NovelToon NovelToon
Pewaris Sang Triliuner

Pewaris Sang Triliuner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Kaya Raya
Popularitas:440.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Djennar

Surya Aditama tak pernah menyangka bahwa upacara pemakaman aneh yang tak sengaja ia hadiri membuatnya menjadi pewaris seorang triliuner. Namun demi mencegah perhatian dari orang - orang yang tak diinginkan, ia harus menunggu selama seminggu agar bisa mewarisi kekayaan lima belas milyar dolar Amerika.

Kejadian ini menjadi titik balik kebangkitan siswa pecundang yang selalu jadi sasaran perundungan. Simak ceritanya untuk membalas setiap perbuatan buruk pada dirinya dengan cara yang elegan dan berkilau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djennar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menebus Rumah

Begitu bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, Surya langsung merapikan perlengkapannya dan segera keluar dari sekolah. Ia sudah memesan taksi untuk mengantarkannya ke kantor cabang bank.

Alamat bank itu tidak terlalu jauh dari sekolah. Tetapi sekali-kali Surya tidak ingin berjalan di bawah terik matahari yang tidak ramah. Taksi kini jadi kendaraan favoritnya.

Hanya butuh lima belas menit untuk bisa sampai di bank. Bank ini sebenarnya hanya sebuah bank kecil. Meskipun demikian, aset bank ini lumayan besar. Banyak orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang menjaminkan rumah, sepeda motor, dan barang berharga lain untuk mendapatkan uang tunai secara cepat. Bunganya tergolong ringan. Hanya saja denda keterlambatan pembayarannya sangat mencekik leher.

Seorang petugas keamanan menyambut Surya dan menanyakan apa keperluannya.

"Selamat Pagi! Ada yang bisa dibantu?" Tanya satpam itu ramah.

"Saya ingin melunasi hutang paman saya, Pak." Jawab Surya.

"Ini nomor antriannya yang warna merah. Langsung ke customer service, mas." Satpam itu menunjuk ke arah deretan meja di sisi kanan ruangan.

Di depan deretan meja itu masih ada antrean yang cukup banyak. Surya lalu duduk di salah satu kursi yang kosong. Ia memeriksa tas dan dompetnya untuk memastikan kartu debitnya tidak ketinggalan.

"Nggak nyangka kita bakal ketemu di sini." Tiba-tiba saja kepala Surya terserang migrain karena mendengar suara cempreng ini.

"Bu Darwanti, apa kabar?" Surya berpura-pura ramah sambil memasang senyum palsu.

"Nggak usah sok kenal sama saya. Ngaku aja kamu! Kamu pasti pinjam uang untuk membeli pujasera dari sini, kan?" Cerocos wanita paruh baya itu.

Surya hanya bisa melongo mendengar pertanyaan Bu Darwanti. Ia tidak habis pikir dengan pola pemikiran orang ini.

"Malah bengong. Kamu ini ditanya orang tua nggak sopan banget, sih." Bu Darwanti tampaknya ingin suaranya didengar oleh seluruh kota Semarang.

"Kalau ibu bertanya dengan sopan, saya juga akan menjawab dengan sopan." Jawab Surya dengan tenang.

"Jadi menurut kamu saya ini tidak tahu sopan santun gitu?" Nada bicara Bu Darwanti kian meninggi. Beberapa orang di sekitar memutar kepala mereka untuk melihat keributan kecil itu.

Surya tercengang mendengar pertanyaan Bu Darwanti. Logika apa yang diapakai wanita ini. Ia mencoba mengatakan dengan sopan malah perkataannya dibuat seolah Surya sudah menghinanya. Sangat ajaib sekali perempuan tua satu ini.

"Mohon bapak dan ibu tidak membuat keributan di sini. Ini area umum, jika ada permasalahan pribadi tolong diselesaikan di luar." Seorang petugas keamanan menghampiri tempat duduk Surya dan Bu Darwanti.

"Bawa aja dia, Pak! Emang suka cari gara-gara dia. Masa saya dikatain nggak punya sopan santun." Bu Darwanti masih bersungut tidak mau disalahkan.

Melihat kelakuan wanita itu, si penjaga keamanan hanya bisa tersenyum kecut. Dia tersenyum ke arah Surya dengan tatapan harap maklum. Ia merasa serba salah jika harus berurusan dengan orang seperti Bu Darwanti.

"Mohon maaf. Silakan bapak keluar dulu. Agar suasana bisa kondusif." Pinta si penjaga keamanan dengan sopan.

"Nggak apa, Pak." Surya segera angkat kaki dari tempat itu dan menuju pintu keluar.

""Lhoh, Pak Surya? Kok ada di sini?" Tiba-tiba suara seorang wanita menghentikan langkah Surya. Surya yang terkejut mendengar suara familiar itu langsung menoleh.

"Eh, Bu Lovita. Kok bisa kebetulan ketemu disini?" Tanya Surya. Ia sedikit kaget saat melihat Direktur Humas Bank Nasional Pusat ada di bank kecil seperti ini.

Beberapa orang yang tadi berbicara dengan Bu Lovita terdiam melihat wanita cantik itu menyapa Surya. Dari penampilannya kelihatannya mereka adalah pimpinan dari bank perkresitan ini. Di bagian paling belakang rombongan petinggi Surya juga melihat pria yang dulu menyita rumahnya.

"Saya sedang melakukan pendampingan untuk audit bank ini. Mereka mengajukan proposal investasi ke perusahaan kita dan hari ini tim kita sedang melihat kondisi aktual dari bank ini." Papar wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun itu.

Orang-orang yang berada di belakangnya langsung kaget ketika melihat Bu Lovita yang memiliki posisi tinggi di mata mereka mau berbicara dengan pemuda yang tak jelas asal usulnya ini. Awalnya mereka ingin mengusir Surya karena mengganggu penyambutan orang penting di Bank Nasional Pusat. Namun setelah melihat keakraban Bu Lovita dengan pemuda itu, mereka mengurungkan niatnya.

"Oh, ya. Terima kasih telah bekerja keras untuk perusahaan kita. Ingatkan saya untuk memberi bonus nanti untuk Bu Lovita jika provit kita meningkat." Surya sangat senang karena perusahaan yang ia danai dikelola oleh orang-orang yang kompeten. Ia jadi tidak merasa rugi mengeluarkan uang jika keuntungannya bisa berlipat ganda.

"Terima kasih, Pak Surya. Saya hanya menjalankan tugas saya. Ini semua juga sangat bermanfaat bagi karir saya, jadi dengan senang hati saya melakukannya." Ekspresi Bu Lovita menjadi berbinar-binar karena bisa menyenangkan bosnya dengan kerja keras.

Surya sama sekali tidak memperhatikan ekspresi orang-orang di belakang yang berubah suram dengan cepat. Orang yang tadi mereka remehkan ternyata adalah bos dari orang besar seperti Bu Lovita. Dalam hati mereka digelayuti rasa penasaran mengenai siapa pemuda itu.

"Ehm Bu Lovita jika anda tidak keberatan mari pindah ke ruang pertemuan di lantai 2." Seorang petinggi bank mencoba menyela percakapan Surya dan Bu Lovita.

Mendengar ajakan itu, sekilas mata Bu Lovita menyiratkan kekesalan karena merasa diganggu oleh orang-orang itu. Namun dengan cepat ekspresi ramah kembali di wajahnya.

"Apakah Pak Surya berminat melihat proses audit untuk bank ini?" Tanya Bu Lovita.

"Maaf, Bu. Tapi anak ini orang luar mana boleh ikut campur dalam urusan rahasia bank kami." Pria yang pernah menyita rumah Surya akhirnya angkat bicara.

"Orang luar? Asal kamu tahu ya. Beliau ini adalah pemegang tiga puluh persen saham dari Aditama Investama. Kalau beliau ini dianggap orang luar, maka kamu anggap apa saya ini?" Sepertinya Bu Lovita sudah sedikit kehilangan kesabaran.

Para Petinggi bank itu tecengang mendengar kalimat Bu Lovita. Wajah mereka memucat dan tak bisa berkata apa pun lagi. Mereka tidak menyangka jika bocah tak dikenal di depan mereka ini ternyata adalah orang yang penting. Bisa gawat jika mereka sampai menyinggung orang seperti ini. Bukan hanya karir mereka yang tamat, tapi bank ini juga bisa tamat.

"Sudahlah, Bu. Tidak perlu semarah itu. Lagi pula saya juga sedang ada urusan di sini. Lain kali kalau ada kesempatan saya juga akan ikut serta." Jawab Surya menengahi.

"Urusan? Apa bapak ingin mendanai bank ini sendiri?" Bu Lovita mengerutkan alisnya. Apakah bosnya ini bisa melihat potensi bank ini, sehingga dia berminat berinvestasi sendiri?

"Bukan begitu."Wajah Surya memerah karena malu mengatakan tujuannya. "Sebenarnya rumah saya disita bank ini karena telat membayar pinjaman."

"Pak Surya punya pinjaman disini?" Bu Lovita memasang wajah terkejut mendengar kalau Surya punya pinjaman di bank kecil ini. Rasanya tidak mungkin orang sekaya ini sampai rumahnya disita karena telat membayar pinjaman.

"Sebenarnya ada yang mencuri sertifikat rumah saya kemudian digunakan untuk meminjam uang di sini."

Mendengar ucapan Surya, mata Bu Lovita menajam. Kenapa bisa sampai bank ini meloloskan jaminan curian? Bagaimana sistem kerja bank ini sebrnarnya? Kasus ini tidak sepele, jika tidak ditangani secara serius akan banyak orang yang dirugikan. Jika begitu nama Aditama Investama juga akan ikut tercoreng.

Berbeda dengan Bu Lovita, wajah para petinggi bank itu langsung panik dan memucat. Jika sampai karena ini investasi mereka dibatalkan dan berita ini sampai menyebar ke khalayak ramai, bank kecil ini bisa kehilangan nasabah dan bangkrut.

"Ee Bu Lovita, Pak Surya permasalahan ini mari kita selesaikan di dalam saja. Kami berjanji akan menyelidiki permasalahan ini dengan cepat."

"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu diselidiki. Anda sudah gagal melayani nasabah dengan baik dan malah merugikan orang lain. Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi oleh perusahaan." Jawab Bu Lovita tegas.

"Tolonglah, Bu Lovita. Beri kami kesempatan." Orang-orang ini lalu jatih bersimpuh di kaki Surya dan Bu Lovita.

"Sudahlah, Bu. Jangan mempersulit mereka. Kita ini sama-sama cari uang." Bisik Surya.

"Baiklah jika pak Surya yang meminta. Kita selesaikan permasalahan ini di dalam." Kata Bu Lovita.

Mendengar pernyataan Bu Lovita, wajah pimpinan itu menjadi senang dan bersemangat. Mereka lalu memimpin jalan untuk rombongan Surya ke lantai 2 bangunan ini.

1
my heart
bego mc nya bego lu juga thor bikin novel tuh yang pikirannya dewwsa sikit ini pikirannya bego
Joe Harry
Karena ceritanya terputus yang tersisa hanya kecewa
hisap sur wewek nya nti cri baru lg
Cecef Rachman
gimana mau kasih komentar ceritanya aja blm selesai
Cecef Rachman
👍
Ivan Sumampouw
lumayan jelek
Ivan Sumampouw
udah sangat kaya, pinter, jago beladiri,, kog bisa2nya diarahkan penulis jadi picik, bodoh dan lemah 🤣🤣🤣🤣
スターレット: penulis lagi memble
total 1 replies
Adam Wartono
tamat
Hayella Andini
ceritanya akan berlanjut apa kaga yah,mandeg
Teddy Aktadi
Luar biasa
Darma Elmo
bgus
Zola m riski
owch ooo sudah macet kah cerita nya.kalau sudah bikin tamat aja
Imam Sutoto
keren
Syahrizal
Luar biasa
Kamal Udin
mantaaap
TJONG KIAN HIN
Mantap…..
Choky Ritonga
omong kosong thor " kamu mimpi ngomong seperti itu " jangan buat wacana pembaca cerita mu " jadi Pengecut "
Hary
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hayella Andini
lanjutan ceritanya mana thooooorrr
Hary
penulis muda rata2 terlalu berlebihan dalam menuangkan cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!