Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 31- Dua wanita asing
Ep. 31- Dua wanita asing
Tiga bulan telah berlalu sejak gips putih yang membungkus lengan kiri Aura dilepas sepenuhnya oleh tim dokter. Bekas memar dan luka di tubuh balita tiga tahun itu telah pudar ditelan waktu, digantikan oleh rona segar dan ceria yang kembali terpancar dari pipi gempalnya.
Suasana di rumah Kirana kian hangat dan harmonis. Gelak tawa Keisya dan celoteh cadel Aura saban hari mengisi sudut-sudut ruangan yang dulunya terbungkus aroma pengabaian dan kekakuan.
Namun, ketenangan yang baru saja diperjuangkan dengan susah payah itu rupanya tak dibiarkan bertahan lama.
Sore itu, langit di atas kompleks perumahan tampak membiru bersih dengan gumpalan awan putih yang berarak pelan. Angin sore berhembus sejuk, menggoyahkan dedaunan pohon mangga di halaman depan.
Keisya dan Aura sedang duduk di atas tikar lipat di teras, dikelilingi oleh belasan cetakan lilin mainan (playdough) berwarna-warni. Kirana, yang baru saja menyelesaikan rapat virtualnya, duduk tak jauh dari mereka di sofa teras seraya menikmati cangkir teh kamomil yang hangat.
SREEEKKK...
Tiba-tiba suara derit ban mobil memecah keheningan sore. Sebuah sedan hitam mewah berpelat nomor luar daerah berhenti tepat di depan gerbang utama rumah Kirana.
Pak Jaka yang sedang menyiram tanaman di dekat pilar garasi mendongak dengan heran. Sebelum ia sempat menghampiri gerbang, pintu penumpang sedan itu terbuka dengan lebar.
Lalu dua orang wanita asing turun dari mobil. Wanita pertama berusia sekitar akhir lima puluhan, tampil mentereng dengan balutan gamis sutra bermotif, perhiasan emas yang mencolok di kedua pergelangan tangannya, dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala. Wajahnya yang dihiasi riasan tebal memancarkan aura keangkuhan yang kaku.
Di belakangnya mengekor seorang wanita muda berusia tiga puluhan yang menyilangkan kedua tangannya dengan tatapan menelisik ke arah bangunan rumah Kirana.
Mbok Darmi yang baru keluar membawa nampan berisi camilan menghentikan langkahnya sambil mengamati dua sosok asing itu dengan kening yang berkerut.
Kirana pun meletakkan cangkir tehnya dan menatap lurus ke arah gerbang dengan pandangan penuh rasa ingin tau dan kewaspadaan. Kirana sama sekali tidak mengenali siapa kedua wanita asing yang tiba-tiba datang tersebut.
"Pak Jaka, tolong tanyakan ada keperluan apa," perintah Kirana.
Pak Jaka pun mengangguk cemas lalu mendekati gerbang. Namun, sebelum Pak Jaka sempat bertanya, wanita tua itu langsung mendorong daun gerbang besi yang tidak terkunci rapat dan melangkah masuk begitu saja tanpa rasa canggung.
"Permisi! Ini benar rumahnya Bu Kirana?" tanya wanita tua itu dengan suara nyaring dan bernada acuh, mengabaikan Pak Jaka dan langsung menatap ke arah Kirana yang sedang duduk di teras.
Kirana lantas berdiri tegak dari sofa teras, dan merapikan letak blazernya. Ia menatap dua wanita asing itu dari atas ke bawah dengan raut wajah yang kaku. "Benar, saya Kirana. Maaf, Anda siapa? Sepertinya kita belum pernah bertemu atau saling kenal sebelumnya."
Wanita tua itu menghentikan langkahnya di anak tangga bawah teras. Ia menarik napas panjang, lalu memasang senyum dingin yang kentara sekali dipaksakan, lalu membusungkan dadanya.
"Tentu saja anda tidak kenal saya, Bu Kirana. Tapi saya tau persis siapa anda," ujar wanita tua itu dengan nada percaya diri. "Perkenalkan, saya Hasnah. Saya adalah ibu kandung dari almarhumah Ayu, istri kedua Rendra. Saya ini Nenek kandung dari Aura!"
DEG.
Dada Kirana berdesir hebat. Kata nama Ayu dan Rendra yang meluncur dari mulut wanita asing itu seketika memicu kewaspadaan tingkat tinggi di kepala Kirana.
Pikirannya melayang pada kenyataan pahit masa lalu, jika wanita di hadapannya ini adalah ibu dari wanita yang telah merusak kepercayaan rumah tangganya dulu!
Lalu, wanita muda di sebelahnya memotong pembicaraan dengan cepat dan memperkenalkan dirinya sendiri. "Dan saya Rina, adik kandung almarhumah Mbak Ayu. Tante kandungnya Aura."
Mbok Darmi dan Pak Jaka saling pandang dengan raut wajah yang panik.
Sementara Kirana memudarkan seluruh ekspresi di wajahnya dan menggantinya dengan tatapan membeku yang dingin bagaikan es. "Oh... keluarga almarhumah Ayu. Lalu ada keperluan apa kalian mendadak datang dan memperkenal diri di rumah saya setelah satu tahun berlalu?"
Ibu Hasnah melirik ke arah Aura yang sedang memegang lilin mainan kuning. Aura, yang merasakan energi asing dan menakutkan dari kedatangan dua orang yang tak pernah dilihatnya itu, seketika menghentikan permainannya dan beringsut bersembunyi di belakang punggung Keisya.
"Aura, ayo sini dekat Nenek, Sayang... Ini Nenek, ibu dari Mama Ayu kamu..." ujar Ibu Hasnah dengan nada manis yang dibuat-buat, sambil mengulurkan tangannya yang dipenuhi cincin emas.
Namun, Aura justru menarik baju Keisya dengan makin erat, sambil menggelengkan kepalanya karena panik. "Aula ndak mau... Kakak Keisya, Aula takut..."
Keisya dengan sigap merentangkan tangan kecilnya di depan Aura, lalu menatap Ibu Hasnah dengan raut yang protektif. "Jangan ganggu adik Keisya! Tante sama Nenek ini siapa sih?!"
"He he he..." Rina tertawa sinis melihat penolakan itu. "Duh, cucu sendiri malah takut sama nenek kandungnya. Ini pasti karena pengaruh yang enggak-enggak dari orang lain."
"Cukup," pangkas Kirana, lalu ia melangkah maju dan menyela jarak antara mereka dan anak-anak. "Jangan menakut-nakuti anak-anak saya. Langsung pada intinya, Bu Hasnah. Apa tujuan Anda ke sini?"
Ibu Hasnah menghembuskan napasnya dengan gusar, lalu melipat kedua tangannya di dada seraya menatap Kirana dengan tatapan yang penuh permusuhan.
"Baik kalau begitu! Saya datang ke sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak keluarga kami," tegas Ibu Hasnah dengan suara yang lantang. "Saya minta Aura diserahkan pada kami hari ini juga!"
DEG.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗