Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Clara saya tidak bermaksud," Zidan mendekati Clara dan hendak memegang bibir Clara yang luka.
Namun dengan cepat Clara menghindari nya dengan tatapan tak suka.
"Udah ya pak, jangan pegang-pegang saya lagi, bapak sendiri yang bicara seolah semua itu nggak bakal terjadi tapi bapak seagresif itu," ungkap Clara yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Zidan.
Ia naik ke ranjang nya dan kemudian menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.
Bagi Clara ini hal yang tidak bisa ia terima karena Zidan sendiri sudah berkata kalau tidak akan pernah menyentuh nya, ia yang belum pernah merasakan hal ini juga jadi sangat kaget dan tidak bisa menerima nya, meskipun sudah menikah pikiran Clara tetap lah masih sangat ke kanak-kanakan, karena biar bagaimanapun usianya baru saja sembilan belas tahun dan pernikahan mereka juga bukan di adakan berdasarkan cinta.
Malam itu sulit bagi Zidan maupun Clara untuk memejamkan mata, keduanya sama-sama berfikir keras tentang kejadian tadi.
"Ini namanya memeprkosa nggak sih?" tanya Clara dalam hatinya sendiri.
"Kenapa aku jadi sangat buas dengan nya? Kenapa bibir nya sangat menggoda? Kenapa dia harus membuat aku mengila?" itulah yang ada di benak Zidan.
Keesokan harinya,
"Ma, pa, Clara pulang dulu ya," pamit Clara kepada mama dan papa nya.
"Iya sayang, hati-hati ya," kata sang mama sambil memeluk Clara.
"Iya ma, jaga diri baik-baik ya," ungkap Clara sambil tersenyum tipis.
"Iya kamu tenang saja, kan ada papa yang selalu menjaga mama," ungkap Ferguson kepada sang anak.
"Alah papa mah sibuk sama pekerjaan Mulu," kata Clara lagi.
"Ma, pa, kami pamit pulang," kata Zidan dengan wajah datar nya tanpa senyuman sedikit pun.
"Iya Zidan tolong jaga Clara dengan baik dan hati-hati mengemudi," kata mama Reina.
Setelah selesai berpamitan dengan kedua orang tua nya Clara dan Zidan pun masuk ke mobil dan melaju kembali ke villa.
"Pa, menurut papa bibir nya Clara itu benar kena kuku nya dong?" tanya mama Reina lagi.
"Menurut mama benar atau tidak? Ah sudahlah jangan di pikirkan lagi, papa malah aneh kenapa ya, Zidan sangat irit dengan senyuman nya," ungkap Ferguson yang masing-masing dari mereka punya pertanyaan yang berbeda-beda.
"Ah sudahlah lah, dia kan memang seperti itu, watak tegas dan berwibawa," kata mama Reina lagi.
"Hmm iya juga ya," kata papa Ferguson.
Flashback on,
Pagi itu setelah bersiap-siap untuk kembali ke villa, Clara turun untuk sarapan bersama dengan mama dan papa nya, di sana juga sudah ada Zidan yang menunggu.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Reina kepada Clara.
"Ngak Apa-apa kok ma," jawab Clara singkat dan kemudian duduk di sebelah sang mama.
"Loh Clara bibir kamu luka, kenapa?" tanya sang papa yang berhasil membuat Clara terdiam dan melirik ke arah Zidan sejenak lalu kembali melirik papa nya.
"Ini tadi malam gatal pa, jadi Clara garuk deh, dan Clara lupa kalau Clara kuku nya panjang jadi luka, kayaknya kamar udah lama gak di tempatin jadi banyak serangannya," jelas Clara dengan senyum tipis nya.
"Ah begitu, nanti papa suruh bibi untuk lebih membersihkan kamar kamu ya," kata sang papa lagi.
"Yasudah ayo cepat makan, keburu dingin," kata mama Reina yang kemudian menyiapkan makanan nya.
Flashback off.
Di dalam mobil kini hanya ada keheningan, baik Zidan maupun Clara mereka tidak berniat untuk saling bicara, sedari tadi juga Clara selalu mengalihkan pandangannya agar tidak melihat ke arah Zidan.
Sementara Zidan memfokuskan dirinya dengan menteri mobil.
Lima menit kemudian ...
"Kamu beneran tidak mau liburan?" ujar Zidan yang akhirnya memberanikan diri untuk memecahkan keheningan tersebut.
"Ngak," jawab Clara singkat padat jelas.
Setelah mendapat jawaban dari Clara Zidan pun tak bicara lagi, ia memutuskan untuk kembali fokus.
"Apa-apaan sih dia? Udah nanya gitu, udah di jawab jugak kok malah diem lagi," entah kenapa Clara jadi sekesal itu karena Zidan kembali diam.
Dua jam pun berlalu, kini mereka akhirnya tiba di villa, Clara yang tadi malam tidak bisa tidur malah ketiduran di dalam mobil.
"Huh, kebiasaan selalu tidur di dalam mobil," kata Zidan yang kemudian membuka pintu lalu keluar dan kemudian memutari mobil lalu membuka pintu tempat Clara bersandar.
Untungnya Clara masih mengunakan sabuk pengaman, Zidan dengan pelan mengendong Clara keluar dari mobil untuk membawa nya masuk ke dalam rumah.
Namun sayangnya tiba-tiba Clara membuka mata nya dan melihat kalau dirinya sedang di gendong oleh Zidan.
"Mau ngapain pak? Lepasin saya!" ungkap Clara yang kemudian memberontak.
Seketika Zidan pun melepaskan Clara karena tidak ingin dia marah lagi.
"Bapak mau mesum lagi ya sama saya?" Clara menuding Zidan dengan telujuk nya.
"Yang sopan ya kamu, saya hanya ingin membawa kamu karena kamu sedang tidur," kata Zidan memegang telujuk Clara.
"Apaan sih sok baik, kan bapak bisa bangunin saya," kata Clara mengomel.
Sementara Zidan tak lagi mempedulikan nya dan memiliki untuk pergi masuk ke dalam villa terlebih dahulu.
"Punya istri benar-benar tidak enak," ucap nya sambil berjalan masuk dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana.
"Arghhh, ngeselin banget!" ungkap Clara yang kemudian berjalan cepat masuk ke dalam villa.
Suasana liburan kali ini benar-benar membuat Clara sangat bosan karena hanya stay di villa saja, sementara sang sahabat sudah berangkat liburan ke Eropa bersama keluarga nya.
"Andaikan gue juga bisa liburan gue pengen ke Paris," kata Clara sambil menatap ponselnya dengan tatapan sendu.
Apalah daya sekarang situasinya sudah beberapa.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar suara ketukan di luar pintu kamar Clara.
Sudah pasti itu adalah Zidan, karena di villa hanya ada mereka berdua saja.
Clara pun berjalan mendekati pintu dan kemudian membuka nya.
Namun ia sedikit kaget karena Zidan yang berpakaian serba panjang dan juga membawa beberapa peralatan di tangan nya.
"Saya mau ke taman belakang, kamu cepat siap-siap ada yang harus kamu lakukan dengan saya di sana," kata Zidan kepada Clara.
"Ngak, malas," ungkap Clara hendak menutup pintu tersebut.
"Tidak boleh, ini adalah bagian dari pendisiplinan kamu," jawab Zidan lagi.
"Arghhh, yaudah pergi duluan nanti saya nyusul," kata Clara yang kemudian menutup kembali pintu kamar nya.
Zidan pun segera pergi dari sana dan menuju taman belakang, entah apa yang hendak dia lakukan kali ini.
Clara segera mengunakan pakaian biasa nya dan kemudian berjalan pergi menyusul Zidan ke taman belakang dalam sepuluh menit berikutnya ia pun telah tiba.
Bersambung....