Tiara Andni sosok gadis yang begitu sempurna masih muda, cantik, mapan dan memiliki reputasi begitu baik, sungguh kehidupan yang sangat di impikan, namun siapa yang menyangka kesempurnaan hidupnya harus pupus di karenakan sebuah kecelakaan yang meregang nyawa
Saat ia terjaga ia sangat terkejut saat menerima kenyataan yang bahkan sangat sulit di terima logika ini, ia hidup kembali, dan bahkan ia harus hidup di tubuh orang lain yang memiliki nasib yang begitu menyedihkan
Jesika Alisia Hartawan seorang bocah berusia 16 tahun, bocah malang yang menjadi korban KDRT dari papanya
bagai mana kelanjutannya?
Apakah Tiara yang berada di tubuh Jesika akan memiliki akhir yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya'a Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Ma" Jesika tersenyum lebar saat melihat bu Emi yang berjalan pelan mendekatinya
"Ah sayang, maaf ya mama bikin kamu nunggu" Ucap bu emi dan segera mendudukkan diri di kursi samping jesika, ia tersenyum lebar sembari mengelus pucuk kepala jesika dengan lembut, jesika hanya diam dan menikmati elusan itu
"Ngak kok ma, Jesi juga baru nyampe" Jawab Jesika dengan nada pelan, sebelumnya ia pergi bermain di pinggiran kota, karena kesal dengan mahluk kaku itu ia menelpon kang Mamat, dan sekarang disinilah ia berada di cafe milik sang mama
"Hm yaudah Jesi mau makan apa?, mama pesanin dulu, jesi ngak sempat makan kan?, tadi kayak buru buru banget" Ucap bu Emi dengan nada lembut, setelah mempertemukan dirinya dengan Aryo Jesika bergegas pamit untuk pergi bermain dan seperti biasa ia akan mengizinkan putri cantiknya untuk menikmati masa mudanya
"Hehe, tadi jesi cuma main main aja sih ma, liat liat jakarta, siapa tau ada yang berubah" Ucap jesika tersenyum kecil, ia tak senag terburu buru sih, cuma merasa ngak pantas aja dengerin cerita antara mamanya dan om Aryo
"yaudah, sekarang jesi mau makan apa?" Ucap Bu Emi pelan, putri kecilnya bahkan sudah pergi sedari pulang sekolah sebelumnya, saat ia meninggalkannya bersama Om Aryo
"Nasi goreng aja deh kayaknya Ma, kayaknya nasi goreng enak deh" Ucap Jesika dengan tersenyum lebar, ia sangat menyukai apapun yang di masak oleh ibunya, hanya saja saat ini mereka berada di cafe, tak masalah selagi ini milik sang mama ia akan merasa suka dan senang
"Yaudah mama suruh orang bikin dulu ya, sabar, ngak bakalan lama kok" Ucap Bu Emi pelan, pelayan mendekati mereka
"Tuti, bikinin nasi goreng spesial sama jus jeruk yah, jangan lupa air mineralnya juga" Ucap Bu Emi pada Tuti yang merupakan karyawan yang bekerja di cafe miliknya
"Ma, tumben banget ngajak ketemuan, ada apa?, udah ngomong kan sama om Aryo, mama ngak usah kahwatir, im Aryo itu hebat banget dan Jesi yakin pasti biasa bantuin kita buat lepas dari bajingan hartawan itu" Ucap dengan penuh kesal, ia merasa sangat marah jika harus membahas sang papa,
Kedua wanita beda usia itu memang terlalu sibuk dengan kegiatan masing masing, bu Emi yang bekerja dan jesika yang bermain, meski begitu keduanya masih tetap saling memperhatikan, dan jesika tentu saja tak mempermasalahkan itu, toh ia sudah biasa dengan segala kesibukan, selagi bu emi menyayanginya jesika tak ingin meminta hal lebih karena jesika bukanlah bocah 16 tahun, ia tentu tau dunia pekerjaan sangatlah menguras banyak tenga
"Tadi mama udah bicara sama om Aryo, dan om Aryo bilang sidang pertama mama akan di lakukan dalam waktu dekat, mama juga ngak habis fikir kenapa harus ngasih tau kamu, dan bahkan om Aryo bersikeras banget minta mama bilangin ke kamu, padahal kan ini masalah pribadi mama" Ucap Bu Emi pelan, ia bahkan tak mengerti, jesi bahkan masih terlalu muda untuk mengetahui hal seperti ini, namun?, Entah mengapa Aryo sangat bersikeras
"Ah ya bagus dong kalo gitu Ma, pokonya nanti di persidangan mama harus sampain semua keluhan mama dan buat bajingan hartawan itu mau membagi hartanya dengan adil" Ucap jesika dengan semangat, sidang pertama yah?, ternyata om aryo bergerak dengan cepat
"Jesi sejak kapan jesi jadi gini?, gimanapun dia papa kamu" Ucap Bu Emi dengan nada pelan, ia bahkan tak menyangka jika sang putri bisa mengucapkan kata kata sekasar itu
"Jesi cuma punya mama, ngak punya papa" Ucap Jesika memeluk mamanya dengan erat, ia tentu saja sangat senang dengan kabar ini, besok sidang pertama mama, dan itu berarti semua akan selesai, mamanya akan terlepas dari bajingan hartawan itu
Bu emi menatap putrinya sendu, sebenci itukah?, Sebenci itu kah Jesi membenci papanya?, siapa yang menyangka jika segala perlakuan suaminya di masa lalu meninggalkan luka yang mendalam bagi putri kecilnya
"Maafin mama sayang, mama ngak bisa jagain kamu dengan baik, mama udah buat kamu mengalami banyak penderitaan" Ucap Bu Emi dengan rasa bersalah
"Mama ngak salah apa apa kok, tapi jesi mohon jangan larang jesi untuk membenci sama papa, jesi ngak bisa, jesi ngak bisa liat mama di sakiti terus" Ucap jesika mempererat pelukanya
"Maaf" Ucap bu emi, hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan lagi dan lagi, ia lah yang terlalu lemah bahkan tak mempu mempertahankan cinta suaminya sendiri, ialah yang tak berdaya saat itu, tapi mulai saat ini Bu Emi berjanji akan melindungi dan menjaga putri tunggalnya, ia akan menghapus segala kenangan tentang luka itu, menggantinya dengan hari hari yang indah dan penuh kasih sayang
"Ah nasi goreng?, pasti enak" Ucap jesika pelan, Bu Emi melepaskan pelukanya dan jesika mulai dengan mengambil sendok dan mulai menyantap makanan yang ada di depan matanya
"Enak" Ucap Jesika mendongak sembari tersenyum lebar
"Habisin" Ucap bu emi pelan, jesika hanya mengguk patuh dan segera menyantap makanannya dengan lahap, ia benar benar lapar ternyata
"Ah kenyang banget" Ucap jesika tersenyum lebar sembari meminum air mineralnya, perutnya sudah kenyang dan malam belum terlalu larut, ia sebenarnya ingin bermain tapi karena tubuhnya lelah maka dari itu ia lebih memilih untuk kembali ke rumah dan beristirahat ria
"Kamu suka?" Ucap Bu Emi dengan nada lembut
"Suka banget ma, tapi kayanya mama sedang sibuk ya?, yaudah jesi ngak bakalan ganggu, jesi pulang dulu ya" Ucap Jesika dengan nada pelan
"Langsung pulang?" Tanya Bu Emi dengan nada pelan, hari baru saja malam dan putri kecilnya ingin kembali ke rumah, apakah
"Ia ma, Jesi capek mau istirahat" Ucap jesika pelan, kegiatannya hari ini memang sedikit melelahkan dari itu ia butuh istirahat
"Yaudah, kamu hati hati ya di jalan" Ucap Bu Emi tersenyum lebar, malam sudah menjemput dan sudah seharusnya Jesi kembali ke rumah, ia sudah bermain sedari siang
"Iya Ma, da Mama Jesi pergi dulu, Jesi tunggu di rumah" Ucap Jesika dnegan nada pelan, saat ini sang mama sibuk bekerja dan Karen aja anak baik ia tak akan menganggu, ia akan menunggu sang ama di rumah nanti, namun yang pasti saat ini ia harus pergi bermain untuk menghabiskan waktu yang begitu membosankan ini
Setelah menyalami sang mama jesika segera meninggalkan cafe emi shop itu, menuju rumah untuk segera merebahkan diri di kasur yang empuk dan beristirahat dari segala hiruk pikuk dunia ini