Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur lagi
Waktu terus bergulir, merayap lambat di tengah keheningan rumah besar itu. Jarum jam di dinding ruang tengah sudah bergeser melewati pukul enam sore, menandakan waktu magrib telah tiba, namun tanda-tanda kehadiran Arsen belum juga terlihat.
Langit di luar jendela perlahan berubah menjadi gelap pekat, sepekat rasa cemas yang mulai bergulung di dalam dada Rindu.
Hari ini terasa sangat berbeda dan janggal, sejak siang tadi, Arsen sama sekali tidak mengirimkan pesan singkat ataupun menelepon untuk memberi kabar.
Biasanya, sesibuk apa pun Arsen di kantor, pria itu selalu menyempatkan diri untuk sekadar mengirimkan pesan satu baris, memberi tahu bahwa ia sedang rapat atau menanyakan apakah Rindu sudah makan. Namun hari ini, ponsel Rindu tetap sunyi. Layar pintarnya bersih dari notifikasi nama suaminya.
Rindu duduk di tepi tempat tidur kamarnya, menatap nanar ke arah luar jendela yang mulai diguyur rintik hujan tipis.
Tepat saat jam dinding berdentang menunjukkan pukul tujuh malam, keheningan itu mendadak pecah. Ponsel di genggaman Rindu bergetar hebat, menampilkan nama
Suaminya di layarnya. Rindu mengembuskan napas lega yang sempat tertahan, lalu dengan cepat menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Assalamualaikum, Mas?" ucap Rindu, berusaha menormalkan nadanya agar suaranya.
"Waalaikumsalam, Sayang," terdengar suara Arsen dari seberang telepon.
"Mas Arsen di mana? Kok malam begini belum pulang? Aku tungguin dari tadi," tanya Rindu, mencoba menyuntikkan nada perhatian yang tulus dalam suaranya.
Arsen terdengar menghela napas panjang di seberang sana, sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban.
"Maaf ya, Sayang. Hari ini benar-benar kacau di kantor. Sepertinya, malam ini aku harus lembur lagi di kantor, nggak bisa pulang."
"Lembur lagi, Mas? Tapi kondisi badan kamu kan belum fit betul dari tadi siang," ucap Rindu, tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Iya, mau bagaimana lagi, ini tanggung jawabku, Sayang. Kamu jangan nungguin aku ya. Kamu makan malam lalu langsung istirahat. Mungkin besok pagi baru aku bisa pulang ke rumah setelah semua pekerjaan ini selesai," lanjut Arsen cepat.
"Ya sudah kalau begitu, Mas. Jaga kesehatan ya, jangan lupa makan malam," jawab Rindu lirih.
"Iya, Sayang. Aku tutup dulu ya, mau lanjut meeting. I love you," ucap Arsen sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Rindu perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Sambungan telah terputus, menyisakan bunyi klik pendek yang terasa dingin memutus harapannya.
Ia menatap layar benda pipih itu yang perlahan meredup, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang tampak begitu kuyu dan menyimpan luka yang dalam.
Rasa sesak di dadanya semakin menghimpit, namun ia tahu hidup harus terus berjalan. Dengan helaan napas berat, ia merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan sebelum melangkah keluar kamar.
Rindu berjalan turun menuju lantai bawah. Suasana di ruang makan tampak hening. Hidangan mewah yang sudah tersaji rapi di atas meja bundar itu masih belum tersentuh sedikit pun.
Kedua mertuanya beserta Dinda sudah duduk melingkari meja, namun piring-piring di hadapan mereka masih kosong bersih.
Seperti, biasa, semua sengaja menunggu kehadiran Arsen untuk memulai makan malam bersama.
"Arsen sudah di jalan? Jam segini kok belum sampai rumah?" tanya wanita paruh baya itu sambil menatap Rindu.
Rindu memberikan sebuah senyum tipis di bibirnya yang terasa kaku. Ia melangkah mendekati meja makan, lalu menarik sebuah kursi kosong yang berada agak jauh dari Bu Ratna dan Dinda.
Setelah mendudukkan diri dengan canggung di hadapan hidangan yang masih utuh itu, barulah ia membuka suara untuk menjawab pertanyaan sang ibu mertua.
"Mas Arsen barusan telepon, bu," jawab Rindu.
"Katanya, malam ini terpaksa lembur lagi di kantor. Ada sedikit kekacauan dan kekeliruan data yang harus dia selesaikan malam ini juga, jadi kemungkinan besok pagi baru bisa pulang ke rumah."
Mendengar penuturan Rindu, Pak Broto yang semula sedang fokus membaca koran digital di ponselnya sambil menunggu, mendadak menghentikan gerakan jemarinya.
Beliau langsung mengangkat wajah, tatapannya menembus lensa kacamata yang kemudian ia perbaiki posisinya dengan jari telunjuk. Kerutan di dahinya tercetak jelas, memperlihatkan rasa heran.
"Kekacauan?" ulang Pak Broto, mengernyitkan dahi.
"Kekacauan apa? Sepertinya di kantor baik-baik saja. Ayah tidak menerima laporan masalah besar apa pun hari ini," ujarnya.
Deg!
Jantung Rindu serasa berhenti berdetak sesaat. Kalimat pendek dari ayah mertuanya itu menghantam kesadarannya bagai petir menyambar.
Rasa dingin menjalar dari ujung jari-jari tangan hingga ke tengkuknya. Jelas Pak Broto tahu betul kondisi internal perusahaan, dia adalah pemilik sah dari seluruh lini bisnis tersebut, sedangkan Arsen, suaminya, hanya bertindak sebagai CEO yang menjalankan roda operasionalnya.
Jika ada kekacauan besar yang membuat seorang CEO harus menginap dua malam berturut-turut hingga harus pulang pagi, tidak mungkin pemilik perusahaan sama sekali tidak mendengar kabarnya.
Apakah Mas Arsen membohongiku? Pikir Rindu, suaranya menjerit panik di dalam hati.
Bibir Rindu memucat, terbuka sedikit hendak menanyakan lebih lanjut atau mencoba menutupi kegugupannya.
Namun, belum sempat seatah kata pun keluar dari, Bu Ratna langsung memotong pembicaraan dengan suara yang melengking ketus.
"Halah, Papa ini seperti tidak tahu saja," sahut Bu Ratna dengan nada mencemooh yang luar biasa tajam. Wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk membuka tudung saji, lalu menatap Rindu dengan pandangan mata yang penuh dengan kebencian dan kepuasan terselubung.
"Arsen itu pasti sengaja mencari-cari alasan kerjaan karena malas pulang ke rumah! Siapa juga suami yang betah pulang kalau setiap hari cuma disuguhi muka kuyu dan melihat kelakuan istrinya yang tidak becus! Bikin nafsu makan hilang saja!" katanya tanpa memedulikan perasaan Rindu yang kini teriris-iris di depan meja makan itu.
Mendengar ucapan ibunya, Dinda yang duduk di sebelah Bu Ratna tidak melewatkan kesempatan emas itu.
Gadis itu langsung menyunggingkan senyum meledek, menatap kakak iparnya dengan tatapan menang seolah memvalidasi semua makian yang dialamatkan pada Rindu sore tadi.
Rindu hanya bisa menunduk dalam, kenyataan bahwa di rumah ini, tidak ada satu pun tempat yang aman bagi hatinya.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰