Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu bahagia?
Cahaya mentari menyeruak masuk melalui celah cahaya gorden yang tak tertutup terlalu rapat. Namun sekuat apapun sang mentari mencoba masuk, tetap saja kedua anak manusia yang terlelap itu, tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Hingga matahari yang semakin naik, barulah salah satu dari mereka menggeliat, mencoba meregangkan otot tubuh yang kaku.
Dan gerakan itu tertahan saat dia merasa lengannya yang kram karena digunakan sebagai bantal tidur untuk sang wanita.
Dengan senyuman tipis, yang terlihat sangat indah, pria itu dengan pelan memindahkan kepala sang istri keatas bantal, sedangkan dirinya perlahan beranjak.
Sesaat akan bangkit dari ranjang, Danish kemudian menatap manik mata yang terpejam itu. Dan kemudian ia menyunggingkan senyumannya.
"Selamat pagi, my wife," bisik Danish dengan pelan, berharap suaranya tak membangunkan sang istri. Dan setelah itu sebuah kecupan hingga di kening putih itu, dan setelahnya, barulah Danish pergi ke kamar mandi.
Beberapa lama berada di dalam kamar mandi, akhirnya Danish keluar. Dan ia melihat Aneska yang ternyata sudah terbangun. Wanita cantik itu kemudian menundukkan kepalanya, malu-malu menatap kearah seorang pria yang hanya memakai handuk, yang menutupi bagian pusar ke bawah.
Sadar saat melihat kepala istrinya tertunduk, lekas Danish mengambil pakaiannya, dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Setelah itu, bergantian. Aneska membersihkan tubuhnya, dan Danish duduk menunggu sembari mengecek ponselnya. Tak ada panggilan telepon yang mengganggu, hanya ada beberapa pesan dari Mamanya yang menanyakan keadaan mereka berdua.
Danish tersenyum membalas pesan sang Mama, lalu ia juga memberitahu pihak hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar mereka.
Sepertinya, pagi hari yang sudah menjelang siang ini, mereka berdua hanya akan sarapan didalam kamar. Dan tentu saja Danish menikmati itu.
Aneska keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang sudah terpasang di tubuhnya. Ia kemudian mengeringkan rambutnya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Sedikit merias wajahnya, dengan menggunakan peralatan yang dibelikan oleh Marisa.
Danish tersenyum saat melihat Aneska yang berjalan mendekat kearahnya. Ia kemudian menepuk sofa disebelahnya, dengan tujuan agar istrinya mendekat dan duduk di sana.
Tapi bukannya membiarkan Aneska duduk, saat wanita itu ingin menjatuhkan tubuhnya di samping Danish, sang suaminya malah menarik pinggangnya hingga akhirnya Aneska terduduk di pangkuan sang suami.
Aneska terkejut dengan perlakuan Danish yang tiba-tiba. Ia belum pernah dipangku seperti ini sebelumnya.
"Mas ...." Aneska hendak melayani protes, tapi Danish malah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman singkat, dan itu tentu saja semakin menambah keterkejutan sang istri.
"Mas ingin menikmati momen ini, Nes. Mas ingin, selama disini, kita selain dekat dan tidak canggung lagi," kata Danish dengan bersungguh-sungguh. Bahkan itu bisa terlihat di matanya yang tampak serius.
Mendengar perkataan sang suami, Aneska akhirnya diam dan ia kemudian mengangguk.
Bukankah tujuan mereka untuk datang ke Lombok, adalah untuk pergi bulan madu. Yang artinya, itu akan membuat mereka semakin dekat.
Aneska tersenyum, yang membuat bibir Danish ikut menyunggingkan senyumannya.
Saat keduanya sedang saling bertatapan, pintu kamar mereka diketuk dari luar. Dan itu adalah layanan hotel, yang ingin mengantarkan sarapan.
Setelah staf hotel menyusun semua sarapan itu, keduanya langsung menyantap makanan yang terhidang tersebut. Mustahil kalau mereka tidak lapar, sedangkan semalam mereka bergelut hingga hampir subuh.
"Kamu suka makanannya?" tanya Danish, saat melihat Aneska yang makan dengan lahap.
Aneska tersenyum dan kemudian ia mengangguk.
"Kamu bahagia bersamaku?"
***
Selamat membaca !!