NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Udara di meja pantry apartemen itu seolah membeku, tersedot habis oleh ketegangan yang mendadak meledak.

Mata Almeera membelalak ngeri menatap layar ponselnya. Tubuhnya kaku, sementara tangannya bergetar hebat hingga ponsel itu nyaris terlepas dari genggamannya. Foto candid kalung dan cincinnya itu layaknya bom waktu yang hitungan mundurnya baru saja diaktifkan.

Melihat perubahan drastis di wajah istrinya, Akram tak tinggal diam. Dengan satu gerakan cepat, cowok itu merebut ponsel dari tangan Almeera.

Mata hitam legam Akram memindai deretan pesan dari nomor tak dikenal itu, lalu turun ke foto yang terlampir.

Hening.

Satu detik. Dua detik.

Tidak ada teriakan, tidak ada umpatan yang keluar dari mulut Akram. Namun, bagi Almeera, keheningan Akram saat ini jauh lebih menakutkan daripada saat cowok itu marah besar. Rahang Akram mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Sorot matanya berubah menjadi segelap malam tanpa bintang—dingin, mematikan, dan penuh perhitungan.

"K-Kram..." panggil Almeera dengan suara bergetar. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Siapa yang ngirim itu? Kalau dia beneran ngirim foto cincin itu ke guru BP... reputasi lo..."

Akram meletakkan ponsel itu ke atas meja dengan gerakan sangat pelan. Ia menatap Almeera lekat-lekat. "Lo percaya sama gue?"

Pertanyaan itu membuat Almeera tertegun. "M-maksud lo?"

"Gue nanya, lo percaya nggak sama gue?" ulang Akram, suaranya rendah dan absolut.

Almeera menatap mata Akram. Di balik badai kemarahan yang tertahan di sana, Almeera bisa melihat tembok perlindungan yang sangat kokoh. Tanpa sadar, Almeera mengangguk pelan. "Gue percaya."

"Bagus," Akram menghela napas panjang. Tangannya terulur, menggenggam tangan Almeera yang sedingin es, menyalurkan kehangatannya. "Besok, lo temuin dia di rooftop sesuai permintaannya."

"Tapi, Kram! Di pesannya dibilang kalau gue bawa lo, dia bakal langsung sebar fotonya! Gue harus ke sana sendirian!" tolak Almeera panik, berusaha menarik tangannya, tapi Akram menahannya.

"Lo emang bakal ke sana sendirian," potong Akram tenang, senyum miring yang sangat mematikan perlahan terbentuk di sudut bibirnya. "Tapi bukan berarti gue bakal diam aja di kelas, Al. Gue Ketua OSIS di sekolah itu. Nggak ada satu pun sudut SMA Bina Bangsa yang luput dari pengawasan gue. Apalagi kalau itu menyangkut istri gue."

Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang begitu posesif hingga membuat jantung Almeera kembali berdebar gila-gilaan, mengalahkan rasa takutnya sesaat.

"Malam ini lo tidur. Nggak usah mikirin soal ini, nggak usah mikirin Fisika," Akram mengusap punggung tangan Almeera dengan ibu jarinya. "Biar gue yang mikir cara ngeratain orang yang berani ngancem lo."

Almeera hanya bisa mengangguk kaku. Malam itu, ia kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tahu Akram jenius, ia tahu Akram punya kekuasaan di sekolah, tapi ancaman ini terlalu nyata. Jika rahasia ini terbongkar, Akram akan kehilangan segalanya—jabatan, reputasi, dan mungkin masa depannya. Dan itu semua bermula dari kecerobohan Almeera.

Keesokan Harinya. Pukul 09.45 WIB, SMA Bina Bangsa.

Bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin layaknya kawanan domba yang kelaparan.

Almeera masih duduk di kursinya, meremas ujung roknya. Tangannya dingin. Di sebelahnya, Sophia sedang mengoceh tentang menu baru di kantin, namun satupun kata tidak ada yang masuk ke otak Almeera.

"Al? Lo dengerin gue nggak sih? Muka lo pucet banget hari ini, kayak belum sarapan seminggu," tegur Sophia, melambaikan tangannya di depan wajah Almeera.

"E-eh, iya, Phia. Sori. Gue... gue mau ke toilet bentar ya. Lo duluan aja ke kantin," kilah Almeera buru-buru, menyambar ponselnya dari laci meja.

"Mau gue temenin?"

"Nggak usah! Gue... gue mau buang air besar! Lama!"

Mendengar itu, Sophia langsung mengernyit jijik. "Ya elah, bilang dong dari tadi. Ya udah sana, hus! Jangan lupa siram yang bersih!"

Begitu Sophia keluar kelas, Almeera menarik napas panjang. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan tambahan. Jam di layar menunjukkan pukul 09.50 WIB.

Almeera melangkah keluar kelas, membelah keramaian koridor, lalu berbelok menuju tangga ujung timur yang jarang dilewati siswa. Tangga itu mengarah langsung ke pintu akses atap sekolah.

Setiap langkah yang diambilnya terasa sangat berat. Jantungnya berdetak seirama dengan detak jarum jam. Ia melirik ke sekeliling, mencari sosok Akram, namun cowok itu tidak terlihat di mana pun sejak pagi tadi.

Lo bilang lo punya rencana, Kram. Gue harap lo beneran tahu apa yang lo lakuin, batin Almeera merapal doa.

Sampai di depan pintu besi tua yang sedikit berkarat, Almeera mendorongnya dengan kuat.

Kriettt.

Angin kencang langsung menyapu wajahnya begitu ia melangkah keluar ke area rooftop yang luas dan terbuka. Langit Jakarta siang itu agak mendung. Beberapa tangki air besar berwarna oranye berjajar di sudut atap. Suara bising dari jalan raya di bawah terdengar samar-samar.

Almeera melangkah maju, matanya menyapu sekeliling atap yang tampak kosong.

"Gue udah di sini!" seru Almeera, suaranya sedikit teredam oleh tiupan angin. "Keluar lo pengecut!"

Dari balik salah satu tangki air besar di sudut, terdengar suara langkah kaki pelan. Siluet seseorang muncul, berjalan dengan santai mendekati Almeera.

Rambut panjang yang dikepang menyamping, seragam yang pas di badan, dan senyum sinis yang sangat familier.

Heera Valencia.

Almeera mematung. Darahnya mendidih seketika. "Lo?!"

Heera berhenti sekitar dua meter di depan Almeera. Di tangan kanannya, ia memegang ponsel yang layarnya menyala. Senyum di wajah cantiknya kini digantikan oleh tatapan penuh kebencian dan rasa puas.

"Kaget?" Heera memiringkan kepalanya. "Lo pikir gue beneran takut sama ancaman Akram kemarin lusa? Gue akui, gue sempet kicep. Tapi setelah gue pikir-pikir, kenapa gue harus takut? Kalian yang salah. Kalian yang melanggar aturan sekolah."

"Gue udah peringatin lo, Heera," desis Almeera, mengepalkan kedua tangannya. "Kalau lo ngancurin rahasia ini, lo ngancurin Akram. Lo rela ngerusak masa depan cowok yang lo suka cuma demi balas dendam receh lo ini?!"

Heera mendengus kasar. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, membuat raut wajahnya terlihat frustrasi.

"Gue nggak akan pernah mau ngancurin Akram, Al! Gue cinta sama dia!" teriak Heera, suaranya pecah terbawa angin. "Tapi kelakuan kalian berdua kemarin ngelewatin batas! Gue diam aja waktu gue tahu kalian nikah diem-diem. Tapi pas Pensi? Lo sengaja manasin gue kan? Lo sengaja bikin Akram ngelindungin lo di depan semua orang dan bikin rumor kalau kalian pacaran!"

"Itu karena foto mading sialan itu!" bantah Almeera sengit. "Itu strategi Akram biar nggak ada yang curiga!"

"Dan lo nikmatin itu, kan?!" Heera menunjuk Almeera dengan jarinya yang gemetar. "Lo seneng kan bisa jalan gandengan tangan sama dia di koridor? Lo seneng kan bisa ngerebut dia dari gue?!"

"Gue nggak pernah ngerebut dia dari siapa-siapa! Perjodohan ini bukan kemauan gue!"

"Bohong!" Heera melangkah maju, matanya berkilat liar. "Kalau lo emang nggak mau, lo bisa nolak! Lo bisa cerai dari dia!"

Kata cerai itu menghantam ulu hati Almeera dengan keras.

Heera mengangkat ponselnya, memamerkan layar yang sudah menampilkan ruang obrolan grup WhatsApp bertuliskan 'Grup Guru BP & Kepsek'. Di kolom pesan, foto cincin Almeera sudah terlampir, tinggal menunggu satu sentuhan di tombol send.

"Pilihan ada di tangan lo sekarang, Almeera," ancam Heera, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan penuh keputusasaan. "Gue kasih lo waktu tiga hari. Bilang ke orang tua lo kalau lo minta cerai dari Akram. Bikin alasan apa pun terserah lo. Nggak cocok, sering berantem, terserah."

Almeera menelan ludah. "Lo gila, Ra. Ini urusan keluarga gue sama keluarga Akram. Lo nggak berhak ikut campur!"

"Gue berhak! Karena Akram itu pantesnya sama gue, bukan sama cewek urakan dengan otak pas-pasan kayak lo!" hina Heera tanpa ampun. Ia memposisikan ibu jarinya tepat di atas tombol send. "Cerai. Atau gue pencet tombol ini sekarang. Kalau rahasia ini kebongkar, Akram bakal di-DO, reputasi keluarga Pradana hancur, dan Akram bakal benci sama lo seumur hidupnya karena lo nggak bisa lindungin rahasia ini."

Jantung Almeera seakan diremas oleh tangan tak kasatmata. Napasnya putus-putus. Logika kejam yang diucapkan Heera memang benar. Jika foto ini tersebar, Akram yang akan menanggung kerugian terbesar. Cowok yang rela mengorbankan jabatannya demi mengajarinya Matematika. Cowok yang melindunginya dari Reyhan. Cowok yang... mulai ia cintai.

Almeera memejamkan mata. Keputusasaan menelan egonya bulat-bulat. Jika ia harus memilih antara mempertahankan egonya dan melindungi masa depan Akram, Almeera tahu apa yang harus ia lakukan.

"Oke," bisik Almeera, suaranya parau, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Oke... gue bakal minta cerai. Tapi please, jangan kirim foto itu."

Heera tersenyum lebar, senyum kemenangan yang luar biasa memuakkan. "Pilihan yang cerdas, Al—"

SRET!

Sebuah bayangan hitam melesat dari arah belakang Heera dengan kecepatan kilat.

Sebelum ibu jari Heera sempat menyentuh tombol send, atau bahkan sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi, sebuah tangan besar dan kokoh merampas ponsel itu dari genggamannya dengan kasar.

Heera terpekik kaget, memutar tubuhnya dengan panik.

Di belakangnya, menjulang sosok Akram Pradana.

Cowok itu tidak datang dari arah pintu tangga. Ia keluar dari balik ruang panel lift rooftop yang gelap. Matanya menyorotkan kemarahan murni yang belum pernah Almeera lihat seumur hidupnya. Aura di sekitar Akram begitu pekat dan mengerikan, membuat udara di atap itu terasa membekukan tulang.

Akram menatap layar ponsel Heera sejenak, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia membanting ponsel mahal itu ke lantai beton rooftop dengan tenaga penuh.

PRAK!

Layar ponsel itu hancur berkeping-keping, komponennya terburai ke segala arah.

Heera menjerit histeris. "AKRAM! HP GUE!"

Akram tidak mempedulikan ponsel yang sudah hancur lebur itu. Ia melangkah maju, mengikis jarak dengan Heera hingga gadis itu terpaksa mundur dengan tubuh gemetar hebat.

"Gue udah peringatin lo, Heera," suara Akram sangat pelan, namun bergetar oleh amarah yang menggelegak. "Gue bilang, jangan sentuh Almeera. Jangan usik rahasia gue."

"K-Kram... gue cuma... gue cuma mau lo balik sama gue..." Heera terisak, ketakutan mulai menguasai dirinya melihat sisi gelap sang Ketua OSIS yang tak pernah ia ketahui.

Akram memiringkan kepalanya, senyum miring yang sangat mematikan terukir di bibirnya.

"Pilihan ketiga," ucap Akram, mengulang skenario ultimatum yang tadi Heera berikan pada Almeera. "Lo berani ngancem istri gue pakai foto murahan lo itu? Asal lo tahu, CCTV di lorong toilet kemarin udah gue sadap. Dan CCTV di rooftop ini, sejak tadi ngerekam semua aksi pemerasan lo."

Mata Heera membelalak ngeri. Ia menoleh ke arah sudut atap, di mana sebuah kamera pengawas kecil berkedip merah—kamera yang biasanya mati, entah bagaimana kini menyala.

"Gue bisa bikin lo dikeluarkan dari sekolah ini dalam waktu satu jam atas tuduhan pemerasan dan perundungan, dengan bukti rekaman HD," ancam Akram tanpa ampun. "Dan bokap gue bakal mastiin nggak ada satu pun sekolah di Jakarta yang mau nerima lo."

Heera jatuh terduduk di lantai beton. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan monster yang salah.

Akram tidak menatap Heera lagi. Ia melangkah melewati gadis yang menangis itu, berjalan cepat menghampiri Almeera yang masih mematung dengan air mata di pipinya.

Tanpa aba-aba, Akram menarik Almeera ke dalam pelukannya. Sangat erat. Ia menenggelamkan wajah Almeera ke dadanya, tangannya mengusap rambut gadis itu dengan penuh kelembutan, sangat kontras dengan kekejamannya pada Heera sedetik yang lalu.

"Gue di sini, Al. Nggak ada yang bakal hancur," bisik Akram di telinga Almeera, suaranya kembali melembut.

Almeera mencengkeram kemeja seragam Akram, menangis meluapkan semua ketakutannya. "T-tapi Kram... jabatan lo..."

"Bersetubuh sama jabatan," umpat Akram kasar, tak peduli dengan bahasanya. Ia menangkup wajah Almeera dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dengerin gue baik-baik, Almeera Azzahra. Jangan pernah berani lo ngucapin kata cerai lagi dari mulut lo. Sampai mati pun, gue nggak akan pernah ngelepasin lo. Paham?"

Mata hitam Akram menatap lurus ke dalam jiwa Almeera, membakar seluruh keraguan dan ketakutan yang ada di sana. Di atas atap sekolah yang berangin itu, di hadapan mantan pacar yang hancur lebur, Akram Pradana baru saja mendeklarasikan kepemilikannya secara mutlak.

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!