"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kantin SMA Bina Bangsa pada jam istirahat kedua biasanya terdengar seperti pasar malam. Suara dentingan sendok beradu dengan piring kaca, tawa menggelegar dari meja anak-anak basket, dan teriakan pesanan es teh manis mendominasi udara.
Namun, hari ini, saat Almeera melangkahkan kakinya melewati ambang pintu kantin, suasana mendadak berubah menjadi adegan dalam film bisu.
Suara obrolan mereda secara drastis. Ratusan pasang mata serempak berbalik, menatap lurus ke arahnya. Bisik-bisik mulai berdengung seperti kawanan lebah yang sarangnya baru saja ditendang.
Almeera menelan ludah. Nampan berisi mangkuk soto ayam dan es jeruk di tangannya tiba-tiba terasa seberat barbel sepuluh kilogram.
"Al, sumpah, gue ngerasa kayak lagi jalan sama selebriti yang baru kena skandal dispatch," bisik Sophia yang berjalan tepat di belakang Almeera. Mata ratu gosip itu berbinar-binar memindai seluruh kantin, merekam setiap ekspresi terkejut dari siswa-siswa lain.
"Diem lo, Phia. Gue lagi simulasi jadi patung lilin nih biar nggak kelihatan," balas Almeera dengan gigi terkatup, berusaha menatap lurus ke depan, mencari meja tempat anak-anak NOISE biasa berkumpul.
Di sudut kantin, Nino, Darren, dan Baim sudah duduk menempati meja panjang mereka. Ketiganya menatap Almeera dengan ekspresi yang sangat sulit dideskripsikan. Nino bahkan masih memegang garpu yang menggantung di udara, mie ayamnya nyaris jatuh kembali ke mangkuk.
Almeera mempercepat langkahnya, ingin segera duduk dan bersembunyi di balik tubuh tinggi Nino.
Namun, belum sempat ia mencapai meja tersebut, sebuah tangan kokoh dengan kemeja seragam yang digulung rapi hingga siku tiba-tiba terulur dari arah samping, mengambil alih nampan dari tangan Almeera dengan gerakan yang begitu mulus.
Almeera terkesiap, refleks menoleh.
Akram berdiri di sebelahnya. Wajah cowok itu datar dan tenang, seolah mengambilkan nampan makanan untuk drummer galak yang selama ini menjadi musuhnya adalah hal paling lumrah di dunia. Aroma mint dan musk maskulin langsung menguar, menyapu indra penciuman Almeera dan mengunci seluruh sarafnya.
"Bawaan lo berat. Biar gue yang bawa," kata Akram dengan suara bariton yang cukup keras hingga terdengar oleh tiga meja di sekitar mereka.
Kantin yang tadinya hanya diisi bisik-bisik, kini diwarnai oleh suara tarikan napas terkejut dan pekikan tertahan dari beberapa siswi.
"E-eh? Nggak usah! Gue bisa bawa sendiri!" Almeera panik, berusaha merebut kembali nampannya. Wajahnya mulai memanas. Berakting pacaran di ruang OSIS adalah satu hal, tapi mempraktikkannya di depan ratusan siswa adalah level penyiksaan mental yang berbeda.
Akram dengan mudah menjauhkan nampan itu dari jangkauan Almeera. Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap tepat ke manik mata Almeera. Senyum miring yang sangat tipis dan tersembunyi dari pandangan orang lain, terbentuk di sudut bibirnya.
"Jangan bawel, Sayang. Nanti tumpah," bisik Akram tepat di telinga Almeera. Penekanan pada kata 'sayang' itu diucapkan dengan nada serak yang sukses membuat lutut Almeera nyaris anjlok ke lantai.
Sebelum Almeera sempat melontarkan umpatan mematikan, Akram sudah berjalan mendahuluinya menuju meja anak-anak NOISE.
Bastian yang sedari tadi mengekor di belakang Akram hanya bisa memijat pelipisnya, bergumam, "Beneran kiamat dunia ini. Bos gue dipelet pakai stik drum."
Akram meletakkan nampan Almeera di meja NOISE, tepat di sebelah kursi kosong. Bukannya kembali ke meja anak-anak OSIS di seberang kantin, Akram justru menarik kursi kosong di sebelah kursi Almeera dan duduk di sana dengan santai.
Nino, Darren, dan Baim mematung.
Almeera yang baru saja menyusul dan duduk di kursinya, merasa seperti sedang dihakimi oleh tiga hakim agung.
"Oke," Nino memecah keheningan yang mencekik itu. Ia meletakkan garpunya dengan bunyi klenting yang keras. Matanya menatap tajam bergantian antara Almeera dan Akram. "Seseorang tolong jelasin ke gue. Sejak kapan Ketua OSIS yang hobi nyabut kabel sound kita ini, tiba-tiba bawain nampan soto buat drummer kita?"
Baim mengangguk setuju. "Gue baca headline mading pagi ini gue kira itu clickbait tim jurnalistik doang. Jangan bilang... kalian berdua beneran pacaran?!"
Almeera membuka mulutnya, bersiap merangkai alibi. "G-gue..."
"Iya," potong Akram cepat, tenang, dan tanpa keraguan sedikit pun. Cowok itu menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangannya di dada, dan menatap anak-anak NOISE dengan aura dominasi yang utuh. "Gue sama Almeera pacaran."
UHUK!
Darren yang sedang minum es teh manis langsung tersedak hebat. Baim menepuk-nepuk punggung gitaris kalem itu dengan panik.
"L-lo berdua?!" Nino menunjuk Akram dan Almeera dengan jari gemetar. "Sejak kapan?! Bukannya kalian tiap ketemu hawanya pengen saling bunuh?!"
Akram menoleh ke arah Almeera, menatap gadis itu dengan sorot mata yang mendadak melembut—sebuah akting kelas Oscar yang membuat Almeera sendiri nyaris percaya. "Namanya juga perasaan, Nin. Nggak ada yang tahu. Lagian, sering berantem itu kan tandanya saling merhatiin."
Almeera menendang tulang kering Akram di bawah meja sekuat tenaga.
Akram meringis tertahan, otot rahangnya berkedut sejenak, namun senyum manisnya tidak pudar sama sekali. Tangan kanannya justru merambat turun ke bawah meja, menangkap tangan Almeera yang mengepal di atas paha gadis itu, lalu menggenggamnya erat-erat, mengunci pergerakan Almeera.
Sentuhan hangat dari jari-jari Akram yang menyusup di sela-sela jarinya membuat sengatan listrik menjalar dari lengan hingga ke tengkuk Almeera. Ia menatap Akram dengan mata membelalak, memberikan sinyal ancaman, namun cowok itu hanya membalasnya dengan usapan lembut ibu jarinya di punggung tangan Almeera.
"T-tapi... gengsi lo ke mana, Al?!" protes Nino masih tidak terima. "Lo bilang lo mending nikah sama stand mic gue!"
Almeera berdeham, berusaha menormalkan suaranya yang mendadak serak karena genggaman tangan Akram di bawah meja. "Stand mic lo karatan, Nin. G-gue takut kena tetanus. Jadi... ya... mending sama dia aja."
Jawaban ngawur Almeera justru membuat Akram tertawa pelan. Tawa renyah yang belum pernah didengar oleh siapa pun di sekolah kecuali Almeera. Beberapa siswi di meja seberang yang mencuri dengar langsung meleleh di tempat.
"Gila. Plot twist macam apa ini," Darren yang sudah selesai batuk akhirnya bersuara, menatap mereka berdua dengan rasional. "Kalau kalian emang pacaran, tolong jangan bawa-bawa urusan asmara ke ruang latihan. Gue nggak mau budget kita dipotong gara-gara kalian berantem."
"Tenang aja, Ren," jawab Akram santai. Tangan kirinya tiba-tiba mengambil selembar tisu di atas meja, lalu dengan gerakan yang sangat natural, ia mencondongkan tubuhnya dan mengusap sudut bibir Almeera. "Gue bakal support band pacar gue seratus persen mulai sekarang. Ya kan, Al?"
Almeera menahan napas. Wajahnya kini tidak bisa diselamatkan lagi. Warnanya sudah semerah saus tomat di mangkuk sotonya. "I-iya. Udah ah! Gue mau makan! Tangan lo jauh-jauh!"
Ia menarik tangannya yang berada di bawah meja dengan kasar, lalu mulai mengaduk soto ayamnya dengan brutal untuk menyalurkan rasa gugupnya.
Di kejauhan, dari sudut kantin yang sedikit gelap, Heera duduk sendirian. Matanya menatap lurus ke arah meja NOISE. Tangannya meremas garpu plastik hingga patah menjadi dua. Ia melihat bagaimana Akram menatap Almeera, usapan di sudut bibir itu... itu bukanlah akting. Heera mengenal Akram luar dalam. Cowok perfeksionis itu tidak akan sudi melakukan hal sekecil itu jika ia tidak benar-benar peduli.
Gue nggak akan biarin lo menang segampang ini, Almeera, batin Heera penuh dendam.
Pukul 15.15 WIB. Koridor Utama Sekolah.
Bel pulang sekolah telah berbunyi lima belas menit yang lalu. Biasanya, Almeera akan mengendap-endap lewat gerbang belakang untuk menghindari pandangan orang sebelum naik ke boncengan motor Akram.
Namun hari ini, sesuai dengan janji Akram di ruang OSIS kemarin, mereka akan keluar dari pintu utama layaknya pasangan kekasih normal.
Almeera berjalan di koridor dengan canggung. Di sebelahnya, Akram berjalan santai, menyesuaikan langkah kakinya yang panjang dengan langkah Almeera. Karena berita 'Ketos dan Drummer Pacaran' sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah dalam waktu setengah hari, setiap langkah mereka kini menjadi pusat perhatian.
"Kram, lo bisa nggak sih jalannya nggak usah nempel-nempel banget?" bisik Almeera dari sudut bibirnya, mempertahankan senyum kaku ke arah anak-anak yang menyapa mereka. "Bahu lo nabrak bahu gue terus tahu nggak!"
"Jalan koridornya sempit, Al," kilah Akram santai, padahal koridor itu muat untuk dilewati enam orang berjajar. "Lagian, kita kan lagi acting jadi pasangan yang bucin. Masa jalannya musuhan sejauh satu meter?"
"Acting lo terlalu over! Tadi di kantin ngapain lo pake ngelap bibir gue segala?! Najis tahu nggak!" omel Almeera pelan.
Akram menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Almeera. "Najis tapi muka lo merah sampai ke telinga? Jujur aja, lo menikmati kan di-treat kayak gitu sama cowok terganteng di sekolah?"
"Gue muntah nih sekarang di sepatu lo!"
"Coba aja. Kalau lo muntah, gue gendong lo sampai ke parkiran biar satu sekolah makin histeris," ancam Akram dengan kekehan pelan yang terdengar berbahaya namun menggelitik.
Almeera seketika bungkam. Ia tahu Akram tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Mereka tiba di area parkir depan yang masih ramai oleh siswa yang menunggu jemputan. Motor sport hitam Akram terparkir gagah di sana. Akram mengambil helm bogo hitam dari spion dan, bukannya memberikannya pada Almeera seperti biasa, cowok itu justru memakaikannya langsung ke kepala gadis itu.
Jari-jari Akram mengancingkan tali helm di bawah dagu Almeera. Jarak mereka sangat dekat. Almeera menelan ludah, menatap tulang selangka Akram yang menyembul dari balik kerah seragamnya yang terbuka.
"Pas?" tanya Akram lembut.
"P-pas," cicit Almeera.
Akram tersenyum tipis. Ia baru saja akan memutar tubuhnya untuk naik ke atas motor saat tiba-tiba, suara dengungan statis dari speaker sekolah memecah suasana sore yang cukup romantis itu.
Ngingggg....
Semua siswa di area parkir refleks menoleh ke arah pengeras suara yang terpasang di sudut gedung utama.
Terdengar dehaman berat seorang pria dewasa, disusul oleh suara bariton yang sangat tegas dan ditakuti oleh seluruh siswa SMA Bina Bangsa. Suara Pak Haris, Kepala Sekolah.
"Panggilan ditujukan kepada siswa atas nama Akram Pradana dari kelas XII IPA 1, dan siswi atas nama Almeera Azzahra dari kelas XI IPS 2. Sekali lagi, Akram Pradana dan Almeera Azzahra. Ditunggu di ruang Kepala Sekolah, sekarang juga."
Klik. Pengumuman berakhir.
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti area parkir. Ratusan pasang mata yang tadinya menatap mereka dengan tatapan iri dan takjub, kini berubah menjadi tatapan ngeri dan penuh rasa kasihan.
Di SMA Bina Bangsa, ada satu aturan tidak tertulis yang diketahui semua orang: Anggota inti OSIS, terutama Ketua OSIS, dilarang keras menjalin hubungan asmara dengan siswa satu sekolah demi menjaga profesionalitas dan fokus akademik. Sanksinya tidak main-main. Peringatan keras, hingga pembebasan tugas secara tidak hormat.
Darah Almeera kembali surut ke dasar kaki. Napasnya tertahan. Ia mendongak menatap Akram dengan mata membelalak penuh horor.
Apakah Heera berkhianat? Atau ada guru yang melaporkan kemesraan palsu mereka di kantin tadi?
Akram mematung di tempatnya. Rahangnya mengeras. Tangannya yang baru saja ingin meraih gagang motor kini turun ke sisi tubuhnya, mengepal kuat. Namun, hanya butuh dua detik bagi cowok itu untuk menguasai kembali ekspresinya.
Ia menoleh ke arah Almeera, matanya memancarkan ketenangan absolut yang seolah menjadi jangkar bagi kepanikan istrinya.
Akram mengulurkan tangan kanannya ke arah Almeera, telapak tangannya terbuka.
"Ayo," kata Akram datar, namun penuh perlindungan. "Kita hadapi bareng-bareng."
Almeera menatap tangan besar itu sejenak, menelan semua keraguannya, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Akram. Jari-jari Akram langsung mengunci genggamannya erat-erat, menarik gadis itu melangkah bersisian kembali memasuki gedung sekolah, menuju ruang eksekusi yang menunggu mereka.