarang."

Zidan hanya bisa terdiam dengan dahi mengernyit bingung, merasakan ketegangan yang luar biasa intim sekaligus berbahaya di antara atasan dan bawahan tersebut. Sementara Kiera, ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menatap Zidan dengan pandangan tidak enak sebelum akhirnya melangkah mengekor di belakang punggung tegap Arsenio yang berjalan cepat ke arah pintu keluar dengan tangan yang masih mengepal emosi di dalam saku celananya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!