NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

(Flashback H-15 sebelum pernikahan)

Siang ini, suasana di rumah terasa sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada yang benar-benar berubah secara kasat mata—cahaya matahari tetap masuk melalui jendela besar di ruang keluarga, aroma teh hangat masih memenuhi udara, dan suara langkah kaki pelayan terdengar samar di kejauhan. Namun ada sesuatu dalam cara Ayah dan Ibu duduk berhadapan di ruang tengah yang membuatku tahu, bahwa ini bukanlah percakapan biasa.

Aku baru saja menuruni tangga ketika Ibu menoleh ke arahku. Sementara Ayah kulihat sedang duduk dan fokus pada layar ponselnya yang menyala terang. Ia tampak sedang melihat sesuatu dengan serius.

“Kau sudah bangun?” tanya Ayah.

Aku mengangguk kecil. “Ya. Ada apa, Ayah?”

Ayah tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponsel itu beberapa detik, sebelum akhirnya berkata, “Keluarga Roux mengundang kita malam ini.”

Aku pun terdiam. Fakta bahwa keluarga Roux mengundang kami untuk datang malam ini jelas bukanlah sebuah undangan biasa. Itu jelas bukan sekadar kunjungan, dan bukan juga sekadar makan malam. Aku tahu itu bahkan sebelum mereka menjelaskannya.

“Untuk membahas pertunangan,” lanjut Ayah pelan. “Dan… rencana pernikahan.”

Kalimat itu jatuh begitu saja dengan tenang dan teratur. Seolah semuanya memang sudah berjalan sesuai jalurnya. Namun di dalam diriku, ada sesuatu yang tidak bergerak.

'Mereka tidak lagi membicarakan kemungkinan…' batinku. '…mereka ingin membicarakan kepastian.'

Aku tidak langsung menjawab, dan tidak juga menolak. Aku hanya berdiri di sana, sembari mencoba memahami perasaan yang seharusnya muncul tapi tidak benar-benar datang.

“Kau tidak keberatan?” tanya Ibu hati-hati.

Aku menggeleng pelan. “Aku akan datang.” jawabku dengan yakin. Dan itu sepertinya sudah cukup untuk mereka. Namun tidak untuk diriku sendiri.

Rumah keluarga Roux malam ini tidak seramai saat pesta beberapa hari lalu. Tidak ada musik keras atau tawa yang berbaur tanpa jeda. Namun suasananya tetap hidup, dengan lampu-lampu hangat menyala lembut, menciptakan bayangan yang tenang di setiap sudut ruangan.

Malam ini, kami datang berempat. Aku, Ayah, Ibu dan Jake. Dan begitu kami tiba di kediaman rumah mereka, kami langsung disambut seperti biasa, dengan hangat, tulus, dan tanpa jarak.

Sarah adalah orang pertama yang mendekat. Ia tersenyum begitu melihatku, lalu menggenggam tanganku seolah kehadiranku benar-benar berarti baginya. “Hazel,” ucapnya pelan. “Aku senang kau datang.”

Aku membalas senyumnya. “Terima kasih sudah mengundang kami.”

Rowan menyusul di belakangnya, menyapa Ayah dan Ibu dengan ramah, lalu menepuk bahu Jake dengan akrab. Semuanya terasa begitu normal, bahkan terlalu normal. Dan mungkin itulah yang membuatku sedikit tidak nyaman. Karena di tengah semua kehangatan ini, ada satu hal yang tetap tidak berubah, yaitu perasaan Mason terhadapku.

Aku mencarinya, dan hanya dalam hitungan detik, aku sudah menemukannya. Mason berdiri tidak jauh dari ruang utama, mengenakan setelan gelap seperti biasanya. Ia tidak terlihat terganggu, dan tidak juga terlihat antusias. Ia hanya ada di sana dengan sikapnya yang tidak terbaca seperti biasa. Dan ketika tatapan kami bertemu, tidak ada keterkejutan di wajahnya—tidak ada perubahan sedikitpun di sana.

“Kau datang lagi,” katanya lirih dengan nada datar saat aku mendekat.

“Sarah mengundangku,” jawabku.

“Itu pilihanmu.” jawabnya singkat. Jawabannya terdengar sederhana dan netral. Namun cukup untuk mengingatkanku bahwa kehadiranku tidak pernah benar-benar ia harapkan.

Kami duduk bersama di ruang utama beberapa saat kemudian. Dan pembicaraan pun dimulai dengan hal-hal ringan, sebelum akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

Rowan membuka percakapan itu. “Kami berpikir pertunangan bisa dilakukan dalam beberapa minggu ke depan,” katanya dengan nada tenang. “Dan pernikahan… sekitar dua bulan setelahnya.”

Aku menatap meja di depanku, namun setiap kata yang Rowan ucapkan tidak ada satupun yang terdengar mengejutkan. Karena semuanya memang sudah terasa seperti ini sejak awal. Ibu tampak mengangguk pelan, Ayah terlihat setuju, dan Sarah tersenyum kecil, seolah semuanya berjalan sesuai harapannya. Sementara aku hanya diam—sesekali mengangkat kepala, dan sesekali tersenyum.

'Semua orang terlihat yakin…' batinku. '…kecuali orang yang seharusnya paling penting.'

Aku menoleh sedikit, ke arah Mason yang duduk di sebelahku. Ia tampak diam, tidak menolak, dan juga tidak menyetujui. Ia hanya membiarkan semua itu terjadi, seolah keputusan tentang hidupnya bukan sesuatu yang perlu ia tanggapi. Dan entah mengapa, itu terasa lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.

Sementara itu, Jennifer berada di dekatnya sepanjang waktu. Ia menyentuh lengan Mason dengan ringan saat berbicara, mengambilkan minuman tanpa diminta, dan berbicara dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

“Kau tidak perlu memikirkan semuanya sekarang,” katanya lembut. “Biarkan saja mereka yang mengatur.” lanjutnya. Suaranya terdengar lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Saat ini sikapnya terlihat wajar, sebagai seorang adik yang ingin melindungi kakaknya. Dan mungkin memang itu adanya.

'…ia hanya melindunginya,' batinku. '…karena ia tahu Mason sebenarnya tidak menginginkan ini.'

Setelah pembicaraan selesai, suasana pun kembali mencair. Orang tua kami masih melanjutkan diskusi ringan, sementara aku berdiri sejenak di dekat jendela untuk mencari angin segar. Dan Mason sudah pergi lebih dulu, tanpa alasan dan tanpa kata.

Aku melihatnya berjalan keluar ruangan dan tanpa benar-benar berpikir, aku mengikutinya. Bukan untuk memaksanya berbicara. Hanya saja, karena aku masih ingin mencoba sekali lagi.

Tidak lama setelah itu, ia berhenti di lorong samping yang sepi. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya sebelum akhirnya berbicara. “Apa kau akan terus diam seperti itu?”

Ia tidak langsung menoleh. “Apa yang kau harapkan dariku?” tanyanya dingin.

“Setidaknya… satu kalimat yang jujur.”

Ia akhirnya menatapku, lalu menjawab dengan tegas. “Aku sudah cukup jujur sejak awal, Hazel.”

Aku menggeleng pelan. “Tidak. Kau hanya terus mengatakan apa yang kau tidak inginkan.” balasku, lalu menahan napas sejenak. “Bukan apa yang sebenarnya kau rasakan.”

Tatapannya pun sontak berubah, menjadi sedikit lebih tajam. “Apa kau benar-benar ingin tahu?”

“Ya.”

Hening pun mendadak menyusup di antara kami. Dan dalam hening itu, sesuatu tampak retak.

“Aku muak.” jawabnya singkat. Satu kalimat, namun cukup untuk membuat dunia di sekitarku berhenti.

“Aku muak dengan semua ini,” lanjutnya. “Dengan rencana ini. Dengan pernikahan ini—”

Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan. “…dan denganmu yang terus berada di dalamnya.”

Dadaku pun mendadak terasa sesak. “Aku tidak pernah memaksamu—”

“Kau datang ke rumahku,” potongnya. “Kau duduk di hadapanku. Kau terus berbicara seolah semua ini bisa terjadi begitu saja.”

“Aku hanya mencoba—”

“Mencoba apa?!” suaranya meninggi, hingga membuatku terdiam.

“Mencoba membuatku jatuh cinta padamu?” lanjutnya. “Mencoba masuk ke hidupku yang jelas-jelas tidak menginginkanmu?”

Aku menelan napas. “Aku hanya tidak ingin menyerah sebelum aku benar-benar mencoba…”

“Dan itu alasanmu untuk terus memaksakan diri?” tanyanya. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti sesuatu yang perlahan mengikis pertahananku.

“Apa kau pikir ini tentang ketulusanmu?” katanya dingin. “Atau ini hanya tentang egomu… yang tidak bisa menerima penolakan?”

Aku menatapnya. “…jadi itu yang kau pikirkan tentangku?”

“Ya. Aku pikir… kau tidak peduli apa yang kuinginkan.” jawabnya, tanpa tidak ragu. “Asal kau mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Dan di titik itu, rasanya aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. “…aku bahkan tidak pernah punya apa pun darimu,” ucapku pelan. Suaraku hampir tidak terdengar, namun cukup untuk mengungkapkan semuanya.

“Mason… cukup!” teriak seseorang yang sontak menghentikan percakapan kamu. Suara itu datang dari arah belakang, dan membuat kami berdua langsung menoleh.

Sarah berdiri di sana. Wajahnya tampak pucat, dan tatapannya tidak lagi hangat. “Apa yang baru saja kau katakan…?”

Mason terdiam. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya. Bukan marah, bukan dingin, tapi ekspresi panik. Namun semuanya terjadi terlalu cepat. Sarah memegang dadanya, dengan apasnya yang tampak tidak stabil.

“Sarah…?” aku melangkah mendekat. Dan pada detik berikutnya, tubuhnya tampak goyah, sebelum siapa pun bisa menahannya. Hingga akhurnya ia jatuh ke lantai.

Segalanya lantas berubah dalam hitungan detik. Suara panik memenuhi seisi rumah, suara langkah kaki berlariz dan panggilan yang tergesa-gesa.

Mason adalah orang pertama yang berlutut di sampingnya. “Ibu… buka matamu.” suaranya bergetar, dan tangannya gemetar saat memegang bahu Sarah.

“Ibu… dengar aku.”

Sementara itu, aku berdiri beberapa langkah dari mereka, dan tidak mampu bergerak, selain hanya melihat. Hingga akhirnya, beberapa saat berlalu dan Sarah sudah dibawa ke rumah sakit terdekat.

Saat ini, rumah sakit terasa begitu dingin. Bukan karena suhunya, tapi karena suasana yang terlalu sunyi untuk situasi seperti ini. Kami menunggu di luar ruang perawatan, dan tidak ada yang benar-benar berbicara.

Rowan duduk dengan wajah tegang, Ayah berdiri di dekat jendela bersama Jake, dan Ibu menggenggam tanganku pelan. Sementara Mason berdiri di ujung lorong sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia terlihat rapuh.

Lalu, seseorang tiba-tiba menarik lenganku, membuatku sontak menoleh. Ternyata itu Jennifer.

“Aku perlu bicara denganmu,” katanya pelan.

Ia tidak menunggu jawabanku, melainkan langsung berjalan mendahuluiku dan aku mengikuti di belakangnya.

Kami berhenti di sudut lorong yang lebih sepi. “Kau tahu ini salah siapa, bukan?”

Aku mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Ia tidak akan seperti itu… kalau bukan karena kau.” sahutnya, membuatku terdiam.

“Kau terus memaksa Mason,” lanjutnya. “Dan sekarang… lihat apa yang terjadi.”

Nada suaranya terdengar tetap lembut dan tenang. Namun justru karena itu, entah bagaimana terasa lebih menyakitkan. Aku ingin membela diri, dan ingin mengatakan bahwa aku tidak melakukan apa-apa. Namun kata-kata itu tidak mampu keluar dari bibirku.

'…apakah ini benar?' batinku.

Aku pun kembali ke lorong utama, begitu Jennifer beranjak pergi meninggalkanku. Aku duduk sendirian di kursi panjang yang dingin, dan tanganku saling menggenggam di atas pangkuan. Saat ini, tidak ada yang berbicara padaku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus berdiri di mana.

'Aku hanya ingin bertahan…'pikirku. '…tapi mengapa semua yang kulakukan… selalu berakhir dengan menyakiti orang lain?'

Aku menatap lantai. Dan untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan sendiri keputusanku. Apakah aku benar-benar memperjuangkan sesuatu? Atau justru tanpa sadar menghancurkannya?

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!