Cinta yang tak kunjung menemukan tempat berlabuh kian lama kian meredup dan menyerah pada sang takdir.
Hati yang kini diantara ingin menyerah dan kalah semakin terpuruk karena segala prasangka yang datang. Akan kah Indira akan tetap diam menerima segala takdir yang di berikan pada nya? Atau dia akan mulai mencari jalan takdir nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Indira terlihat cemas.
Ini sudah ke dua puluh kali dia menelpon bang Anggara tapi tidak ada jawaban dari suami nya itu.
Semenjak Indira merasa suami nya mulai bertingkah aneh maka semenjak itu pula indira terus ingin dekat dengan suami nya itu.
Inidra kembali mengulang menghubungi nomor telepon Bang Anggara. Tapi tak ada jawaban dari suaminya.
"Ada apa dengan Bang Anggara?? Tidak biasa nya Bang Anggara seperti ini," lirih suara Indira dalam hati.
Kemudian dicobanya sekali lagi. Dan syukur nya kali ini telpon Indira di jawab oleh bang Anggara.
"Hallo, Bang? Abang dimana? Kenapa abang tidak menjawab teleponku dari tadi?" tanya Indira cemas.
"Maaf sayang! Aku tadi aku sedang bersama klien. Ada apa, Ra?" tanya sambil berbisik.
"Apa bang Anggara lupa kalau kita harus beli isi dapur dan sekaligus perlengkap baby kita?" ucap Indira murung.
"Astaga!! Aku lupa Ra!!! Maafkan suami mu yang mulai pikun ini!! Bagaimana ini? hari ini aku sudah ada janji sama klien. Aduuuh!" Ungkap nya penuh sesal/
"Ya mau bagaimana lagi!! Aku pergi belanja sendiri saja?!" ucap Indira dengan nada sedikit agak kesal
"NO! NO! No!kamu gak boleh pergi sendiri. Aku akan minta Dikta untuk menemanimu belanja. kamu tunggu di rumah ya" Seru bang Anggara.
“Dikta? Apa Bang Anggara tidak salah sebut nama? Atau jangan-jangan dia masih ingin mengetes ku! Ck! Sebenar nya, mau bang Anggara ini apa sih! Dia selalu saja mendekatkan ku dengan adik nya? Tanya Indira dalam pikirannya sendiri.
"Maksud Bang Anggara apa?" ketus Indira yang merasa kalau suami nya masih ingin mengetes nya.
"Abang Gak ada bemaksud apa-apa, sayang!! Abang hanya tidak mau kamu pergi sendirian. Semua orang sedang sibuk dan hanya Dikta yang sedang lengang. Maka Dikta saja yang temani kamu belanja." Jelas bang Anggara.
"Ya sudah, kalau gitu batalkan aja, lain kali juga bisa." ketus Indira lagi.
"Ya Ampunn!! Indiraaa! Aku serius. Aku bukan sedang mengujimu dengan Dikta, sayang!!. Aku percaya kamu bisa jaga diri. Dan aku yakin Dikta juga bisa menempatkan dirinya sebagai adik ku! Jangan khawatir ya, aku akan suruh Dikta menjemputmu di rumah. Kamu siap-siap ya, sayang?" bang Anggara pun menutup telepon tanpa memberi Indira kesempatan untuk bicara lagi.
Indira jadi bingung dengan sikap suaminya tadi.
Indira juga tak mengerti apa yang sebenarnya di rencanakan oleh suami nya.
*****
Entah sudah berapa lama Indira melamun di ruang tengah. Dan ia tersentak saat Dikta menyapanya. Indira masih terpaku saat Dikta menyapanya dengan suara yang hampir berbisik di telinganya.
"Kenapa melamun Ra?" tanya Dikta.
"Hah.. ooh aku.. aku," jawab Indira gugup.
"kamu sehat Ra? Wajah kamu sedikit pucat?" ungkap DIkta.
"Ha? Aku hanya kaget kamu tiba- tiba muncul." jawab Indira seada nya.
"Kamu sudah siap untuk berangkat?" tanya Dikta pada Indira memastikan sebelum mereka pergi ke pusat pembelanjaan
Indira mengambil tas dan langsung mengikuti Dikta dari belakang.
Duduk berdampingan dengan Dikta dalam mobil yang hanya berduaan membuat Indira diam mematung. Mereka seperti dua orang yang baru saling kenal. Tidak terlalu banyak interaksi.
"Ehem..." Dikta berdehem memecah keheningan.
Indira spontan memandang Dikta membuat mata mereka beradu pandang.
Sempat beberapa detik saling tatap. Lalu Indira cepat membuang pandangannya keluar jalan.
"Ada apa, Ra? Aku perhatikan kamu hari ini gugup sekali? Kamu pasti merasa canggung karena pergi berdua dengan aku?" tembak DIkta to the point.
"Hanya perasaan kamu aja kayak nya Dik. ."
Ke dua nya pun kembali saling diam bahkan hingga mereka selesai belanja.
****
Indira masih membaca buku tentang kehamilan yang dibawakan Bang Anggara. Sesekali la melirik Bang Anggara yang sedang sibuk dengan tugas kantornya.
Ada satu pertanyaan yang mengganjal hatinya. Ingin sekali Indira sampaikan pada Bang Anggara. Tapi semua itu hanya tertahan di ujung bibirnya.
"Ada apa sayang? Kamu sepertinya gelisah begitu?" tanya Bang Anggara yang sedari tadi memperhatikan istrinya.
"Bang, ada yang aku mau tanyakan."
"Apa itu?"
Indira menutup buku dan meletakkannya di meja. Lalu ia berdiri menghampiri Bang Anggara.
Di pijatnya lembut bahu Bang Anggara. Dan tentu saja hal ini membuat bang Anggara heran dengan sikapp Indira yang sangat manis. Makum, ini baru pertama kalinya Indira memijat nya seperti.
Tidak salahkan kalau bang Anggara mengira, Indira pasti ada mau nya.
"Maksud abang kemarin meminta Dikta menemani ku belanja itu, apa sih bang??" tanya Indira sambil memijat lembut bahu bang Angga.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak ada maksud apa- apa sayang?" tanya Bang Anggara keningnya.
"benarkah? Apa abang memang seniat itu untuk mengetes ku? Ini perut ku sudah sebesar ini bang! Apa abang masih tidak percaya pada ku?" Ujar Indira dan sedikit menguat kan pijatan nya hingga membuat bang Anggara mengaduh.
"O ..O ..Sakit sayang." pekik nya namun pekik manja. Mana mungkin tangan mungil Indira mampu membuat lengan kekar bang Anggara kesakitan.
"Sungguh aku tidak bermaksud apapun. Aku memercayainya dan aku juga mempercayai mu. Aku merasa kamu aman kalau jalan ditemani Dikta dibanding sama sopir. Itu saja." ungkap Bang Anggara yang terlihat sangat jujur dan meyakinkan.
"Sudah! Kamu jangan terlalu banyak mikir. Nanti kepala anak kita botak seperti profesor karena mama nya kerja nya mikiiiir mulu." Bang Anggara mendekap erat tubuh Indira dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Indira terisak dalam hati. Ia merasa menjadi manusia yang paling jahat telah mencurigai suaminya. Bang Anggara benar-benar telah berubah. Tak ada lagi kekerasan yang ia terima dari Bang Anggara. Sikapnya yang sabar dan lembut telah membuka hati Indira untuk belajar mencintai Bang Anggara kembali.
"Aku mencintaimu, Indira." bisik Bang Anggara.
Indira tetap terlarut dalam pelukan suaminya.