Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Perspektif Baru dan Tawaran Tak Terduga
Theo mendengarkan cerita Jhonatan dengan saksama. Ia mencoba mencerna informasi yang diberikan, memikirkan implikasinya dari sudut pandang seorang calon pebisnis muda. Meskipun usianya masih belia, ia memiliki pemikiran yang analitis dan terkadang bisa melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
"Begitu ya," Theo bergumam pelan, sambil memutar-mutar cangkir kopinya. Ia memikirkan alasan Sofie yang teguh pada pendiriannya. Di satu sisi, ia bisa memahami frustrasi Jhonatan sebagai seorang investor yang melihat potensi bisnis terhambat. Namun, di sisi lain, ia juga bisa merasakan empati terhadap Sofie.
"Begini saja," kata Theo tiba-tiba, matanya berbinar dengan ide. "Apa kalian sudah melakukan survei lokasi secara langsung? Maksudku, apa kalian sudah melihat secara detail kondisi di sana, termasuk rumah-rumah warga yang dimaksud?"
Jhonatan sedikit terkejut dengan pertanyaan Theo. Ia tidak menyangka Theo akan berpikir sejauh itu. "Belum sepenuhnya," jawab Jhonatan jujur. "Aku sudah melihat beberapa foto dan laporan, tapi belum benar-benar turun ke lapangan secara mendalam. Sofie memang pernah mengajakku untuk melihatnya, tapi aku selalu punya alasan untuk menunda." Ia tertawa kecil, mengakui bahwa ia memang cenderung menghindari konfrontasi langsung dengan Sofie mengenai masalah ini.
"Nah, kalau begitu," Theo melanjutkan, semangatnya semakin membuncah. "Mungkin ada baiknya kau pergi melihatnya langsung. Terkadang, melihat secara langsung bisa memberikan perspektif yang berbeda. Kau bisa melihat kondisi warga, memahami kekhawatiran mereka, dan mungkin menemukan solusi yang lebih baik."
Jhonatan terdiam sejenak, merenungkan perkataan Theo. Ia menyadari bahwa Theo, meskipun lebih muda, memiliki pandangan yang matang. "Kau benar, Theo," katanya akhirnya. "Mungkin aku terlalu fokus pada aspek bisnisnya saja."
Ia kemudian tersenyum pada Theo. "Kalau begitu, bagaimana kalau besok kau ikut denganku? Aku akan mengajak Sofie Untuk melihat lokasi proyek bersama. Dengan begitu, kau juga bisa melihat langsung situasinya, dan mungkin kita bisa menemukan cara untuk meyakinkan Sofie, atau setidaknya memahami sudut pandangnya lebih baik."
Theo merasa sedikit gugup. Ia belum pernah terlibat langsung dalam urusan bisnis sebesar ini. Namun, rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya. Ia ingin melihat bagaimana Sofie, seorang CEO yang memiliki prinsip kuat, menangani masalah seperti ini. Ia juga ingin melihat bagaimana Jhonatan, yang ia tahu adalah seorang pebisnis ulung, menghadapi tantangan tersebut. "Baiklah, aku ikut," jawab Theo mantap. "Tapi aku hanya akan melihat dan belajar saja, ya. Aku tidak bisa menjamin bisa memberikan solusi."
Jhonatan tertawa lega. "Tentu saja, Theo. Kehadiranmu saja sudah cukup berarti bagiku. Siapa tahu, dengan pandangan segar darimu, kita bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan."
Keesokan harinya, Theo bersiap-siap untuk pertemuan yang dijanjikan. Ia mengenakan pakaian yang rapi namun kasual, berusaha untuk terlihat profesional namun tetap santai. Jhonatan menjemputnya pagi-pagi sekali. Di dalam mobil, suasana terasa sedikit tegang. Jhonatan terlihat sedikit gelisah, sementara Theo mencoba untuk tetap tenang dan mengamati sekeliling.
Mereka tiba di sebuah lokasi yang cukup luas, di pinggiran kota. Di sana sudah menunggu Sofie, CEO PT Alta. Theo terkesiap melihatnya. Jhonatan benar, Sofie memang sangat cantik. Ia memiliki aura yang kuat, namun di balik itu,
Theo terkesiap melihat Sofie. Jhonatan benar, wanita itu memang luar biasa cantik. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang tergerai indah, kulitnya putih bersih, dan tubuhnya proporsional layaknya seorang model. Tingginya pun hampir sama dengan Jhonatan, memberikan kesan anggun dan berwibawa. Bagi Theo, Sofie benar-benar tampak seperti bidadari yang turun ke bumi.
Saat Jhonatan dan Theo tiba di lokasi, Sofie sudah menunggu mereka di sana. Ia menghampiri Jhonatan dengan senyum tipis, namun pandangannya langsung tertuju pada Theo yang berdiri di samping Jhonatan.
"Jhon, siapa yang kau ajak?" bisik Sofie ke Jhonatan, nadanya terdengar sedikit penasaran bercampur waspada. Ia tidak menduga Jhonatan akan membawa orang lain, apalagi seseorang yang begitu muda.
Jhonatan tersenyum, berusaha meredakan kecanggungan. "Ah, dia adikku," jawab Jhonatan santai, meskipun ia tahu Theo bukanlah adiknya. Ia sengaja mengatakan itu untuk membuat Theo merasa lebih nyaman dan agar Sofie tidak terlalu curiga.
Sofie menatap Theo sejenak, ekspresinya sulit ditebak. Ia mengamati Theo dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah sedang menilai. Theo merasa sedikit tidak nyaman di bawah tatapan Sofie, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menunjukkan sikap yang sopan. Ia tahu bahwa ia hanyalah seorang 'adik' Jhonatan yang diajak untuk melihat lokasi proyek, jadi ia harus bersikap layaknya demikian.
"Oh, adikmu," ucap Sofie, nadanya sedikit datar. Ia kemudian beralih menatap Jhonatan. "Baiklah, mari kita lihat lokasinya."
Mereka bertiga kemudian mulai berjalan menyusuri area yang rencananya akan dijadikan taman hijau. Jhonatan berusaha menjelaskan potensi bisnis dan keuntungan dari proyek tersebut, sementara Sofie lebih banyak diam, mengamati sekeliling dengan seksama.
...****************...
Sesekali menunjuk ke arah tertentu dan memberikan penjelasan singkat tentang kondisi tanah atau potensi pengembangan. Theo, di sisi lain, mencoba menyerap semua informasi yang ia bisa, mengamati interaksi antara Jhonatan dan Sofie, serta memperhatikan detail-detail di sekitarnya.
Perjalanan mereka membawa mereka ke sebuah lapangan luas yang terletak di tengah-tengah area tersebut. Di sana, sekelompok anak-anak tampak sedang bermain dan berlarian dengan ceria. Tawa riang mereka menggema di udara, menciptakan suasana yang hidup dan penuh kebahagiaan. Beberapa anak terlihat sedang bermain bola, sementara yang lain sekadar berlarian mengejar satu sama lain.
Sofie berhenti sejenak, pandangannya tertuju pada anak-anak yang sedang bermain itu. Senyum lembut tersungging di bibirnya. "Nah, inilah alasanku untuk tidak menggusur tempat ini," katanya dengan suara yang tenang namun tegas, ditujukan kepada Jhonatan.
Jhonatan hendak segera membantah, mulutnya sudah terbuka untuk menyampaikan argumen bisnisnya tentang pentingnya lokasi tersebut dan bagaimana kompensasi bisa diberikan. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Theo menahan tangannya dengan isyarat. Theo mengangguk kecil ke arah Sofie, seolah menyetujui perkataannya, dan kemudian menatap Jhonatan, memberikan isyarat agar ia bersabar dan mendengarkan. Theo sendiri juga terkesan dengan pemandangan di depannya. Ia melihat bukan hanya sekadar tanah kosong, tetapi sebuah ruang hidup yang penting bagi komunitas di sekitarnya.
Sofie tersenyum lembut, pandangannya masih tertuju pada anak-anak yang bermain. Ia kemudian melanjutkan perkataannya, nadanya penuh keyakinan dan kehangatan.
"Lihat mereka, Jhon," kata Sofie, menunjuk ke arah anak-anak yang sedang tertawa riang. "Tempat ini bukan hanya sekadar tanah kosong bagi mereka. Ini adalah tempat mereka berlarian, bermain, berteman, dan tumbuh. Ini adalah bagian dari masa kecil mereka, bagian dari ingatan mereka."
Ia berhenti sejenak, membiarkan Jhonatan dan Theo meresapi kata-katanya. "Jika kita menggusur tempat ini, di mana mereka akan bermain? Di mana mereka akan menemukan kebahagiaan sederhana seperti ini? Proyek taman hijau memang penting, aku setuju. Tapi apakah kita harus mengorbankan kebahagiaan dan masa depan anak-anak ini demi sebuah proyek?"
Sofie menoleh ke arah Jhonatan, matanya menatap lurus. "Aku tahu kau melihat ini dari sudut pandang bisnis, Jhon. Dan aku menghargai itu. Tapi sebagai CEO, aku juga punya tanggung jawab moral. Aku tidak bisa mengabaikan aspek kemanusiaan hanya demi keuntungan semata. Ada nilai yang lebih berharga dari sekadar uang, dan kebahagiaan anak-anak ini adalah salah satunya."
Theo mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mengagumi cara Sofie menyampaikan argumennya. Tidak ada nada menggurui, hanya penjelasan yang tulus dan penuh empati. Ia bisa melihat mengapa Jhonatan begitu terkesan dengan Sofie, bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena keteguhan prinsip dan kepeduliannya.
Jhonatan terdiam, ia tidak bisa membantah argumen Sofie. Ia melihat sendiri bagaimana anak-anak itu bermain, betapa polosnya kebahagiaan mereka. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kembali pandangannya tentang proyek ini.
...****************...
Saat mereka kembali menuju mobil, Theo membisikkan ide kepada Jhonatan. "Kak Jhon, bagaimana kalau kita bicara lagi nanti? Mungkin di kafe, atau di kantor Kak Sofie saja. Aku punya sedikit pemikiran tentang ini."
Jhonatan menatap Theo, sedikit terkejut namun juga tertarik. Ia mengangguk setuju. "Ide bagus, Theo. Aku akan tanyakan pada Sofie."
Jhonatan kemudian menghampiri Sofie yang sedang berdiri di dekat mobilnya. "Sofie, bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi ini di kafe saja? Aku rasa kita perlu membahas ini lebih dalam lagi."
Sofie tampak berpikir sejenak, lalu ia mengangguk. "Baiklah, Jhon. Aku setuju. Ada kafe yang kau rekomendasikan?"
"Ada satu kafe yang cukup nyaman di dekat sini," jawab Jhonatan. "Bagaimana kalau kita ke sana?"
Sofie setuju. Mereka pun menuju kafe yang dimaksud. Suasana di kafe lebih tenang dibandingkan lokasi proyek tadi. Setelah memesan minuman, mereka duduk di sudut yang agak terpencil.
Theo, yang duduk di antara Jhonatan dan Sofie, merasa sedikit gugup. Ia masih seorang anak SMP, dan kini ia akan berbicara di hadapan dua CEO yang berpengalaman. Namun, ia teringat akan tekadnya untuk belajar dan berkontribusi. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Ehem," Theo memulai, suaranya sedikit bergetar. "Kak Sofie, Kak Jhonatan. Bukan maksudku menggurui, karena aku masih anak SMP dan ilmunya belum seberapa." Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "Tapi bagaimana kalau kita ubah saja konsep proyeknya? Bukan hanya sekadar taman hijau, tapi menjadi 'ruang lingkup hijau'?"
Sofie mengangkat alisnya, tatapan matanya berubah menjadi sedikit meremehkan. Ia hendak membantah, mungkin menganggap ide seorang anak SMP terlalu naif untuk urusan bisnis sebesar ini.
...****************...
Sofie mengangkat alisnya, tatapan matanya berubah menjadi sedikit meremehkan. Ia hendak membantah, mungkin menganggap ide seorang anak SMP terlalu naif untuk urusan bisnis sebesar ini. Namun, Jhonatan dengan cepat menghentikannya dengan isyarat. Ia menatap Theo dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu, memberi isyarat agar Theo melanjutkan.
Theo sedikit ragu melihat ekspresi Sofie, namun ia melihat dukungan di mata Jhonatan. Ia menarik napas dalam dan melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih mantap.
"Maksudku," Theo menjelaskan, "kita tidak perlu menggusur tanah milik warga. Kita bisa mengubah konsepnya. Alih-alih membuat taman hijau yang luas di atas lahan yang mungkin harus kita ambil paksa, bagaimana kalau kita fokus pada pengembangan 'kampung hijau'?"
Ia menarik napas lagi, mencoba menjelaskan idenya dengan lebih rinci. "Kita bisa bekerja sama dengan warga. PT Alta bisa memberikan pelatihan, bibit tanaman, dan dukungan teknis untuk mengubah halaman rumah mereka menjadi lebih hijau. Kita bisa adakan lomba kampung terhijau, atau program apresiasi bagi warga yang paling aktif. Jadi, kita tetap bisa mewujudkan konsep 'go green' dan 'ruang hidup' tanpa harus menggusur siapa pun. Warga pun akan merasa dilibatkan dan memiliki kebanggaan."
Theo menatap Sofie dan Jhonatan bergantian, berharap idenya bisa diterima. Ia tahu ini mungkin terdengar sederhana bagi mereka, namun ia percaya bahwa solusi yang melibatkan komunitas seringkali lebih berkelanjutan dan memiliki dampak positif yang lebih luas.
Jhonatan mendengarkan dengan saksama, matanya menunjukkan ketertarikan. Ia melihat potensi dalam ide Theo. Ini adalah pendekatan yang berbeda, yang bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih harmonis.
Sofie, yang tadinya menunjukkan ekspresi meremehkan, kini mulai terlihat tertarik. Ia memandang Theo dengan pandangan yang berbeda. Ide 'kampung hijau' ini terdengar lebih masuk akal dan sejalan dengan moto PT Alta. Ia melihat bahwa meskipun masih muda,
...****************...
Sofie mendengarkan penjelasan Theo tentang "kampung hijau" dengan saksama. Ekspresi meremehkan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan dahi yang menunjukkan ia sedang berpikir keras. Ia memandang Theo dengan pandangan yang berbeda sekarang, tidak lagi melihatnya sebagai anak SMP biasa, melainkan sebagai seseorang yang mampu memberikan perspektif baru.
"Menarik," kata Sofie, nadanya kini lebih serius. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memandang Theo dengan tatapan yang lebih dalam. "Tapi bagaimana dengan keuntungan bisnisnya, Theo? Kita tidak bisa hanya mengandalkan program sosial. PT Alta tetap harus mendapatkan keuntungan dari proyek ini."
Theo mengangguk, ia sudah menduga pertanyaan itu akan datang. Ia sudah memikirkan hal ini sejak awal. "Tentu saja, Kak Sofie," jawab Theo. "Aku sudah mengamati peta lokasi tadi. Ada satu area di pinggiran sana yang sepertinya agak terabaikan. Mungkin tanahnya sedikit berbeda, atau lokasinya kurang strategis untuk taman hijau utama."
Ia kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya berbinar penuh semangat. "Bagaimana kalau kita manfaatkan area tersebut untuk membangun sesuatu? Misalnya, penginapan atau hotel kecil. Konsepnya bisa dibuat menyatu dengan alam, mungkin dengan desain rumah pohon atau bungalow yang ramah lingkungan. Ini bisa menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan hijau yang kami ciptakan."
Theo melanjutkan, "Dengan begitu, PT Alta tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sektor pariwisata, sementara warga juga mendapatkan manfaat dari program kampung hijau. Kita bisa menciptakan sebuah ekosistem yang saling menguntungkan."
Jhonatan mendengarkan ide Theo dengan penuh perhatian. Ia melihat potensi besar dalam usulan ini. Menggabungkan konsep kampung hijau dengan pengembangan pariwisata bisa menjadi strategi yang sangat cerdas. Ini tidak hanya akan memberikan keuntungan finansial, tetapi juga meningkatkan citra PT Alta sebagai perusahaan yang peduli lingkungan dan komunitas.