Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Restu
Kembali ke kota kelahirannya. Keandra memeluk mamanya yang kini sedang membuatkan jus untuknya.
Revina masih tenang, tidak begitu banyak berubah setelah masalah besar yang diciptakan oleh anaknya itu. Bahkan kepulangan Keandra beberapa saat lalu masih beliau sambut dengan sangat hangat.
Revina mengambil sendok dan menyodorkannya di depan wajah Kean untuk mencicipi. "Coba enak nggak? Mama mulai mengurangi gula biar nggak cepet tua."
Mendengar ucapan mamanya, Kean terkekeh, lalu menuruti dengan membuka mulutnya dan merasakan kesegaran jus tanpa gula itu.
"Enggak buruk," komentarnya membuat Revina menggeleng.
Setelah mengisi dua gelas dengan jus buatannya. Revina membersihkan tangan dan sisa benda-benda ke arah cucian piring. Beliau duduk di kursi pantri, menatap Kean yang sudah meneguk setengah jus buatannya.
"Dia itu, mantan SMA kamu kan, Ndra?"
Hening beberapa saat
Keandra menoleh pada mamanya, lalu mengangguk tanpa ekspresi.
Revina sebenarnya sudah curiga dari awal pertemuannya dengan Jeviza di rumah Arlo satu bulan lalu.
Wajah yang tidak asing, tetapi juga tidak ia kenali itu ternyata wajah gadis yang dulu sering Kean ceritakan pada Revina. Sesekali Kean memperlihatkan hasil jepretannya pada Revina setalah pulang sekolah. Semua galeri Keandra penuh dengan wajah Jeviza.
Revina meneguk ludahnya agak susah, mengingat di hari yang seharusnya ia akan dikenalkan dengan gadis itu, tetapi tiba-tiba gadis itu menghilang, dan memberi pesan yang membuat hidup Kean kesulitan beberapa bulan.
"Mama sebenarnya tidak masalah kalian akan menikah, tetapi tidak ada kecurangan dari kejadian ini kan, Ndra?"
Sudut bibir Kean tertarik ke atas. Lalu bergeser lebih dekat dengan mamanya. Mencium puncak kepala mamanya dengan penuh sayang.
"Aku tidak seculas itu ma, tapi aku juga tidak mungkin biarkan Jeviza terlalu lama dengan status yang tidak pasti."
Kean kembali meneguk jus di tangannya sampai tandas, sorot matanya serius, namun wajahnya tetap begitu tenang.
"Nggak mudah tinggal bareng dia tanpa hubungan yang jelas."
Keandra menaruh gelas kosong ke wastafel, lalu berbalik pada mamanya.
"Aku ke sana sekarang, ma."
Revina hanya mampu mengangguk, sejujurnya ia ingin mengutarakan banyak pendapatnnya, jika selama ini Kean kesusahan tinggal bersama dengan Jeviza tanpa status yang jelas. Ada apartemen pribadi milik Keandra di Jogja. Tetapi sepertinya rasa ingin Kean pada Jeviza lebih besar dari akal sehatnya sendiri.
Di satu sisi Revina takut karena ini tidak akan mudah, di sisi lain ia tahu sebesar apa rasa suka anaknya pada mantan kekasihnya itu.
Kembali ke Jakarta bukan serta merta untuk mengurus surat-surat atau apa saja yang dibutuhkan untuk pernikahannya nanti. Tetapi juga untuk menemui kedua orang tua Jeviza tanpa sepengetahuan gadis itu.
Mobil mewah Kean berhenti di depan gerbang dengan rumah bercat putih di depannya. Ini kesekian kalinya ia menginjakan tempat itu, dulu saat Jeviza memutuskan secara sepihak. Kean ingin mengejar, ingin menemui secara langsung di rumah gadis itu, tetapi selalu ia tahan karena takut membuat Jeviza semakin jauh dengan tindakan berlebihan.
Tidak lama seorang asisten rumah tangga membuka pintu. Kean berdiri di depan pintu rumah Jeviza untuk yang pertama kalinya.
"Maaf cari siapa ya?" tanya asisten rumah tangga tersebut menatap laki-laki asing dengan wajah tampan paripurna.
Bahkan tuan muda di tempatnya bekerja saja rasanya tidak setampan ini. Dan tingginya sampai membuat beliau harus mendongakan kepala.
"Siapa bi?"
Jova datang dari dalam. Menatap selidik laki-laki di depannya.
"Cari siapa mas?" tanya Jova menatap laki-laki tampan di depannya.
Ekor mata Jova melirik ke arah depan gerbang rumahnya. Terparkir mobil mewah yang bahkan menjadi incarannya tahun ini.
Dan di sinilah Keandra sekarang. Duduk di ruang tamu rumah Jeviza tanpa sepengetahuan gadis itu.
Tidak lama Ayumi mami Jevia datang menghampiri, begitu juga dengan papi Jeviza-Radit.
Beliau baru saja pulang dari kantor beberapa saa lalu dengan Jova.
Wajah Kean tetap tenang, meski ada kegugupan yang mendera dadanya mendapati tatapan menilai dari keluarga Jeviza. Apa lagi apa yang akan ia sampaikan jelas sesuatu yang tidak biasa.
"Maaf mengganggu waktu om dan tante," ujarnya lugas. "Saya Keandra, sepupu mas Arlo yang kebetulan juga tinggal di rumahnya."
Ayumi langsung menatap waspada suaminya, apa lagi Puspa juga memintanya untuk datang ke Jogja besok, sudah pasti ada sesuatu yang serius meski beliau belum tahu itu apa.
"Jadi, selama ini Jevi juga satu rumah sama kamu?" tanya Jova diangguki Kean membenarkan.
Jova mengepalkan tangannya, emosinya sudah mulai naik mendengar itu.
"Benar mas, maka dari itu saya ke sini mau meminta ijin dengan om, tante dan juga mas." Kean menatap mereka secara bergantian. "Saya mau menikahi Jeviza."
"Apa?" papi Radit sampai berdiri dari duduknya. Menatap tidak percaya tamu di depannya.
Jova mendekati Kean, lalu pukulan keras mengenai wajah tampan di depannya.
"Bangsat! Lo apain adek gue, hah?" pukulan itu kembali Kean dapatkan.
Bukan tidak bisa ia menangkis atau menghindar, tubuh Kean bahkan lebih tinggi dari Jova, tetapi Kean sendiri sadar pantas mendapatkannya. Ia membiarkan kakak laki-laki dari gadis yang disukainya itu memukulnya hingga puas.
Tetapi papi Radit? Beliau langsung menahan tubuh Jova yang akan kembali memberi pelajaran untuk tamunya.
"Cukup, Jo, kekerasan bukan solusi."
Jova menghentikan, menatap nyalang laki-laki di depannya, ada rasa puas setelah bisa membuat wajah tampan itu kini terdapat luka dan goresan karena ulahnya.
"Ayo nak, biar tante obatin dulu lukamu."
Bukannya ikut marah seperti anak sulungnya, Ayumi justru memberi perhatian untuk Kean.
"Mi? Yang bener aja?" menatap tidak percaya maminya, Jova kembali menatap Kean dengan tajam.
"Mami yakin, adek kamu tidak akan suka denger kakaknya lakuin ini sama calon suaminya."
Jova muak mendengar kata "calon suami" yang keluar dari mulut maminya.
"Kita nggak akan biarin pernikahan itu terjadi kan, mi? Pi?" nada suara Jova mulai terdengar frustasi.
"Biar Jeviza yang memutuskan, sekarang mami mau obati lukanya dulu, setelah ini kita bicarakan lagi."
Kean menurut, ia beranjak dari duduknya, melirik Jova dengan sorot mata biasa, tidak ada ejekan meski jelas wanita di depannya ini secara tidak langsung membelanya.
Ayumi dengan telaten mengobati luka di wajah Keandra, jujur saja ia menyayangkan wajah rupawan ini harus terkena amukan oleh anak sulungnya, tetapi beliau juga memaklumi posisi Jova sebagai kakak Jeviza.
Kamu beneran serius sama anak tante?"
Keandra mengangguk mantab. "Iya tan, sata ke sini mau minta ijin dan restu."
Ayumi menghela napas cukup panjang, tangannya masih terampil memberi salep di wajah Kean.
"Kalau sakit, bilang aja ya? Jangan ditahan."
Kean kembali mengangguk. Kali ini tanpa suara.
"Sejak kapan? Kamu menyukai anak tante?"
"Sejak dia masuk SMA, tepatnya 3 tahun lalu."
Tangan Ayumi terhenti di udara, menatap terkejut wajah tampan di depannya.
"Kamu..."
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁