renata setiap hari menjalani kehidupan asrama yang biasa biasa saja sampai suatu saat bertemu seseorang yang mengubah kehidupannya jadi indah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Karyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 19
Keesokan harinya, Renata sudah sampai di bandara. Adit menjemputnya.
"Kamu kelihatan pucat, kamu sakit?" tanya Adit khawatir
"Tidak Kak hanya lelah saja," kata Renata
"Ayo langsung pulang," ajak Adit
Renata mengangguk
Di dalam mobil
"Kakak antar sampai depan saja, karna harus kembali ke kantor," ucap Adit
"Iya maaf ya kak jadi merepotkan kakak," ucap Renata
"Kamu itu sudah seperti adik kandung kak adit jadi sudah sepantasnya kakak jemput dan mengurus kamu," kata Adit yang selalu tulus
Renata masuk ke rumah dan langsung tersenyum melihat Rianty lagi mencoba beberapa gaun.
"Kamu sudah pulang? cepat pilih gaun untuk nanti malam," kata Rianty
"Yang waktu itu kakak belikan juga masih belum dipakai, jadi gak perlu lagi milih. Lagian cuma pertemuan biasa kan," ucap Renata
"Terserah kamu saja, cepat sana mandi bau pesawat," ucap Rianty
Renata mengangguk
"Nanti langsung turun, makanan sudah disiapkan," kata Rianty
Renata memberi tanda oke dengan jarinya.
*
Di tempat lain Adit bukan pergi ke kantor tapi ke tepi danau. Ia mengingat kenangan sewaktu kecil bersama Rianty, Ia mengingat saat Rianty menolongnya di jalanan.
Aku memang tidak pantas menyukai tuan putri seperti kamu batinnya
Matanya berkaca-kaca dan langsung berteriak sekencang-kencangnya.
Rianty aku mencintaimu dulu kini dan nanti batinnya setelah puas berteriak
*
Malam hari
Chandra dan Rianty sudah menunggu di ruang tamu.
"Kok Renata belum kembali ya, apa beli kuenya ngantri lagi," kata Rianty
"Mungkin, coba telpon dulu," ucap Papinya
Rianty menelpon Renata dan langsung diangkat.
"Kamu dimana?" tanyanya khawatir.
"Masih ngantri kak tapi bentar lagi kok," jawab Renata
"Ya sudah hati-hati nanti di jalan," kata Rianty
"Ya kak," akhiri Renata
Rianty mematikan ponselnya. "Bentar lagi pi," ucapnya
"Itu suara mobil mungkin om Winata sekeluarga sudah datang, ayo keluar nyambut mereka," kata Chandra
Rianty tersenyum bahagia saat mendengar itum
Mereka membuka pintu rumah.
Winata sekeluarga turun dari mobil.
"Rianty," panggil Intan yang memang sangat menyukai calon menantunya ini.
"Tante," Rianty mendekat, Intan langsung memeluknya.
"Ayo masuk," ajak Chandra
Vino berjalan belakangan, Rianty merangkul lengan Intan dengan bahagia.
Mereka duduk di ruang tamu
"Rianty kamu tambah cantik," kata Intan
"Tante juga," Rianty membalas
"Hari ini kita mau membicarakan tanggal pertunangan," kata Winata
"Cari hari yang kalian gak sibuk saja, kami kapanpun siap," ucap Chandra
"Bulan depan gimana? lebih cepat lebih baik kan, ya kan Rianty?" tanya Winata
"Terserah Vino saja," jawab Rianty yang selalu tersenyum
Vino hanya diam, saat ini pikirannya tidak di tempat.
Suara mobil datang.
"Itu sepertinya anak bungsu saya," ucap Chandra
"Ah kita belum pernah ketemu, pasti dia juga cantik seperti Rianty," ucap Winata
"Iya dia sangat manis," kata Chandra
Renata turun dari mobil membawa kuenya dengan bahagia. Ia langsung masuk, "Maaf pi, Renata telat," ucapnya
Vino langsung menoleh kaget mendengar suara itu, Renata yang baru masuk juga sedikit kaget.
Renata berjalan maju dengan perlahan sambil masih terus menatap ke arah Vino.
"Sayang ini Tante Intan dan Om Winata, dan ini Vino calon tunangan kakak kamu," ucap Chandra
"Ah iya, salam kenal saya Renata," ucap Renata memperkenalkan diri dengan suara sedikit bergetar.
"Renata duduk sini, kamu beli kue apa?" tanya Intan saat meminta Renata mendekat.
"Ini kue tar sengaja beli buat semuanya, Renata ambil pisau dulu di dapur," ucap Renata
"Gak usah, biar bibi saja yang ambil," kata Rianty
"Gak apa-apa kak," kata Renata langsung bangkit dan berjalan menuju dapur.
Renata berjalan ke dapur masih dengan wajah terkejut dan sedih.
"Non cari apa?" tanya pembantunya
"Pisau Bik," jawab Renata
Renata mengambil pisau.
"Minumannya sekalian Renata yang bawa," ucap Renata
"Iya ini Non," ucap pembantu saat mengunjukkan minuman.
Renata membawa minumannya menuju ruang tamu.
Vino masih menatapnya dengan rasa bersalah.
Renata juga melihat ke arah Vino seperti ingin minta penjelasan, Ia langsung duduk memberikan minuman pada semuanya.
Orang tua sibuk ngobrol tentang tanggal pertunangan.
Rianty mencoba ngobrol dengan Vino tapi Vino hanya selalu menjawab singkat semua pertanyaan Rianty.
Renata memotong kuenya dan memberikannya ke Vino.
"Vino gak suka makanan seperti ini," ucap Rianty saat melihat Renata yang mengunjukkan kue ke arah Vino.
"Ah maaf aku gak tau, ya sudah untuk Kak Rianty saja," ucap Renata
"Sekarang suka kok," ucap Vino saat mengambil kuenya.
"Sejak kapan?" tanya Mamanya
"Beberapa bulan ini, seseorang sering memberi cemilan jadinya mulai kebiasaan makanan seperti ini." ucap Vino sambil menatap ke arah Renata.
Renata juga menatap ke arah Vino karna Ia lah yang sering memberikan cemilan.
Vino langsung memakan kuenya.
Rianty melihat jam yang dipakai Vino dan juga Renata.
"Jam tangan kalian kok sama?" tanya Rianty heran
"Iya ya, mungkin Kak Vino beli di tempat yang sama, kan dekat hotel kalian," ucap Renata pura-pura.
Vino hanya diam.
"Pasangannya pasti ada kan?" tanya Rianty pada Vino
"Aku beli yang gak ada pasangannya," jawab Vino
"Renata beli yang pasangan, katanya untuk dikasih sama cowok yang dia suka," ucap Rianty
Vino langsung melihat ke arah Renata setelah mendengar perkataan Rianty.
"Teman yang aku suka maksudnya," ucap Renata mengelak.
Kenapa bisa jadi seperti ini, kenapa aku harus menyakitimu seperti ini, Renata maafkan aku, aku sangat jahat padamu, kamu pantas membenciku batin Vino
Semua masih sibuk mengobrol, Renata terlihat bosan, Vino terus menatapnya walau sedang bicara dengan Rianty.
"Ah ya sudah kalian mengobrol saja, aku mau ke atas, duluan Om, Tante," ucap Renata
"Iya, kamu pasti capek jadi istirahatlah," ucap Intan
Renata mengangguk, Ia langsung naik ke atas dan langsung menangis tersedu-sedu saat mulai menutup pintu kamarnya.
Kenapa bisa seperti ini, orang yang aku sukai kenapa harus jadi iparku, aku berharap semua ini hanya mimpi supaya saat aku bangun Pandu tetap sahabatku di sekolah batin Renata
Renata berdiri di balkon kamarnya dan melihat Vino bersama keluarganya akan pulang.
Vino melihat ke atas dengan sedih, Renata langsung memalingkan wajahnya saat Vino menatapnya.
Maafkan aku, kau boleh membenciku batin Vino
Aku membencimu batin Renata
Renata langsung masuk ke kamar dan terduduk di balik pintu balkon sambil menangis memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa, kenapa, kenapa seperti ini Pandu kumohon kembali jadi Pandu," gumam Renata
Vino masuk ke mobil.
Saat di jalan mereka mengobrol lagi.
"Pak Chandra punya putri cantik-cantik ya, kalau saja kita punya 2 putra pasti diambil keduanya," ucap Intan
"Renata baru 17 tahun," ucap Winata
Vino hanya diam mendengar mereka.
"Vino gimana menurut kamu tentang mereka?" tanya Intan
"Aku lebih suka gadis 17 tahun yang punya otak pintar," jawab Vino
"Jadi kamu lebih tertarik dengan Renata?" tanya Papanya
"Sudah jelas Ma, Pa, Renata gadis 17 tahun dia pintar, otaknya gak terisi dengan hal-hal gak penting, berbeda dengan Rianty, Rianty ambil kuliah 4 tahun tapi sudah 6 tahun belum juga lulus, kerjaannya setiap hari cuma shoping dan hura-hura," ucap Vino
"Tapi dia gadis baik dan cocok untuk kamu," kata Winata
"Ya pilihan kalian gak mungkin salah," ucap Vino tidak ingin membantah
"Darimana kamu tau Renata pintar?" tanya Intan curiga
"Melihat wajahnya saja sudah bisa ditebak," ucap Vino
Renata diam di kamar
Kenyataan demi kenyataan terungkap, aku gak boleh sedih lagi, aku harus bisa terima kenyataan kalau Pandu akan jadi iparku batin Renata
Renata menghapus air matanya.
Mampir thor nyimak..
padahal Vino dan Pandu orang yg sama, ih seru.
yg saya penasaran, apa motif Pandu nyamar dan sekolah coba?
perhatikan perbedaan waktunya ya.