"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Galuh sangat sadar siapa dirinya. Dia tahu betul batas antara dirinya dan Ranu, batas yang sejak awal seharusnya tak pernah ia langgar. Namun, ia mengakui satu hal: ia pernah menjadi bodoh. Bodoh karena terlalu mudah terbuai sikap Ranu yang berubah-ubah, kadang hangat dan penuh perhatian, namun sesaat kemudian kembali dingin dan menjaga jarak. Dan yang paling membuatnya menyesal, ia terlalu cepat terbawa perasaan, terlalu cepat menaruh harap pada seseorang yang tak pernah memberikan kepastian.
Malam itu, di tengah keheningan kamar, Galuh mengeratkan pelukannya pada bantal. Tekadnya sudah bulat. Ia tak akan lagi membiarkan hatinya mengatur langkah. Tak akan lagi membiarkan perasaannya menjadi celah yang bisa melukainya. Mulai hari ini, ia hanya akan menjadi Galuh, sekretaris yang profesional, pengasuh yang baik untuk Arkan, dan tak lebih dari itu.
Malam semakin larut. Ranu baru saja melangkah masuk ke rumah. Langkahnya terasa berat, kantung matanya sedikit menghitam. Biasanya, ada Galuh yang selalu memastikan semua pekerjaannya rapi, jadwalnya teratur, bahkan menyiapkan minuman hangat saat ia lembur. Namun hari ini, Galuh sedang cuti sakit, dan Ranu harus mengerjakan segalanya sendiri. Rumah besar itu terasa sangat sunyi, jauh lebih sepi dari biasanya. Tanpa sadar, kakinya melangkah menuju kamar Arkan.
Pintu kamar sedikit terbuka. Di balik celah itu, Ranu melihat pemandangan yang membuat senyum tipis terukir di bibirnya. Galuh sedang tidur miring di samping tempat tidur Arkan, tangan kecil anak itu melingkar erat di lengan Galuh, seolah tak mau melepaskannya. Wajah Galuh tampak tenang, jauh lebih damai dibandingkan saat ia sedang sibuk mengurusi urusan kantor atau menanggapi perintah-perintahnya. Ranu berdiri sejenak di sana, membiarkan rasa hangat yang asing merayap di dadanya, sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan berjalan perlahan meninggalkan pintu, kembali ke kamarnya sendiri.
Namun, Ranu tak tahu bahwa detik setelah ia menjauh, kelopak mata Galuh perlahan terbuka. Ia tidak benar-benar tertidur. Ia sadar seseorang telah datang, ia sadar siapa orang itu, dan ia sadar akan senyum yang diberikan. Namun kali ini, hatinya tak lagi berdebar kencang seperti dulu. Hanya ada rasa datar, sepi, dan tekad yang semakin menguat.
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sedikit berbeda. Galuh menyiapkan sarapan dengan rapi, gerakannya sigap dan tenang. Ranu duduk di kursinya, sesekali melirik ke arah wanita itu. Ada sesuatu yang berubah. Galuh tidak lagi menyapanya dengan senyum ramah yang biasa, tidak lagi bertanya apakah sarapannya cukup enak, atau apakah ia perlu menyiapkan sesuatu yang lain. Ia hanya menaruh piring di depan Ranu, lalu duduk di kursi lain sambil menunggu Arkan selesai makan.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Ranu mencoba memecah keheningan.
"Sudah, Pak. Terima kasih," jawab Galuh singkat, tanpa menatap mata Ranu lebih dari sepersekian detik.
Ranu mengerutkan kening. Rasanya ada jarak yang tiba-tiba terbentang di antara mereka. Namun, ia memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Mungkin Galuh masih belum sepenuhnya pulih.
Setelah sarapan, Ranu bersiap berangkat kerja. Kali ini ia membawa Arkan bersamanya, karena ada urusan yang harus diselesaikan sebelum anak itu pergi ke sekolah. Arkan berlari kecil menghampiri Galuh, merentangkan tangan kecilnya untuk memeluk erat pinggang wanita itu, lalu mencium tangan Galuh dengan sopan.
"ibu nanti sore tunggu Arkan ya!" seru anak itu ceria.
"Tentu saja, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Galuh lembut, mengusap kepala Arkan dengan penuh kasih sayang.
Saat Ranu berjalan mendekat, Galuh hanya menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat, lalu mundur selangkah. Sekali lagi, Ranu merasakan perbedaan itu. Tatapan Galuh dingin, sopan, namun jauh. Seolah-olah mereka hanya atasan dan bawahan, tidak lebih. Namun, Ranu menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Ia berjalan menuju mobil, membawa Arkan bersamanya.
Di kantor, suasana sibuk seperti biasa. Saat Ranu melangkah masuk, Cindy, kini bekerja sebagai karyawan bagian pemasaran langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Selamat pagi, Pak Ranu! Laporan yang Bapak minta sudah aku siapkan di meja."
"Bagus," jawab Ranu singkat, namun ia berhenti sejenak saat Cindy berjalan beriringan dengannya menuju ruangan.
Beberapa karyawan yang melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik satu sama lain. "Lihat deh, Pak Ranu sama Cindy sering banget bareng. Padahal kan Pak Ranu itu orangnya galak dan dingin banget sama orang lain."
"Iya ya, mungkin mereka ada hubungan khusus? Jarang lho ada yang bisa dekat sama Pak Ranu begitu."
Gosip itu menyebar pelan, namun tak sampai ke telinga Ranu yang memang tak pernah peduli pada omongan orang lain.
Sore harinya, Ranu pulang lebih awal dari biasanya. Di perjalanan, matanya tertuju pada kedai dimsum langganan. Tanpa sadar, ia memerintahkan sopir untuk berhenti. Ia ingat, Galuh sangat menyukai dimsum. Entah mengapa, rasanya ia ingin melihat senyum itu kembali, ingin melihat wajah Galuh bersinar seperti biasanya.
Sesampainya di rumah, ia disambut suara tawa ceria Arkan. Di ruang tengah, Galuh dan Arkan sedang asyik bermain kartu. Wajah Galuh yang biasanya tenang tampak lebih rileks, tersenyum lebar setiap kali Arkan membuat gerakan lucu.
"Papa! ibuk curang! Arkan kalah terus!" seru Arkan langsung berlari menghampiri Ranu, memeluk kakinya sambil mengadu.
Ranu terkekeh, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. "Dasar anak kecil, belum jago main sudah ngeluh." Ia mencium kening Arkan, lalu berjalan mendekati Galuh yang sudah berdiri tegak.
"Ini ada dimsum, buat kamu," ucap Ranu sambil menyodorkan kotak makanan itu.
Galuh menerimanya dengan sopan. "Terima kasih, Pak."
Hanya itu. Tidak ada seruan senang, tidak ada pertanyaan tambahan, tidak ada senyum lebar yang biasa ia berikan. Ranu merasa ada yang mengganjal di hatinya. "Kenapa cuma begitu? Kamu kan suka sekali dimsum ini."
"Ya, saya suka. Terima kasih sudah repot-repot membelikan," jawab Galuh datar, lalu menaruh kotak itu di meja samping.
Ranu menghela napas panjang. Ia merasa suasana hatinya berubah. "Sini, ayo main bareng. aku mau lihat seberapa hebat kamu mengalahkan Arkan."
Namun, baru saja ia hendak duduk, Galuh sudah beranjak berdiri. "Maaf Pak, saya harus menyiapkan pakaian Arkan untuk besok. Silakan Bapak main saja sama Arkan."
Tanpa menunggu jawaban, Galuh berjalan menjauh menuju lantai atas.
Ranu terdiam di tempatnya, menatap punggung wanita itu yang perlahan menghilang. Ia menurunkan Arkan ke lantai, wajahnya kini tampak berkerut dan bingung.
"Apa yang salah?" gumamnya pelan. "Kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah? Atau... apakah dia mulai menjauh karena alasan lain?"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up