Fang Jin, seorang Iblis yang ingin hidup tenang, namun karena tempat asalnya adalah Dunia Iblis, itu hanyalah angan-angan baginya.
Dunia Iblis, dunia yang sangat kacau dan setiap harinya, kematian selalu terjadi dimana-mana, karena penindasan, dan pertarungan yang tidak jelas.
Alasan Fang Jin ingin hidup tenang bukan karena ia selalu di tindas atau sering di ganggu. Tapi karena ia muak dengan tempatnya berada saat ini. Sehingga dalam hati ia bertekad untuk menghancurkan tempat ini dan ingin membuatnya menjadi lebih baik. Namun ada satu rintangan baginya, yaitu Kaisar Iblis bersama para bawahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Muhammad panjidian N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peti Kosong dan Jie Lin yang Sedang Jatuh Cinta
“Sudahi bicaranya, lebih baik kau ambil apa yang Ibumu tinggalkan,” sambung Ratu Elf langsung menyuruh Fang Jin ke kotak peti yang berjarak 10 meter di depannya.
Tap Tap..!!
Fang Jin pun langsung melangkah pergi ke peti yang berjarak 10 meter.
Saat langkah Fang Jin berhenti di depan peti, ia kini mengulurkan tangannya untuk membuka peti yang sama sekali tidak terkunci.
Cklek..!!
Blush..!!
Fang Jin yang awalnya gugup karena memikirkan apa yang mendiang Ibunya tinggalkan, kini terlihat bingung.
Lantas Fang Jin pun melirik ke arah belakang, dimana Ratu Elf berdiri.
“Apa ini Bibi, kenapa isinya kosong?” Tanya Fang Jin.
Mendengar pertanyaan Fang Jin, sontak Ratu Elf pun mengerutkan keningnya.
Dret..!! Tap tap..!!
Dengan cepat ia berdiri di samping Fang Jin, lalu melihat ke arah peti.
Wajah Ratu Elf pun langsung mengekspresikan terkejut.
“Eeh,, apa selama ini peti ini memang kosong?” Gumam Ratu Elf yang gumamannya dapat di dengar oleh Fang Jin.
“Lalu apa tujuan kakak menyuruhku menyimpan dan menjaga peti ini jika isinya kosong?” Sambung Ratu Elf kini tidak tahu harus menjelaskan apa terhadap Fang Jin, serta bingung akan permintaan ibunya Fang Jin yang menyuruhnya menjaga peti kosong.
“Hemm..!! Apa tidak ada yang pernah masuk ke sini Bibi? Siapa tahu ia yang mengambilnya?” Tanya Fang Jin yang kini mencoba mencairkan suasana, saat melihat wajah Ratu Elf yang terlihat merasa bersalah.
“Tidak ada, tidak ada yang masuk ke tempat ini selain Bibi nak,” jawab Ratu Elf terlihat jujur dari bola matanya.
Huff..!!
“Jika begitu, lupakan saja untuk saat ini Bibi, karena tujuan Jin'er datang ke celah dimensi ini adalah meningkatkan kekuatan. Jadi lebih baik Bibi sarankan dimana tempat yang cocok untuk Jin'er datangi,” ucap Fang Jin terdengar menghela nafas panjang, lalu bertanya.
Tahu akan Fang Jin sengaja mengalihkan, agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Wajah Ratu Elf seketika berkaca-kaca. “Dia memang mirip kau kakak, semoga saja kekerasan kepalamu tidak di ikuti oleh putramu ini,” gumam Ratu Elf dalam hati.
“Hemm..!! Bibi ada tempat yang cocok bersama kedua yang datang bersamamu, disana kau bebas melakukan apapun tanpa di bantu oleh Bibi maupun yang lain.” Ucap Ratu Elf mengangguk dan sadar jika sifat Fang Jin pasti mirip Hua Xia yang tidak ingin di kekang maupun di bantu oleh siapapun.
Tap tap..!!
“Ayo kita keluar lebih dulu dari sini,” ajak Ratu Elf langsung melangkah.
Fang Jin pun mengangguk dan mengikuti Ratu Elf.
***
Tap tap..!!
Menyadari kedatangan Fang Jin dan Ratu Elf.
Mo Hu dan Mo Lang pun tersenyum bahagia, karena merasa tempat ini terlalu kaku bagi mereka. Bukan hanya itu saja, rata-rata para Elf di depan mereka tidak ada yang bisa di ajak bercanda.
“Guru,” teriak Mo Hu dan Mo Lang dengan lantang.
Fang Jin yang mendengar teriakan kedua saudaranya, hanya bisa menggelengkan kepala saat sadar jika keduanya merasa bosan dan tidak nyaman di tempat ini.
“Bagaimana?” Tanya Leluhur Qia langsung bertanya saat Fang Jin sudah berjarak 3 meter darinya.
“Sudah nenek, semuanya sudah Jin'er ketahui serta terima,” jawab Fang Jin yang langsung di balas anggukan bahagia oleh Leluhur Qia.
Leluhur Qia tidak tahu jika Fang Jin sebenarnya telah berbohong dan ia juga sengaja berbohong, karena demi kebaikan Bibinya juga.
Ratu Elf yang mendengar jawaban Fang Jin, ikut tersenyum bahagia.
“Ehem..!! Baiklah jika begitu, mari kita makan malam, karena sebentar lagi malam akan tiba,” ajak Ratu Elf dengan nada hangat.
Pandangan Ratu Elf pun melirik ke arah Jie San dan Jie Lin.
“Hemm..!! Apakah kalian akan ikut makan bersama juga Jie San, Jie Lin?” Tanya Ratu Elf.
Mendengar itu, Jie Lin yang ingin menganggukkan kepala dengan wajah bersemangat, langsung di tarik oleh Jie San, mulut Jie Lin pun di tutup oleh tangan Jie San sambil berkata.
“Tidak Yang Mulia Ratu, kami akan kembali sekarang, karena tugas kami di rasa sudah selesai.” Ucap Jie San dengan penuh hormat.
Pandangan Jie San pun ikut melirik Fang Jin dengan tatapan merasa bersalah, karena telah menangkap dan menaruhnya di dalam kerangkeng.
“Tidak perlu minta maaf Tuan, apa yang anda lakukan itu sudah semestinya, saya malah kagum dengan cara anda yang tanpa pandang mulu. Itu membuktikan anda sangat mengabdikan diri terhadap seluruh rakyat Elf serta Kerajaan ini.” Ucap Fang Jin lebih dulu mengangkat tangannya untuk menghentikan Jie San membungkukkan badannya.
Mendengar dirinya di sanjung, Jie San merasa bahagia, namun di satu sisi semakin merasa bersalah terhadap Fang Jin yang telah ia serang dan buat pingsan.
Beruntung saat ini suasana hatinya sedang baik, sehingga dirinya tidak langsung membunuh penyusup seperti biasanya.
“Terimakasih Tuan muda, kebaikan anda ini tidak akan pernah saya lupakan,” ucap Jie San merasa beruntung bertemu dengan Fang Jin yang memiliki pola pikir dewasa.
...
Sementara di samping Jie San, adiknya Jie Lin yang mendengar kakaknya di sanjung, terlihat ingin ikut di sanjung juga. Tapi melihat Fang Jin sama sekali tidak menatapnya. Membuat Jie Lin cemberut bercampur sedih.
“Hemm..!! Apa aku pernah kasar dengannya? Apa aku kurang cantik? Sehingga ia sama sekali tidak pernah mau menatapku?” Gumam Jie Lin dalam hati.
“Padahal semua kaum pria selalu menatapku dengan tatapan menjijikkan dan penuh minat, tapi hanya kau saja yang terlihat datar serta dingin.” Sambung Jie Lin mulai bingung dan berpikir apakah Fang Jin mempunyai kelainan.
Saat Jie Lin melamun, ia di kagetkan oleh kakaknya.
“Kenapa kau malah diam, ayo kita kembali,” ajak Jie San menarik tangan adiknya.
“Iya ya, pelan sedikit,” dengus Jie Lin.
Tap tap..!!
Saat melangkah pergi, beberapa kali Jie Lin melirik ke arah Fang Jin. Namun tetap saja Fang Jin sama sekali tidak melirik ke arahnya dan asik bicara dengan kedua saudarnya, Ratu Elf, Leluhur Qia dan Pangeran Xian.
...
Setelah di luar Istana, kini Jie San yang melihat adiknya selalu diam, langsung bertanya.
“Kau ini kenapa Lin'er? Seperti bukan dirimu yang biasanya saja?” Tanya Jie San.
“Hem..!! Apa Lin'er kurang cantik San Gege?” Tanya Jie Lin.
Bukannya menjawab pertanyaannya, Jie San malah semakin bingung dengan adiknya yang balik bertanya.
Lantas ia pun mengulurkan tangannya. “Apa kau sedang demam Lin'er?” Tanya Jie San.
Plak..!!
“Tentu saja tidak San Gege, dan jawablah pertanyaan Lin'er. Apakah Lin'er tidak cantik?” Dengus Jie Lin membentak kakaknya dan kembali bertanya.
“Eehh,, kenapa ia menjadi agresif seperti ini?” Gumam Jie San dalam hati, sambil menggaruk kepalanya.
Tak lama setelah berpikir, matanya seketika bersinar cerah.
“Hoho,, ternyata adik kakak sedang jatuh cinta ya,” ucap Jie San langsung merayu adiknya dan kembali berkata.
“Kau sangat cantik Lin'er. Siapa bilang kau tidak cantik huh, jika ada orang yang tidak menganggapmu cantik, maka orang tersebut buta. Hanya saja sifatmu harus di rubah jika kau ingin di lihatnya,” sambung Jie San dengan seutas senyum kecil.
Seketika, mata Jie Lin pun bersinar cerah saat mendengar sanjungan kakaknya.
“Apa? Apa yang harus Lin'er ubah San Gege?” Tanya Jie Lin dengan nada bersemangat dan senyum mengembang, yang jika di lihat kaum pria, akan membuat semuanya meleleh seketika.